Kontes Sadar Hati Berhadiah Tablet PC

Pengantar

Robert Kearns, sebagaimana dikisahkan dalam film Flash of Genius, berjuang melawan raksasa otomotif Ford Motor Company selama 20 tahun demi memperjuangkan hasil penemuannya. Sebuah perjuangan yang hampir mustahil sehingga Gill Previck sahabatnya pun geleng-geleng kepala atas tekad Kearns. Walaupun Ford telah menawarkan sejumlah uang tutup mulut, Kearns bergeming, bahkan ketika ia harus kehilangan istrinya akibat tak sabar menemani perjuangan Kearns.

Bukan uang ganti rugi yang ia tuntut, melainkan pengakuan di media massa dari Ford bahwa mereka telah melanggar hak patennya. Usaha Kearns tidak sia-sia. Bukan hanya Ford yang didenda jutaan dolar atas pelanggaran hak ciptanya, tetapi juga General Motors dan lain-lain.

“You know what, Gill? This confirms what I once read.” Robert berujar kepada sahabatnya.

“Hmm?” Gill melirik Robert.

“Yeah. Becik ketitik olo ketoro!” ujar Robert mantap.

Tahu Gill penasaran, Robert segera menyahut, “That’s a Javanese aphorism to denote that the right shall overcome the wrong.”

“Well, that’s interesting!”

Dialog di atas tentu saja rekaan semata. Namun perjuangan Robert sangat tepat diwakili oleh ungkapan Jawa tersebut, bahwa yang benar pasti menang. Nah, tidakkah Sahabat narablog ingin mendengar ekspresi atau pepatah daerah kita muncul dalam film-film bertaraf internasional? Kita sudah akrab dengan Hakuna matata! atau Mamma mia! atau C’est la vie!

Mungkin suatu saat kita akan mendengar Arnold bilang, “Kumaha iye teuh?” atau Bruce Willis berujar, “Duh, inyong kencot!”

Maka jangan heran bila setelah kontes ini berakhir nanti akan muncul film asing yang mengadopsi salah satu atau beberapa istilah lokal dari Indonesia. Mungkin frasa bijak dari Makasar, atau kalimat mencerahkan dari Papua, atau ungkapan tradisional lain dari suku-suku Nusantara. Ini juga sekaligus cara kita merawat budaya dengan metode yang murah dan meriah. Ini langkah kecil, tapi semoga berdaya guna.

sadarhati

Apa itu SADAR HATI?

Sadar Hati adalah akronim dari bahaSA DAeRah HArus diminaTI. Ya, memang akronim yang terkesan dipaksakan. Tapi intinya saya mengajak agar kita sadar bahwa bahasa daerah sudah banyak diminati dan bahkan dikuasai oleh orang asing. Sementara kita bahasa asing pun tidak, bahasa lokal juga setengah-setengah. Saya yakin bahasa daerah kita sungguh kaya, sekaya sumber alam kita.

Niat menyelenggarakan kontes bertema bahasa daerah ini sudah lama saya simpan. Namun baru terlaksana sekarang. Hitung-hitung merayakan pengikut blog yang bertambah, juga mumpung ada sponsor yang mau nyumbang tablet PC, flash disk, baju, buku, dan sebagainya.

Syarat

  1. Pilihlah sebuah pepatah, atau ungkapan, atau adagium, atau bidal dari bahasa daerah, lalu kembangkan menjadi sebuah tulisan (500-1000 kata) di blog berplatform apa saja.
  2. Selain penjelasan tentang ungkapan yang dipilih, Anda diwajibkan menyisipkan contoh (kasus) NYATA untuk menegaskan pengertian ungkapan tersebut. [Tidak harus pengalaman sendiri]
  3. Peserta menulis dalam bahasa Indonesia dan hanya diperbolehkan mengirimkan satu tulisan.
  4. Tulisan dilarang mengandung muatan SARA dan SARU yakni yang menyindir atau menyakiti suku atau agama lain.
  5. Di akhir tulisan, bubuhkan “Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati” yang memuat tautan (link) hidup ke pengumuman kontes ini.
  6. Pasang banner yang disyaratkan di akhir tulisan.
  7. Follow akun twitter @jollajollyjoss dan @belalangcerewet
  8. Follow blog belalang cerewet (tidak wajib).
  9. Daftarkan tulisan pada kolom komentar pengumuman kontes ini dengan format: Nama, diikuti judul, Url postingan, dan akun Twitter.

banner

Periode Kontes

21 Agustus – 30 September 2014

Pengumuman Pemenang

20 Oktober 2014

Juri: Juri tamu (bukan saya), hehe 😉

Bila ada pertanyaan, sampaikan di kolom komentar. Mohon sebarkan info ini dan selamat berlomba.

SPONSOR: Sixmidad, wingko premium jolla-jolly, BlogCamp, Griya Lahfy, dan Om Trainer.

Advertisements

491 thoughts on “Kontes Sadar Hati Berhadiah Tablet PC

    • Bukan hal yang mustahil kan Mas. Kalau bahasa Italia atau Swahili aja bisa, kenapa bahasa daerah kita tidak? Mereka hanya belum mengenal saja. Yuk iku meramaikan!

      Like

  1. Sukses ya Mas Rudy untuk pagelaran ini, menyimpan pengetahuan dan kearifan lokal dari seantero Nusantara.
    Salam

    Like

  2. […] Dan sekali lagi, peran orang tua dalam pendidikan anak sangatlah penting. Selain pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah dan lingkungan sekitar harus terus ditanamkan. Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati […]

    Like

  3. Bismillahirrohmanirrohim, tombo teko molo minggat, Ijin ikutan pak …
    Nama : Ahmad Roqib
    Judul : Mari kita bersama sama “memayu hayuning Bawono”

    Like

  4. Izin Daftar Ya Mas…

    Nama : Muhammad Reza Harahap
    Facebook : facebook.com/redza.harahap
    Twitter : twitter.com/redzaharahap
    Judul : ANAKKI DO HAMORAON DI AU
    Alamat URL Blog : harahap-reza.blogspot.com/2014/08/anakki-do-hamoraon-di-au.html

    Makasih Mas …

    Like

  5. mas, ikut nih. bismillah
    Nama : Muhammad Imam Rosyadi
    Judul : Witing tresna jalaran saka kulina “”Dapat jatuh cinta, dikarenakan terbiasa bersama”

    Like

  6. […] ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminatihttps://tenteraverbisa.wordpress.com/2014/08/22/kontes-sadar-hati-berhadiah-tablet-pc/Ketika sesuatu yang sangat kita inginkan, dan kita yakini akan lekas beri pengharapan. Namun, […]

    Like

  7. Ide kontesnya keren, pengantarnya keren, hadiahnya jugaaa. Tapi belum kepikiran pepatah yang berbahasa daerah, lha wong belajar bahasa daerah ga pernah sampe tuntas, pindah2 terus. Nar ya mas Belalang tak mikir2 sik

    Like

  8. ikutan yaaa
    nama: Kanianingsih
    Judul: Asa Teu Beungeutan

    FB: Kania Ningsih
    Twitter: @kanianingsih

    Like

  9. Nama : M. Mahfuzh Huda
    Judul artikel : Mangan Ra Mangan Sing Penting Kumpul

    Thanks
    Salam ramah dari tanah Kalimantan

    Like

  10. Alhamdulillah… inspiratif sekali. Insya Allah mau ikutan … sedang mencari idenya ni…
    kalau ada waktu sudi kiranya juga mampir ke blog saya… terima kasih

    Like

  11. Nama : Nadya Sabila Yasaro
    Judul : Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono
    Twitter : @nasaya8

    Terimakasih, semoga bermanfaat 🙂

    Like

  12. Nama : Salman Achmad P
    Judul : Bahagialah mereka yang mati muda
    Twitter : @salmanachmad

    Salam bersalam, ramai akan nuansa malam.

    Like

  13. Bismillah,.
    Ikut belajar nulis kang..
    Nama : Fadlih Eka {Kado Istimewa Dari Sang Pencipta}

    Tweeter : @fad_eka

    Haturnuhun kang….

    Like

  14. Nama : Fithria Fakhrunnisa
    Judul : Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
    Akun Twitter : Fahfie1

    Like

  15. Setor ya mas
    Nama:Hastira Soekardi
    Judul:Dia Yang Menjadi Belahan Jiwaku

    Akun Twitter:@hastiraS

    Like

  16. ijin daftar, ya
    nama : Eva Siregar
    judul : Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan jolo sinukkun marga asa binoto partuturan

    twitter : misss swetty (THERESIA SIREGA1)

    Like

  17. Keren neh GA-nya… Indonesia banget hehehhee

    Formatnya

    Nama:
    Judul
    Url:

    Baku seperti itu ya, sob kalau mau ikutan 🙂

    Like

  18. Nama: Yudy Ananda
    Judul : Cikaracak Ninggang Batu Laun Laun Jadi Legok
    Twitter : @AnandaYudy

    Like

  19. mau tanya dong. kriteria pemenangnya dilihat dr mana sih, mas? kalo terpenuhinya syarat 1-9 kan buat nentuin teregistrasi ya? hehe….tp, saya baca lg baca lg. penekanan pd nomor 3- hrs pake bahasa indonesia, (berarti istilah bahasa daerahnya sebaris aja dong ya?)

    Like

    • Poin 1-9 adalah syarat agar bisa dinilai juri.
      Bila sudah lolos administrasi, maka pemilihan pemenang didasarkan pada keunikan tema ungkapan yang dipilih, gaya bahasa penyampaian, dan relevansi kisah nyata dengan ungkapan yang diangkat.

      Like

  20. […] Hiruk-pikuk dunia politik Indonesia nampaknya belum berakhir. Betapa tidak, kekisruhan pemilihan umum anggota legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-Republik Indonesia, DPR Daerah Provinsi, dan DPR Daerah Kabupaten/Kota) yang diramaikan gugatan para calon dan pengurus partai ke Mahkamah Konstitusi (MK), dilanjutkan dengan ketegangan 2 (dua) kandidat pemilihan presiden dan wakil presiden (Joko Widodo – Jusuf Kalla vs Prabowo – Hatta Rajasa) yang sangat menguras energi. Kontestasi kedua capres-cawapres sudah menarik emosi sejak awal, entah karena hanya ada dua pasangan yang saling berhadapan. Black campaign terus mengalir dari dua kubu di berbagai media, baik internet, televisi, koran bahkan spanduk-spanduk yang mengotori ruang publik. Setelah pasangan Jokowi-JK terpilih, kegaduhan kembali terjadi ketika DPR-RI membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dimana partai pengusung Prabowo-Hatta atau yang dikenal koalisi merah putih (KMP) memenangkan voting 224 suara lawan koalisi partai pemenang (baca: PDIP) 135 suara. Artinya, pemilihan kepala daerah, baik Gubernur maupun Bupati/Walikota dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat. Sontak saja, koalisi PDIP melayangkan gugatan ke MK, namun gugatannya ditolak. Entah penolakan ini adalah babak baru konflik perpolitikan Indonesia. Berkaca kepada masyarakat adat Sunda, mereka mempunyai falsafah hidup bermasyarakat yang sangat luhur dan tidak pernah menimbulkan konflik di masyarakat. Hal ini dikarenakan, masyarakat adat Sunda memegang teguh pepatah orang tua yang dijalankan hingga sekarang, yaitu “Nyanghulu ka Hukum, Nunjang ka Nagara, Mufakat jeung Balarea”. Pepatah adat sunda tersebut saya peroleh ketika berkunjung ke Kasepuhuan Sinar Resmi yang merupakan Kesatuan dat Banten Kidul, pada acara seren tahun. Apabila dipisah-pisah, maka arti “Nyanghulu ka Hukum” adalah setiap individu masyarakat harus mengedepankan hukum dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sehingga tidak ada tindakan main hukum sendiri atau pemukulan massal terhadap setiap pelaku kejahatan. Semuanya diserahkan pada hukum, khususnya hukum yang berlaku dalam tatanan masyarakat lokal (adat) dan umumnya hukum yang berlaku secara formal (peraturan perundang-undangan). Sementara arti “Nunjang ka Nagara” artinya semua tindak-tanduk bermasyarakat harus mendukung tetap berdirinya negara atau pemerintahan, sehingga masyarakat akan sangat mengakui sistem pemerintahan mulai dari tingkat bawah hingga presiden. Dan arti “Mufakat jeung Balarea” adalah semua keputusan yang akan diambil oleh pimpinan adat harus dilakukan secara mufakat bersama seluruh warga. Hal ini dalam rangka menjaga kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat adat. Dengan demikian, secara utuh, pepatah adat sunda tersebut mengamanatkan bahwa dalam bermasyarakat hukum adalah hal utama yang harus ditegakkan dalam rangka menopang sistem pemerintahan yang ajeg, yang diciptakan melalui kesepakatan bersama. Berdasarkan pepatah tersebut, terlihat jelas bahwa konflik horizontal antar masyarakat dan konflik vertikal antara masyarakat dan pemerintah tidak akan terjadi. Karena masyarakat adat sunda memegang teguh pada hukum, negara dan kesepakatan bersama. Pertanyaannya, kenapa kita yang hidup dalam tatanan modern ini tidak mampu menerapkan falsafah hidup nenek moyang kita? Saya meyakini bahwa setiap suku yang terserak di seluruh nusantara ini memiliki hal yang sama dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apakah para politisi dan pemimpin kita harus magang di masyarakat adat terlebih dahulu? Guna mendapatkan pembelajaran yang harmonis dan saling menghargai diantara perbedaan dan kemajemukan untuk menjunjung tinggi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Semoga. Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati https://tenteraverbisa.wordpress.com/2014/08/22/kontes-sadar-hati-berhadiah-tablet-pc/ […]

    Like

  21. […] Banyak contoh dalam kehidupan yang terjadi didunia kita saat ini yang bisa menggambarkan berputarnya roda dunia Cakra Manggilingan. Contoh yang jelas, bagaimana dulu Ir. Soekarno dipuja, kemudian dihujat pada masa setelahnya, namun kemudian juga dipuji kembali. Hal ini juga terjadi jaman HM Soeharto, yang berkuasa penuh di Indonesia, kemudian dicampakkan pada kondisi terendah, tapi kemudian dipuja kembali pada suatu masa. “Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati” […]

    Like

Comments are closed.