Saatnya Zakat Mandirikan Umat dan Membangun Negara Kuat

Tiga tahun lalu seorang tetangga mendatangi kami. Sebut saja Bu Karmina. Wanita paruh baya ini datang beberapa kali dengan tujuan meminta pekerjaan. Menyapu, mengepel, menyeterika, bersih-bersih, apa saja siap ia kerjakan. Kami tinggal di kompleks sementara Bu Karmina tinggal di kampung yang bersebelahan dengan rumah kami. Ia setengah memaksa dipekerjakan demi mendapat uang untuk membayar tunggakan SPP anaknya.

TUNGGAKAN MENYEDIHKAN

Anaknya yang belajar di sebuah SMK itu sudah menunggak berbulan-bulan dengan tagihan cukup besar sampai-sampai si anak malu sekolah. Suaminya sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga berprofesi sebagai pengayuh becak yang saat itu becaknya sedang rusak sehingga jadwal menarik terpaksa terhenti. Sebagai freelancer, kami terus terang tak sanggup membantunya bahkan sekadar memberinya pekerjaan ringan seperti beres-beres rumah sebab kami sendiri tengah berhemat.

Istri akhirnya mengangsurkan sedikit uang yang bisa Bu Karmina gunakan untuk membeli beras selama beberapa hari. Wajahnya semringah ketika berpamitan. Diam-diam hati kami merintih sebab tak mampu menyelesaikan permasalahan utamanya. Terbayang wajah anaknya yang lesu dan terancam tak lulus akibat tunggakan aneka biaya.

ADA ZAKAT, SOLUSI TEPAT

Beberapa hari memikirkan anak Bu Karmina, saya lantas teringat pada sebuah Lembaga Amil Zakat (LAZ) asal Bandung yang dikelola oleh Aa Gym. Waktu itu adalah tahun pertama kami menjadi orang tua asuh untuk anak SMP dengan cara menyetorkan dana tetap setiap bulan. Saya segera datangi kantornya dan langsung mengutarakan problem Bu Karmina. Mereka berjanji menindaklanjuti walau tak menyanggupi menutup seluruh tunggakan.

Tak lama setelah itu, tim LAZ pun menyambangi rumah Bu Karmina dan melakukan pendataan sekaligus wawancara. Sekali lagi, meskipun tak ada jaminan tunggakan akan dibayar, kemajuan kecil seperti itu sungguh menggembirakan. Puncaknya, kabar gembira pun tiba. Lembaga itu akhirnya melunasi seluruh tunggakan sehingga Bu Karmina datang menemui kami untuk tak hentinya berterima kasih.

Walau bukan kami yang membayar tunggakan, kami merasa menjadi bagian dari kegembiraan orang lain. Kasus Bu Karmina bukan satu-satunya kisah betapa besar manfaat zakat yang sudah dihimpun oleh LAZ baik secara online maupun offline untuk menyelesaikan problem pendidikan. Dana yang diterima anak Bu Karmina bisa dipandang sebagai beasiswa karena sebagian ulama membolehkan jatah fi sabilillah untuk kebutuhan beasiswa, apalagi Bu Karmina termasuk kategori miskin.

KECOPETAN DAN ASET MILIARAN

Cerita Andrian berikut ini menegaskan bahwa potensi zakat bisa menggerakkan nasib dari seorang mustahiq menjadi seorang muzakki. Bersama istrinya yang seorang dokter hewan, Andrian hijrah ke Jakarta tahun 2008 dengan maksud menaklukkan ibu kota. Sayangnya, begitu turun dari kereta, semua barang dan bekal mereka dicuri orang tatkala mereka terlelap tidur. Dompet, ponsel, dan ijazah mereka raib tanpa jejak.

Sebagai musafir bangkrut, Andrian menyadari mereka telah menjadi ibnu sabil yang layak mendapat zakat. Dengan langkah tertatih, mereka pun menyusuri jalanan—benar-benar berjalan kaki—bertanya sana sini dengan tujuan menemukan Lembaga Amil Zakat yang akhirnya mereka temukan di sebuah masjid terkenal di bilangan Jakarta Selatan.

Berbekal dana zakat dari LAZ tersebut, Andrian bertahan hidup dengan menjadi sopir sementara istrinya bekerja sebagai babysitter. Mereka tak menyerah apalagi malu meski menyandang gelar sarjana dari universitas ternama. Beberapa bulan berlalu, Andrian banting setir ke dunia sales yang rupanya jauh lebih menjanjikan. Berkat prestasinya, ia pun merangkak naik dari koordinator area, supervisor, manajer area, hingga general manager.

Dengan perjuangan selama tiga tahun, Andrian pun menjadi presiden direktur di sebuah perusahaan konsultan properti miliknya sendiri. Karena asetnya mencapai miliaran rupiah, tak berlebihan jika ia layak disebut sebaga miliarder. Keberhasilan Andrian bukan lantaran kecerdasan, keuletan, dan optimisme belaka, melainkan dilibatkannya Allah SWT dalam setiap usahanya dengan cara berbagi.

“Kitalah yang butuh zakat, bukan mereka,” ujar Andrian mantap mengenang perjalanannya. Dia yakin bahwa berzakat adalah sebuah kebutuhan bagi siapa saja, apalagi yang hartanya telah mencapai nisab. Semakin banyak zakat dan sedekah yang dikeluarkan, semakin subur rezeki kita dan berlimpah harta yang dititipkan-Nya—tentu saja juga diliputi dengan keberkahan.

Kisah Andrian adalah adalah sebuah epitome, sebuah contoh konkret bagaimana dana zakat dimanfaatkan sebagai solusi ekonomi yang produktif dan positif, yakni mengangkat seorang mustahiq ke tingkat muzakki. Zakat bukan hanya menjadi penolong tetapi juga energi bagi penerimanya. Merevolusi seseorang from zero to hero.

Setiap satu suap makanan yang masuk ke dalam mulutku harus menjadi energi penggerak untuk mendapatkan sepuluh suap buat orang lain,” begitu mantra Andrian yang selalu diucapkan di awal kisahnya sebagai ibnu sabil.

Kisah Andrian ditulis oleh M. Anwar Sani, seorang dosen dan aktivis zakat, dalam buku berjudul Donat Kehidupan terbitan PPPA Shop.

IBARAT POHON BESAR

Orang yang gemar berzakat dan bersedekah kerap digambarkan sebagai pohon rindang yang meneduhkan sehingga memikat orang untuk datang berkerumun dan mencari kesejukan. Semakin daunnya terlepas, setiap cabangnya dipangkas, yakni semakin sering harta mereka dikeluarkan baik dalam bentuk zakat maupun sedekah, maka semakin rimbun pohon itu tunas dan daun yang mekar. Itulah perumpamaan orang yang rajin mendonasikan harta.

Sebaliknya, orang yang enggan berzakat padahal sudah wajib, bahkan sengaja menahan agar hartanya terus terakumulasi, ia ibarat pohon tinggi besar dengan daun lebat yang terlihat angker. Orang lain enggan mendekat sebab mereka tak pernah mendapat manfaat. Daun-daun tak pernah mengalami peremajaan, terus bertambah sehingga menghambat masuknya cahaya matahari yang amat dibutuhkan.

Tragedi Zakat?

Berbeda dengan Andrian, cerita terakhir berikut ini akan membelalakkan mata kita terhadap pentingnya berzakat sekaligus manajemen zakat yang sepertinya belum optimal dilakukan. Anda mungkin masih ingat berita tentang DH seorang petugas kebersihan asal Tasikmalaya yang nekat mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi.

Konon istri DH baru saja berkirim kabar lewat WhatsApp bahwa perutnya lapar, uang tak ada, sementara anak-anak mereka makan hanya ditemani kerupuk. Pesan itu menegaskan tragedi kemiskinan yang luput oleh perhatian kita yang mengaku sebagai bangsa berbudi. Terlepas dari pilihannya mengakhiri hidup, problem ekonomi harus menjadi sorotan masyarakat termasuk negara.

Sangat mungkin DH termasuk mustahik yang layak menerima zakat, tetapi ia tak masuk radar LAZ terdekat sementara DH juga tak punya akses untuk memperoleh bantuan dar LAZ. Dengan potensi zakat sebesar 217 triliun, mengutip CEO Rumah Zakat Nur Effendi, mestinya kasus miris DH tak perlu terjadi; keluarga makan dengan lauk kerupuk padahal sebenarnya bisa diberdayakan melalui pemanfaatan dana zakat. Diperkirakan baru sekitar 8 triliun yang terkelola secara profesional.

Kewajiban berzakat sudah sering disampaikan di majelis ta’lim atau berbagai forum pengajian. Sayangnya, yang disampaikan sering kali hanya sebatas informasi syar’i seperti nisab dan besar zakat yang harus dibayarkan. Literasi zakat bagi masyarakat jelas belum digarap dengan maksimal. Masjid di desa-desa, bahkan di kabupaten/kota, terus menerima zakat, infak, dan sedekah dari muzakki. Namun pendistribusiannya biasanya hanya sekali dalam setahun dan para mustahik tak tahu harus mengajukan ke mana jika mereka sangat membutuhkan.

Selama ini bukan rahasia lagi bahwa saldo atau kas masjid bisa begitu besar sementara kemiskinan tak jarang merajalela di sekitarnya. Literasi zakat harus digencarkan agar semakin banyak kaum muslim yang menyadari kewajiban mereka dan menunaikan zakat sesuai ketentuan.

Setelah menuturkan tiga kisah di atas, saya tak muluk-muluk menyampaikan gagasan tentang zakat. Beberapa hal berikut setidaknya menjadi pokok ide yang sering menggelayut dalam pikiran.

1 – Sosialisasi ekstensif

Perlu dilakukan sosialisasi lebih gencar ke perusahaan atau kantor-kantor yang memiliki potensi zakat tinggi. BAZNAS bisa menjalin dengan komunitas lokal untuk menyebarkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai hal ihwal zakat.

Yang tak boleh ketinggalan adalah mendekati anak-anak muda millenial yang potensi penghasilannya luar biasa besar melalui kecanggihan teknologi di era serbadigital. Boleh jadi mereka selama ini tak membayar zakat lantaran belum tahu kaifiyahnya, bukan lantaran menolak membayar. Tersebarnya informasi utuh dan terus-menerus ke seluruh sendiri masyarakat akan membantu tercapainya literasi zakat yang lebih ekstensif.

2 – Peningkatan manajemen amil

Perlu dilakukan pelatihan atau simulasi praktis bagi para amil di masjid-masjid daerah yang sering menerima ZIS dari warga setempat. Mereka harus diajari memilah dan mengelola ZIS secara profesional. Yang lebih utama, harus ditekankan bahwa tak boleh ada warga miskin yang menderita namun tidak terpantau oleh masjid padahal kas masjid mencukupi.

Peluncuran buku berjudul Amil Zakat Easy Going karya Nana Sudiana, yakni Direktur Pendayagunaan IZI sekaligus Sekjen Forum Zakat (FoZ), merupakan langkah positif dan produktif untuk membangun keterampilan amil dalam mengelola zakat. Namun perlu diingat, bedah buku selama ini belum menyentuh ke desa-desa atau daerah sehingga tetap perlu diadakan pelatihan manajemen yang simulatif.

View this post on Instagram

#SahabatZiswaf Gelombang era 4.0 ini banyak memberikan pengaruh terhadap kehidupan kita. ⁣ ⁣ Teknologi yang ada seakan semakin memudahkan segala aktivitas manusianya. Termasuk perubahan terhadap pergerakan zakat di Indonesia. ⁣ ⁣ Para amil mau tidak mau harus beradaptasi di Era 4.0 ini untuk bisa terus sukses dan lincah (agile) mengawal dan membersamai gerakan zakat Indonesia menuju cita-citanya, yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur, sejahtera dan memiliki kesadaran ber-Islam dengan baik sesuai dengan ajaran zakat selama ini.⁣ ⁣ Mendukung para Amil di Era 4.0 ini terbitlah Buku karya Direktur Pendayagunaan IZI sekaligus Sekjen Forum Zakat (FoZ), Nana Sudiana berjudul Amil Zakat Easy Going ; Pemikiran dan Inisiatif Zakat di Era 4.0, selain itu juga memenuhi dua tujuan besar yakni, menjadi referensi amil dan dan menjadi guidance strategi dan juga landasan moral untuk pegiat dan aktivis zakat Indonesia. ⁣ ⁣ Dalam sambutan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Muhammad Fuad Nasar di acara launching dan bedah buku yang dilaksanakan kemarin (9/10) mengatakan bahwa kehadiran buku ini merangkum gagasan dan pemikiran kontekstual tentang zakat dengan berbasis pada pengalaman penulisnya-sangat relevan dan bermanfaat guna memperkokoh literasi intelektual gerakan zakat di tanah air.⁣ ⁣ Beliau berharap narasi yang mengulas dinamika pengelolaan zakat nasional perlu⁣ dipublikasikan agar diketahui dan dipahami oleh publik.⁣ ⁣ Semoga hadirnya buku ini menjadi pendorong aktivis zakat lainnya ikut berkarya ya meramaikan #LiterasiZakatWakaf.⁣ ⁣ #Zakat #Wakaf #LaunchingBuku

A post shared by Literasi Zakat Wakaf (@literasizakatwakaf) on

3 – Konsolidasi antar-LAZ

Di Indonesia terdapat banyak lembaga atau yayasan yang berperan sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ). Peran mereka dalam memberdayakan masyarakat melalui potensi ZIS sudah tak perlu diragukan lagi. Hanya saja, rasanya perlu dilakukan konsolidasi antar-LAZ agar terbangun hubungan yang solid sehingga pendistribusian zakat bisa merata tanpa tumpang tindih.

Jangan sampai ada mustahiq yang merima porsi berlebihan dari beberapa LAZ sementara mustahiq lain tidak menerima sama sekali. Saya yakin masing-masing LAZ punya program unggul dalam membangun sebuah daerah. Komunikasi dan konsolidasi akan membuat literasi dan penyebaran zakat menemukan titik optimal.

4- Monitoring reguler

Seluruh pihak yang berkecimpung dalam pengelolaan dana zakat wajib melakukan update informasi tentang perkembangan para mustahiq yang pernah menerima dana pemberdayaan atau bantuan sehingga bisa dibantu jika mereka menemukan kesulitan. Yang tak kalah penting adalah pendataan mustahiq baru sedetail mungkin dengan melibatkan entitas terkecil seperti RT untuk menghindari terjadinya kasus seperti DH yang saya sebut di atas.

Monitoring secara teratur akan membantu para LAZ dan pemangku kepentingan untuk melakukan pemetaan dan mendapatkan gambaran mana saja daerah atau mustahiq yang perlu disokong dan dikembangkan. Bahkan jika mungkin, para mustahiq yang berhasil bisa saling bersinergi dengan mustahiq lainnya.

Inisiatif Bank Muamalat yang melaksanakan program Kampung Zakat adalah sebuah langkah kreatif yang harus kita apresiasi. Selain menggunakan dana zakat untuk memperbaiki rumah penduduk yang tidak layak huni, gerakan ini bisa menjadi syiar atau mengamplifikasi literasi zakat dengan cukup efektif. Produk-produk lokal bisa sekaligus digarap sehingga perusahaan yang relevan bisa meliriknya untuk membuka peluang pasar.

Tak perlu menunggu kaya

Dengan semua yang saya tuliskan di atas, maka tak ada alasan bagi kita untuk tak mau berzakat hanya karena belum banyak uang atau belum kaya raya. Kalau menunggu kaya, niscaya alasan demi alasan akan muncul untuk menunda mengeluarkan zakat. Bayar zakat di era digital kini semakin mudah dengan mengandalkan teknologi.

Jika kita beragama Islam, merdeka, berakal dan baligh⁣⁣, punya harta mencapai nisab⁣⁣, maka kewajiban zakat mesti kita tunaikan. Dalam kasus kami sekeluarga, saya bekerja sebagai freelancer yakni bloger dan editor lepas. Karena upah tidak menentu dan sulit mencapai nisab zakat mal sebesar 85 gram emas, maka sebisa mungkin setiap kali menerima honor langsung kami potong 2,5%.

Misalnya dengan menyetorkan dana ke DT Peduli untuk mendukung pendidikan, sesekali ke ACT untuk kemanusiaan global, kadang ke Dompet Dhuafa untuk kesehatan, dan kadang ke Badan Wakaf Al-Qur’an untuk air bersih. Semua punya pilihan dan preferensi di mana membayar zakat, tapi ingatlah bahwa sekecil apa pun potensinya sangat luar biasa bagi orang yang membutuhkan.

Kita mungkin beralasan bahwa mesti punya banyak uang dulu baru akan berzakat. Padahal pola pikir yang benar: kontinu bayar zakat agar kita mendapatkan harta lebih. Bukan berarti kita mengharap imbalan setimpal, tetapi itu adalah konsekuensi logis dari pembayaran zakat yang menyucikan harta dan rezeki kita sehingga rezeki yang datang adalah yang berkah dan selalu terasa cukup kapan saja.

Saatnya kita menjadikan zakat sebagai gaya hidup agar masyarakat tumbuh penuh kemandirian dan akhirnya membentuk negara yang kuat penuh kebanggaan. Yuk berzakat!

11 thoughts on “Saatnya Zakat Mandirikan Umat dan Membangun Negara Kuat

  1. Luar biasa kisah Mas Andrian. Betapa zakat bisa mengangkat harkat dan derajat ekonomi sampai memberdayakan orang lain lewat usahanya. Semoga bisa menirunya. Aamiin

    Like

    1. Perjuangan ulet dan azzam yang kuat membantu mengubah nasibnya ke tingkat yang memberdayakan. Inilah dampak dahsyat zakat, Kak. Banyk orang yang terbantu jika semua orang sadar untuk saling berbagi–seperti keyakinan Andrian.

      Like

  2. Bener, setuju dengan semua poin diatas mas, apalagi itu yang bagian konsolidasi LAZ, iya, harus ada pemerataan agar tercipta keadilan ya, nggak ada lagi kesenjangan. Semoga semakin dibenahi kedepannya

    Like

  3. Kompilasi kisah yang inspiratif Mas. Andai baitul maal dan dana kas masjid dikelola lebih profesional seperti di Masjid Jogokariyan pasti lebih banyak kaum dhuafa yang tertolong.

    Liked by 1 person

  4. Zakat mendatangkan rezeki yang lebih. Zakat juga dapat membersihkan harta kita. Karena sebagian harta yang miliki ada hak buat mereka yang membutuhkan ? Bener nggak Mas ?

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s