Menghargai Hak-hak Binatang

semut

suara berdebam terdengar suatu sore. seorang tetangga baru saja menendang seonggok ember bekas yang segera terpelanting ke dalam tambak tak jauh dari rumahnya. kemarahannya memuncak setelah burung yang ia pelihara dicuri orang malam sebelumnya saat rumah sedang kosong. burung kesayangan anaknya itu digantung di teras beserta beberapa ekor burung lain di dalam sangkar.

Pada malam yang sama di perumahan lain ternyata terjadi pencurian burung yang menyebabkan orang-orang berspekulasi bahwa pelakunya adalah komplotan yang sama. Burung-burung yang dicuri di kompleks lain bahkan termasuk burung kontes yang telah ditawar hingga lima juta rupiah. Namun nahas malam itu burung-burung kesayangan harus terbang tanpa bisa ditemukan.

Memelihara burung dalam sangkar memang sangat lumrah di tempat kami tinggal saat ini. Sewaktu di Bogor beberapa teman menggemari burung peliharaan dan berburu sangkar hingga harga yang cukup mahal. Tak kusangka rupanya di daerah geliat pemeliharaan burung meraup atensi besar baik di kawasan desa maupun kota kabupaten, termasuk di kompleks-kompleks perumahan.

Fenomena ini terjadi barangkali lantaran tanah-tanah yang semakin berkurang sehingga cericit burung yang dahulu terdengar bebas kapan saja kini menjadi langka. Habitat alami mereka tak lagi eksis, maka cara paling instan untuk mendapatkan hiburan berupa suara nyaring aneka burung adalah ‘menyekap’ mereka dalam sangkar atau kurungan. Saya merasa perlu membubuhkan tanda petik untuk kata ‘menyekap’ sebab kadar konotasinya bisa variatif.

Adalah hak setiap orang untuk mendapatkan hiburan, yang salah satunya diwujudkan dengan mengurung burung-burung lincah bersuara merdu di depan rumah. Namun jangan salah, burung atau binatang secara umum memiliki hak-hak yang mesti kita pahami. Sebagaimana telah dirumuskan oleh Komisi Bramble di Inggris tahun 1965 bahwa prinsip kebebasan satwa mencakup lima hal berikut.

1. bebas dari haus, lapar, dan malnutrisi

Untuk kasus binatang domestik, saya rasa tidak masalah asalkan pemilik mampu menjaga agar binatang piaraannya mendapatkan asupan makan, minum, dan gizi menurut kebutuhan binatang bersangkutan. Akan menjadi masalah saat binatang piaraan ditelantarkan tanpa dirawat dengan memuaskan padahal keindahan atau kelincahannya dinikmati setiap hari. Alih-alih tersiksa, binatang demikian sebaiknya dihibahkan kepada orang yang lebih piawai merawatnya atau dilepas ke alam terbuka.

2. bebas dari ketidaknyamanan

Ketidaknyamanan menjangkau makna yang cukup luas. Apa saja yang menyebabkan binatang piaraan tidak nyaman harus dihindari. Misalnya kandang atau sangkar yang tidak memadai, sempit, atau lokasi yang mengancam keselamatan binatang dari predator ganas. Mungkin bisa dilihat dari kacamata manusia tentang bagaimana kenyamanan layak bagi binatang yang kita pelihara.

3. bebas dari luka, rasa sakit, dan penyakit

Berkaitan dengan poin kedua, piaraan harus diobati saat terluka untuk menghindari rasa sakit, pun saat sakit perlu dirawat oleh pihak yang kompeten di bidangnya. Membiarkan binatang didera rasa sakit adalah pelanggaran dan bisa mengundang dosa loh sebab kita tidak bertanggung jawab terhadap makhluk Tuhan.

4. bebas untuk berperilaku normal

Kalau boleh jujur, binatang tentu akan memilih hidup di habitat asli dan mengandalkan pola pertahanan dirinya untuk bertahan hidup. Namun jika memelihara piaraan, orang terkait harus menguasai hal ihwal menyangkut binatang tersebut agar binatang tetap bisa menjalani pola hidupnya yang natural sehingga dapat berkembang bebas.

5. bebas dari rasa takut dan tekanan

Sebagaimana manusia, binatang pun harus terbebas dari rasa takut dan rasa tertekan. Ancaman-ancaman alami maupun tangan jail manusia harus dijauhkan dari piaraan dengan tetap memberikan kenyamanan terbaik untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kadar tertentu, lomba-lomba yang menuntut binatang berkompetisi keluar sebagai juara kadang kurang tepat lantaran melibatkan lecutan dari pemilik sehingga binatang tertekan walaupun kasusnya tidak bisa dipukul rata.

Garis besar dari kelima poin di atas adalah bagaimana memastikan agar binatang tidak dieksploitasi demi kepuasan manusia semata-mata. Lima cara berikut adalah pilihan saya untuk berkontribusi terhadap berkurangnya eksploitasi terhadap binatang, baik domestik apalagi binatang buas yang langka.

tak memiliki

Saya merasa tidak mampu memberikan perawatan optimal bagi binatang, bahkan seekor burung sekalipun. Oleh karena itu, saya cukup menikmati keindahan atau kemerduan bunyi mereka secara alami dari depan rumah yang masih berupa area persawahan. Setiap pagi, burung-burung kecil datang berkelebat mematuk-matuk entah apa di atas genting lalu terbang sambil mengeluarkan suara riang. Sesekali kawanan burung blekok terbang bergerombol di atas tambak yang airnya mulai surut. Indah sekali!

hindari konsumsi/pakai

Setahun lalu saat hendak pindah dari Bogor, seorang teman yang juga tetangga sebelah rumah menghadiahi saya sebuah kaus putih bergambar sirip ikan hiu dengan tulisan, “I’m finished with fins.” Ini adalah respons terhadap sekelompok orang yang memburu sirip ikan hiu sebagai makanan yang mengancam populasi ikan tersebut.

Sebagai bentuk kontribusi untuk mengurangi dampak eksploitasi, saya menghindari mengonsumsi makanan atau memakai pakaian/aksesori berbahan binatang terutama yang langka dan terancam kepunahan. Selain harganya mahal, selera saya terhadap produk busana juga tidak berkelas sehingga lumayan menghemat dan membantu kelestarian binatang, hehe.

tidak ikut menonton

Tiga hari lalu Riyanni Djangkaru mengajak warganet untuk ikut menandatangani petisi tentang hiu paus yang akan dipindahkan dari habitat aslinya di Berau menuju kolam di Ancol. Anak sulung saya sering bercerita mengenai hiu paus lewat buku sains yang ia baca. Sebagai ikan terbesar di laut, hiu paus ternyata termasuk satwa langka yang harus dilindungi di Indonesia.

Menurut Riyanni, pemindahan hiu paus merupakan ‘pemenjaraan’ dan sama halnya dengan ‘membunuh’ hiu paus secara perlahan. Demi sebuah tontonan, rasanya aksi pihak Ancol ini tak layak dilakukan mengingat hiu paus melewati reproduksi yang lama dan berperan penting dalam menjaga ekologi laut.

Sejak lama kami sekeluarga sebisa mungkin menghindari tontonan binatang yang melibatkan proses penyiksaan terhadap binatang tersebut saat diangkut menuju tempat animal show. Ini cara yang mudah dan instan untuk turut menghargai hak binatang agar tidak dieksploitasi.

ikut petisi online

Cara lain untuk turut concern terhadap eksploitasi binatang adalah berpartisipasi dengan mendukung petisi online mengenai binatang tertentu. Satwa-satwa sering menjadi objek kekerasan atau eksploitasi oleh manusia demi kepuasan atau keuntungan mereka. Dengan menandatangani petisi online lalu menyebarkannya di media sosial bisa berdampak positif terhadap rencana aksi yang akan diambil oleh pihak berwenang.

pelajaran untuk anak

Terakhir, kami menikmati membaca buku tentang sains termasuk aneka satwa dan menjelaskan kepada anak-anak agar tidak melukai binatang atau menyiksa mereka. Binatang juga mempunyai hak-hak yang harus kita hargai. Kenyamanan mereka penting kita perhatikan dan lewat buku bacaan anak-anak dapat memperoleh pelajaran penting tentang cara menghindari eksploitasi terhadap satwa yang seharusnya dilindungi.

BBC Mania tentu punya solusi lain mengenai eksploitasi terhadap binatang. Maukah berbagi?

Advertisements

2 thoughts on “Menghargai Hak-hak Binatang

  1. Thanks untuk ilmu dan informasinya, bermanfaat sekali, terlebih bagi saya yg memelihara binatang untuk lebih bisa memberikan haknya dengan baik

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s