Perihnya Merelakan 200 Juta

Aktivitas pertama setiap kali saya berselancar di dunia maya adalah membuka surat elektronik atau email. Begitu jaringan internet tersambung, saya langsung mengecek apakah ada surat baru yang masuk ke dalam email saya. Dan memang selalu ada email baru yang bepijar biru. Ada yang berkaitan dengan pekerjaan, iklan dari grup yang saya ikuti, dan tentu saja sejumlah berita tentang postingan terbaru sahabat-sahabat narablog. Membaca semua jenis email sangatlah menyenangkan karena selalu memberi pengetahuan atau pencerahan yang membuat hidup penuh semangat.

Email tak terduga

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 22 Juli, saya dikejutkan oleh sebuah email. Saya merasa terkejut karena belum pernah atau tidak sedang mengharapkan email dari pengirim tersebut. Saya tak mengenalnya dan tak pula pernah bertemu dengan sohibul email. Berikut bunyi email yang saya maksud.

email

Mata saya langsung melotot saat melihat angka yang demikian besar. Ya, 20.000 dolar Amerika atau sekitar 200 juta rupiah adalah nominal uang yang sangat besar bagi saya. Apalagi uang tersebut ditawarkan sebagai kompensasi penggunaan satu buah puisi pendek saya dalam sebuah film. Seni mungkin memang tak ternilai, namun 200 juta tetaplah angka yang fantastis bagi saya.

Kisah penggemar puisi

Saya akui saya memang peminat puisi. Walaupun saya tak selalu memahami makna sebuah sajak atau puisi, namun saya menikmati kegiatan membaca aneka puisi. Kata-kata yang menyusun sebuah puisi kerap menyihir alam sadar saya. Tentu saja puisi-puisi yang memang betul-betul puisi. Adakah puisi yang bukan puisi? Tentu banyak. Namun saya tak bisa menjelaskan bagaimana puisi yang benar-benar bisa disebut puisi dan mana himpunan kata-kata yang tidak membentuk puisi. Membaca puisi sangat menenangkan, dan kerap membuka kesadaran, terlebih bila puisi disajikan dalam kata-kata pilihan, ekspresi yang memukau, dan bahasa yang tidak sembarangan. Teknik bercerita dalam puisi sangat mengagumkan bagi saya. Maka tak heran bila saya selalu tersihir, takjub, terpesona, meleleh, dan takluk pada bahasa estetis Al-Quran.

Saat SMP, saya sempat membenci puisi. Namun sejak kuliah saya selalu larut dalam bahasa puisi yang plastis, imajinatif, kadang provokatif, dan seringkali subtil dan inovatif. Begitu hebat sebuah puisi, tak jarang saya sangat menikmatinya namun tak sanggup menjangkau maknanya. Dari kegiatan membaca ini saya terdorong untuk menulis puisi. Mulai dari puisi sederhana hingga puisi yang sangat sangat sederhana, hehe. Demi memenuhi hasrat saya ini, di akhir pekan saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke perpustakaan daerah untuk meminjam buku-buku sastra, baik novel, kumpulan cerpen, dan terutama puisi.

Bila saya datang hari Senin, maka koran Minggu yang segera saya serbu. Dengan mata elang dan langkah gesit, saya bergegas mengumpulkan semua koran yang terbit sehari sebelumnya. Bukan untuk membaca berita olahraga, melainkan menikmati sajian sastra (terutama puisi) yang ditampilkan dalam rubrik khusus setiap surat kabar. Dari sinilah saya mengenal nama-nama pengisi rubrik puisi banyak koran seperti Beni Setia, Ahmadun Yosi Herfanda, Hasta Indriyana, Endang Supriadi, Kurnia Effendi, Aspar Paturusi, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sardjono, Jamal D. Rahman, Iman Budhi Santosa, Soni Farid Maulana, Ulfatin Ch, Ismet NM Haris, Kuswaidi Syafii, dan Akhmad Muhaimin Azzet. Penyair yang belakangan saya sebutkan bahkan menjadi teman maya saya. Kami berkenalan di blog dan jumpa kopdar sekali di Surabaya Agustus silam. Masih banyak penyair kontemporer yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Namun nama-nama yang saya deretkan di sini memang kerap menghiasi halaman sastra surat kabar edisi Minggu.

Dari manca negara, saya mengenal William Wordsworth (penyair Inggris abad Romantik), Walt Whitman (pujangga Amerika yang karyanya pernah muncul dalam film apik Dead Poets Society), Robert Frost (yang puisinya tentang jalan bercabang sangat terkenal itu), Emily Dickinson (penyair wanita yang menggubah banyak puisi pendek nan hebat), Edgar Allan Poe (yang kerap hadir dengan imaji gelap dan suram), Langston Hughes (penyair Negro yang sangat berpengaruh), William Butler Yeats (yang termasyhur dengan puisinya berjudul The Lake Isle of Innisfree), dan tentu saja William Shakespeare yang tersohor itu.

Sejak saat itu, saya menjadi pencinta puisi atau sajak, baik menulis maupun membacanya. Namun ketika sudah bekerja, saya mulai tak rajin menggubah sajak. Hanya beberapa yang saya tulis, dengan kualitas dan jumlah yang semakin memprihatinkan. Tapi puisi masih sangat saya gandungi.

Puisi 200 jutaan

Kembali pada isi email yang saya tampilkan di awal. Singkat cerita, Chris Gardner, aktor Hollywood yang pernah memproduseri film inspiratif The Pursuit of Happyness tengah mengincar puisi saya berjudul Now Take Me Home yang pernah saya unggah di blog ini pada awal Desember 2011. Dalam pandangan Gardner, puisi itu mewakili jiwa dan semangat film yang tengah digarap oleh timnya. Oleh karena itulah dia tertarik untuk memuat puisi tersebut dalam film yang sedang ia produksi. Puisi tersebut akan dicetak pada buku yang dibaca oleh tokoh utama. Hanya itu yang saya tahu dari beberapa percakapan kami via email.
meraup
Melihat iming-iming yang begitu besar, mata saya tentu langsung ijo. Namun saya tak segera mengiyakan tawaran tersebut. Apa sebab? Karena nama saya tidak bakal dicantumkan sebagai penulis puisi ini. Kendatipun puisi saya akan ditampilkan penuh dalam film, dan bahkan dibaca oleh karakter utama, baik langsung maupun melalui voice over(VO), namun nama saya sekalipun tak akan nongol sebagai pengarangnya. Mereka memutuskan memakai nama lain yang lebih menjual. Well, saya pikir ini bukanlah masalah sepele. Sebab ini menyangkut hak paling esensial seorang penulis, yakni hak kreatif. Bila hak kreatif telah dicabut dari seorang pengarang, apalah arti hak ekonomi meskipun hadir dalam nominal yang besar?

Itulah yang menjadi keraguan saya. Maka setelah berpikir panjang lebar dan melalui serangkaian istikharah, saya pun menulis email balasan yang menyatakan bahwa saya menolak tawaran tersebut. Sebagai warga negara Indonesia dan warga dunia yang berbudaya, saya harus menjunjung hak dan eksklusivitas literasi. Saya tak ingin meraup uang sementara nama saya tak diakui sebagai orang yang menciptakan karya yang mereka pergunakan. Seketika saya teringat pada kasus Robert Kearns, seorang penemu asal Amerika yang dilanggar patennya oleh Ford Motor Company. Gugatan yang ia perjuangkan selama 20 tahun sebenarnya bukan masalah uang, melainkan pengakuan dari Ford bahwa mereka telah mencuri idenya. Saya merasa sebagai penemu jalinan kata-kata dalam puisi saya. Maka saya menolak tawaran yang menggiurkan itu.

Kepedihan dan penyesalan

Bibit penyesalan rupanya tak lama tumbuh dalam hati saya. Pil pahit kepedihan akhirnya saya rasakan akibat menolak tawaran ‘gila’ itu. Setelah saya pikir-pikir, ternyata tak terlalu masalah bila saya merelakan puisi saya dipakai dalam film tersebut tanpa kehadiran nama saya sebagai penggubahnya. Bagaimanapun juga, saya butuh uang. Dan 200 jutaan bukanlah uang yang sedikit–terlebih bila dibandingkan dengan sepenggal puisi pendek. Saya toh bisa mengarang puisi serupa di masa mendatang walaupun saya tak bisa menjamin akan berhasil. Namun setidaknya saya bisa mencoba menulis puisi yang seperti itu.

Akhir Juli saya menghubungi pihak produser mengenai tawaran yang pernah mereka berikan. Alhamdulillah, ternyata mereka belum berubah pikiran. Tawaran itu masih terbuka bagi saya. Leganya! Pada kesempatan komunikasi kali ini, mereka ternyata memiliki term yang tidak mereka sebutkan dalam pembicaraan sebelumnya. Bila saya memang setuju atas digunakannya puisi saya tersebut dalam film mereka, maka saya harus DATANG LANGSUNG ke Seattle untuk melakukan tanda tangan dan negosiasi lebih lanjut.

Saya coba menjajaki kemungkinan untuk melakukan tanda tangan secara remote atau berjauhan. Artinya dokumen dikirimkan kepada saya, dan saya bisa membubuhkan tanda tangan tanpa harus bertatap muka dengan mereka. Sayangnya, usulan saya ditolak. Mereka berdalih bahwa dokumen ini sifatnya rahasia dan sangat penting sehingga dapat membuka peluang terjadinya pemalsuan atau pelanggaran tak terduga. Intinya, saya tetap diminta datang ke Amerika untuk keperluan tersebut. Mereka bersedia mengganti ongkos perjalanan pulang-pergi sekaligus menanggung biaya akomodasi selama saya berada di Seattle.

Belum rezeki

Ini tawaran yang empuk, Sob. Namun, eh, namun, ihiks, rupanya tanggal yang mereka tentukan tidak cocok dengan skedul pribadi saya. Saya diharuskan berada di sana selama kurang lebih dua minggu yakni sejak tanggal 7 hingga 23 Agustus 2013. Hmmm, mungkin memang bukan rezeki saya ya. Sejak jauh hari saya sudah membeli tiket untuk mudik bertemu ibu. Kangen rasanya mencium tangan beliau. Momen Ramadan dan Lebaran di kampung sungguh tak tergantikan. Jadi saya harus hadir di rumah. Dengan cara apa pun.

Saya sempat mengusulkan untuk memajukan atau memundurkan waktu, namun proposisi itu tidak bisa mereka terima. Ya sudah, akhirnya saya mengikhlaskan uang sebanyak itu. Uang yang insyaAllah halal dari keringat menulis. Lepas begitu saja karena memang belum berjodoh.

gambar dari http://allstardentalacademy.com/
gambar dari http://allstardentalacademy.com/

Namun sebagai manusia biasa, saya tak bisa terbebas dari rasa sesal. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu saya terus dihantui kesedihan yang mendalam. Entah kebodohan atau prinsip idealisme yang saya perjuangkan, namun yang jelas 200 juta itu sudah melayang. Hangus. Sirna. Lenyap tak bersisa. Kuatkan saya ya Rabb. Semoga ada rezeki lain yang kau siapkan. Begitu doa saya selalu.

“Ayah, Rumi mau pup nih–” seketika terdengar suara agak tak jelas.

Saya masih menyesali kejadian itu.

“Ayah, udah kebelet nih!” Suara itu terdengar makin keras. Dan, zapp! Sebuah pukulan ringan mendarat di punggung saya. Saya terkesiap. “Ayah, Rumi mau pup. Temenin dong…” Ujar Rumi memelas. Di lantai saya melihat bola kecil yang tadi mengenai punggung saya.

“Yah, Rumi. Ga asyik banget kamu, Nak.” Saya meliriknya kesal. “Padahal Ayah lagi berkhayal dapet 200 juta Nak gara-gara puisi di blog.”

“Buruan Yah, tolong temenin Rumi….” rengeknya serius.

Saya pun spontan menekan Publish dan memutuskan untuk mengirimkan cerita ini sebagai “Khayalan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea.”

“Ah, legaaaa…” Kata Rumi dengan wajah sumringah.

Peace, Broh!! 😀

Advertisements

51 thoughts on “Perihnya Merelakan 200 Juta

  1. Walaupun khayalan namun ada pembelajaran di artikel ini. Saya termasuk manusia yang gampang curiga. Apakah tawaran itu benar ataukah hanya orang iseng yang ujung2nya mau mengeruk uang kita.. Berhubungan dengan orang asing yang tidak kita kenal di dunia maya layak hati-hati.

    Kalau hanya uang segitu sih mudah didapatkan kok.

    Salam hangat dari Surabaya

    Like

    • Betul, Dhe. Bila benar menerima email menggiurkan seperti itu, saya tentu juga langsung curiga mengingat begitu banyak penipuan lewat dunia maya. Di email yahoo pun saya sering menerima email hadiah atau tawaran yang terdengar alami dan menggoda. Sayangnya, itu semua hanya tipuan belaka. Sudah banyak saya kira kasus penipuan uang via online yang ujung-ujungnya korban malah diminta mentransfer sejumlah uang kepada pelaku dengan dalih sebagai syarat atau kelengkapan administrasi.

      Setuju banget Dhe, uang sebanyak apa pun, asalkan masih bisa diucapkan dan ditulis dalam bahasa manusia, tentulah masih bisa diperoleh.

      Salam dingin dari Bogor 🙂

      Like

    • Mbak Uniek, mengkhayal apa susahnya sih? Wkkwkwkw….
      Oh, ternyata duitnya udah mengalir ke Mbak Uniek toh, hati-hati tar rekeningnya disinyalir terlalu gendur dan perlu diendus KPK (Komisi Pemberantasan Penipuan), hehehe….

      Tar pas ke Semarang, saya ambil jatah saya ya Mbak….

      Like

    • Bedanya, saya ga pake dibentak Emak ya Mas, wakakaka…. Berdoa ja Mas siapa tahu jadi kenyataan. Toh ini kan ide yang baik 🙂

      Like

  2. Waduuh, lagi serius baca tiba2 .. aq terjatuh … glodak, mas Bel lg berkhayal.
    Terlepas dr khayalannya, aq sempat penasaran puisinya sampe’ dihargai 200 jeti, pasti menyentuh kaldu, dramatis, heroik atau merogok kocek..hahaa..salam dari Malang mas.

    Like

    • Jiahhhh, dibilang menyetuh kaldu 🙂 Sekalian pake kikil dan petis ya Mas biar kita makan jadi tahu campur. Minumnya tentu saja jus apel dong! Salam juga dari Kota Hujan, Mas. Titip salam buat murid2nya ye 🙂

      Like

    • Loh Mas Chandra pikir ini enggak nyata? Wah, Anda tega amat Mas. Ini jelas-jelas emang khalayan belaka 🙂 Makasih Mas.

      Like

  3. Aahhh…. sampe koprol seribu x saking dongkolnya diriku pada ending ceritamu mas… aku kan wes tau moco puisi Now Take Me Home… tiwas mo nawarin apa aku aja yg ke Seattle??
    hiks….. kukut we aku…. apik rek ceritamu 😦

    Like

    • Aku ga mau kalah sama penulis best seller yang mau traveling keliling dunia tuh, wakaka. Tinggalkan Nadia dulu hehe 😀

      Like

  4. *GDUBRAKKKK…..mendadak kaki-kaki kursi spontan patah ke empat-empatnya karena membaca ending ceritanya (-_-)’ … Mantap!! Btw itu e-mail juga editan tah? atau hasil dari ngayal juga 😀

    Like

    • Maafkan saya atas kesengajaan ini ya 🙂 Apalagi sampai harus mewajibkan Mas buat beli kursi baru, hahai. Email itu saya kirim dari email saya yang lain, jadi isinya tentu saja khayalan haha–timpuk bakiak!!

      Like

    • Jangan salah, ini memang cerita beneran kok, bener-bener ngarang hehe. Apalah arti kemenangan dibanding segepok 200 juta itu–tetep! 😀

      Like

  5. Hahaha..calon pemenang nih..Lah saya membacanya serius banget dari atas. Dalam hati sudah menilai duluan tadi, “hari gini masih juga tertipu lewat dumay..”

    Like

    • Sayangnya ga ada hadiah gula aren nih, Uni 🙂 Ya lumayan baca-baca buat hiburan siang hari. hehe….

      Like

    • Huss, ngakak boleh tapi jagain tuh Noofa mau gigit rendang jengkie, bwahahaha. Ati-ati lalat masuk 😀

      Like

  6. Iiiiihhh… ternyata yang menggemaskan bukan cuma Bumi tapi juga ayah Bumi. Hahaha…
    Anda layak jadi Raja Pengkhayal!

    Like

    • Emberrrrr (bocor)! Noorma bikin kontes kok sesuai bangetz ma hobi saya Mbak, wkwkw. Selain hobi makan jengkie tentunya 😀

      Like

    • Ya begitulah Mbak, ngayal emang asyik, hehe. Kabar baik Mbak. Bagaimana kabar Pascal, Alvin dan keluarga? Yang sunat udah sembuh dong? 🙂

      Like

    • Kalau disuruh milih, mendingan 200 juta Mbak daripada menang kontes GA ini–lirik Noorma, siap2 dilempar panci 😀

      Like

    • Haha, semoga penipuan ini tak mengurungkan Mbak Rahmi buat nraktir saya sekeluarga di tahu gimbal simpang 5 ya ….:)

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s