Harmoni Gamelan Pendedah Keberkahan

Saat berbicara tentang kebudayaan, mungkin banyak orang akan tergerak untuk tampil; berdiskusi penuh semangat tentang perlunya melestarikan tradisi dan khazanah Nusantara yang sangat unik dan kaya. Namun dalam tataran praktik, berapa banyak orang yang mau dan sudi menggeluti bidang-bidang usaha yang sejatinya mempertahankan kekayaan budaya yang diklaim unik dan adiluhung itu? Kalaupun ada, biasanya ikhtiar itu hanya bertahan pada generasi tua yang tak jarang kesulitan mencari penerus.

Maka kejadian di Boyolali patut dicatat sebagai fenomena yang membanggakan, sekaligus langka. Adalah Lilik Dwi Fajar Riyanto, pemuda asal Boyolali, Jawa Tengah yang menunjukkan kegigihan dan keyakinan dalam apa yang ia lakukan sehingga menjadikannya sosok yang bernilai. Muda dan penuh passion, optimistis juga tangguh, itulah karakter yang bisa disematkan dan patut dicontoh oleh anak muda lainnya.

Betapa tidak, ia telah mengambil jalan sunyi, dengan memutuskan untuk melanjutkan usaha produksi gamelan yang sebelumnya dijalankan oleh ayah angkatnya. Seolah jelas merepresentasikan sepenggal kalimat dalam puisi kondang Robert Frost berjudul The Road Not Taken, “to take the road less traveled by.”

Pemuda asal Boyolali yang membuka lapangan pekerjaan berkat gamelan

Menggeluti usaha gamelan bukanlah jalan yang mudah karena memang jarang diminati kalangan seusianya. Namun, usahanya ini ternyata mampu membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda lainnya. Dan yang tak kalah penting, Fajar telah turut berkontribusi dalam pelestarian budaya Jawa, dalam hal ini alat musik yang belakangan malah digemari para turis mancanegara.

Mungkin tak banyak yang tahu tentang Boyolali. Berada di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, kabupaten ini sudah lama dikenal sebagai Kota Susu karena merupakan penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah. Dengan berkembangnya bisnis Fajar dalam produksi gamelan, maka kota susu ini pun semakin moncer karena gamelan yang diproduksinya telah menembus pasar nasional dan bahkan sampai ke konsumen internasional.

Kendati demikian, bisnis yang Fajar jalankan ternyata pernah menjadi bahan olok-olokan. Ketika memulainya lima tahun silam, salah seorang temannya bercanda, “Buka usaha kok gamelan, kok enggak yang modern?” Alih-alih tersinggung, Fajar justru menjadikan komentar itu sebagai pelecut untuk memajukan bisnisnya hingga menjadi besar seperti sekarang ini.

Dedikasi berbuah akselerasi ekonomi

Fajar menuturkan pengalaman awalnya pada tahun 2008 saat masih bekerja di tempat Suwaldi. Salah satu tugasnya adalah mendampingi Suwaldi saat melakukan kunjungan resmi ke beberapa instansi pemerintah yang kemungkinan akan membeli gamelan mereka. Selain memaparkan dan menunjukkan kualitas gamelan, Fajar juga bertugas memastikan stok apa yang masih ada dan bahan apa yang harus dibeli karena sudah tidak tersedia lagi.

Keseriusan dan keuletannya dalam bekerja, serta dedikasinya yang tak kenal lelah dalam membantu bisnis Suwaldi, akhirnya membuat Fajar begitu dekat hingga dianggap Suwaldi sebagai anak angkat.

Sepuluh tahun berselang, tahun 2018 Fajar pun memantapkan diri untuk mendirikan usaha sendiri dengan nama CV. Berkah Bopo; yakni Kerajinan Gamelan di Ngaru Aru, Banyudono, Boyolali. Pasalnya ketika Suwaldi meninggal dunia, tak ada sanak familinya yang mau melanjutkan usaha produksi gamelan tersebut. Fajar berinisiatif mengambil alih bisnis itu karena mereka sudah memiliki pelanggan tetap.

“Saya mendirikan CV sendiri; mulai dari nol lagi tapi dengan jalur yang sudah diberikan oleh beliau (Suwaldi). Saya juga mengajak karyawan lamanya untuk bekerja bersama saya,” ujar Fajar yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Hindu Dharma (STHD).

Pegawai CV Berkah Bopo menggarap gamelan. | Foto: Lilik Dwi Fajar Riyanto

Tak heran jika ikatan emosi dengan sang ayah angkat itu tecermin dalam nama usaha yang dipilih Fajar. Berkah Bopo dalam bahasa Jawa berarti berkah ayah dan itu jelas menggambarkan ungkapan terima kasih Fajar yang tulus kepada Suwaldi yang telah menggemblengnya. Gamelan telah menjadi berkat bagi Fajar dan anak-anak muda setempat, termasuk menggerakkan ekonomi lokal.

Bermodalkan uang tabungan pribadi sebesar Rp 50 juta, Fajar kemudian menyewa rumah sebagai tempat pembuatan gamelan. Karena gamelan tidak memberikan keuntungan yang cepat, maka ia lantas memutar otak dengan membuka usaha laundry yang dianggap menguntungkan guna menutupi pengeluaran sehari-hari.

Komentar negatif yang pernah dilontarkan temannya sama sekali tak menghalangi langkahnya. Tujuan utama Fajar adalah melestarikan budaya daerah sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar—terutama generasi muda. Ia berdalih mereka yang mengecilkan usahanya jelas tidak tahu betapa serunya membuat gamelan. Selain prosesnya yang sangat menantang, harga jual di pasaran ternyata tidak terbatas karena setiap pesanan disesuaikan (customized) dengan permintaan pelanggan.

Ini berbeda dengan komoditas sehari-hari yang spesifikasi dan harganya bisa diketahui secara luas di pasaran. Gamelan lebih unik karena pembuatannya lebih banyak melibatkan emosi. Produksi dan penjualan gamelan tidak melulu seputar uang atau keuntungan, melainkan dedikasi, ketelitian, apresiasi seni, dan terutama pelestarian budaya. Kesungguhan itulah yang membuat bisnis Fajar terus berkembang.

Eksis berkat kolaborasi

Gamelan yang diproduksi Fajar mampu menghasilkan omzet minimal Rp100-150 juta per tahun. Karena Fajar menerima pesanan gamelan baik per buah maupun satu set, maka angka transaksinya bisa bervariasi. Ia pernah mengantongi uang Rp1,4 miliar untuk 7 set gamelan yang dipesan oleh Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tentunya ini bukanlah omzet standard.

Teman yang dulu mengolok-oloknya mungkin akan terkaget-kaget begitu mengetahui gamelan Fajar yang tidak hanya digemari di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, tetapi juga hingga luar Jawa. Gamelan berkualitas produksi CV Berkah Bopo bahkan telah merambah pasar luar negeri antara lain Malaysia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Menariknya, ia menawarkan harga yang sama untuk semua pembeli, baik di dalam negeri maupun luar negeri. 

Deretan gamelan di CV Berkah Bopo | Foto: Lilik Dwi Fajar Riyanto

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Fajar menggandeng UMKM lokal dengan semangat kolaborasi karena ia tahu tidak akan bisa melakukan semuanya sendirian. Skema ini justru membuka peluang dan berkah bagi para perajin gamelan di daerah lain, sesuai dengan spirit nama usahanya. Sejauh ini, ia telah bermitra dengan 25 perajin gamelan rumahan asal Kecamatan Bekonang, Sukoharjo. Untuk tahap selanjutnya, karyawan Fajar akan menyelesaikan proses finishing sesuai arahan Fajar dan permintaan pelanggan.

Kerja kolaboratif ini menjadi sangat penting karena setidaknya ada 22 jenis alat musik dalam satu set gamelan. Bonang, peking, saron, kempul, kenong, gender, selenteng adalah beberapa di antaranya. Penyelesaian satu set akan jauh lebih mudah jika dilakukan bersama-sama oleh para pengrajin UMKM, terutama para perajin kayu yang khusus membuat sangkar.

Ada gamelan yang terbuat dari besi, ada yang dari kuningan, dan ada pula yang berbahan perunggu. Gamelan berbahan besi adalah yang paling murah, ditawarkan dengan harga Rp60 juta per set, dan biasa dipesan untuk latihan musik di sekolah-sekolah. Sedangkan gamelan kuningan lebih mahal, dijual sebesar Rp250 juta per set. Yang termahal adalah gamelan perunggu yang ditawarkan dengan harga Rp400 juta per set.

Boleh jadi ada yang bingung dengan mahalnya harga satu set gamelan. Itu terjadi karena belum ada pemahaman seputar produksi gamelan. Proses pembuatan gamelan bisa memakan waktu sekitar satu bulan dengan melalui beberapa tahap. Dibutuhkan waktu satu bulan untuk menyelesaikan satu set besi dan dua bulan untuk gamelan berbahan utama perunggu.

Proses awalnya adalah peleburan bahan, seperti perunggu, timah, dan tembaga. Bahan yang telah dicairkan kemudian dibentuk menjadi bilah-bilah dan ditempa hingga diperoleh bentuk yang diinginkan. Penempaan inilah yang menjadi tahapan paling rumit di antara tahapan lainnya. Pada tahap ini perajin harus mempunyai keterampilan menempa yang sangat mumpuni.

Penempaan merupakan hal yang vital karena menentukan tahapan selanjutnya, yaitu membabar. Inilah tahapan saat para perajin memeriksa kembali kondisi fisik gamelan. Jika ditemukan ada bentuk yang cacat, maka gamelan itu harus segera diperbaiki.

Tahap melaras atau menyetel nada gamelan | Foto: lagilibur.com

Tahap yang paling menarik adalah proses penyesuain tangga nada yang disebut melaras. Proses ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena memerlukan keterampilan khusus untuk mencapai skala yang diinginkan. Gamelan harus terjamin agar tidak menimbulkan suara sumbang pada saat dimainkan. Terakhir, gamelan diampelas, dicat, dan dimasukkan ke dalam sangkar masing-masing untuk diantar ke pelanggan.

“Saya berharap gamelan selalu dikabarkan dan diperkenalkan agar anak-anak muda sekarang tetap mengetahuinya. Jangan sampai budaya warisan leluhur yang sudah mulai dikenal oleh dunia, justru tidak dikenali oleh anaka bangsa sendiri,” begitu ungkap Fajar saat berbincang dengan lagilibur.com.

Yang jelas bisnis Fajar tidak berorientasi pada uang. Ini bukan tentang keuntungan atau perhitungan ekonomi. Selain dukungan finansial, produksi gamelan juga merupakan upaya untuk turut melestarikan budaya Jawa yang kini banyak ditinggalkan, terutama oleh generasi muda.

Hal itulah yang membuat Listyanto senang. Pemuda berusia 30 tahun ini sudah lima tahun ikut Fajar. Awalnya bekerja di Suwaldi, Listiyanto mengaku betah bekerja di CV milik Fajar karena mendapat hak yang layak. Selain gaji, ia juga mendapatkan uang lembur saat mengerjakan pesanan yang semakin banyak. Listiyanto senang bekerja di CV Berkah Bopo karena Fajar memahami apa yang dibutuhkan pekerjanya.

Proses finishing gamelan sangat menentukan. | Foto: lagilibur.com

Tantangan dan optimisme gamelan

Fajar mengaku pernah mengalami gejolak bisnis saat pandemi pada tahun 2020 lalu. Beberapa pesanan dibatalkan karena adanya peralihan anggaran di instansi pemerintah dari awal pembelian untuk penanganan Covid-19. Ia pernah memproduksi 10 sesuai pesanan tetapi yang dibayar hanya lima. Terjadi penurunan omzet penjualan yang cukup signifikan, yakni 70% sehingga hanya tersisa 30% saja yang bisa diperoleh.

Ada momen berat ketika Fajar harus memberhentikan sementara beberapa pegawainya akibat pandemi. Pada tahun 2022, bisnis CV Berkah Bopo berangsur membaik. Meskipun omzetnya belum kembali 100 persen dibanding sebelum pandemi, tetapi bisnis mulai normal seiring dengan adanya perekrutan kembali pegawai.

Gamelan tetap menjanjikan sebab bisa dimainkan dengan alat musik modern | Foto: Lilik Dwi Fajar Riyanto

Fajar optimistis bahwa gamelan akan tumbuh subur di zaman modern ini dan akan terus eksis di masa depan karena sebenarnya bisa dimainkan secara kreatif dengan alat musik modern lainnya. Jika generasi muda tetap apatis terhadap warisan budaya mereka sendiri, padahal terbukti berharga dan diakui dunia internasional, maka hanya soal waktu saja sebelum identitas budaya ini hilang atau malah diklaim oleh negara lain.

Dari Fajar kita belajar bahwa menjalankan bisnis yang menghasilkan keuntungan tidak harus terlihat mentereng atau modern, apalagi mewah. Lewat produksi gamelan, ia telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Yang jauh lebih penting, usaha bisnisnya menjadi cara kreatif untuk melestarikan warisan budaya yang melambangkan semangat kolaborasi dan keberlanjutan karya.

Perjuangan Fajar diapresiasi PT Astra International, Tbk | Foto: lagilibur.com

Tak heran jika ikhtiar Fajar kemudian membuat namanya lolos sebagai penerima SATU Indonesia Awards (SIA) tingkat provinsi pada tahun 2021 untuk kategori kewirausahaan. Kejutan indah yang kian meletupkan semangatnya untuk berkarya. PT Astra International, Tbk konsisten mengapresiasi para anak muda yang punya dampak sosial dan ekonomi lewat penghargaan bergengsi tahunan ini.

Program besutan Astra ini jelas positif sebab mampu membuncahkan semangat anak negeri, menyalakan pijar harapan anak-anak muda untuk terus berkarya sesuai kemampuan demi kemajuan daerah masing-masing. Tepat seperti nama pengelolanya, Fajar yang melambangkan optimisme. Kreativitas akan terasah dan jiwa kolaborasi akan menjadi value berharga. Inilah sepenggal kisah harmoni gamelan yang mendedah keberkahan. Yang terus terdengar hingga akhir hayat, mengiringi mimpi anak negeri.

Tinggalkan jejak