Lima Pesan Syaikh Ali Jaber yang Tak Mungkin Dilupakan

Sebagaimana pekan-pekan sebelumnya, Minggu pagi itu, 8 September 2019, kami bersiap meluncur ke Masjid Namira. Seperti biasa saya kebagian menjadi imam Subuh di masjid kompleks. Saya sengaja mempercepat zikir selepas shalat agar tidak ketinggalan pengajian di masjid megah kebanggaan warga Lamongan itu. Apalagi hari itu penceramah yang diundang untuk memberikan tausiah sangat istimewa, yakni Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang akrab disapa Syaikh Ali Jaber.

Dai asal Madinah yang memilih menetap menjadi WNI setelah menyunting wanita asal Lombok tersebut memang sangat kondang. Bukan hanya lantaran keilmuannya yang luas, tapi juga kedermawanan, kesantunan, dan kedekatannya dengan Al-Quran. Bahasa Indonesianya rapi, lugas, dan penjelasannya terperinci sehingga mudah dipahami kalangan mana pun.

Minggu itu kami akhirnya bisa melihat Syaikh Jaber dari dekat. Walaupun tak sempat berjabat tangan atau bercakap, rasanya sudah sangat memuaskan bisa hadir sebagai jemaah dalam majelis yang ia ampu. Selama ini kami hanya mengagumi beliau dari layar kaca televisi tempat beliau menjadi pembimbing acara Hafiz Indonesia.

Begitu terdengar kabar beliau wafat, sungguh tak percaya tanpa bermaksud melupakan takdir. Ulama yang meneduhkan akhirnya berangkat mendahului kami yang masih coreng-moreng dosa ini. Teringatlah pesan seorang guru saat saya masih sekolah dahulu, “Matinya orang alim adalah matinya alam semesta.” Betul memang demikian, dunia jadi redup sebab ilmu dicabut lewat wafatnya ulama–salah satunya Syaikh Ali Jaber.

Saya punya memori berupa pesan beliau yang sangat sekali jika tak dituliskan lantaran muatan hikmahnya sangat dalam. Ini sebagai pengingat saya pribadi, juga persembahan kecil atas dedikasi beliau sebagai seorang alim yang tawaduk dan senantiasa menebarkan kebaikan.

1 | Sedekah setiap hari

Pesan pertama yang saya masih ingat beliau sampaikan di sebuah tayangan televisi. Tentang anjuran sedekah setiap hari sebelum matahari terbit sebagai penolak bala dan mengobati apa pun. Punya sakit menahun? Rajinlah sedekah setiap hari. Punya problem apa pun, istikamahkan menyisihkan harta setiap hari tanpa kecuali.

Bisa langsung diberikan kepada penerima, misalnya transfer ke rekening. Bisa pula dimasukkan ke dalam kotak amal di masjid. Atau bisa pula kita simpan dulu di rumah sampai jumlah tertentu untuk diberikan kepada siapa saja yang layak. Yang penting niatkan uang itu sebagai sedekah sebelum matahari menyembul di ufuk Timur.

Saya sudah membuktikannya walaupun belum bisa istikamah. Hasilnya luar biasa, sangat valid dan signifikan. Buktikan sendiri….

2 | Membuka dan menutup hari dengan Quran

Jadikan Al-Quran sebagai bacaan andalan, tempat pelarian saat kita mengalami masalah dan keterpurukan hidup. Awalilah hari dengan membaca ayat-ayat Al-Quran lalu akhiri hari dengan bacaan dari mushaf Al-Quran. Bersiaplah menerima keajaiban berupa ketenangan hati dan kententeraman jiwa berkat bacaan kalam-kalam ilahi tersebut.

3 | Hati-hati berprasangka

Yang tak mungkin saya lupakan adalah tanggapan Syaikh Jaber saat ada seorang artis disebut lonte alias pelacur beberapa waktu lalu. Beliau dengan tenang mengingatkan untuk tidak gampang melemparkan dugaan atau penilaian atas status seseorang. Kita tak tahu bagaimana hubungan orang lain dengan Allah. Boleh jadi ia memiliki amalan yang menyebabkan ia mulia di sisi Allah dan menyebabkan dirinya diampuni dosa-dosanya.

Berhati-hati dalam menanggapi isu atau mengomentari orang adalah hal yang krusial pada masa kini. Saya teringat di Google Discover betapa portal-portal berita begitu semangat mengabarkan borok dan aib seorang artis yang terlibat video asusila. Cukuplah itu menjadi kesalahan dia dan kita lebih baik sibuk mengoreksi diri ketimbang asyik memperbincangkannya sebagai dosa yang tak kujung berkesudahan. Nikmatilah cahaya hidayah yang masih ada.

4 | Istikamah

Walau sedikit tapi kontinu, ini pesan dari hadis Nabi yang Syaikh Jaber sitir suatu hari. Pelajaran istikamah atau konsistensi memang terbilang lumrah, biasa, bahkan terkesan sepele lantaran begitu sering kita dengarkan. Namun praktiknya begitu sulit, tricky, sangat menguji ketahanan kita baik fisik maupun mental. Lebih baik mendawamkan suatu amalan walaupun sedikit ketimbang amalan yang banyak atau besar tetapi jarang.

5 | Memaafkan

Masih segar dalam memori kolektif bangsa Indonesia ketika Syaikh Ali Jaber mendapat serangan berupa tusukan dari orang asing yang mengenai tangan beliau. Jemaah yang hahdir spontan marah dan melesakkan pukulan pada penyerang tersebut.

Di luar dugaan Syaikh Jaber justru meminta maaf kepada penusuk itu. beliau meminta maaf lantaran tak sanggup menghentikan orang-orang yang main hakim sendiri. Beliau masih tertegun dan menahan rasa sakit akibat serangan. “Aku sudah memaafkanmu saat itu juga,” ujar Syaikh Jaber kala itu. Sungguh akhlak yang terpuji, teladan yang mewakili degenerasi masa kini.

Membuka hati, menyayangi pendengki dan musuh bukanlah hal yang mudah. Ini pelajaran penting bagi saya yang sulit melupakan kesalahan orang. Bahkan rasanya ingin merayakan perlakuan orang yang tak mengenakkan. Padahal memelihara kebencian berarti meletakkan bom waktu pada diri sendiri. Merawat rasa dengki ibarat menghancurkan diri sendiri tanpa kita sadari.

Dari Syaikh Jaber saya belajar, tak banayak tapi sangat dalam dan sulit dilakukan. Selamat jalan ya Syaikh, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, semoga kami kuat menahan gelapnya dunia dengan debu permusuhan dan racun hati yang seolah tak mungkin disembuhkan. Sungguh kau telah diselamatkan, lebih disayang Allah dengan pergi lebih dahulu.

5 Comments

  1. Aku pernah datang ke kajian beliau subuh-subuh, Mas.

    MasyaALLAH, kalbu ini rasanya digerojok air es, manakala dengar dan bisa wawancara beliau secara langsung (waktu itu aku bareng tim Nurul Hayat)

    Selamat jalan, Syeikh.

    See you when I see you

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mbak. Mesti banyak meniru sosoknya karena banyak teladan di diri beliau, termasuk tabungan di rekening yang ga pernah sampe sejuta setiap bulan, kata adiknya.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s