Pengalaman Menerima Royalti dari Penerbitan Buku Puisi

Menerima royalti adalah salah satu pengalaman terindah bagi seorang penulis, apa pun genre yang ditulisnya. Saya bilang salah satu karena bagian lain yang tak kalah menyenangkan adalah ketika kita mendapatkan apresiasi positif atas karya yang kita tulis, baik berupa ulasan tertulis maupun tanggapan langsung melalui surel (email) atau bahkan WhatsApp. Pengalaman menerima royalti sangat sayang jika tidak saya ceritakan di blog ini.

Pengalaman ini menarik setidaknya karena dua alasan. Pertama, royalti itu saya terima dari penerbitan buku kumpulan puisi yang jarang sekali diminati oleh kebanyakan penerbit mayor. Kedua, itulah satu-satunya buku karya saya yang diterbitkan atas nama sendiri hingga kini. Ada beberapa antologi puisi lain, tetapi semuanya keroyokan alias ditulis oleh beberapa orang sekaligus.

Pengalaman mengejutkan

Sujudku Meneteskan Rembulan (SMR), buku kumpulan puisi pertama

Sejujurnya, memiliki buku puisi berjudul Sujudku Meneteskan Rembulan (SMR) ini adalah sebuah kejutan. Saya sebut kejutan karena dua alasan. Pertama, saya tak pernah menulis buku sebelumnya sehingga sungguh bahagia ketika sebuah penerbit mayor—meskipun tidak terkenal—mau menerbitkan karya berupa puisi. Alasan kedua, ternyata ada juga orang yang mau membeli buku puisi yang isinya saya tulis dengan enjoy tersebut. Saya menduga itu lantaran harganya yang sangat murah, hanya Rp7.500 pada awal rilis medio 2006 silam.

Dalam surat perjanjian penerbitan yang saya tanda tangani Maret 2006, penerbit berencana mencetak sebanyak 2.000 eksemplar. Bagi saya itu bukan masalah. Mau dicetak berapa pun, saya rela sebab saya tak mengeluarkan sepeser rupiah pun untuk proyek ini. Kala itu penerbitan indie juga belum semasif saat ini. Jadilah saya manut dan mengikuti alur karena belum punya pengalaman sebelumnya.

Pengalaman menerima royalti ternyata mengejutkan, sekaligus menyenangkan. Pada bulan September 2006 (periode perhitungan royalti setiap tahunnya), penerbit mengirimkan laporan penjualan beserta nilai uang yang akan saya terima. Ternyata mereka mencetak 3.045 kopi alih-alih 2.000 sesuai perjanjian. Saya tak pertanyakan keputusan ini sebab bagi saya semakin banyak volume cetakan semakin besar pula potensi keuntungan saya kelak, hehe.

Terjual ribuan eksemplar

Dikurangi 10 eksemplar sebagai bukti terbit, berarti total buku yang dilepas di pasar adalah 3.035. Per September tahun itu, SMR terjual sebanyak 654 eksemplar—sebuah angka yang membuat saya semringah. Soal besaran royalti, bisa Anda hitung sendiri. Namun jauh lebih dari itu, saya tak menyangka orang berkenan membeli buku berisi buah pikiran saya dalam bentuk puisi. Itu saja sudah menghibur banget—bikin fly betul. “Ah, itu kan karena harganya murah, Mas!” mungkin ada yang berseloroh begitu. Kendati murah, tetap saja kan pembaca mau membeli dan membawanya ke rumah?

Memasuki tahun kedua, atau September 2007, angka penjualan SMR melonjak drastis sebagaimana tertera dalam laporan royalti. Tahun itu setidaknya ada 1.211 orang yang mau membaca buku kumpulan puisi karya saya. Saya bilang ‘setidaknya’ karena bisa saja angka 1.211 itu tidak mencerminkan orang yang benar-benar membacanya tetapi sekadar membelinya. Entah buat kado atau untuk koleksi perpustkaan. Dalam beberapa katalog online, SMR masih tercatat di sejumlah perpustakaan daerah dan bahkan katalog di Belanda.

Setelah ‘panen’ dengan angka penjualan sebanyak 1.211 eksemplar pada tahun 2007, tahun berikutnya penjualan menurun separuhnya—nyaris sama dengan angka tahun pertama. Sebanyak 614 kopi SMR terjual tahun 2008 seperti yang tercantum dalam laporan royalti September 2008. Rupanya tahun itulah royalti saya terima dari buku puisi SMR yang semula saya tulis suka-suka saja. Berarti tersisa 500 sekian eksemplar yang entah bagaimana nasibnya karena penerbit sudah tak melaporkan penjualannya hingga kini.

Lagi-lagi terlepas dari harganya yang murah, penjualan buku puisi sebanyak 2.479 kopi tetaplah gurih dan jadi memori mengesankan buat saya. Pembaca mau membeli, itu sebuah penghargaan sangat berarti—berapa pun harganya mereka berkenan memutuskan memilikinya. Pada awal tahun penerbitan SMR, ada juga yang menggunakan SMR sebagai subjek analisis puisi untuk tugas kuliah seseorang di sebuah portal. Bagi saya itu apresiasi tak ternilai harganya—bahkan melampaui bilangan royalti yang mungkin tak seberapa.

Selalu ada harapan

Apa pun itu, lewat tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa setiap buku punya peluang di pasar. Selalu ada pembaca yang menanti karya kita. Kalau naskah ditolak satu penerbit, tawarkanlah ke penerbit lainnya. Atau kalau ada uang, terbitkanlah sendiri secara indie. Jumlah penerbit indie sekarang banyak sekali. Proses penerbitan lebih cepat dan bebas, dengan margin keuntungan lebih besar. Pemasaran juga bisa lebih fleksibel, pun perputaran uang relatif lebih gegas kalau lewat self-publishing.

Saya berencana menarik hak terbit SMR untuk saya terbitkan sendiri. Tahun ini saya juga berncana merilis buku kumpulan puisi kedua yang kini sedang dalam tahap layout dan desain sampul. Masih cari-cari materi gambar yang tepat untuk cover. Selain itu, saya punya satu naskah nonfiksi berisi pelajaran berharga berkat pengalaman memasak bersama Buna Xi. Konsep sudah matang, bahan sudah ada—masih butuh penulisan lagi dan penyempurnaan materi. Kalau naskah ketiga ini ingin saya tawarkan ke penerbit mayor jika sudah rampung nanti.

Bagaimana dengan BBC Mania? Apakah punya pengalaman menerima royalti dari penerbitan buku sendiri? Atau sedang menulis naskah yang selama ini sangat ingin diwujudkan menjadi buku? Coba share di kolom komentar agar banyak pembaca yang turut mengaminkan kelancaran penulisan dan penerbitannya. Selamat berakhir pekan!

12 Comments

    1. Betul, kalau sekarang sih eranya medsos ya. Kalau punya follower banyak dan loyal di IG atau twitter, lumayan itu jadi pasar potensial untuk diajukan sebagai nilai plus ke penerbit.

      Like

  1. Wow! Ini keren, Mas. Beneran lho. Karya debut, lalu Mas Rudi juga sebut sendiri penerbitnya nggak begitu terkenal, tapi langsung terjual di angka segitu. Pernah baca di mana gitu kulupa, karya sastra begini sangat susah dijual. Penyair top level nasional sekalipun bisa habis terjual cetakan pertamanya (biasanya 3.000-5.000 eks) dalam 2-3 tahun itu sudah hebat. Mas Rudi layak disebut penyair lho ini. Yuk, ah, nanti bikin buku puisi lagi.

    Like

    1. Hehe, beruntung aja Mas. Mungkin ya itu tadi lantaran harganya murah meriah. Yang agak disayangkan layout dan kemasan bukunya kurang ciamik. Makanya mau kuterbitkan lagi bareng buku puisi kedua.

      Like

  2. wah keren mas
    sungkem dulu hehe

    ini juga jadi penyemangat buat aku nerbitin buku
    iya sih mas bukan royaltinya yang utama tetapi kalau banyak yang beli dan baca rasanya seneng banget ya
    apalagi kalau bukunya buku solo nama sendiri
    rasanya bangga dan bahagia banget

    Like

    1. Walaupun royalti memang gurih, pembaca yang mengambil manfaat sangat berarti buat penulis ya Mas. Menerbitkan indie atau mayor, silakan saja. Pokoknya menerbitkan itu sangat ga rugi. Bisa jadi investasi kebaikan, apa pun bentuknya asal isinya positif.

      Like

  3. Jujur, saya bacanya ikut seneng dan terharu. Rasanya mungkin sama kalo saya berada diposisi itu. Sekarang saya juga lagi nunggu beberapa puisi saya dipilih untuk dibukukan bersama penulis lain. Walaupun masih “nebeng” tapi rasa antusias yang saya miliki udah luar biasa sekali. Doakan saya supaya bisa sukses ya mbak, hehe..

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s