Melompati Rasa Takut

Saat kehidupan Anda telah mapan, kemudian muncul goncangan yang mengancam kenyamanan tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana cara Anda mengubah rasa takut yang tengah menyelimuti Anda menjadi energi untuk maju ke arah kesuksesan? Satu keputusan yang anda ambil akan sangat signifikan pengaruhnya terhadap hidup Anda selanjutnya sebab keputusan itu akan mengarahkan pada perubahan, entah perubahan lebih baik atau sebaliknya. Boleh jadi momen seperti ini Anda justru kehilangan semangat dan motivasi, menjadi limbung, akibat pengaruh rasa takut yang berlebihan. Terutama jika Anda tak pernah membayangkan akan datangnya gejolak tersebut.

Sebaiknya Anda mencari pendamping (baca: penolong) seperti yang dilakukan Ping. Katak yang semula bebas melompat dalam limpahan air kolam itu kini hanya bisa tertegun melihat jumlah air yang terus menyusut. Maka ia mesti segera pindah mencari kolam baru. Ditemani seekor burung hantu sebagai pembimbing spiritualnya, ia mengadakan perjalanan dengan menelusuri dunia luar serta menyelami alam pikirnya sendiri. Dengan bayangan ketakutan ia tetap meneruskan perjalanan mencari kolam baru meninggalkan kolam lama.

Setiap orang pasti pernah dihinggapi rasa takut: takut kalah, takut mengambil risiko, ataupun takut gagal. Perlu dicatat, sebagaimana dinyatakan dalam buku ini, bahwa untuk menjalani hidup yang penuh berkat setidaknya kita membutuhkan dua hal. Pertama, harus memiliki hasrat untuk mempertahankan hidup berdasarkan potensi yang kita punya. Sebagai konsekuensi logis dari poin pertama, maka lahirlah poin kedua, yaitu kesanggupan diri untuk menjalankan terma pertama tersebut setiap hari. Dengan kata lain, bila kita ingin meraup hidup penuh karunia jangan pernah menyia-nyiakan bakat atau kemampuan yang sudah ada. Pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk menggali talenta dan keahlian Anda dan bukan sibuk merutuk menyesali kemampuan yang tak mungkin. Jika kita masih tenggelam di kegelapan diri kita sendiri, maka harapan menempati posisi dan reputasi yang bagus hanya sekadar angan-angan.

Untuk membangun reputasi kita terlebih dahulu harus menciptakan prestasi yang perlu terus dipupuk dengan semangat dan kerja keras. Prestasi ini bisa merupakan hal baru yang belum pernah ada dalam hidup kita atau peningkatan dari prestasi lama. Dalam sebuah seminar, motivator ternama Tung Desem Waringin menunjukkan tiga poin penting agar seseorang mampu menjadi jajaran terbaik. Pertama, menetapkan standar baru. Artinya, kita buat komitmen untuk melakukan hal baru yang belum ada dalam daftar pencapaian kita sejauh ini. Jika capaian-capaian yang kita buat hanya sekadar pengulangan, rasanya hal demikian tidak akan pernah menjadi prestasi.

Kedua, menciptakan alasan kuat terhadap pencapaian sesuatu. Kita membutuhkan motivasi sebagai energi dalam melecut perjalanan menuju kesuksesan. Motivasi harus dikukuhkan dengan keyakinan. Sebagaimana Burung Hantu berpesan, “keyakinan akan membuatmu bertahan terhadap kemunduran dan kekalahan” (hal. 47). Dalam perspektif psikologi modern dikatakan bahwa kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Jika berpikir kuat, kita pasti kuat. Demikian sebaliknya. Bila hati tak bisa bekerja secara sinergis untuk memompa kekuatan kepada pikiran, maka hanya kelemahan dan kerapuhan yang kita dapat.

Ketiga, bekerja sama dengan yang terbaik. Pihak-pihak atau orang yang jauh lebih dulu menguasai bidang yang hendak kita geluti bisa menjadi referensi penting sebagai rekanan dalam mendorong kita guna meraih target yang sudah kita tetapkan. Ditambahkan pula bahwa untuk mencapai kesuksesan salah satunya kita mesti open-minded yaitu berpikiran terbuka—membuka diri terhadap perkembangan dunia sekitar yang secara otomatis menuntut kita untuk menambah ilmu dan pengetahuan dengan berbagai cara. Termasuk juga pandangan atau pengalaman orang lain yang lebih mumpuni. Dengan pikiran yang jernih Ping mau meminang Burung hantu sebagai gurunya karena kebijakannya pula Ping memohon agar terus dibantu belajar memahami dirinya.

Meskipun kisah Ping disajikan dengan sederhana, namun percikan-percikan cerita tersebut sarat muatan yang inspiratif. Juga kesederhanaan cerita tersebut membutuhkan pemikiran yang tidak sederhana untuk merenungkannya. Wejangan-wejangan Burung hantu mesti ditanam dalam memori; mesti didialogkan lagi dengan kematangan jiwa dam pengalaman yang intens. Ditemani seekor burung hantu yang bijaksana, kita akan dibawa pada dunia yang amat menarik—dunia yang sebetulnya telah kita kenal namun jarang kita sadari, yaitu diri kita sendiri. Kita tidak semata-mata belajar dari petuah-petuah burung hantu yang arif, tetapi secara perlahan kita tak terasa tengah membangunkan diri menuju kesadaran. Bayangan-bayangan kegagalan biasanya menyerang pikiran kita saat hendak memulai sesuatu sehingga mematikan kepekaan potensi yang sebenarnya sudah tersimpan dalam diri.

Adanya perubahan sering membuat kita gamang melangkah dan akhirnya rasa takut mengambil alih keseluruhan kinerja diri kita. Hal ini karena perubahan biasanya diasumsikan sebagai sesuatu yang mengancam kemapanan kita atau bahkan membunuh reputasi yang sudah terjaga. Perubahan sering menjadi momok karena ketakutan akan berhasil atau gagal. Yang perlu dicamkan adalah bahwa setiap keputusan kita dalam hidup selalu mengandung risiko dan itu sesuatu yang wajar.

Risiko memang menghantui kita setiap saat hal baru terjadi. Namun bukan berarti kita harus menghindari risiko ketika ada jalan lain yang sepertinya tanpa risiko. Secara menarik dikatakan dalam buku ini bahwa menghindari pengambilan risiko berarti mengambil risiko yang lebih besar. Implikasi dari kalimat ini adalah bahwa hidup sebenarnya berkubang pada lautan risiko atau masalah. Ketika kita menjatuhkan sebuah pilihan dan meninggalkan pilihan yang lain maka kita tetap berada pada koridor masalah, tentu saja dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Dalam bukunya A Guide for The Perplexed, E.F. Schumacher menegaskan bahwa hidup, dalam batas-batas tertemtu, adalah sebenarnya persinggungan dengan masalah. Jika tak ingin punya masalah, maka jangan hidup—demikian kira-kira kalimat yang sederhana dan sedikit ekstrim.

Dalam bahasa Stuart—seperti yang diwejangkan Burung Hantu kepada Ping—“Jika jalur yang kamu tempuh bebas dari sumber: villageofjoy.comrintangan, maka jalur itu tak berguna” (hal 21). Untuk menggapai kesuksesan kita tak cuma bisa mengharapkan kemudahan tanpa sedikit pun ada masalah, padahal kehadiran masalah justru membuat kita berpikir makin kreatif, penuh pertimbangan dan strategi, serta kaya akan perspektif dalam menapak kesuksesan mendatang.

Penulis drama Amerika Marsha Norman pernah menulis bahwa kesuksesan adalah selalu hal yang harus kita rebut. Kata ‘rebut’ mengandung pengertian aktif yang menuntut kita bergerak melakukan sesuatu sekaligus memuat makna bahwa kesuksesan pada dasarnya adalah milik kita semua yang hilang; setiap orang berhak berhasil dan untuk itu ia harus merebutnya, tidak sekadar membayangkannya dalam fantasi.

Diterjemahkan dengan apik dan lincah oleh Catherine Viardi, buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membutuhkan suntikan semangat setelah menemui kegagalan. Pada bagian empat Ping didaulat Burung Hantu agar ia berjalan seperti manusia. Standar baru yang ditentukan oleh sang guru adalah prestasi tertinggi bagi Ping yang sama sekali asing dalam sejarah hidupnya, bahkan dalam ranah keluarganya. Ping akhirnya berhasil berjalan layaknya manusia setelah terjerembab dan terhempas di atas tanah berkali-kali. Nilai dari peristiwa ini bukanlah semata-mata pada kesuksesan Ping berjalan, tetapi kemampuannya untuk mengalahkan ketakutan dalam diri untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Dalam hidup selalu ada momentum yang memaksa kita menjatuhkan pilihan sulit dan melakukan sesuatu yang hampir mustahil bisa kita kerjakan dengan kapasitas kita.

Setelah membaca buku ini kita seolah-olah bangkit sebagai manusia baru: penuh semangat, vitalitas dan kekuatan diri yang senantiasa segar. Hambatan atau rintangan dalam hidup seolah justru ornamen yang menghiasi kegigihan usaha kita. Kita tentu saja tak mungkin menghilangkan rasa sumber: festmzab.comtakut dalam diri kita sebab itu anasir manusiawi yang normal. Kita hanya harus bertindak dengan optimisme dan selalu berusaha mendengarkan suara nurani terdalam. Sebagaimana dinyatakan pada bagian pertama dari buku ini bahwa perjalanan yang paling utama dilakukan adalah perjalanan di dalam diri, yaitu menguasai gejolak pribadi dan membangunkan kekuatan maha dahsyat yang entah tersimpan di mana. Dengan begitu kita akan lebih mudah berpindah dari kesuksesan satu menuju kesuksesan lain; melompati setiap rasa takut dengan kesiapan menghadapi risiko terburuk.

Advertisements

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s