Memanfaatkan ZenFone Max M2 Agar Semakin Untung Walau Tinggal di Kampung

Perkenalkan, saya Rudi, ayah dua anak yang kini tinggal di Lamongan, Jawa Timur. Sebelumnya kami sekeluarga tinggal di Bogor selama 11 tahun. Kini sudah tahun kedua kami tinggal berdekatan dengan ibu yang sudah sepuh. Selain sebagai ayah, sehari-hari saya menjalani sejumlah peran terutama berkaitan dengan cara mendapatkan pemasukan. Jujur saja hidup di tempat baru sungguh sangat menantang, kalau tak mau dibilang memprihatinkan.

Multiperan enggak boleh baperan

Menjelang usia 40 tahun, tak banyak peluang kerja yang bisa saya dapatkan di daerah. Kota kecil yang lambat pertumbuhannya. Mau buka usaha, terkendala modal dan gairah kuliner masyarakat yang belum semasif di kota-kota besar. Akhirnya saya pilih blogersebagai profesi utama untuk mendulang rupiah. Selain tak ada batasan usia, jadi bloger tak diikat jam kerja seperti pekerjaan kantoran yang tak mungkin bisa saya penuhi lantaran kondisi medis sejak tinggal di Bogor.

Bukan hanya blog yang saya andalkan sebagai pundi rezeki. Profesi lain adalah editor dan desainer isi buku yang keduanya tentu saya kerjakan secara freelance. Ketika order sedang berlimpah, tentu hati semringah. Namun sayang, dunia perbukuan kini lesu yang berdampak pada menurunnya penjualan dan merosotnya volume pekerjaan. Bukan berarti tak ada sama sekali, namun masih ada dengan ritme yang lebih jarang.

Kesibukan berikutnya adalah sebagai pengelola Saung Literasi (SL) dan admin komunitas sosial Nasi Bungkus Community (NBC). Saung Literasi adalah program sosial yang pernah berjalan selama 3 tahun di Bogor dan kami aktifkan kembali di Lamongan selama 6 bulan ini. Menjalani multiperan sebagai bloger, editor dan layouter buku, pengelola SL, dan admin NBC mau tak mau menyita waktu kendati tak semuanya menghasilkan uang. Tapi ya namanya pilihan, enggak boleh baperan atau banyak mengeluh.

5 Tips Beruntung

Namun satu hal yang pasti: semua peran itu butuh dukungan lima jurus agar bisa saya jalankan dengan produktif dan beruntung.

1. Tentukan prioritas

Para coach kesuksesan bilang bahwa produktivitas ditentukan oleh kemampuan menyusun skala prioritas. Di zaman serbadigital seperti sekarang, semuanya bergerak sangat cepat dan nyaris tanpa batas. Setiap hari saya usahakan menyusun daily planner agar hal-hal mendesak bisa ditangani lebih dulu, baru kemudian hal-hal pelengkap. Bukan hanya cermat memilih order pekerjaan, tetapi juga teliti dalam memenuhi setiap kebutuhan.

2. Manajemen waktu dan stres

Berdasarkan pengalaman, waktu luang sering melenakan. Jika saat jadi karyawan dulu skedul kerja dibuat oleh atasan, kini saya harus menyusun timeline sendiri agar waktu terbagi secara proporsional untuk blogging, keluarga, dan kegiatan sosial. Jangan sampai saya mengabaikan anak-anak hanya karena tuntutan berada di depan laptop. Manajemen waktu juga menyangkut kegiatan fisik atau olahraga yang tak boleh dilupakan. Fisik yang bugar dan pikiran yang segar adalah modal utama menjalankan multiperan.

Yang tak kalah penting, manajemen stres untuk kesehatan mental. Jangan sampai level hormon pemicu stres melewati ambang batas sebab berpotensi menimbulkan dampak negatif dan sumber penyakit. Bukan hanya penting mengatur ritme pekerjaan dan menghindari begadang, saya juga mesti piawai menyeleksi lingkaran pergaulan agar terbebas dari orang-orang toxic yang justru bikin hidup kita runyam dan tertekan akibat kehadiran atau komentar mereka yang kontraproduktif.

Untuk kasus satu ini, saya bisa menyiasati salah satunya dengan bermain game. Dikejar deadline setiap hari bisa bikin pikiran suntuk. Belum lagi mengedit naskah, menyiapkan bahan ajar dan mengajar di Saung Literasi, plus kegiatan mingguan di NBC. Pikiran bisa dibikin rileks sejenak dengan memanfaatkan kecanggihan Asus Zenfone Max M2. Dengan bentang layar 6.3” berasio 19:9 dan beresolusi HD+ plus dukungan sistem operasi pure Android Oreo 8.0, saya tak perlu stres lagi karena gaming bakalan enteng.

Prosesor terbaru besutan Qualcomm yakni Snapdragon 632 dikenal gegas namun tetap hemat energi. Prosesor ini disebut-sebut 40% lebih cepat dibanding pendahulunya yaitu Qualcomm Snapdragon 625 yang terkenal punya performa tinggi tetapi hemat daya dan tidak panas. Nah, dibenamkannya Snapdragon 632 octa core 1,8 GHz  adalah jaminan bahwa pengalaman gaming bakal seru sehingga pikiran suntuk cepat berlalu.

3. Perangkat yang tepat

Jika ditilik satu per satu, pekerjaan saya sangat terbantu oleh bantuan teknologi canggih, dalam hal ini gadget berkoneksi Internet. Sebagai bloger, saya butuh smartphone yang menawarkan kinerja mumpuni sekaligus bisa dipakai hotspot ke laptop lantaran saya tidak memasang wi-fi di rumah. Zenfone Max M2 adalah pilihan tepat karena cocok dipakai dalam kegiatan sehari-hari dengan harga 2,3 jutaan namun tetap dahsyat untuk mobile gaming. Saya bisa bebas ikut event sepanjang hari dan melakukan cuitan di Twitter hingga mencapai trending topic tanpa harus waswas dihantui daya habis karena Zenfone Max M2 dibekali baterai bongsor berkapasitas 4.000 mAh yang enggak perlu bikin saya khawatir pas keluar tapi enggak bawa powerbank.

Bloger juga dituntut punya koleksi foto dan video yang ciamik. Ke mana pun saya pergi, tak perlu repot membawa kamera yang berat berkat keunggulan kamera dobel yang ditanamkan di badan Zenfone Max M2. Kamera belakang 13 MP yang dilengkapi Electronic Image Stabilization (EIS) benar-benar fitur yang selama ini saya butuhkan. Selain menjadi admin komunitas NBC, setiap Jumat saya ditugaskan memotret dan merekam video untuk dikompilasi sebagai laporan bagi para donatur.

Zenfone Live bikin foto lebih hidup!

Berkat fitur EIS, tak ada lagi video blurred gara-gara tangan gemetar saat merekam. Sedangkan kamera belakang 8 MP akan memanjakan saya membidik foto-foto human interest dengan hasil bokeh yang membuat objek menjadi lebih hidup dan menonjol. Fitur satu ini tak bisa saya sangkal karena Zenfone Live punya istri yang pernah saya pakai untuk memotret memang mampu menghasilkan efek bokeh yang natural. Dengan begitu, pesan-pesan muda tersampaikan sehingga lebih banyak orang tergerak ikut berdonasi.

Masih amatir kan?

4. Tambah ilmu

Boleh dibilang sekarang tak ada lagi hambatan atau batasan untuk menambah pengetahuan. Satu-satunya batasan adalah pikiran atau mindset kita sendiri. Kecanggihan Internet membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengakses ilmu. Termasuk ilmu blogging dan videography. Agar bisa bersaing dengan para bloger lain, saya mesti belajar lagi tentang SEO, fotografi, videografi, dan tentu saja cara mengemas tulisan agar lebih memikat.

Tak ada cara lain untuk bisa maju karena tinggal di kampung selain belajar dan melakukan upgrade pengetahuan. Saya sudah berlangganan sejumlah kanal YouTube guna meningkatkan kemampuan mengajar bahasa Inggris untuk anak-sanak Saung Literasi plus kanal-kanal penyedia kursus foto dan video yang bisa diakses secara online. Selain itu, membaca buku jadi menu wajib di samping kopi darat dengan bloger sekota.

5. Komitmen 

Yang paling berat, akhirnya, adalah kesanggupan untuk tetap berkomitmen menjalankan empat kiat sebelumnya. Tak jarang saya mengalami konflik kepentingan antara kebutuhan dan keinginan yang saling berebut menjadi prioritas. Semua bisa terjadi akibat manajemen waktu dan stres yang tidak teratur. Belum lagi kalau punya gadget yang hanya keren fisiknya dan murah harganya namun performanya mengecewakan dan malah meningkatkan kadar stres. Jika sudah demikian, mana mungkin terpikir untuk mengembangkan diri dengan belajar hal-hal baru agar bisa lebih kompetitif?

Saya sudah menjatuhkan pilihan pada Zenfone Max M2 sebagai perangkat utama untuk menunjang berbagai aktivitas atau peran dalam kehidupan sehari-hari. Hidup di kampung tak harus buntung meskipun sarana hiburan terbatas dan peluang usaha langka. Zenfone Max M2 bisa menciptakan hiburan tersendiri karena punya power sebagai perangkat mobile gaming yang andal. Tak perlu beli konsol game atau gadget mahal kalau sudah ada Zenfone Max M2 dari Asus. Tinggal di kampung dan tetap untung? Bisa!

12 thoughts on “Memanfaatkan ZenFone Max M2 Agar Semakin Untung Walau Tinggal di Kampung

  1. Aku malah pengen suatu saat nanti menghabiskan sisa2 hidup di desa mas…

    Mengisi hari dengan berkebun, mengurus beberapa ternak, dan tentunya tetap berkarya melalui tulisan.. 😁👍

    Liked by 1 person

    1. Enak ya Mas tinggal di desa. Memang tak hiruk pikuk kayak di kota, tapi ya hiburan relatif terbatas. Asal Internet kencang, sebenarnya sekarang tinggal di mana saja udah enggak masalah kok. Yang penting bisa berkarya ya.

      Like

  2. Keren juga nih hp ya Mas, bikin ngiler saja secara hp saya sudah 4 tahunan usianya.
    Kameranya oke juga ya
    Btw, Mas baru 40 tahun rupanya, Mas masih muda.

    Salam dan sukses selalu untuk Mas.

    Like

  3. Wah Mas Rudi di Lamongan, satu propinsi kita sekarang Mas. Semoga impian memiliki Zenfone Max M2 bisa terwujud Mas. Salut saya sama njenengan punya kegiatan sosial di samping menjalankan peran dan tugas sebagai kepala keluarga.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s