Telat Mengenal Buku Anak

Masa kecil saya, tak diragukan lagi, sangat menyenangkan. Puas bermain bersama teman-teman, mengaji, bersekolah, dan tentu saja menikmati cerita anak dalam buku atau majalah yang ada. Untuk kegiatan yang terakhir, memang variasinya tidak banyak. Maklumlah, tinggal di daerah pesisir yang jauh dari kota besar bukanlah perkara mudah untuk mendapatkan aneka bacaan anak yang cocok.

Panjat kelapa dan gulai ayam
Kala itu seingat saya yang bisa kami jangkau adalah Majalah Kuncup, Majalah Kuncung, dan sebuah buku anak sastra klasik yang entah berasal dari mana. Bukunya mengisahkan petualangan sekumpulan anak yang menuntut ilmu di suatu kampung mulai dari asyiknya memanjat dan memetik kelapa, melihat arak-arakan, hingga memasak ayam berkuah santan (gulai). Judul bukunya saya sudah lupa, namun kisah tentang memetik kelapa dan memasak gulai ayam sungguh kuat tertancap dalam memori hingga kini. Bahkan nama pengarangnya pun tak terbayang sama sekali sekarang.

Suatu waktu pernah saya meminta Majalah Bobo kepada ayah. Perjuangan mendapatkan majalah anak ini sungguh tak mudah. Harus berminggu-minggu menunggu. Seingat saya kami hanya sempat membeli satau atau dua edisi majalah tersebut. Selain karena soal harga (anggaran keluarga), sulitnya mendapatkan majalah ini juga menjadi soal tersendiri. Berbeda dengan zaman sekarang yang semuanya serbamudah dan bahkan sangat praktis dengan kemajuan teknologi bernama Internet. Cerita anak bisa diakses dari mana saja bahkan via ponsel tanpa harus meninggalkan rumah.

Salaman dulu, Tante Enid dan Om Dahl!
Apalagi Enid Blyton yang tersohor itu, baru saya kenal selepas SMA di bangku kuliah di mana perpustakaan daerah Jawa Tengah menyediakan banyak bacaan dengan koleksi mengagumkan, baik dari genre maupun jumlah volume. Roald Dahl juga serupa, baru saya lahap setelah dewasa. Ironis memang karena cerita anak justru saya santap saat telah berada pada usia dewasa. Tapi cerita anak kerap menyimpan pelajaran besar dan penting bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga bagi pembaca dewasa. Oleh karena itulah, membaca cerita anak tetap relevan pada semua usia, terlebih bila kita memiliki anak-anak yang gemar membaca.

Pasar yang menjanjikan
Mengenai perkembangan bacaan anak di tanah air, terutama ranah cerita fiksi, sejauh pengamatan saya belum banyak berkembang. Selain KKPK yang menjadi andalan Penerbit Mizan, rasanya belum banyak buku anak fenomenal yang cukup menggugah bagi pembaca belia. Buku-buku anak masih didominasi oleh karya pengarang asing dalam bentuk terjemahan. Majalah seperti Bobo juga sering menghadirkan buku dari kumpulan cerita majalah mereka. Ini inisiatif bagus, namun belum cukup.

Dari sini jelas bahwa potensi pasar buku untuk anak-anak sebenarnya sangat bagus dan menjanjikan untuk digarap. Pasar ceruk ini bisa menjadi ladang berkah bagi penerbit dan penulis, serta ilustrator di Indonesia. Semoga akan banyak lahir buku-buku karya anak bangsa yang mengangkat khazanah Nusantara dan bermakna bagi anak-anak kita.

Tiga komponen
Buku anak yang bagus, paling tidak menurut saya, hendaknya memperhatikan tiga komponen utama, yakni bahasa, penokohan, dan ilustrasi. Saya yakin semua penulis dewasa yang menggubah cerita anak sepakat bahwa bahasa adalah poin penting juga sulit saat hendak/tengah menulis cerita untuk pembaca anak-anak. Cerita untuk anak hendaknya disampaikan dalam bahasa yang simpel, tidak kompleks, sesekali berima, dan kadang diselipi perulangan. Bahasa bagi anak-anak sangat penting sebab bahasa memuat rasa hormat dan keamanan psikologis bagi mereka.

Fokus kedua adalah tentang penokohan. Anak-anak senang menikmati karakter cerita yang konsisten tapi tidak datar dan tetap bisa dikaitkan dengan diri mereka. Anak-anak sangat suka terlibat dalam tokoh yang berkembang tapi tetap konsisten. Karakter yang datar dalam cerita yang monoton akan menciptakan kebosanan bagi anak-anak.

Terakhir, ilustrasi atau gambar pendukung. Kehadiran gambar dalam buku anak bukan hanya memenuhi halaman agar buku semakin tebal, melainkan untuk membangkitkan imajinasi anak agar semakin mudah membayangkan atau bahkan menciptakan cerita mereka sendiri melalui gambar-gambar atraktif itu. akan tetapi, gambar yang bagus dan penuh warna tidak selalu menjamin cerita menjadi bagus sebab gambar harus dibuat terpadu dan menyatu dengan cerita untuk tetap mempertahankan (atau mengeksplorasi) potensi kenikmatan saat anak-anak membaca suatu cerita.

Inilah catatan saya tentang buku anak. Saya memang telat mengenal buku anak, dan sulit pula menulis satu penggal cerita anak. Namun cerita anak memang penting. Sangat penting.
widget-lomba

Advertisements

4 thoughts on “Telat Mengenal Buku Anak

  1. Buku anak memang penting, dan yang jauh lebih penting lagi adalah, para ortu HARUS membaca dulu kontennya, baru dikasih ke anak. Karena tidak semua buku anak mengusung hal positif. Nice post 🙂

    Like

    1. Setuju, inilah pentingnya orangtua harus terlebih dahulu suka membaca karena tidak setiap buku anak langsung layak konsumsi oleh anak-anak. Butuh filter dan seleksi oleh kita sebagai orangtua. Terima kasih.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s