Salah Kaprah Antibiotik Sebagai ‘Obat Dewa’ Bisa Akhiri Kehidupan Manusia

“Bu, tolong belikan antibiotik ya. Buruan biar sakitku cepat sembuh,” ujar seorang lelaki kepada istrinya. Sang istri pun bergegas ke apotek terdekat untuk menebus obat yang dimaksud.

Begitu menyatakan maksudnya di depan petugas apotek, wanita tersebut malah diceramahi oleh seorang dokter seputar larangan membeli antibiotik secara sembarangan. Mengingat suaminya terkena flu pilek akibat infeksi virus, bukan bakteri, maka antibiotik tidak diperlukan. Jika penggunaan antibiotik diteruskan tanpa kendali, bakteri dalam tubuh bisa kebal atau resisten terhadap obat yang masuk.

Itu adalah cuplikan adegan dalam sebuah tayangan video yang diproduksi oleh tenaga medis RSUD Dr. Soetomo yang dinobatkan sebagai pemenang dalam lomba memperingati pekan kewaspadaan antibiotik dunia. Video pendek yang disajikan dengan jenaka tersebut tak ayal menyihir ratusan peserta yang meramaikan Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 yang mengangkat tema serius, “Masa Depan Antibiotik Seluruhnya Ada Pada Tangan Kita”.

Berfoto bersama dr. Erni Kolopaking setelah beruntung dapat doorprize

Dihelat di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) RS Dr. Soetomo Sabtu 30 November 2019, seminar tersebut benar-benar meninggalkan kesan tersendiri bagi saya pribadi. Betapa tidak, bahkan sebelum acara dimulai pun saya sudah diganjar dengan hadiah lawang alias doorprize keren dan berfoto bersama Dr. dr. Erni Kolopaking dari bagian Farmasi.

Kenali resistensi bakteri dan bahayanya

Acara semacam ini sangat positif karena membuka wawasan para peserta termasuk saya yang hadir di sana. Salah satu fakta yang mencengangkan adalah adanya kejadian AMR atau antimicrobial resistance di dunia yang ternyata cukup tinggi di beberapa negara, yang telah memakan banyak korban melebihi kasus AIDS dan menelan biaya triliunan rupiah. Amerika Serikat bahkan menggelontorkan dana sebesar 1,1 juta dolar untuk memasok antibiotik yang sebenarnya tidak diperlukan.

Resistensi bakteri atau AMR adalah kondisi di mana bakteri tidak lagi merespons atau tidak terdampak oleh antibiotik yang dikonsumsi. Bakteri bisa resisten atau kebal terhadap obat akibat perubahan bilogis, salah satunya melalui mutasi genetik, sehingga obat bisa ditepis begitu saja dan ia tak bisa dihambat atau dibunuh.

Penggunaan antibotik yang berlebihan, misalnya beli sendiri tanpa resep dari dokter, akan mempertinggi risiko munculnya bakteri resisten dan bahkan multiresisten yang disebut dengan Super Bugs. Disebut superbugs karena bakteri-bakteri jenis ini sudah tak bisa lagi dibasmi atau dimatikan oleh segala jenis antibiotik yang ada di dunia.

Dr. dr. Joni menyampaikan sambutan sekaligus membuka seminar.

“Kalau saya ngerasa capek ya saya pakai main badminton. Hilang deh karena tidak semua gejala penyakit harus dikasih obat,” ujar Dr. dr. Joni Wahyuhadi, SpBS (K) selaku direktur utama RSUD Dr. Soetomo saat membuka secara resmi seminar hari itu.

Lebih lanjut dr. Joni menuturkan bahwa RSUD Dr. Soetomo telah membentuk tim penatagunaan antibiotik (PGA) sebagai bagian dari PPRA atau Program Pengendalian Resistensi Antimikroba. Program ini telah dimulai sejak tahun 2000, lalu tahun 2005 Kementerian Kesehatan menetapkan 20 rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia sebagai pilot project, ­salah satunya adalah RS Dr. Soetomo.

Komite Akreditasi Nasional menunjuk RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit pelatihan dan laboratorium PPRA. Ia menambahkan bahwa program tersebut telah membuahkan hasil, yaitu mampu menekan tingkat resistensi bakteri ESBl tahun 2016 sebesar 55% menjadi 35% pada tahun 2018.Ini merupakan wujud komitmen untuk mengendalikan resistansi antimikroba atau daya tahan bakteri sehingga infeksi tidak sulit disembuhkan.

Dalam kesempatan yang sama dr. Hari Paraton, SpOGK juga menyatakan betapa dunia tengah berduka akibat resistansi bakteri yang menyebabkan kematian sehingga pekan ketiga November diperingati sbg WAAW atau World Antibiotic Awareness Week. “Sebenarnya bukan merayakan, kita sebenarnya tengah merenungkan musibah yang mengancam,” ujarnya serius.

dr. Hari Paraton mengingatkan pentingnya kewaspadaan pada resistensi bakteri

Lakukan ini Agar resistensi bakteri tak terjadi

Sebagaimana saya sebutkan di awal, kondisi kebal obat atau resistensi bakteri dapat terjadi akibat mudahnya masyarakat mengakses pembelian antibiotik secara bebas padahal penyakit tersebut belum membutuhkan antibiotik. Inilah yang memicu bakteri atau kumansehingga tak mempan dibasmi obat. Tentu saja sangat berbahaya karena bisa mengancam masa depan manusia.

Bayangkan jika semua bakteri kebal terhadap antibiotik yang kita miliki, tahun 2050 diperkirakan masa depan manusia akan dipertaruhkan. Demikian mmasih menurut dr. Hari Paraton. Syukurlah Indonesia menduduki peringkat kedua sedunia setelah Kuwait sebagai negara yang paling banyak menghelat acara WAAW sebagai langkah pencegahan bencana punahnya umat manusia.

Dr. dr. Dominicus Husada, SpA(K), yang mendapat giliran sebagai narasumber pertama dalam seminar ini, menyayangkan betapa masih banyak orangtua yang meyakini bahwa sakit anaknya tidak akan sembuh jika tidak diresepkan antibiotik, padahal sakitnya hanya batuk pilek, apalagi panas. Jika demikian yang terjadi, yang perlu diobati justru si orangtua, bukan si anak.

Perlu diingat bahwa antibiotik bukanlah obat panas atau flu sehingga jangan sampai gegabah meminta dokter meresepkan antibiotik apalagi membelinya sendiri. Dr. Domi mengingatkan bahwa sudah 30 tahun belum ditemukan antibiotik baru sementara musuh kita yaitu bakteri terus bermutasi dan berkembang pesat. Ibarat perang, kecil peluang kita untuk menang jika tak bijak menggunakan antibiotik.

Untuk membuat agar bakteri tidak resisten atau kebal obat, lakukan langkah Cantik yang merupakan akronim dari Cegah Resistensi Antibiotik. Penampilan tim Cantik dari RSUD Dr. Soetomo cukup efektif untuk menyampaikan 4 langkah Cantik yang dirumuskan dalam huruf ABCD.

A – Anjuran dokter; pemakaian antibiotik harus menurut penilaian dokter, bukan semau kita sendiri misalnya dengan cara membeli

B – Berbagi itu salah; maksudnya, antibiotik dari orang lain tidak bisa kita pakai hanya karena gejala penyakitnya sama. Tetaplah mencari pendapat dokter.

C –Cuci tangan; membersihkan tangan dengan baik harus dilakukan sebelum makan dan terutama setelah berkontak dengan penderita infeksi.

D – Dosis yang tepat; jangan mengira-ngira takaran sendiri atau mengulang pembelian antibiotik menggunakan copy resep karena efeknya bisa berbahaya akibat dosis yang tidak akurat.

Drama penuh komedi tapi sarat informasi

Acara seminar hari itu berjalan sangat meriah dan penuh informasi. Peserta sangat terhibur oleh penampilan drama atau fragmen seru dari divisi Ilmu Kesehatan Anak yang menginformasikan tentang kewaspadaan penggunaan antibiotik. Drama pendek ini cukup mengedukasi dengan mengingatkan kembali bahwa antibiotik tidak bisa diberikan begitu saja kepada penderita dengan gejala yang sama tanpa resep dokter, apalagi untuk mencegah penyakit. Itu salah.

Bebas utang

Sebagai narasumber kedua, dr. Arief Bakhtiar dari Departemen Pulmonologi RSUD Dr. Soetomo mengingatkan agar kita sebisa mungkin mencegah sebelum terkena penyakit. Selain menjaga pola makan dan gaya hidup, memasang jendela yang baik di rumah bisa jadi solusi cerdas. Yang tak kalah penting adalah rekreasi dan doa/ibadah sebagai upaya menghindari penyakit.

“Juga bebas utang,” ujarnya singkat tentang solusi bebas dari penyakit yang segera disambut tawa peserta.

Seminar diakhiri dengan pemberian hadiah kepada para pemenang yang telah meramaikan lomba dalam memperingati pekan kewaspadaan antibiotik dunia tahun ini. Semoga melalui kegiatan ini kesadaran masyarakat mengenai penggunaan antibiotik bisa terbangun dengan baik yang berdampak pada meningkatknya kesehatan dan menurunnya anggaran tak perlu dari negara untuk menanggulangi infeksi akibat kebal obat.

Kita jadi makin paham bahwa antibiotik bukanlah ‘obat dewa’ yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Ini salah kaprah yang perlu diluruskan. Jika diteruskan tanpa dikoreksi, maka masa depan manusia tengah dipertaruhkan. Berada di ujung tanduk akibat kelalaian kita sendiri dalam menggunakan obat yang tidak semestinya. Saatnya waspada!

12 Comments

  1. Acara yang bagus! Kebetulan anak saya baru saja mengalami apa yang disebut dokter di A.S. sebagai “pink eye.” Obatnya adalah tetes antibiotik yang harus diberikan selama 7 hari, 3 kali sehari.

    Perjuangan deh. Anak tak mau buka mata. Walhasil, kami buka paksa agar bisa ditetesi obat. Bahkan jika harus menetes obat jam 3 pagi sekalipun. Pemberian antibiotik harus berkesinambungan kan ya? Wah kami bersyukur deh, malam ini terakhir. Haha…

    Like

    1. Sakit apa anak Mas Adhi? Memang perjuangan banget kalau anak sakit. Apalagi melibatkan pemberian antibiotik yang harus pas dosis dan rentang pemberiannya–seperti Mas yang kasih obat buat si kecil jam 3 pagi. Antibiotik pokoknya harus dihabiskan sesuai resep dokter, Mas. Semoga sehat kembali ya, sehat semua…

      Like

  2. Naah…iniii..merubah mindset itu Jan uangiiiil ya mas.. Ada yg meyakini betul bhw antibioti adalah obat segala penyakit. Diceramahi macem2 Yo angel wong mindset nya sudah gitu. Semoga makin banyak yg sadar kesalahan ini..

    Like

  3. Thanks liputannya. Mau aku forward ke grup keluarga. Banyak nih orang tua yg mendewakan antibiotik. Padahal belinya tanpa resep dokter. Sakitnya cm batuk pilek pulak yg kadang diikuti sakit tenggorokan. Namun jika sabar, sakit saat menelah itu (berdasar pengalamanku) akan sembuh tanpa antibiotik. Butuh 24-48 jam memang. Harus sabar 👌🏾😁

    Like

    1. Iya, Mbak. Mohon dibantu sebarkan informasi ini ya agar persediaan antibiotik kita bisa dimanfaatkan secara optimal kalau kita ikut bijak untuk enggak buru-buru minta AB padahal belum butuh. Terima kasih.

      Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s