Kangen Pesan Tiket Kereta Api, Ini 9 Kota yang Ingin Kami Kunjungi Usai Pandemi

Awal tahun 2020 kami sempat berencana berlibur ke Kota Apel karena kunjungan saya ke Malang Night Paradise pada September 2019 begitu mengesankan dan manis. Sayang sekali rencana itu harus dibatalkan sebab Bunda Xi mengalami keguguran menjelang Hari Natal yang tentu saja menguras tabungan. Akhir Desember 2019 sampai awal Januari 2020 otomatis saya fokus pada pemulihan Bunda tanpa tahu kapan akan pelesiran lagi.

Untunglah belum pesan tiket kereta api secara online seperti biasa. Walau bisa di-refund, tapi butuh waktu agar dana bisa balik ke rekening. Pada saat yang sama saat itu Tiongkok tengah dilanda wabah Coronavirus dan ternyata merambah Indonesia pada Maret 2020. Praktis banyak acara offline dibatalkan, termasuk liputan, yang secara langsung berdampak pada menurunnya pendapatan.

Asal naik kereta api

Kini pandemi telah memasuki tahun kedua. Sudah ratusan hari kita lalui, dan entah berapa banyak yang kehilangan orang tersayang. Duka dan nestapa silih berganti, hanya berubah bentuknya, mengaduk-aduk emosi. Ekonomi lesu mungkin memicu orang untuk mengeluh. Anjuran untuk bertahan di rumah boleh jadi memancing orang untuk marah. Pembatasan aktivitas mungkin telah menurunkan produktivitas pada sektor tertentu, terutama perusahaan dari sisi profitabilitas.

Jika pandemi usai, ada beberapa kota yang ingin kami singgahi. Kota-kota ini istimewa bukan karena sangat jauh jaraknya tetapi menyimpan kenangan dan alasan tersendiri sehingga ada ikatan emosi, tidak melulu pelesiran menghabiskan anggaran. Perjalanan kami selama ini memang tak pernah jauh sekali, yang penting ada jalur kereta api ke sana, itu cukup membuat kami gembira, terutama anak-anak penyuka kereta. Selain murah meriah, perjalanan juga lebih berwarna.

1 | Surabaya

Saya pribadi pengin ke Surabaya sebab kangen naik kereta komuter pagi dan turun di Stasiun Pasarturi untuk ngopi. Menyeruput kopi sachet rupanya jadi klangenan yang kurindukan kini. Sambil menyantap nasi bungkus di lapak depan stasiun, aduhai nikmat mana lagi yang saya dustakan? Kalau ada waktu luang sebelum liputan, saya biasa mampir ke Kampoeng Ilmu, kawasan toko buku di Jalan Semarang yang cukup lengkap.

Naik Suroboyo Bus, cara kreatif berwisata yang ramah lingkungan

Adapun anak-anak tentu saja kangen staycation sambil naik Suroboyo Bus favorit. Tak kalah penting adalah mencicipi kuliner di Surabaya. Nasi goreng dan pizza menjadi incaran mereka padahal dua menu itu juga ada di kota kami. Memang ada sensasi berbeda ketika makan di penginapan jauh dari rumah, bahkan sesederhana menyendok mi instan dalam cup saja.

Baca juga: Cara Naik Suroboyo Bus

2 | Malang

Kota Apel atau Malang jadi destinasi yang menyenangkan karena banyak alasan. Pertama, banyak objek wisata menarik, baik alam maupun buatan. Dari agrowisata yang sejuk di mana kami bisa memetik apel dari pohon hingga wahana keren seperti Dino Park di Jatim Park 3 tentu anak-anak akan terhibur. Selain itu kami ingin main ke pabrik the Naga yang sangat harum berkat tambahan serbuk vanili di dalam kemasan. Teh tubruk ini jadi andalan kami selama stay at home sat pandemi.

3 | Jember

Kota ketiga yang masuk dalam daftar kunjungan begitu pandemi usai adalah Jember. Kota yang berjuluk Kota Seribu Gumuk ini sangat unik karena punya kawasan pegunungan yang sejuk sekaligus pantai yang memukau. Waktu saya berkunjung ke Papuma, pesonanya tak lekang dalam ingatan. Ungkapan ketakjuban rasanya tak cukup, maka saya menuliskannya dalam bentuk puisi.

Pesona Papuma ketika para nelayan hendak melaut saat senja

Dengan pesan tiket api, kami bisa bertolak dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Jember. Anak-anak akan semringah begitu mendapat kesempatan untuk menginap di pondok dekat Pantai Papuma dan menikmati pemandangan unik ketika para nelayan menepi setelah melaut dengan banyak tangkapan ikan. Yang mereka incar tentu saja meminum cokelat hangat di gerai Puslitkoka yang pernah saya ceritakan.

4 | Madiun

Ke Madiun tak lain karena ingin menyantap nasi pecel langsung dari kota asalnya. November 2019 saya berkesempatan mencicipi nasi pecel di beberapa kedai yang berbeda. Mulai dari warung sederhana di kampung hingga di kedai besar di kota yang konon jadi langganan Presiden SBY saat berkunjung ke Madiun.

Pecel Madiun, nikmatnya disantap di atas sepincuk daun..

Selain itu, kami bisa bersua dengan teman yang dulu bekerja sekantor saat masih tinggal di Bogor. Mereka kini menetap di kota berjuluk Kota Gadis dan membuka usaha sendiri setelah mengajukan pensiun dini. Akan sangat menyenangkan jika kami bisa kopdar dan bertukar cerita sambil menyeruput hangatnya wedang cemoe khas Madiun.

5 | Banyuwangi

Kopi osing bikin lidah merinding, nikmatnya sungguh nagih.

Dari Jember bisa bertolak ke Banyuwangi yang juga bisa ditempuh menggunakan kereta api. Kenapa ke Banyuwangi? Salah satunya tergoda untuk mencicipi kopi osing dari Bumi Ijen yang berjuluk The Sunrise of Java. Kopinya sangat mantap, sebagaimana pernah saya coba tahun 2018 silam yang dikirimkan seorang teman. Selain kopi, kami bisa mengajak anak-anak ke Kawah Ijen dan belajar di desa adat Kemiren yang tersohor.

6 | Semarang

Menikmati secangkir kopi di ketinggian Umbul Sidomukti, sungguh kebahagiaan hakiki.

Kota Lunpia menjadi destinasi lain yang sayang dilewatkan. Ada sahabat yang berjanji membawa kami naik double-decker alias bus tingkat. Belum lagi aroma tahu gimbal dan nasi goreng babad yang nikmat sekali. Kota ini juga istimewa sebab menjadi tempat saya menimba ilmu semasa kuliah. Maka mengunjungi Kota Atlas ini tentu jadi pemantik memori, sembari kopdar dengan teman kuliah yang masih berdomisili di dana. Kalau beruntung, mungkin akan berkunjung ke Umbul Sidomukti yang tahun 2018 kami singgahi.

7 | Pekalongan

Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan

Anak-anak tengah gandrung membuat komik dan ilustrasi. Salah satu cerita melibatkan tokoh binatang bernama Owi. Owi adalah owa Jawa yakni primata yang hampir punah dan perlu didukung kelestariannya. Saya ceritakan kepada mereka bahwa owa adalah binatang yang sangat setia. Ketika pasangan mereka ditangkap, maka mereka ogah mencari pasangan lain. Inilah yang membuah mereka terancam punah. Orang menangkap tanpa tahu bahwa owa menjaga kelestarian hutan dengan menyebarkan bijian yang buahnya mereka makan.

Yang tak kalah asyik kami ingin berkunjung ke pabrik batik punya teman yakni Sarung Tentrem yang sangat unik sebagai produk lokal yang sudah go global. Juga ada Museum Batik di dekat alun-alun kota sebagai wahana edukatif buat anak. terakhir, nasi megono dengan irisan nangka muda yang gurih dan bikin ketagihan.

8 | Jogja

“Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” Begitu kata Jokpin alias Joko Pinurbo dalam salah satu sajaknya. Memang benar, Jogja selalu ngangenin. Kota, budaya, keramahan warga, dan pesona kulinernya selalu memanggil untuk dikunjungi berulang-ulang. Apalagi nenek moyang istri berasal dari Jogja, maka ke sana berarti melampiaskan hasrat untuk pulang, yakni di Gunung Kidul.

Angkringan Jogja juga tak kalah bikin rindu. Menikmati teh panas atau susu jahe hangat sungguh sangat istimewa karena dibakar di atas tungku berbahan arang. Pilihan menu dan keramahan penjual, juga ambiance daerah sekitar, membuat Jogja seolah menjadi film yang ingin terus diputar.

9 | Bogor

Akhirnya Bogor melengkapi perjalanan antarkota beda provinsi seusai pandemi. Bogor tak mungkin terlwat dari daftar kunjungan sebab kota ini juga istimewa. Di sinilah saya kali pertama bekerja di dunia penerbitan, dunia literasi yang saya gandrungi–sekaligus tempat saya menemukan pasangan hidup.

Jalanan Bogor yang kurindukan, tempat mencatat kenangan dan kegembiraan.

Baca juga: Bogor, Buku, dan Belahan Jiwa

Bogor juga menjadi kota kelahiran anak-anak sehingga kunjungan ke sana akan memberikan kesempatan mereka untuk bertemu kangen dengan teman-teman masa kecil. Pun kami jadi bisa kopdar dengan banyak teman sekadar mengulang memori masa lalu yang pernah terukir.

Menikmati petrikor di Kota Hujan tentu jadi pengalaman mengasyikkan sambil mengudap tape uli dan teh tawar hangat. Jangan lupakan nasi uduk gurih berbungkus daun pisang dan lontong berisi sayuran yang sangat menggugah selera. Belum lagi roti-roti lokal yang sempat jadi langganan kami dulu, sungguh akan menghadirkan kenangan manis saat menikmati setiap gigitan.

Semoga pandemi segera usai sehingga kami bisa bergegas untuk meluncur ke kota-kota penuh memori. Ya tentu enggak harus sekali traveling langsung mengunjungi sembilan kota itu, tapi bisa secara bertahap, menyesuaikan jadwal dan kebutuhan. Toh pesan tiket kereta api semakin mudah, bisa secara online di Blibli tanpa harus meninggalkan rumah. Sangat ideal dilakukan saat pandemi.

Kondisi mungkin serbasulit, tapi jangan menjerit apalagi pelit selagi masih bisa makan dan menyambung hidup. Harus optimistis melanjutkan perjuangan walau rasa pahit sejenak harus kita lalui. Teruslah belajar dan mengupayakan yang bisa dikerjakan sambil mendengarkan playlist untuk mendinginkan hati dan menenangkan pikiran.

6 Comments

    1. Iya, cukup banyak kota yang pengin dikunjungi. Ini belum termasuk luar Jawa seperti Padang, hehe. Ya bertahap aja sih, enggak harus berbarengan sekali trip. Terima kasih buat doanya ya 🙂

      Like

  1. Mudah-mudahan pandemi Covid-19 ini segera usai supaya pariwisata di Indonesia kembali pulih. Kasihan kawan-kawan saya yang kerja di pariwisata, banyak yang dirumahkan dan bahkan ada yang diberhentikan karena dampak Covid-19

    Like

    1. Betul banget, Kak. Banyak pelaku dan pekerja di bidang pariwisata terpaksa menelan pil pahit karena ekonomi lesu dan kunjungan wisatawan yang dibatasi. Habis mau bagaimana lagi, pandemi memaksa kita menyesuaikan diri. Semoga virus cepat minggat dan ekonomi kembali sehat.

      Like

  2. Saya juga rasanya kangen betul naik kereta, apalagi jika ingat panorama yang tersaji di balik jendelanya. Semoga program vaksinasinya segera beres dan kita semua dijauhkan dari covid-19 biar bisa nglencer lagi

    Liked by 1 person

    1. Benar banget, Kak. Pemandangan dari balik jendela saat kereta jalan itu sungguh sangat dilewatkan. Banyak hal menarik di luar sana, ga cuma sawah tapi rumah dan peralihan kota-kota. Semoga ya pandemi cepat usai, biar bisa pelesiran lagi.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s