Nyala Api Kecil dari Kota Wali

Lagi-lagi komandan blogcamp menggelar kontes yang antibiasa. Peserta kontes diminta menyusun review (selanjutnya saya gunakan kata ulasan) atas blog seseorang. Uniknya, blogger yang blognya diulas memiliki kewajiban yang sama untuk membuat ulasan atas blog pengulas. Inilah sebabnya Pakde menyebut kontesnya dengan Kontes Unggulan Blog Review: Saling Berhadapan. Dua blogger akan saling membaca dan memposting ulasan tentang blog terpilih.

Melihat hadiahnya yang bejibun, air liur pun menetes. Namun membuat ulasan blog adalah hal sulit bagi saya. Pertama, ini kontes tim—dalam arti bahwa peserta harus memiliki pasangan untuk mengulas dan diulas blognya. Bila saya meminang seorang sobat narablog untuk saya ulas blognya, sungguh simalakama. Kalau dia menerima, saya takut dia akan kecewa mendapati postingan blog saya yang belum seberapa jumlahnya. Kalau dia menolak, malulah saya sebagai laki-laki, haha. Alasan kedua, bila pun ada teman yang mau saya gandeng, saya khawatir ulasan yang saya buat hanya akan berisi cercaan dan kritik semata. Ya, harap maklum. Seperti yang tersirat dalam nama blog saya, belalang cerewet, saya memang senang mengomentari apa saja, terutama hal-hal yang buruk, xixi. Alasan ketiga, saya belum pernah menulis ulasan blog siapa pun sehingga saya khawatir rekan blogger yang menjadi mitra akan menyesal kuadrat setelah membaca mutu ulasan yang menyedihkan. Alamakk….

Namun semua alasan itu luruh ketika suatu siang saya mendapati kotak pesan facebook saya berpijar merah. Satu pesan baru muncul. Dari seorang blogger Jember yang lumayan aktif. Saya sempat Kaget ketika dia ‘melamar’ saya sebagai pasangan untuk berjibaku dalam kontes unggulan blog review saling berhadapan. Saya langsung mengiyakan. Walaupun belum ada gambaran apa yang akan saya tulis. Kalau saya jual mahal, saya bisa jadi blogger lapuk lantaran tak ada blogger lain yang mau melirik saya dalam kontes ini. Karena saya juga lumayan sering mengunjungi rumah mayanya, maka jawaban saya tak akan pernah saya sesali.

Sejumlah persamaan
Setelah merenung sesaat, ternyata saya dan blogger ini memiliki beberapa persamaan. Inilah juga yang mendorong saya untuk semakin mantap menulis ulasan untuk blognya. Persamaan pertama, kami sama-sama menumpang tinggal di wordpress.com. Ini memberi keuntungan karena saya agak paham hal-ihwal blog wp. Persamaan kedua, kami sama-sama berasal dari propinsi yang sama. Jarak kabupaten tempat tinggal kami juga tak terlalu jauh, bahkan berdampingan. Bukan bermaksud primordialisme, namun bila kami berangkat dari budaya yang relatif sama, maka saya mungkin terbantu untuk mengulas pikiran atau motif tulisannya. Ketiga, di kota kami sama-sama terdapat makam salah seorang sunan Wali Songo. Makam Sunan Drajad turut menyumbangkan pendapatan daerah pada sektor wisata religi di kabupaten saya. Sementara kota asal mitra saya ini tak pernah sepi dari serbuan peziarah makam Sunan Bonang.

Persamaan lainnya, kota kami memiliki banyak julukan. Orang mengenal kota sahabat saya ini dengan sebutan Kota Tuak (minuman beralkohol yang dibuat dari nira siwalan), Bumi Ronggolawe, Kota Wali, dan Kota Seribu Goa. Sedangkan kotaku terkenal sebagai Kota Tahu Campur, Kota Wali, Kota Soto, dan Kota Lele. Mungkin malah ada sebutan lain yang tidak kami ketahui. Tidak sampai di situ, kami ternyata memiliki kegemaran yang sama. Baik dia maupun saya menyukai puisi, baik menulis maupun membaca. Blogger satu ini bahkan sudah sering tampil membacakan puisi di depan publik, sedangkan saya hanya berani membaca untuk diri sendiri :).

Kami juga punya concern yang sama mengenai lingkungan. Bedanya, saya belum satu pun memposting tulisan bertema lingkungan, sedangkan dia sudah menampilkan beberapa postingan tentang lingkungan baik di blog wordpress maupun blogdetik. Hingga detik ini, ada satu tulisan bertema lingkungan yang belum juga selesai saya tulis, hehe. Maklum, (sok) sibuk. Dan persamaan terakhir adalah bahwa kami sama-sama mabuk darat kalau berada di atas kendaraan pribadi maupun umum. Namun itu dulu. Kini saya sudah bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kendaraan yang berjalan—walaupun masih bergantung pada pengemudinya. Walhasil, perjalanan jauh di atas bus, mobil pribadi, atau travel bukan lagi masalah bagi saya.

Api kecil dan peluit
Mungkin Anda penasaran siapakah blogger yang menjadi pasangan saya kali ini. Dialah perempuan asal Tuban yang bermukim di Jember bersama suami tercinta. Bersama-sama menikmati hidup dengan cara yang sederhana—dan meriah. Melalui musik, puisi, dan tentu saja kopi. Zuhanna, itu nama yang saya tahu. Di jagad maya ia lebih akrab dengan Priit Api Kecil. Saat saya korek mengapa ia memilih api kecil, begini alasannya, “Dalam acara memasak koki atau chef kerap mengingatkan agar makanan dimasak dengan api kecil.” Setiap menu memang tidak bisa dihajar dengan api berkobar menyala-nyala. Karena bisa fatal akibatnya. Dalam hidup juga demikian, semangat harus tetap dijaga agar tidak pernah padam. Walaupun kecil, usahakan untuk senantiasa menyala dan punya pendar energi. Itulah yang saya tangkap dari penjelasannya. Sebuah filosofi yang mengesankan. Sederhana tapi dalam.

Bagaimana dengan Priit? Konon itu adalah bunyi peluit yang ditiup. Mengenai hal ini, izinkan saya berspekulasi. Mungkin saat kecil Hanna terpukau oleh liukan bunyi peluit seorang anggota pramuka. Atau boleh jadi ia tak bisa melupakan insiden menarik saat ia ditolong oleh seorang juru parkir di pasar saat ibunya kerepotan membawa barang belanjaan. Atau, kalau saya boleh menduga, Hanna menyukai efek bunyi dan makna suara peluit saat ditiup. Peluit adalah simbol bahwa segala sesuatu ada aturan mainnya. Peluit mengingatkan manusia agar tidak melampaui batas atau tersesat melangkah di luar garis jalan Tuhan. Dalam khazanah Islam, kelak manusia juga akan dibangkitkan dengan sangkakala atau terompet yang menghasilkan suara tak terbayangkan. Dengan pengertian yang positif, peluit memiliki penanda yang sama dengan sangkakala di mana keduanya sama-sama menyiratkan peringatan bagi manusia.

Tampilan blog dan popularitas
Sejauh pengamatan saya (yang tak terlalu rajin BW ini), tak ada masalah dengan blog. Tema blog yang dipilih cocok dengan kepribadian sohibul blog. Sederhana, tidak banyak aksesoris, dan lugas. Warnanya kalem, sekalem saya..eh lah, maksudnya sekalem warna senja. Aksentuasi muncul dari hadirnya widget-widget kontes atau lomba yang ia ikuti. Hanya saja ukuran widget yang tidak seragam membuat layout blog menjadi sedikit tak sedap dipandang (Sumpe lo?). Foto pemilik blog tampil apik di sudut kanan atas. Agak narsis ga sih? Haha… Namun saya lebih suka foto dia saat membaca buku di tengah rel kereta api. Nuansanya sublim.
priit2

Saya tak fasih ngomongin soal statistik karena memang bukan ahlinya. Namun demi menggugurkan syarat, bolehlah saya singgung sedikit. Melihat PR blog ini, saya hanya bisa menyampaikan ungkapan salut. Dengan rangking PR 3 dari 10, berarti kualitas halaman blog Api Kecil bagus di mata Eyang Subur, eh, Eyang Google. Saya patut menduga bahwa blog ini memiliki link popularity yang cukup baik. Tentunya ada banyak tautan yang mengarah ke blog ini. Buktinya dalam sejumlah postingan ia tampak memanfaatkan blognya untuk mendulang rupiah dengan cara menulis review atau ulasan produk dari sponsor.

Adapun mengenai Mbak Alexa, blog penggemar Iwan Fals ini tercatat pada angka 3.351.110. Peringkat yang tidak buruk, namun masih perlu disusutkan lagi. Caranya, kata para master blogger, tentu saja dengan menarik pengunjung lebih banyak agar traffic kunjungan mengalir deras. Begitu pesan para ahli, hehe. Saya mengusulkan ini agar blog ini jelas dimanfaatkan untuk meraup rupiah atau bahkan dolar. Maka peringkat Alexa yang langsing akan semakin medatangkan cring cring rupiah 😀

Update dan mutu
Bayi blog ini lahir tanggal 15 September 2010. Artinya, blog akan berusia tiga tahun. Melihat jumlah postingan yang ada (sekitar 90-an tulisan), setiap bulan rata-rata Hanna memposting dua tulisan. Bukan angka yang bagus untuk ukuran blogger sejati. Begitu ujar seorang master blogger. Namun ini angka yang bagus dibanding blog saya 🙂

Belakangan postingan yang ditampilkan lebih banyak berkaitan dengan ulasan produk pesanan sponsor, atau tulisan untuk aneka kontes. Menurut hemat saya, akan lebih baik bila pemilik blog menghadirkan tulisan-tulisan lain guna mengimbangi tulisan bertema kontes atau pesanan iklan. Memang tidak berdosa, hanya saja tulisan yang mandiri tanpa pesanan pihak mana pun akan menimbulkan sensasi tersendiri bagi pembaca untuk menikmatinya.

Tulisan-tulisan yang pernah nongol dalam blog ini sudah tak perlu diragukan lagi mutunya. Harap maklum, dia adalah eks-jurnalis (atau masih?). Darah seni yang ia warisi dari sang ayah jelas terlihat dari penuturan setiap kisah dan tulisan yang mengalir, apik, tapi tidak kehilangan kekuatan. Lembut tapi bertenaga. Kalau boleh memberi saran, mungkin hanya pada teknis penulisan. Mengingat sahabat saya ini adalah jebolan Fakultas Sastra, alangkah indahnya bila pada tulisan-tulisan berikutnya saya tak lagi menjumpai penulisan kata depan (preposisi) dan imbuhan yang kurang tepat. Misalnya pada penulisan “dimana” yang harusnya “di mana” atau “di bakar” yang seharusnya “dibakar”. Selebihnya, siip! No comment.

Tentang puisi
Ada dua buah puisi yang ingin saya kutip di sini.

Aku tak pandai berpuisi…
Namun aku, ingin berpuisi…
keinginan yang menggebu-gebu
tanpa bisa kutahan lagi alurnya
keinginan yang terpendam selama beribu-ribu detik lalu
Aku rindu mengeja abjad-abjad yang terceceran
Aku rindu menyelami tiap luruh katanya
aku rindu berpuisi
meneriakkan suara daun-daun yang merintih
membisikkan matahari yang mulai jengah…

(Rindu Puisi)

Adakah orang yang tak pandai berpuisi, namun justru menuangkannya dalam bentuk puisi? Inilah Api Kecil. Puisi ini seolah menegaskan kehidupan Priit yang ingin selalu bergaul dengan puisi. Hidupnya berkelindan dalam sajak dan rangkaian kata-kata. Puisi tidak selalu hahdir dalam bahasa yang indah mendayu-dayu, namun kadang juga dari patahan-patahan suara atau suara daun-daun yang merintih. Mereka merintih mungkin karena kebiadaban kita. Sebagaimana matahari yang mulai jengah atas keangkuhan kita sebagai pengelola sah bumi ini. Saya memang suka puisi, namun jelas tak pandai berpuisi. Maka biarkan puisi ini ‘menikam’ Anda tanpa sisa.

Puisi lain yang menarik perhatian saya adalah puisi berikut.
puisi
Saat kali pertama membacanya, saya langsung tersihir oleh rangkaian kata berikut:

meleburkan jiwa menjadi gerimis yang temaram.

Saya tak tahu pasti apa makna puisi ini. Namun kerinduan yang sama menyelusup dalam kalbu saat menelusuri bait dan larik demi larik. Saya tak bisa menjelaskannya. Hanya suka. Silakan tanyakan kepada sohibul blog atau kepada  Pak Muhaimin Azzet yang lebih memahaminya 🙂

Bumi sakit
Dalam tulisan berjudul “Indonesia (Harus) Bangkit Selamatkan Lingkungan” Hanna menunjukkan keberpihakan dan kecintaannya pada lingkungan. Dalam memenuhi hajat hidupnya, manusia memang cenderung mengeksplorasi alam sebesar-besarnya sehingga kadang perbuatan mereka melebihi batas. Label khalifah kadang menjadi pembenaran bagi manusia untuk mengolah bumi sehebat-hebatnya. Bahkan sampai masuk ke dalam ranah kapitalisasi dan pengerukan keuntungan semata—bukan lagi demi kesejahteraan khalayak. Inilah yang menjadi keresahan Api Kecil. Di mana alam semesta digali dan “dirusak” tanpa kendali dan tanpa upaya penyehatan kembali.

Banyak lubang galian dibiarkan ternganga, lumpur panas dibiarkan menyembur dahsyat, hutan-hutan penahan air dialihfungsikan menjadi kebun dan lahan pertanian baru, sampah, dan masih banyak lagi. Kita pun mestinya memperhatikan fenomena ini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Pendidikan tentang lingkungan bukan lagi eksklusif pada orang-orang terpelajar. Semua orang dari segala lapisan masyarakat harus menerima dan mempraktikkan pendidikan mengenai lingkungan. Mereka harus berpartisipasi aktif dalam kelestarian lingkungan masing-masing. Semua diawali dengan kesadaran. Ya, kesadaran!

Dalam tulisan lain di blogdetik, Api Kecil menulis “Tambang Emas: Menambang Emas dan Petaka”. Tulisan yang diposting dalam rangka mengikuti lomba ini sekali lagi menyoroti betapa industri pertambangan memang seolah terbutakan oleh keuntungan belaka. Mereka kian menggurita dan mencengkeram wilayah-wilayah berpotensi bahkan hingga ke luar negeri. Maka tak heran bila pihak asing menguasai sektor pertambangan kita dan menggerogoti kemakmuran bangsa pribumi. Pemerintah seolah abai atas dampak lingkungan selepas penambangan. Masih ingatkah kita akan kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh Freeport di Indonesia? Meninggalkan lubang-lubang menganga dan limbah tailing serta racun-racun yang menghancurkan kondisi masyarakat Papua? Kita tentu tidak lupa bukan pada beberapa kasus perusahaan tambang di Indonesia? Tentang Teluk Buyat oleh Newmont? Begitu gugat Priit. Dan atas semua itu negara kita hanya dibalas dengan sekian tetes keuntungan yang tampak menggiurkan.

Tulisan favorit
Tulisan yang paling saya suka tentu saja adalah postingan berjudul “Aku dan Kau Sama Sama Tak Percaya”. Tulisan ini mengetengahkan seseorang yang berbicara (atau lebih tepatnya bercerita) kepada orang lain tentang ironi kondisi lingkungan pada masa lalu dan masa depan. Sudah bisa ditebak, masa depan (sebagaimana tergambar dalam tulisan ini) begitu buruk, merana, dan menyakitkan. Bahkan untuk menghirup oksigen pun kita harus bayar. Ini mungkin terdengar seperti dongeng, namun kebenarannya hanya menunggu waktu. Saya menyukai postingan ini karena ditulis dengan rapi, mengalir, dan puitis. Kalimat-kalimatnya efektif dan setiap kata mewakili dirinya sendiri. Berjalan lambat tapi mantap. Komposisinya pas, tenaganya kuat, dibalut dalam irama yang terjaga. Selain penulisan kata depan yang tidak tepat, tulisan ini bisa meledak kapan saja! Tapi mungkin saat ini kita sama-sama tidak percaya.
priit1

Tulisan lain yang menarik adalah “Kopi dan Tempe Goreng: Aroma Rindu yang Menguatkan” dan “Musik yang Asyik: Menguatkan, Menenangkan dan Menyimpan Kenangan”. Dalam tulisan pertama, kita diajak menikmati aroma kenangan masa kecil atau masa saat Priit masih dalam buaian keluarga. Masa di mana ia begitu dekat dengan ayahnya (yang ia sebut Bob), saat di mana ibunya mengajarkan tentang keadilan dari tempe goreng yang mereka santap, dan masa ketika Bob memberinya pelajaran hidup berharga dari secangkir kopi pahit. Pada tulisan kedua, Priit bertutur tentang ayahnya yang menyukai penyanyi Iwan Fals. Dari ayahnyalah—juga dari suaminya—Priit mengerti tentang makna musik. Bagaimana musik dapat mengalun sebagai sarana penguat, penenang, dan media penyimpan kenangan yang kuat. Ketika ia hijrah ke Jember untuk menempuh kuliah, Priit bahkan memboyong sejumlah kaset dan sampul yang bisa mengobati rindunya pada sang ayah. Ya, semua kenangan memang mempunyai makna. Dan kita bebas menafsirkannya seperti apa.

Jember-Tuban delapan jam
Saya tak pernah melakukan pengukuran secara pasti. Namun secara serampangan saya bisa perkirakan bahwa jarak Jember ke Tuban (walaupun masih dalam satu propinsi) mencapai 300-an kilometer. Jarak ini sepadan dengan Surabaya (Jawa Timur) ke Semarang (Jawa Tengah). Kalau ditempuh dengan bus biasanya akan memakan waktu sekitar enam jam. Nah, Priit melakukan terobosan yang belum pernah saya bayangkan. Setelah resmi menikah dengan Masbro Hakim, keduanya menempuh jarak sejauh itu dengan mengendarai motor. Padahal orang biasanya meluncur dari Jember ke Tuban (atau sebaliknya) dengan menggunakan bus malam atau kereta. Sepeda motor? Olala….

Membaca postingan ini, saya pikir ada empat hal yang mungkin menjadi alasan mereka melakukan hal itu. Pertama, alasan paling mudah: karena Priit mudah mabuk darat, hehe. Naik motor dan becak (tidak mungkin) adalah cara aman menghindari muntah-muntah saat berkendara. Alasan kedua, mereka mungkin tak berhasil mendapatkan tiket kereta api beberapa hari sebelum lebaran. Ketiga, boleh jadi mereka sengaja berhemat untuk tidak membeli tiket kereta api. Keempat, mereka memang ingin menjalin kemesraan berdua sambil menikmati masa bulan madu. Priiiiiit! Kan lagi puasa woi! 🙂

Setelah menempuh sekitar delapan jam dengan beberapa kali istirahat di pinggir jalan, akhirnya mereka tiba di Tuban, walaupun harus salah mengenali rumah mereka. Mungkin rasa capai dan lesu membuat Masbro kebablasan memacu laju motornya. Sebagaimana tulisan-tulisan Priit yang lain, juga suaminya, liburan lebaran ini dikisahkan dengan asyik, mengalir, dan penuh keceriaan—walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh. Meski tanpa dukungan foto-foto–yang membuat mata saya capek saat membaca–perjalanan mudik lebaran mereka tetap istimewa dengan hal-hal sederhana yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan.

Sebaiknya saya sudahi kecerewetan saya sebelum saya disemprit satpam dunia maya. Teruslah menulis dan berbagi kisah, Priit! Jaga api kecilmu agar terus menyala—dan kalau bisa semakin lama semakin membesar memendarkan cahaya untuk sesama.

Riri-4-tahun-BlogCamp4-150x93
 

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan

Advertisements

14 thoughts on “Nyala Api Kecil dari Kota Wali

  1. ya ampyuuunnn ini belalang cereweeeett bangeett yak.. aku juga mau dunk di ripiu.. kayaknya aku bakal panas dingin kalo baca tulisan (seandainya) mau ripiu blog saya.. wekekek..

    pasti menaaang deehhh

    Like

    1. Maaf kalo kebanyakan ya, Umi Noofa. Panas dingin mana dibandingin kalau deket Abi Noofa? wkwkwkw….. 😀

      Like

    1. Kalau bahan-bahannya sudah terkumpul, membuatnya tak butuh lama. Apalagi blog yang diulas emang udah lengkap dan bagus. Jadi saya tinggal ikut aja. Terima kasih, Sob!

      Like

  2. Saya lebih suka cara ngreview yang pakai hati seperti ini ketimbang review yang terlalu ilmiah, apalagi pakai analisis mesin, dihitung kecepatannya, performanya dll dll. .
    Sayangnya saya tak keburu untuk mengejar ikut kontesnya PakDhe itu.
    Bingung nyari pasangan dan takut mengecewakan.
    Semoga review ini jadi salah satu pemenang
    Salam!

    Like

    1. Makasih Pak Mars. Saya bikin begini ya karena bisa cuma gini, Pak. Mau nampilin data-data kinerja Google atau data teknis lain ga mudeng, hehe. Salam dari Kota Hujan 🙂

      –Sayang sekali Pak Mrs ga ikutan. Kalau ikut, pasti postingannya antibiasa kayak cerpen mini 63 itu. Leleet koneksinya, hehe ….

      Like

  3. review yang komplit 😀
    kalau ke tempatnya prit aku paling suka dengerin lagu bob marley nya 😀
    btw, jd inget udah lama nggak ke tempat Hanna
    Hanna punya blog lain ternyata ya di blogdetik 🙂

    ohya, walank semoga berjaya di kontesnya Pakde ya 🙂

    Like

    1. Makasih, Mbak. Memang bagus kok blog Priit. Aku lupa masukin iringan musik Bob Marley saat pertama membuka pintu blog. Iya di blogdetik juga punya. Dia nih sering menang kontes barengan ma suami 🙂 Hebat!

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s