Bangga itu Berbuat yang Bermanfaat

Dini hari itu jutaan pasang mata masih terlelap dalam buaian mimpi ketika sebuah mobil mewah menghantam pagar pembatas tol hingga rusak parah. Embun baru saja menyapa rerumputan saat pengemudi mobil—yang ternyata masih bocah—melesat dengan kecepatan tinggi dan akhirnya menabrak mobil lain lalu menewaskan beberapa orang. Betul-betul catatan sejarah yang tragis. Seorang anak pesohor negeri mengendarai mobil tanpa dilengkapi SIM dan melaju pada kecepatan ekstrem. Ya, ingatan kita masih segar menyimpan rekaman itu.

Sepekan kemudian beredar kabar di sejumlah media, baik media mainstream maupun media sosial, tentang tren yang kini merebak di kalangan anak-anak dan remaja kita. Para ABG dan anak muda punya kecenderungan untuk mengebut di jalan lalu meng-capture spidometer pada kecepatan tinggi untuk diunggah di media sosial. Tujuannya sederhana: pamer kepada teman-teman agar mereka dianggap hebat. Muaranya tentu saja adalah kebanggaan diri di hadapan teman sebaya.

Bagi saya, ini bentuk kebanggaan yang keliru. Mengapa? Karena rasa bangga yang dibangun demi memperoleh pengakuan orang lain hanya akan berhenti sebagai kebanggaan palsu dan kosong. Selain melelahkan, kebanggaan semacam ini tak akan menawarkan kepuasan yang tahan lama. Malah pada kadar tertentu, aktivitas yang dilakoni anak-anak tersebut justru mengancam keselamatan mereka sendiri. Kebanggaan seperti ini tidak punya arti, bukan kebanggaan yang sesungguhnya.

Tiga momentum kebanggaan
Lalu seperti apakah kebanggaan sejati versi saya? Untuk menjawab pertanyaan ini, izinkan saya tuturkan tiga keping cerita yang menjadi momentum kebanggaan saya. Saya menyebutnya momentum karena ketiga peristiwa ini senantiasa saya pelihara dalam album batin untuk mengalirkan semangat saat saya down atau merasa rendah diri. Begitu hidup terasa berat dan saya seolah tak berarti, saya bisa dengan mudah memutar kilasan film-film pendek ini yang mengesankan. Saya menimba kekuatan dan semangat dari tiga fragmen tersebut.

Balada kabel listrik
Suatu pagi, serampung menjalani terapi akupunktur tak jauh dari Stasiun Depok, perut saya mendadak keroncongan. Rasa lapar itu akhirnya saya obati dengan semangkuk mi instan plus telur. Hanya menu ini yang tersedia di daerah yang saya lalui. Saya pikir tak ada salahnya menepi di kedai mi instan sambil mencuci motor saya yang sudah dekil.

Setelah perut terisi dan motor berkilau bersih, saya pun siap memacu motor menuju rumah ketika tiba-tiba terdengar beberapa orang berteriak. Spontan langkah saya terhenti. Tak jauh dari kedai tempat saya makan terlihat sebuah truk milik sebuah minimarket yang sangat terkenal. Truk tersebut berhenti sejenak; satu awak truk naik ke atas bak untuk melepaskan kabel PLN yang tadi mereka terabas. Kabel itu menghalangi jalan mereka. Setelah kabel hitam itu lunglai terserak di tanah, truk pun melaju tanpa seorang pun mencegah atau mencelanya.

Reaksi pengemudi dan awak truk sungguh di luar dugaan atau ekspektasi saya. Awalnya saya pikir mereka akan menepikan kendaraan dan mengurus pengembalian kabel ke posisi semua (tergantung di atas melintasi jalan) dengan cara yang mereka bisa. Setidak-tidaknya ada banyak orang yang bakal membantu mereka—andai mereka mengambil inisiatif itu. Namun ternyata tidak, mereka melaju begitu saja.

Akibatnya, semua pengguna jalan, baik pengemudi mobil maupun pengendara motor, harus memperlambat laju kendaraan mereka saat mendekati lintasan kabel di tengah jalan itu. Awalnya segelintir orang berinisiatif mengangkatnya dengan sebilah kayu agar pengguna jalan bisa meluncur bebas. Namun itu tidak berlangsung lama karena masing-masing orang tentu memiliki kesibukan lain. Maka kemacetan pun tak terelakkan.

Melihat pemandangan tak sedap itu, saya bergegas memacu motor menuju kantor PLN terdekat. Letaknya ada di pojok pertigaan Jalan Nusantara dan Jalan Tole Iskandar. Kantor tersebut ternyata tidak melayani pengaduan, dan saya disarankan untuk bergerak ke kantor perwakilan Beji yang jaraknya beberapa ratus meter dari kantor tersebut.

Di sana saya diterima dua petugas jaga. Sempat deg-degan juga mengingat ini adalah pengalaman pertama. Dalam hati terbersit pula kekhawatiran bahwa saya seolah ingin dianggap pahlawan atau bahwa insiden kabel terserak di jalan ini bukanlah peristiwa yang layak dilaporkan. Namun keramahan petugas segera mengusir kegalauan saya. Mereka cekatan mencatat dan berjanji segera mengirim petugas lapangan ke lokasi.

Wuihh, leganya, Sob! Seolah setengah beban hidup terangkat. Lebay? Mungkin, tapi ini jelas kejadian istimewa dalam kamus hidup saya. Melaporkan ketidakberesan di jalan—walaupun sesederhana kabel PLN yang terserak menghalangi pengguna jalan—sungguh pengalaman yang menyenangkan. Reportase singkat itu makin membuat badan saya bugar apalagi setelah ditusuk jarum akupunktur.

Saat motor meluncur pulang, perasaan bangga menyeruak dalam hati, “Rumi, your dad is a hero. This is something to be proud of. It really is!” begitu berkali-kali gumam saya membayangkan pertemuan dengan anak sulung saya nanti. Sengatan vitalitas menjalari tubuh saya sehingga tak sadar saya berkendara sambil bernyanyi. Ingin segera sampai dan memeluk Rumi kuat-kuat dan membisikinya bahwa saya baru saja melakukan hal yang sangat istimewa. Doing good does heal.
rumiact

Episode bahasa Inggris dan bawang merah
Sejak tahun 2008 hingga tahun 2011 saya bersama istri mengelola sebuah tempat belajar bahasa Inggris di rumah kami. Walaupun rumah kami berada di kompleks, namun perumahan ini berdampingan persis dengan kampung penduduk. Maka selain anak kompleks, siswa yang datang bergabung juga berasal dari kampung sebelah. Agar bisa belajar di sini, mereka tak perlu bayar alias cuma-cuma. Syaratnya hanya satu: mereka harus bersemangat dan serius belajar. Kami mengambil kebijakan ini karena orangtua mereka rata-rata berpenghasilan rendah. Ada yang menjadi tukang ojek, buruh pabrik, ataupun buruh tani.

Senang sekali melihat perkembangan mereka setelah mengikuti proses belajar di rumah mungil kami. Selain nilai bahasa Inggris di sekolah meningkat, malah ada siswa yang berhasil membantu ibunya menemani tamu asing dari Singapura. Sang ibu setiap hari bertugas menunggui rumah pemilik aneka tanaman hias di kampung. Saya sendiri tak percaya seratus persen meskipun itu dituturkan oleh sang ibu sendiri saat kami berpamitan hendak pindah rumah, walaupun bangga juga sih :). Yang jelas, masa tiga tahun itu dipenuhi banyak kisah dan cerita seru antara kami dan anak-anak, juga orangtua. Alih-alih mendapat kucuran rupiah, kami tak jarang menerima kiriman bingkisan terima kasih berupa jagung muda, rengginang, ubi jalar, pisang, hingga bawang merah. Aneka hasil bumi kerap menyambangi rumah kami. Semua itu kami terima dengan tangan terbuka. Itulah salah satu episode terbaik hidup saya yang menerbitkan seberkas aura kebanggaan.

Foto-foto berikut akan mempertegas momentum itu.
poto bEI2
bei-3

Mendongeng untuk korban gempa
Pengalaman di penghujung tahun 2012 silam tak akan pernah terlupakan. Saya memenuhi undangan sebuah yayasan yatim untuk berbagi buku sekaligus mendongeng untuk anak-anak korban gempa di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Walaupun sama-sama di Bogor, namun butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk mencapai tempat itu. Itu semua akibat jalan pegunungan dan perbukitan yang berkelok-kelok dan bentang wilayah Kabupaten Bogor yang cukup luas.

Saya mendapat jatah mendongeng kira-kira 30 menit. Walaupun waktu sekian terasa belum cukup (karena saya menyiapkan satu dongeng lain dan games), namun acara mendongeng berjalan mulus dan lancar. Anak-anak terlihat asyik menikmati. Saya bercerita tentang pentingnya bersyukur dengan memetik dongeng dari Negeri Sakura. Bagi saya pribadi, menangkap senyum kuncup di bibir anak-anak yang telah diguncang gempa adalah bayaran yang tak terkonversi mata uang mana pun. Memandang keceriaan tumbuh di wajah mereka sungguh merupakan investasi kebaikan yang tak ternilai harganya.
dongeng
yatim1
Kebanggaan sejati
Dari tiga momentum itu, saya hendak merumuskan apa arti kebanggaan sejati menurut saya. Kebangaan adalah keberanian untuk berbuat, yakni mengambil langkah nyata berdasarkan kemampuan atau kompetensi. Tidak sedikit orang di negeri ini yang berkoar-koar memprotes kebobrokan dan ketidakberesan dalam banyak hal. Namun hanya sedikit yang berinisiatif untuk beraksi atau bertindak positif sebagai upaya pemecahan. Sepandai dan sehebat apa pun seseorang, tak ada alasan bagi dia untuk merasa bangga bila ia tidak melakukan tindakan konkret dan segera. Dan sebanyak apa pun tindakan seseorang, tak akan ada kebanggaan yang terbangun bila perbuatan itu sepi atau kering manfaat.

Dua syarat
Yup, bangga adalah berbuat yang bermanfaat! Tidak hanya berbuat, melainkan melakukan perbuatan yang mengandung manfaat bagi orang lain. Itulah kebanggaan sesungguhnya. Ada perasaan unik yang tidak bisa kita gambarkan dalam kata-kata ketika kita mampu berbagi manfaat dengan orang lain. Mengutip guru bahasa Inggris saya sewaktu SMA, “There is a unique feeling that develops in our heart when we help people. It is something more than happiness.” Hingga kini saya sepakat bahwa aktivitas membantu orang selalu melahirkan sesuatu yang beyond happiness—entah apa namanya. Perasaan itulah yang saya sebut kebanggaan.

Kebanggaan adalah kebahagiaan yang ‘sunyi’, yakni rasa happy yang terekam kuat dalam hati, mengalir dalam setiap syaraf, dan mempengaruhi setiap aktivitas kita. Bila perasaan itu menuntun pada perbuatan positif, dilihat atau tak dilihat orang, maka itulah kebanggaan sejati. Namun jika kebanggaan hanya bermuara pada pengakuan dan pujian orang lain, maka kebanggaan semacam itu telah kehilangan makna. Kebanggaan jenis ini biasanya tidak menggerakkan kita berbuat secara jujur karena orientasinya hanya mendapat pujian atau pengakuan orang lain. Maka ketika kita tak berhasil meraup tepuk tangan atau penghargaan orang lain, kita akan cenderung melakukan berbagai bentuk kecurangan dan rekayasa semata-mata demi gengsi. Betapa melelahkan.

Proses dan perjuangan
hPengertian ini disampaikan dengan cantik melalui konflik antara Rizki dan Lena dalam buku CineUs. Saat nama Lena dipanggil sebagai pemenang skenario terbaik, Rizki sang mentor begitu antusias mendukung Lena untuk maju ke panggung. Namun begitu Klub Film dinobatkan sebagai pemenang film terbaik, Rizki tiba-tiba beranjak pergi dengan letupan kemarahan. Lena yang masih diliputi kegembiraan dan kegalauan segera menyusul Rizki keluar gedung. Percekcokan memuncak ketika Rizki berujar,

Dengar, Lena, kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! Kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri! Kamu … kamu menyedihkan!

Belakangan diketahui bahwa skrip berjudul Superhero ternyata gubahan Rizki dan bukan karya Lena seperti yang diumumkan pada malam penganugerahan itu. Lena sebenarnya tahu bahwa panitia melakukan kesalahan dengan mengumumkan namanya sebagai penulis Superhero. Namun pertaruhannya dengan Adit sang mantan telah mengurungkan niatnya untuk mengakui kesalahan itu. Rizki pun naik pitam dan sampai pada kalimat yang keras di atas. Menurut Rizki, Lena telah berbuat curang dengan menukar naskah Rizki atas namanya. Semua itu demi mendapatkan pengakuan Adit dan untuk menghindarkan dirinya agar tidak dipecundangi menggulung kabel selama setahun sebagai asisten Adit.

Gagasan ini dipaparkan dengan eksplisit dalam book trailer berikut. Memang benar bahwa bila kebanggaan didasarkan pada pengakuan semata, maka hanya rasa lelah yang didapatkan–sebab kebanggaan semacam itu tidak langgeng karena tidak bersumber dari hati. Begitu kira-kira pesan yang disampaikan salah satu tokoh (mungkin Rizki) dalam satu adegan di bawah ini.

Lalu, benarkah naskah Superhero milik Rizki tak sengaja tertukar ataukah Lena sebenarnya melakukan penukaran itu dengan licik? Simak kisah lengkapnya dalam buku menarik ini. Yang jelas, bagaimana pun kondisi kita sekarang, kejarlah apa saja yang menjadi impian atau passion kita. Tak perlu menunggu kaya, tak harus menanti saat semuanya sesuai harapan. Kalau nanti kita kaya, beruntung impian sudah kita kejar. Namun jika ternyata tidak kaya, toh kita sudah berusaha meraihnya dan menikmati prosesnya dengan penuh semangat.

Dan yang paling penting, seperti yang disebut Lena dalam epilog, bahwa ia ingin menjadi sineas karena dengan begitu ia bisa menciptakan dunia sendiri. Saya percaya, kita semua adalah sineas, dalam pengertian yang lebih luas. Dengan berbuat hal yang bermanfaat kepada orang lain, kita sebenarnya telah membangun dunia baru, yakni dunia dengan interaksi kebaikan dan kemajuan. Dengan berbuat yang bermanfaat, kita tengah membuka dunia dengan berbagai peluang imbalan dan kejutan kebaikan dari Tuhan yang tak bisa kita bayangkan.

So, bangga itu harus, tapi bukan untuk mengerdilkan atau meremehkan orang lain, melainkan untuk memotivasi diri agar terus bersemangat melakukan hal yang baik. Let’s start to act now and do good, shall we?

Jadi apa arti kebanggaan buat lo? Share idemu dan menangkan gadget keren serta paket buku dahsyat dalam Lomba Artikel CineUs Book Trailer bersama Smartfren dan Noura Books.
New-Andromax-U2-250x250-JPEG

Advertisements

50 thoughts on “Bangga itu Berbuat yang Bermanfaat

    1. Wah, kalau ngajar emak-emak saya grogi Mbak. Kecuali kalau ada semur jengkie, ilang groginya hehe 😉

      Like

    1. Terima kasih atas apresiasi Anda, Mas. Berbuat sekecil apa pun yang kita bisa, Mas walaupun sederhana. Udah ikutan belom berbagi semangat dalam kontes ini?

      Like

  1. Om… Nadia mau dong di dongengin Trs blj bhs inggris jg 🙂
    Aku kukut maneh wes iki.. Besok lg kl mo ikutan lomba tanya dlu ah mas rudi (uhuk.. Uhuk) ikut jg ga.. Hiks….

    Like

    1. ndak pa2 jeng Muna, kalah lawan mas Belalang ki wes biasa, lumrah hihiiii… pedhot wes istilah Semarang-e. Tapi perlu juga kita pikirkan ya bagaimana caranya mas Belalang gak ikutan kompetisi jiahahaaa….

      Like

      1. Lebay amat sih nih emak-emak, namanya juga kontes ada kemungkinan berjaya atau kuciwa. Ya semoga pada menang deh dan menginspirasi. Oce Mak? 😉

        Like

  2. Saya juga kok mas
    Bisa bangga memberikan les org yg tidak mampu dg biaya ala kadarnya
    Meskipun belum sanggup jadi donatur bukan berarti gak ada yg bisa diberikan kpd org lain.
    Skrg pake tenaga dulu aja deh

    Like

    1. Memang Mbak, berbagi sekecil apa pun yang kita miliki sensasinya luar biasa. Di luar itu, kadang imbalan yang kita terima juga sangat luar biasa, jauh di luar dugaan. Ya, asal diniati ibadah, moga-moga bisa terus berbuat nyata. Salam bangga berbagi 🙂

      Like

  3. Keren…….ada cuplikan cerita dalam novel CineUs, kayaknya menarik banget nih novel, jadi pengen baca cerita selengkapnya……
    Salut juga tulisannya bagus banget, semoga jadi pemenangnya…….

    Like

    1. Terima kasih atas apresiasi Anda, Mbak. Walau usia saya bukan lagi remaja, lumayanlah mengisi waktu dengan cerita ringan. Kisah tentang ekskul yang eksis emang ga banyak ditulis–salah satunya ya S-Club Series terbitan Noura Books ini. Suka takjub pada penulis muda yang bisa menulis beratus-ratus halaman dalam satu plot yang memikat. Selama ini saya penikmat saja–sambil mengkritik tentunya 🙂

      Ayo beli bukunya Mbak Yuni. Terima kasih dan salam kenal 😀

      Like

  4. mas belalang ternyata punya banyak talenta ya. Ngeser aq rekk 😀

    saya tertarik dengan cerita ketika mas belalang Mendongeng untuk korban gempa. gak semua orang bisa lho. rasane mas belalalng iki sengojo naruh klimaks di endingnya. Kebanggaan yang sejati saya dapetnya disini.

    btw, rengginange ijih onok tah mas? njaluk poo 😀

    Aku iklas lek tulisane iki menang. Ancen apik tur sipp wes. Salam dari sidoarjo

    Like

    1. Terima kasih atas kunjungan dan apresiasi Anda, Mas Heru. Ketimbang bakat, saya lebih suka menyebutnya hobi, Mas. Karena saya memang hobi membaca cerita dan menceritakannya kembali. Mendongeng di depan anak-anak sensasinya luar biasa karena butuh persiapan dan perubahan rencana bila sewaktu-waktu agenda kita tidak berhasil. Setidak-tidaknya begitulah pengalaman saya selama ini. Jadi saya mendongeng sekadar bisa aja Mas, karena ga bisa ngerjain yang lain, hehe. Untung itu ada yang ngundang 🙂

      Rengginang masih banyak Mas, ada di pasar 😉 Semoga penilaian juri sama dengan pendapat Mas Heru. Salam balik dari Kota Hujan.

      Like

        1. Wah, gitu aja ngambek. Kalo gitu nanti saya kirimi rengginang ya, Mas Heru tukar dengan satu truk tas khas Tanggulangin ya hehe 🙂

          Like

      1. Maaf komen OOT, gak po2 yo Mas Rudy 🙂 Aku dulu ya pernah dikerjain anak didikku pas ngajar boso enggres di SD, disuruh nyeritain legenda Tangkuban Prau in English. Padahal aku nggak punya basic pendidikan bahasa, mung asal ngajar thok. Tapi koq ya ndilalah mereka bisa anteng dan tertegun plus terpesona ndengerinnya. Sambil sesekali disisipin adegan konyol, alhasil mereka terkekeh-kekeh dan ketagihan utk diceritani lagi. Asli lho, aku critanya padahal enggak mutu babar blas.
        Fun banget ya saat anak2 mengapresiasi usaha kecil kita semacam itu 🙂

        Like

        1. Menghadapi anak-anak lebih membutuhkan pendekatan personal dan penghargaan kok Mbak, soal kompetensi bisa menyusul. Asal tulus dan kita semangat, mereka biasanya akan terbawa emosi. Tapi kalo mereka lagi ga mood, ya susah juga, kita kudu kreatif. Termasuk menyajikan adegan konyol yang menjadi spesialisasi Mbak Uniek, wkwkw.

          Ayo Mbak ngajar lagi dong, berbagi ilmu dan ceria dengan anak-anak. Berbagi tahu pong sama saya juga asyik 🙂

          Like

        2. hahahaa….wes suwi banget iku mas, jaman ijek sering dolan, masih punya waktu banyak. gak kayak sekarang yang ‘dipecuti’ juragane terus hihihiii… Tapi dari sekian pekerjaan yg kujalani, memang mengajar ini yang merasa paling berharga. Semua era hidup memang nikmat pada waktunya yo 😀

          Like

    1. Selalu kangen untuk kembali mengajar, Miz Tia. Sebenarnya pekerjaan apa pun asal dikerjakan dengan ikhlas dan semangat akan selalu menyenangkan, hehe, terutama mengajar. Menurut saya bangga itu harus, untuk membesarkan kita agar kita tidak down dan terus bersemangat menjalani hidup dengan segala potensi kita. Tapi tentu kebangaan yang tidak sampai membuat kita lupa diri 😀

      Like

  5. saluuuuttoooo………………….

    semua terpancar *gaya syahrini* nyata …

    as i said before, saya bangga bisa mengenal Anda 🙂

    bukan remix, bukan buaian, bukan khayalan… semuanya nyata… cetaarrrrr membahana badaiiii…

    hehehe…………….

    Like

    1. Terima kasih atas apresiasi, Mbak Susanti. Rasanya malu cuma bisa melakukan hal kecil seperti saya kisahkan dalam tulisan di atas. Salam kenal Mbak 🙂

      Like

    1. Terima kasih, Mbak Luckty. Salam hormat dan sukses selalu. Mohon maaf saya ga bisa komentar di blogspot Anda 🙂

      Like

    1. Itu kebanggaan versi saya loh, Mbak. Orang lain tentu mempunyai perspektif lain 🙂 Yang jelas, bila kita mampu menciptakan manfaat, rasanya menyenangkan, dan membanggakan. Salam kenal 😀

      Like

    1. Eh, malu ada sohibul novel. Menurut saya demikian, Mbak, eh Teh Epie. Orang lain tentu punya pendapat lain lagi. Terima kasih sudah mau maen ke blog saya 🙂

      Like

  6. selamaaat yaaa mas…Rumi is certainly proud of you…dapet gadget baruuu yaaaay….but all in all, bermanfaat bagi orang sekitar barangkali adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh-Nya…ayo semangaaat…your good deeds will never go wasted…

    Like

    1. Terima kasih Mbak Indah. Semoga demikian yang dirasakan Rumi 🙂 Memang benar, membantu orang itu ajaib: ajaib rasanya, ajaib pula imbalannya, sebab Dia yang langsung membalas. Bismisllah semoga bisa konsisten. Salam utk keluarga Mbak….

      Like

  7. Rasa bangga-nya menular mas belalang :D. Senang sekali bacanya. Selamat yaaa… asiiikkkk hengpong baruuu. Makan makaannn :))

    Like

    1. Alhamdulillah, Mbak Waty. Sementara makan di rumah masing-masing ya 😉 Semoga Anda juga lancar dan sukses dalam setiap rencana atau impian. Aaamiin

      Like

  8. Akhirnya ya mas rudi…prediksi terkabul
    (soale aq taruhan karo uncle, yang kalah nukokno katok seng :D)

    Sekali lagi selamat ya mas rud,,,,saya bisa nemu guru biar banyak ilmu 🙂

    Like

    1. Alhamdulillah, Mas Heru. Jangan taruhan Mas, tar dimarahin Pak Ustaz. Kathok seng gimana rupanya ya? :p
      Sama-sama belajar Mas, berguru pada apa saja.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s