Wisata Cirebon: Mi Koclok dan Masjid Merah Panjunan

“Traveling—it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

—Ibnu Batutah

Jika pada bagian pertama saya nyaris tak jadi berangkat ke Cirebon gara-gara ketakjelasan informasi dari redbus, hingga akhirnya diturunkan di pintu tol, maka tulisan kedua ini berisi lebih banyak kegembiraan. Bukan cuma kopdar singkat nan berkesan, tetapi juga wisata kuliner di Cirebon yang bikin ketagihan.

Setelah tiba di hotel, saya segera melakukan checkin dan beristirahat. Walau judulnya istirahat, saya tetap harus mempersiapkan ini dan itu karena sore saya harus kembali ke tempat liputan guna bertemu ibu-ibu pengelola bank sampah saat mereka berpiket di green house. Karena saya mengandalkan kamera smartphone, foto-foto dalam memori ponsel harus segera saya pindahkan ke dalam tablet. Selain untuk mengamankan foto yang telah dibidik, akan lebih banyak foto baru yang bisa ditambahkan ke dalam memori jika memori lega.

Airy room dulu!

Masjid Merah Panjunan

Setelah beres merapikan foto dan bersih-bersih, selepas Asar saya meluncur ke lokasi liputan sebagaimana janji di siang hari. Acara berjalan lancar, alhamdulillah. Bercakap sampai menjelang magrib, saya pun pamit dan bermaksud meluncur ke Masjid Merah Panjunan yang terkenal dengan bata merahnya. Karena sudah keburu magrib, akhirnya saya mampir shalat di masjid kompleks tak jauh dari SDN Merapi.

Syukurlah, Grab enggak rewel lagi. Langsung deh pesan untuk cus ke masjid tujuan. Tiba di sana pas masuk waktu Isya karena sebelumnya salah masjid yang menurut pengojek Grab benar seperti yang saya mau. Saya ingat betul bentuk dan suasana masjidnya dari blog post Uni Evi yang juga pernah ke masjid itu sebelumnya. Akhirnya saya bisa shalat di sana dan mengambil beberapa jepretan suasana masjid, terutama dinding masjid yang mencerminkan akulturasi Cina dan Jawa.

Papan nama Masjid Merah, Panjunan
Interior masjid didominasi warna merah dan selingan porselen

Porselen berupa piring itu jelas mencerminkan budaya Tiongkok karena merupakan hadiah putri Cina yang dipersunting oleh Sunan Gunung Jati. Menurut marbut yang bertugas, masjid ini sebenarnya masjid tertua di Jawa, yang kemudian menjadi cikal bakal penyebaran Islam ke Demak dan lainnya. Bentuknya lebih menyerupai bangunan Jawa, dengan atap rendah namun ditopang oleh tiang dan reng kayu Jati yang kuat.

mi colot bikin melotot

Begitu masjid berangsur sepi, saya turut undur diri karena perut tergoda mencicipi mi colot khas Cirebon. Sebenarnya saat makan siang saya berjanji tak akan makan malam, setidaknya bukan berbahan karbo. Kelezatan empal paru rasanya masih bertahan lama di lidah. Namun harap maklum, makan siang hanya dipasok dengan sebungkus kecil nasi jamblang, padahal rata-rata saya lihat pengunjung yang datang ke kedai itu memesan minimal dua porsi.

Saya tahu mi colot dari browsing. Setelah bertanya lagi kepada Google, lokasi terdekat mi colot ternyata hanya dalam radius 300 meter. Maka saya pun berjalan sampai ke kedai pinggir jalan itu. Selain irit, anggap aja jogging malam, hehe. Tiba di tempat, saya langsung pesan paket lengkap plus es teh tawar tentu saja. Saya kurang tahu mi colot ini sebenarnya jenis masakan ataukah jenis mi yang disajikan. Yang jelas, mi yaminnya enak dan mengenyangkan.

Kelezatan mi tergambar dari teksturnya

Perut keroncongan teratasi, saatnya balik ke hotel karena rasa capai tak bisa dihindari. Pengin segera beristirahat karena seharian belum tiduran, ditambah perjalanan panjang dari Lamongan yang lumayan melelahkan. Sebelum tiba di hotell, saya minta Abang Grab menepi ke sebuah minimarket agar saya bisa membayar order tiket bus. Setelah bayar tiket di Alfamart di depan Stasiun Kejaksan, kami lalu meluncur ke hotel

Namun mata enggan menutup. Malah asyik menonton tayangan film di sebuah jaringan TV kabel. Lumayan juga filmnya—tentang seorang fotografer perang yang mengalami kebutaan akibat ledakan bom bunuh diri. Setelah balik ke Amerika, dia terlibat dalam silang sengkarut masa lalu pasangannya yang berujung pada saling membunuh. Ada Michael Keaton yang bagus banget aktingnya, tapi sori lupa judulnya ….

kopdar mantul dan mi koclok

Hari Kamis pun datang. Sebenarnya masih betah tinggal di hotel. Adem sih, hihi …. Namun apa boleh buat. Hari itu saya mesti balik ke Lamongan. Tugas sudah selesai, saatnya menuntaskan janji kopdar dengan Mbak Tira yang sejak kemarin sudah berkontak ria. Lokasi paling dekat dari hotel dan bagus untuk dikunjungi adalah Keraton Kasepuhan, maka di sanalah kami janji bertemu. Setelah mengelilingi keraton ditemani seorang guide, kami pun beringsut ke Masjid Sang Cipta Rasa.

Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon
Sumur tempat memandikan pusaka pada 1 Suro

Karena dekat, cukup dengan jalan kaki. Sebagaimana kopdar-kopdar lain, sambil menunggu manjing waktu Zuhur, kami pun mengobrol banyak—seputar blogging hingga hal-hal pribadi. Kalau bukan sebab kopdar, saya mungkin tak akan tahu latar belakang pendidikan Mbak Tira, kisah di balik banting setirnya jadi bloger dan penulis buku, hingga cerita kecil tentang kedua anaknya. Dan tak boleh lupa, kami ngomongin juga seputar wisata kuliner. Daripada ngomongin orang, ye kan? Dosa …. 😀

Gerbang Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon

Selepas shalat Zuhur, Mbak Tira mengusulkan agar saya mencoba mi koclok. Malam sebelumnya, beberapa saat setelah saya menyantap mi colot, Doel aka Rizki bloger Jakarta membocorkan info tentang adanya mi koclok enak di sekitar Masjid Merah Panjunan. Pucuk dicinta ulam tiba. “Kalau saya sih suka ya, engga tahu kalau Mas!” ujar Mbak Tira mengomentari mi koclok yang disajikan sedikit mblenyek akibat kehadiran maizena. Karena penasaran, saya pun menyambut usulannya. Abang Grab langsung mengantar kami ke daerah Tanda Dalam kalau tak salah, tepat berada di belakang Masjid At-Taqwa yang megah itu.

Taburan suwiran ayam bikin tambah gurih dan krenyes-krenyes!
Lengket di piring, lengket di lidah. Yummy!

Inilah penampakan mi koclok yang kesohor itu. Saya langsung suka, apalagi disantap pedas. Wow! Enak lagi karena Mbak Tira bersikeras mentraktir makan siang saya hari itu. Demi menghargai tuan rumah, saya mengiyakan. Kadang beda tipis ya antara menghargai dan irit, hehe. Dengan taburan merica di atasnya, mi koclok memang sangat khas. Mi kuningnya berpadu dengan lengketnya maizena yang telah dibumbui. Irisan ayam sepintas menyerupai penyajian bubur ayam—tapi endess banget rasanya. Jangan mengaku sudah ke Cirebon kalau belum mencicipi mi koclok!

Kebaikan Mbak Tira tak cukup di situ. Beliau mengajak saya belanja oleh-oleh di Jl. Siliwangi tepat di seberang Pusat Grosir Cirebon (PGC). Sumber Jaya itulah nama tokonya. Tak sia-siakan ajakannya karena istri sudah pesan untuk dibelikan terasi khas Kota Udang. Selain terasi, saya mengamankan dodol dan wajik Cililin berbungkus kelobot jagung yang kondang itu. Di luar dugaan, Mbak Tira menghadiahi saya Siroop Tjap Buah Tjampolay khas Cirebon yang legendaris karena didirikan sejak tahun 1936 beserta srimping legit yang langsung tandas begitu tiba di rumah.

Viva persohiblogan!

“Mas Rudi pesan Grab aja dulu. Saya pulang kalau Mas sudah dapat,” kata Mbak Tira seperti seorang ibu pada anaknya. Ya saya memang memandangnya seperti itu. Beliau seperti ibu sendiri saja karena usia anak sulungnya tak terpaut jauh dengan saya. Abang Grab pun datang, dan saya pamit pulang menuju RM Aroma yang ternyata sangat jauh. Selama perjalanan saya baru teringat kenapa tak pesan Grab Car saja agar lebih nyaman mengingat bawa barang banyak.

Nunggu dari siang sampai malam, untung ada tontonan!
Mesin Mercy sangat halus dan nyaman. Sayang datangnya telat!

Untung ada TV kabel

Bus Pahala Kencana yang dijadwalkan berangkat pukul 14.30 ternyata datang sangat terlambat. Bus baru tiba sekitar jam 7 malam dan bertolak ke arah Surabaya setengah jam kemudian. Perut sampai keroncongan tapi saya tak bisa makan karena lupa ambil uang di ATM. Uang yang tersisa di dompet mungkin cukup untuk makan satu porsi, namun riskan juga meninggalkannya dalam keadaan kosong sama sekali. Inilah akibat terburu-buru menuju lokasi pickup bus—padahal nyatanya telat pol! Untunglah saya bawa camilan dan air mineral, plus ditemani film-film jadul di TV kabel rumah makan sehingga proses penantian tak terlalu terasa.

Akibat lokasi titik penjemputan yang sangat jauh dan terpencil ini, saya menulis komentar di redbus sebagai berikut sebagai feedback.


The order was fine. I like it and would like to order via redbus again. I just found it very troubling that I could never reach your number. The number was always busy whereas I needed to be informed of the exact location of departure. I suggest you include an accurate address and valid number of departure place to keep us relieved before taking the journey. Also, Pahala Kencana Cirebon—where the bus picks us up, is way out woop woop. Please consider the possibility of asking the bus to relocate the pickup location. Thanks

for redbus

Itulah etape kedua perjalanan singkat saya ke Cirebon. Ingin balik lagi ke kota ini bersama keluarga, untuk mencicipi mi koclok dan wisata lainnya yang belum sempat dijelajahi. Terima kasih, Pak Agus. Terima kasih banyak Mbak Tira atas persohiblogannya, sungguh kopdar yang mantul alias mantap betul! Thanks juga buat Local Guide yang telah mendukung dengan travel perk yang bikin hebring. Ke mana saja selama liburan kemarin, BBC Mania?

Advertisements

19 thoughts on “Wisata Cirebon: Mi Koclok dan Masjid Merah Panjunan

  1. Wah seru juga ya bisa sambil jalan jalan, apalagi menikmati kuliner uniknya, benar2 pengalaman tak terlupakan 🙂

    Like

  2. Duh…keduluan ini mah. Saya sudah lama mengidamkan untuk berkunjung ke Cirebon. Sampai saat ini gagal melulu.
    Ketemu dg mbak Tira ya disana. Asik juga berteman di blog, kemudian satu waktu bisa bertemu muka.
    Tapi itu Mas, lihat mie nya…ah jadi salfok deh…

    Salam dari Sukabumi, Mas.

    Like

    1. Alhamdulillah ada kesempatan bepergian ke sana, Kang. Bisa kopdar sekalian ngerjain tugas hehe. Loh sekarang Kang Titik udah ga di Bekasi lagi? Semoga kapan-kapan bisa kopdar ya.

      Like

  3. Duh, kupon RedBus hadiah Local Guide nggak pernah kupake. Tiap kali coba order bus kok nggak ada yang lewat Pemalang ya? Anyway, baru sekali ke Cirebon dan itu pun cuma kondangan (berangkat agak siang dan langsung pulang sorenya), jadi agaknya (seperti yang ditulis Mas Rudi di atas) aku belum sah dinyatakan ke Cirebon karena belum makam kuliner-kulinernya tersebut hahaha. Tapi emang bolak-balik pengen ngajak anak-anak ke Cirebon sih, sejak duluuu banget malah. Tapi nggak jadi-jadi terus. Dulu pas anak-anak belum sekolah bisa pergi kapanpun, dompetnya yang belum siap. Sekarang anak-anak udah sekolah, ngatur waktu kudu dipas-pasin sama liburan sekolah. Padahal pas liburan sekolah apa-apa mahal, peak season sih. Nasib!

    Like

    1. Iya, Mas. Punya anak sekolah kadang dilematis. Nunggu liburan sekolah, tiket mahal. Pas tiket murah, eh mereka ga libur. Tapi sekali liburan kan muantep sampean ke luar pulau je.

      Like

  4. mie koclok bandung aku favorite banget, jadi inget pas kecil suka diajak makan mie koclok di daerah gunungsari sama ibuku. Cirebon adl kota kenanganku saat kecil..
    btw salam kenal ya mas

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s