Diliput Koran Lokal, Langkah Kecil yang Potensial

“Assalamualaikum, met pagi Mas Rudi. Ini sy Dina dr Radar Lamongan.” Sepenggal pesan pendek itu muncul di layar ponsel saya lewat aplikasi WhatsApp tanggal 9 Juli pukul 5.22. Audina, reporter yang pernah meliput Lamongan Local Guides (LLG), bermaksud mewawancaraiku karena tertarik dengan profesi bloger yang kugeluti secara full-time atau penuh waktu.   

Permintaannya tak segera kusanggupi sebab beberapa saat sempat terpikir bahwa pilihanku menjadi bloger barangkali kurang layak dibagikan bagi para pembaca media tersebut. Namun setelah dipikir-pikir, kapan lagi mengenalkan profesi bloger yang sering sulit kujelaskan kepada para tetangga bahkan saudara dan kerabatku sendiri. Lewat berita feature di media cetak, orang-orang awam bisa punya gambaran tentang aktivitas blogging yang ternyata bisa menghasilkan rezeki.

Setelah meleset dari jadwal karena bentrok dengan acara liputan lain, Dina pun datang ke gubuk kami. Saya sebut gubuk karena rumah kami memang mungil dan biasa saja, terletak di perumahan yang juga biasa. Percakapan berjalan mengalir karena kami pernah berbincang seputar LLG beberapa bulan sebelumnya. Dina rupanya tertarik mengulik Saung Literasi yang sebenarnya belum berjalan sesuai harapan. Itu semua bermula dari gazebo atau saung kecil yang ada di depan rumah kami.

Gazebo mini itu memang kami pasangi label Saung Literasi sebagai tempat belajar anak-anak sekitar, tapi baru bahasa Inggris yang berjalan. Itu pun jumlah muridnya terus merosot dari hari ke hari. Kusampaikan kepada Dina bahwa orangtua menghendaki kami mengelola les seperti les privat kebanyakan, tapi kami belum bisa memenuhinya. Kami lebih fokus ke gerakan literasi dan critical thinking agar anak-suka membaca, punya wawasan luas, dan tak mudah termakan hoaks.

Beringsut ke soal blogging, pertanyaan paling sulit adalah menjelaskan nominal pendapatan dari aktivitas menulis di blog. Karena desakan untuk menyebutkan jumlah, mungkin agar pembaca tahu potensi ekonomi ngeblog, maka kusebutkan rentang angka tertentu dalam skala juta rupiah. Terus terang walau sudah lama ngeblog, pengalamanku sebagai bloger berbayar tak sementereng bloger lain yang lebih senior.

Hadiah blog 9 Juta rupiah

Teh Ani Berta, misalnya, pernah dibayar 3 juta rupiah untuk satu kali menulis di blognya. Inilah yang kusebutkan dalam wawancara sore itu sebagai nominal tertinggi yang kuketahui. Tampaknya, dalam feature yang ia tulis, Dina menyimpulkan aku pun pernah dibayar sebesar itu untuk sebuah tulisan. Kalau saya mah masih sebatas akumulasilah uang sebesar itu, hehe. Sayang juga dia tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa hadiah lomba blog juga besar dan sering kuandalkan sebagai kanal rezeki keluarga. Kusebutkan misalnya dari sebuah lomba aku paling tinggi pernah mendapatkan 9 juta rupiah jika ditotal antara hadiah berupa uang dan barang.

Keterbatasan ruang tentu menjadi penghalang baginya untuk menceritakan semuanya secara terperinci. Namun yang lebih penting, dimuatnya berita tentang bloger di sebuah media cetak adalah sinyal positif bahwa publik mulai membuka mata pada profesi yang menjanjikan ini. Bukan sekadar menuliskan curhat penuh kegalauan atau membuka aib yang berbahaya, blogging nyatanya dapat memengaruhi kehidupan orang lain, baik dari segi finansial maupun sosial. Itulah yang kupesankan kepada Dina di akhir wawancara.

Menjadi bloger yang dimuat di media lokal seperti ini mungkin hanya sebuah prestasi kecil atau bahkan bukan prestasi sama sekali. Akan tetapi saya berharap sepenggal berita tersebut potensial untuk menarik pembaca muda atau usia lainnya untuk menulis dan mendokumentasikan pengalaman dalam di blog atau media lainnya sesuai kemampuan. Tak perlu lagi minder menjadi seorang bloger!

Advertisements

13 thoughts on “Diliput Koran Lokal, Langkah Kecil yang Potensial

  1. Masalahnya semua pekerja online adalah sama. Sangat susah kalau ditanya orang. Kamu kerja apa?.
    Entah freelancer, animator remote, web developer, full time blogger. Sama semua. Hehehe.
    Salam kenal ya pak.

    Like

    1. Begitulah adanya karena memang profesi ini relatif baru dan belum dikenal pada masa lalu. Apalagi bagi orang-orang generasi lama, tentu sulit menjelaskannya. Salam kenal juga!

      Like

  2. angka segitu belum masuk ke saya sebagai seorang blogger hahaha. aktif bener pun baru sekarang setelah memtusukan resign dan totalitas mau jadi ibu rumah tangga kalo perlu ditambah jadi wirausahawan sih….

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s