Bahagia Bersama Lebih Indah Daripada Happy Sendiri

Hampir semua orang suka harta, salah satunya uang. Apa pun namanya: duit, fulus, pitis, doku, atau cuan punya daya tarik tersendiri bagi manusia. Tak pernah bosan atau habis kita kejar benda satu ini setiap hari. Berbagai cara orang tempuh untuk menumpuk kekayaan, bahkan tak sedikit yang kebablasan dengan melanggar aturan seperti korupsi dan penjualan narkoba.

Mungkin sudah tabiat manusia yang menggemari kekayaan. Tepat seperti yang digambarkan oleh lirik dalam salah satu lagu Cak Nun:

“Ketika belum, kepingin sudah. // Ketika sudah, kepingin tambah. // Sesudah ditambahi, kepingin lagi. // Lagi dan lagi….

Emha Ainun Nadjib

Harta berlimpah pasti bahagia?

Pertanyaannya adalah: apakah harta yang berlimpah menjamin ketenangan hidup dan kebahagiaan pemiliknya? Jawabannya bisa gampang-gampang susah. Lihat misalnya kisah tragis Christina Onassis, pewaris imperium bisnis sang ayah, Aristotle Socrates Onassis yang dikenal sebagai pebisnis kaya raya di bidang perkapalan.

Tahun 1988 Christina mewarisi 47,5% saham ayahnya ditambah gaji bulanan sebesar US$250.000, yang praktis mengantarkannya sebagai salah satu wanita terkaya kala itu. Namun gelimang harta rupanya tak membuatnya bahagia. Pada bulan November 1988, ia ditemukan tewas di mansion mewah di Argentina. Ada yang menyebut ia meninggal karena serangan jantung, tapi ada pula yang mengatakan ia tewas karena bunuh diri.

Menurut penyelidikan, polisi menemukan secarik catatan harian sosialita tajir ini yang berbunyi, “Aku sedang mencari kebahagiaan, tapi aku tidak pernah menjumpainya.” Bukankah ironis salah satu wanita terkaya malah dirundung depresi sejak usia 30 tahun dan konon menjalani terapi obat cukup lama? Betapa kesendirian bisa menjadi neraka bagi seseorang walau hidupnya bertabur emas permata.

Orang-orang tersayang pergi secara beruntun. Tahun 1973, sang kakak Alexander Onassis tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Tahun berikutnya, 1974, sang ibu meninggal diduga karena overdosis obat, sedangkan sang ayah meninggal tahun 1975 karena sakit, salah satunya akibat kehilangan anak tertua dalam kecelakan pesawat itu. Perasaan terasing juga bisa jadi akibat Christina mengalami kegagalan pernikahan selama empat kali.

Bahagia bersama lebih indah

Demi bisa menghabiskan waktu bersama teman-temannya, Christina konon sangat royal dengan membagikan ribuan dolar setiap bulan. Ini seolah bukti betapa berbahagia bersama jauh lebih bermakna ketimbang menikmati kesenangan sendirian tanpa teman. Maka relevan ketika M. Feriadi Soeprapto mengatakan dalam sebuah acara bahwa kesenangan adalah level pribadi, sedangkan kebahagiaan adalah ketika kita berbagi.

Itulah makna “Connecting Happiness” yang menjadi tagline JNE sebagaimana diutarakan presdir dalam deklarasi Hari Bahagia Bersama. Kebahagiaan sejati adalah ketika semua pihak merasa bahagia, dalam hal ini JNE menjadi penyambung kegembiraan bagi pembeli dan penjual, atau pengirim dan penerima.

Feriadi menyerap semangat itu dari sang ayah, Soeprapto Soeparno, yang selalu menegaskan komitmennya untuk berbisnis dengan Tuhan, bukan hanya dengan manusia. Selain ayah tercinta, sosok idola Feri adalah Rasulullah sebagai teladan sepanjang zaman, lebih-lebih bagi kaum muslim. Beliau adalah contoh konkret betapa murah hati mampu mengundang rezeki. Pak Prapto meyakini bahwa untuk bisa mendapatkan sesuatu, kita mesti bersedekah dulu, bukan sebaliknya.

Tak harus kaya dulu untuk bisa berbagi. Tepat seperti yang diapresiasi oleh Andy F. Noya yang juga hadir dalam peluncuran buku “Bahagia Bersama” bersama penulisnya Kang Maman dan kartunis Mice asal Sulawesi.

Andy mengamini bahwa tak sedikit orang yang menunda berbuat baik sampai kondisi ideal atau mapan. Padahal ajaran setiap agama menjanjikan imbalan bagi umat yang mau berbuat baik atau berbagi. Itulah spirit yang BenihBaik.com ingin hidupkan. Yayasan sosial yang ia dirikan dan kelola itu ingin memberi peluang kepada siapa pun untuk berbahagia. Caranya mudah: dengan memberi, bahkan meski dengan uang receh sebesar 1.000 rupiah.

Kita bisa bangga karena telah mampu membahagiakan orang lain lewat uang yang terlihat kecil. BenihBaik memberi akses lewat platform yang tepercaya dan mudah dengan menjamin tersalurkannya bantuan yang diamanahkan.

Inilah mungkin juga jawaban atas perasaan kosong yang seseorang rasakan padahal ia berlimpah harta kekayaan. “Sebab ada level lagi yg membuat orang bahagia atau tidak, yaitu kebermanfaatan untuk org lain, ketika hidup kita terasa signifikan dengan memberi kontribusi positif bagi orang,” demikian tegas Andy.

Deklarasi Hari Bahagia Bersama

Kang Maman sebagai penulis buku yang sore itu diluncurkan membagikan pengalaman asyik saat menggarap buku tersebut. Ia semakin menyelami core values JNE yakni berbagi, memberi, dan menyantuni. Ia mencontohkan betapa Pak Soeprapto selaku founder JNE memberikan kesempatan bekerja bagi seorang penyandang tunanetra tanpa mempertanyakan kualifikasinya.

Sungguh kebahagiaan besar bisa bekerja di perusahaan sehebat JNE yang punya semangat berbagi tinggi. Itu dibuktikan oleh Kang Maman sendiri ketika mendapat dukungan berupa pengiriman gratis untuk 1.000 eksemplar buku dan kitab suci ke seluruh pulau di Nusantara. Ongkos kirim sebanyak apa pun digratiskan oleh JNE.

Kang Maman yakin bahwa komitmennya untuk mengirimkan ribuan buku setiap bulan akan menemukan jalan. JIka tak punya uang, ia yakin yakin masih bisa menemukan orang baik yang banyak tersebar. Kalau masih tak ketemu, maka ia melecut dirinya untuk menjadi orang baik itu. Semua berawal dari diri sendiri, seperti kisah JNE yang menginspirasi.

Deklarasi Hari Bahagia Bersama tanggal 7 September 2021 terpaut sehari dengan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September. Inilah inti buku yang ia tulisa bersama Mice, bahwa dengan aksara wawasan kita terbuka, bisa memahami, dan saling berbagi. Dengan aksara pula, Kang Maman bisa menuntaskan penulisan yang prosesnya sangat ia nikmati sebab tak ada dikte atau editing sesuai permintaan pihak JNE. Energi positif benar-benar terasa terutama ketika ia menuangkan kisah Komeng yang menghibahkan alat-alat kesehatan pasca meninggal anaknya untuk mereka yang membutuhkan.

Sedang sang ilustrator atau kartunisnya, Mice menceritakan bahwa selama perjalanan 23 tahun sebagai kartunis, ia merasa bahagia ketika pembaca tertawa atau berbahagia berkat kartun yang ia hasilkan. Ia mengaku tak kehabisan ide atau mentok karya sebab ia beruntung dilahirkan dan tinggal di negara yg dinamis. Selalu ada cerita yang ia tulis dalam media gambar secara jujur berdasarkan fakta sekecil apa pun. Dia hanya memotret realitas kehidupan sekitar dalam bentuk kartun tanpa memberi justifikasi.

Dengan menggambar untuk buku “Bahagia Bersama” ini, Mice mengaku banyak belajar, tetang berbuat baik, baik dari Kang Maman maupun kiprah JNE yang telah mengabdi selama 30 tahun lebih. Maka Mice pun tak sayang ketika melelang karyanya untuk bisa membantu terwujudnya kebahagiaan orang lain–sama seperti spirit JNE sebagai happiness connector.

“Saya minta dipertemukan dengan orang baik dan betul ketemu dengan orang baik dalam penggarapan buku JNE ini,” pungkas Mice yang menyebut buku ini sebagai buku siraman rohani karena sarat pelajaran berbagi yang cocok dibaca siapa saja.

Peluncuran buku “Bahagia Bersama” yang berlangsung di Studio Markplus.Inc, EightyEight@Kasablanka, Senin lalu juga dihadiri oleh penyanyi sekaligus pegiat sosial Melanie Soebono yang menggagas pendirian Rumah Harapan Melanie. “Rumah berarti Indonesia. Harapan adalah hal penting yang harus kita miliki,” begitu ujarnya saat menjelaskan arti gerakan yang ia bentuk.

Jangan mati sebelum berguna!

Gerakan sosial yang telah ia jalankan selama 14 tahun itu bermula dari kegetiran saat mendapati seorang ibu yang tak bisa meninggalkan rumah sakit akibat tagihan sebesar Rp120 ribu. Dari situlah ia kemudian bergerak untuk bisa membantu siapa saja lewat Rumah Harapan Melanie dalam berbagai kebutuhan yang mungkin terlihat sepele atau remeh bagi orang lain.

Selama pandemi ia dan teman timnya menghadapi tantangan tersendiri karena donatur juga mengalami kesulitan. Padahal bantuan di lapangan bentuknya sangat beragam, nyaris tak terbatas jenis bantuannya. Mulai dari membayari orang yang terancam pindah dari kontrakan hingga penyelamatan binatang.

Meminjam analogi Ivan Gunawan yang juga hadir dalam acara book launch tersebut, Melanie meyakinkan bahwa uang 5 ribu rupiah yang seolah biasa buat orang kaya dan bahkan enggan menghuni dompet ternyata sangat bermanfaat bagi orang yang membutuhkan ketika uang kecil itu dihimpun dan disatukan.

Melanie mengingatkan agar kita bisa “berguna” sebagai value hidup yang melandasi makna kebahagiaan sesungguhnya. Tak heran ia sampai punya tagline dan bahkan lagu yang berjudul: jangan mati sebelum berguna! Jika kita bekerja sama dengan pihak lain, maka tindakan masif dan besar bisa dikerjakan, misalnya difasilitasi oleh JNE.

Berbagi di lingkungan terkecil

Sementara bagi Igun atau Ivan Gunawan bentuk kebahagiaannya adalah dengan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang meminta foto dengannya. Ia merasa bahwa harta yang ia punya sama sekali bukan miliknya, maka ia tak ragu berbagi sebagai saran stress release. Ada hak orang lain yang membuatnya yakin untuk tidak lupa berbagi.

Lewat Yayasan Megabintang yang ia kelola, ia dan timnya bergerak membagikan sembako door to door di Jakarta juga vaksinasi gratis untuk mendukung program pemerintah dalam penanganan wabah. Dia memprioritaskan lingkaran dalam terdekatnya karena setiap orang punya cara sendiri untuk membahagiakan orang lain.

Ia mengaku menemukan keasyikan berbagi, yakni ketika orang happy dan kita merasa happy. Terutama menyantuni atau membahagiakan ibunya ketika dia punya hajat agar didoakan. Dia menganggap ibu adalah sosok penting dalam setiap skenario hidup dan perjalanan karier.

Bagi Ivan, kebebasan berkreasi juga menjadi kebahagiaan yang tak terlukiskan. Dari sanalah ia bisa menggali kreativitas dan menghidupi banyak orang lewat usaha yang ditekuninya.

Bahagia bersama lewat buku menggugah

Menutup tulisan ini, saya ingin menuliskan kembali sepenggal fragmen inspiratif antara Andy F. Noya dan Feriadi Soeprapto. BenihBaik mengajukan bantuan untuk tabung oksigen selama pandemi dan JNE menyanggupinya dengan mengirimkan puluhan tabung. Namun lama kelamaan JNE terus mengirim hingga ribuan tabung yang membuat Andy kewalahan dan merasa sungkan.

Ia pun berniat membayar tabung tersebut karena dirasa terlalu banyak dan BenihBaik punya dana untuk meng-cover-nya. Namun apa jawaban Feri saat Andy mengutarakan maksudnya?

“Pak Andy, tunggu dulu, saya akan pertimbangkan. Kalau ternyata bisnis saya dengan teman-teman BenihBaik lebih menguntungkan, nanti saya akan hitung berapa biayanya. Tapi kalau bisnis saya dengan Tuhan jauh lebih menguntungkan, saya akan memilih bisnis dengan Tuhan.”

–Feriadi Soeprapto, Presdir JNE

Andy lantas berpikir bahwa sangat aneh ada perusahaan yang seolah tidak memikirkan keuntungan. Tidak lagi memikirkan masalah materi atau urusan duniawi. Ketika menerima bantuan demi bantuan secara cuma-cuma dari JNE, Andy pun mengajak pada karyawan di berbagai daerah agar bersyukur bisa bekerja di bawah naungan perusahaan mulia seperti JNE.

Lewat buku “Bahagia Bersama” kita bisa memetik pelajaran sebagaimana tagline BenihBaik yaitu Tanam kebaikan selagi ada kesempatan. Kita jadi tersadar bahwa setiap orang punya peluang dan kemampuan, terutama masa muda, untuk berbagi dan memberi dampak pada orang lain. Anak-anak muda harus mencari kegiatan yang membahagiakan, yaitu berbagi.

Nah jika BBC-Mania mupeng dengan isi buku yang bergizi ini, jangan tunda lagi. Segera meluncur ke toko buku Gramedia terdekat atau beli bukunya secara online di gramedia.com. Jika terbiasa belanja di Shopee atau Tokopedia, nah ini lebih enak lagi. Kita bisa memesan buku “Bahagia Bersama” di toko resmi atau official store JNE di kedua marketplace tersebut.

Jadi tak harus kaya untuk bisa membuat orang bahagia. Lakukan kebaikan sekecil apa pun, termasuk mengirimkan buku “Bahagia Bersama” kepada sahabat atau kerabat di mana pun berada. Mereka akan gembira ketika mendengar kurir JNE berteriak di depan pagar, “Pakeeet!” sama seperti kita yang semringah saat kurir datang membawa paket hadiah.

 

5 Comments

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s