Serba-Serbi Rezeki: Uang Memang Begitu

Dalam sebuah film komedi satiris berjudul Ketika, terdapat sebuah fragmen yang sangat mengesankan bagi saya bahkan hingga kini. Film yang dirilis tahun 2004 ini menggambarkan sebuah negeri utopis di mana para penduduknya patuh pada aturan, termasuk soal buang sampah dan ketertiban lalu lintas. Hukum ditegakkan sangat adil hingga tak memandang figur atau kalangan tertentu.

Termasuk keluarga Tajir Saldono yang diperankan sangat apik oleh Deddy Mizwar. Tajir dikisahkan sebagai miliarder yang bangkrut karena terlalu berani berspekulasi dalam usaha. Dia tak sendiri. Sejumlah miliarder lain juga dilanda kebangkrutan yang berujung pada bunuh diri massal. Tajir memilih menurunkan standar hidupnya ketika negara melucuti semua harta miliknya. Semua barang mewah—bahkan termasuk kutang impor milik istrinya—tak luput dari penyitaan. Satu-satunya barang berharga yang tersisa hanyalah Pedro kucing kesayangan putrinya. Sayang, ketika hendak dijual, Pedro lari dan menghilang.

rezeki

Itu soal kecil!

Adegan menarik yang saya maksud adalah percakapan antara Tajir dan Pak Syukur sang pembantu yang dimainkan oeh Dorman Borisman. Aliran listrik di rumah yang semula diputus tiba-tiba menyala lagi. Meja makan yang biasanya sepi mendadak penuh dengan makanan siap santap. Tajir naik pitam dan memprotes tindakan Pak Syukur yang telah melunasi tunggakan listrik tanpa seizinnya dan menyediakan makanan enak untuk keluarga mereka malam itu.

Di tengah ketegangan, Pak Syukur hanya bisa menunduk dan menjawab singkat, “Nggak papa, Pak!” Saat itulah dengan nada tinggi Tajir melontarkan kalimat yang terngiang hingga kini. “Soal listrik mati, soal … soal makanan yang kurang, itu soal kecil. Saya masih bisa atasi itu!” sergah Tajir tanpa keraguan.

Kalimat Tajir itu merefleksikan ketakutan setiap orang mengenai kesulitan mencari rezeki. Apalagi pada titik nadir seperti dia—yang juga pernah kami alami—kekhawatiran sering melingkupi. Jalan seolah buntu, sarana kemudahan seakan-akan runtuh. It’s in fact not that terrible. Rezeki sebenarnya selalu datang menghampiri kita asalkan kita mau berusaha sesuai kemampuan. Keluhan dan ketakutan biasanya muncul lantaran jumlah rezeki tak banyak seperti harapan kita.

Tahu aja lagi punya duit

Misal ketika mendapatkan rezeki berupa uang, eh kok ya pas kita kena musibah yang harus mengeluarkan uang. Oke, lebih tepat kita sebut dengan ujian karena kemudahan dan kesulitan toh keduanya adalah cobaan. Setelah mendapat hadiah cukup besar dari sebuah lomba blog beberapa waktu lalu, kloset di kamar mandi mendadak mampet tanpa ampun. Bebek itu tak mau tenggelam sebanyak apa pun air disiramkan.

Ia gagah berani tanpa peduli bahwa persediaan air bersih sedang langka. Masalah kloset mampet ini sebetulnya sudah berlangsung selama beberapa bulan. Semula tukang datang dan membereskannya dengan menyiramkan Bio 2000 dan air keras. Solusi itu ternyata tak bertahan lama. Kloset mampet lagi dan kegiatan ‘menabung’ jadi kurang asyik. Setelah dua kali datang tapi gagal menuntaskan masalah, kami pun mengundang tukang lain. Oleh tukang kedua, kloset akhirnya dibongkar, tapi nirmasalah di sana.

Masalah ternyata terletak di saluran pembuangan di ujung pipa menuju septic tank. Detail problemnya tak perlu saya uraikan sebab bikin tak enak makan, haha. Tapi ya begitulah, masalah yang semula diduga kecil karena kloset mampet dan bisa disiram dengan aneka cairan ajaib (dan berbiaya murah) ternyata berbuntut dibongkarnya lantai cor teras hingga dikeduk menuju bibir septic tank. Biayanya tentu tak semurah beli cairan lalu menyiramkannya. “Tahu aja abis dapat rezeki,” ujar istri sambil tersenyum. Saya jawab, “Ya baguslah ada duitnya, coba pas lagi ga punya. Kan berabe….”

Kalau dipikir-pikir, uang memang demikian. Datang dan pergi. Seolah tak betah di kantong kita, eh, saya! Tapi sebenarnya seperti itulah yang sehat. Mengikuti siklus alami benda-benda pada umumnya. Uang memang harus berkurang, entah untuk pengeluaran ini itu dan terutama buat sedekah sesuai target dan kemampuan. Ibarat pohon, ia bakal terlihat angker kalau daunnya tak pernah dipangkas atau dikurangi. Orang takut datang dan mendekatinya. Uang dan harta pun begitu. Kalau disimpan dan ogah dikeluarkan bisa bikin pemiliknya seram dan berpotensi ‘meledak’ mungkin.

Kentut hansip

Saya ingin tutup blog post ini dengan kisah pendek—masih seputar uang. Awal Oktober saya berkesempatan ikut acara luring di Surabaya dan berjumpa belasan bloger yang selama ini hanya bersahut komentar di jagat maya. Begitu honor cair, seorang kawan menawarkan kopi khas Lombok di akun Facebook-nya. Kopi, mana mungkin saya bisa tahan?! Apalagi begitu tahu bahwa seluruh keuntungan diperuntukkan untuk donasi Lombok. Saya pesan dua kantung, lalu dikirimlah dan saya terima bahkan sebelum saya bayar.

Saya agak telat mentransfer karena nyeri pascaoperasi gigi. Nah kan keluar duit lagi buat terapi gigi yang rubuh itu, hehe. Begitulah uang, ia datang untuk kita manfaatkan lalu pergi. Saya bayar kawan itu senilai honor ikut acara di Surabaya, sisa sedikit buat tambahan donasi. Ya hakikatnya memindahkan nominal yang sama ke rekening yang berbeda. Malam harinya seorang bloger senior menawarkan pekerjaan menulis dengan honor yang sama persis seperti yang saya transfer siang harinya. Ya mirip kentut hansip, kata orang kampung saya. Nominal yang sama berputar-putar—hanya beda sumber!

Serba-serbi rezeki, begitulah uang yang datang lalu pergi. Apa sih hakikat memiliki sesuatu (termasuk uang) selain hak untuk memanfaatkannya demi kepentingan kita? Uang habis, jangan risau. Bisa pinjam teman, hehe. Duit berkurang, biarin. Masih bisa nebeng makan di rumah orangtua, hihi. Yang jelas rezeki selalu datang—hanya saja kita kadang terkelabui oleh fokus pada nominal yang besar jadi lupa bersyukur.

Rezeki sedikit, rezeki banyak—bukan jaminan kita hepi. “Itu soal kecil, saya masih bisa atasi!” kata Tajir Saldono. Walau berat, tapi harusnya demikianlah setiap orang menafsirkan soal kesulitan cari nafkah. Merelakan yang harus dilepas, itulah yang menyehatkan dan melegakan. Ya beda tipis sama kelegaan menyiram bebek tanpa b setelah kloset kami bebas hambatan! Happy weekend, BBC Mania ….

Advertisements

5 thoughts on “Serba-Serbi Rezeki: Uang Memang Begitu

  1. Kadang polanya sering kayak gini ya Pak, emang rezeki itu dikasih ke kita karena setelah ini ada keperluan yang butuh senilai itu. Saya sendiri sering ngebatin nelangsa, kok ya niatnya buat ditabung ternyata ya keluar juga. Kadang pengen kayak orang-orang bisa save buat investasi untuk keperluan masa depan. Kalo versi suami, dia mah bisa gitu nyantai bilang ya emang jalannya gitu dan harus disyukuri. Entahlah, emang mungkin sayanya kali ya yang kurang belajar ilmu bersyukur dan ikhlas 😂

    Like

    1. Sama, kadang ngarep bisa simpan untuk investasi atau bekal pelesiran tipis-tipis gitu ya. Tapi ya gapapa kalau memang harus keluar. Aku sependapat sama suami kamu, ya memang begitu jalannya tetap harus disyukuri. Bisa jadi itu malah menyelamatkan kita soale duite ga numpuk karena sulit tanggung jawabnya. Tapi ya tetap gapapa juga mau yang banyak dengan tujuan yang baik, terutama buat keluarga.

      Like

  2. Yes, aku sepakat banget sama apa yang dituliskan di sini. Dan memang begitu pula yang aku alami beberapa tahun lalu. Pas anak ditarik iuran buat satu kegiatan di sekolah, pas ada yang kasih orderan hantaran. Pas waktunya daftar SD, eh, kok ada yang kasih job senilai kurang-lebih nominal uang pendaftaran. Serba ndilalah kalau dipikir, tapi sebenarnya itu memang sudah jatahnya. Kalaupun mampir ke kita, ianya cuma numpang lewat.

    Like

    1. Alhamdulillah masih disinggahi ya Mas sebab orang lain ada yang lebih sulit sekadar mendapatkan tamu berupa rezeki yang numpang lewat itu. Kalau fokus kita jumlah yang besar, ya kemungkinan besar bakal sering kecewa. Tapi gapapa juga sih ngarep yang besar, toh tujuannya positif, bisa buat sedekah dan nyenengin keluarga. Intinya berusaha sesuai kemampuan, rezeki bakal datang. Apalagi yang rajin update Youtube. Hehe ….

      Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s