Ponsel, Komputer, dan Motor

Sebagai tugas pamungkas Writing 101 dari tim wordpress, kali ini saya tergerak untuk menuliskan tiga benda yang sangat bernilai. Kendati ketiga benda tersebut tidak lagi saya miliki dan kisahnya pun pernah saya ceritakan di blog ini beberapa tahun silam, namun proses pemilikan mereka yang tidak biasa membuat mereka layak disematkan sebagai benda dengan arti spesial dalam sejarah hidup saya.

Di tahun-tahun awal kuliah, saya ingin sekali memiliki tiga benda: ponsel, komputer/laptop, dan sepeda motor. Begitu besar keinginan tersebut hingga mereka menjadi obsesi. Dalam berbagai kesempatan, terutama saat belajar, saya hampir selalu menggambarkan tiga benda tersebut di atas secarik kertas kosong. Waktu itu saya sedang gandung menulis puisi. Maka di meja kos atau di rumah selalu tersedia tumpukan kertas putih sebagai bahan coretan. Alih-alih tulisan yang saya hasilkan, tiga benda itulah yang sering maujud dalama bentuk gambar di atas kertas, hehe.

Saya sudah coba sampaikan tentang keinginan saya ini. Namun seperti bisa diduga, ibu saya memang tidak akan sanggup membelikannya. Saya menekankan pada komputer karena selain mengirit ongkos mengetik di rental komputer, alat ini juga akan sangat berguna saat saya menulis skripsi kelak. Seorang tetangga yang seorang guru bahkan pernah membantu merayu ibu tentang murahnya sebuah unit komputer saat itu. Kira-kira 500 ribu rupiah yang tentu saja produk seconhand atau bekas. Ibu bergeming karena memang tak ada dana untuk pengeluaran itu. Kuliah saja saya tak bisa bergantung pada kiriman dari ibu. Saya membayangkan pasti akan sangat menyenangkan bila bisa mengendarai motor sendiri ke kampus dari tempat kos.

Selain itu, saya bisa meluncur ke perpustakaan mana saja yang dibutuhkan guna mencari referensi penulisan skripsi atau tugas-tugas kuliah yang lain. Kehadiran motor juga membawa banyak manfaat: saya bisa lebih sering berkunjung ke rumah seorang teman yang kerap menyajikan makanan lezat dan beraneka macam. Maklumlah bagi kami anak kos makan di rumah teman adalah sebentuk peningkatan gizi dan vitamin, haha…. 😉

Adapun ponsel, benda ajaib ini memang saya perlukan. Kala itu, sudah banyak teman (terutama anak-anak keluarga kaya) yang dibekali hape dalam aktivitas sehari-hari mereka. Di kampus mereka saling bertukar nomor ponsel dan gemar berkirim pesan pendek atau sms. Sesekali mereka bertelepon walaupun menggunakan teknik ngejam yang murah meriah. Saya membutuhkan ponsel karena saat itu saya telah mendaftar sebagai tim pengajar di sebuah lembaga kursus yang menuntut saya agar bisa dihubungi sewaktu-waktu bila ada perubahan jadwal atau saat saya harus mengganti guru lain. Awalnya, tiga benda modern ini tampak mustahil saya miliki. Namun seiring perjalanan waktu, kemudahan demi kemudahan menampakkan diri dengan sangat cantik dan membahagiakan.

Rekening bank dan ponsel

Teman satu kamar kos memberitahu bahwa sepupunya berhasil mendapatkan dana bantuan penulisan skripsi dari sebuah produk besar di Indonesia. Masalahnya, ia tak punya rekening bank sebagai syarat untuk menerima dana yang akan ditransfer. Kebetulan saya punya rekening dan dipinjamlah nomor rekening tersebut agar pencairan dana berjalan lancar. Setelah dana sukses dialirkan ke rekening saya, saya pun menarik seluruhnya dan mengembalikannya kepada sepupu teman tersebut.

Di luar dugaan, ternyata saya mendapat cipratan dari uang tersebut. Katanya itu sebagai bentuk apresiasi mengingat dana untuk penelitian skripsi tidak sebesar itu. Saya menerima dengan girang hati. Teman satu kamar lalu mengusulkan agar saya menggunakan uang tersebut untuk membeli satu unit ponsel. Tentu saja ponsel bekas. Kami pun meluncur ke sebuah konter yang cukup jauh dari kos demi mencari ponsel bekas yang murah sesuai dengan dana yang ada. Ponsel merek Nokia tersebut akhirnya menemani hari-hari saya hingga akhirnya harus mendapat bantuan berupa balutan karet untuk memperkuat tampilan LCD-nya, hehe.

Komputer diantar ke kos

Pada tahun kelima kuliah seorang dosen menawarkan pekerjaan menerjemahkan buku sains populer kepada saya. Saya bimbang untuk menerimanya lantaran selama itu saya belum pernah menerjemahkan buku utuh selain dokumen lepas atau materi perkuliahan. Namun karena beliau menjamin bahwa beliau akan menyuntingnya, maka saya pun menyanggupinya. Waktu sebulan untuk satu buku itu.

“Kamu punya komputer?” tanya pak dosen itu.

“Tidak, Pak.”

“Terus gimana nanti mengetik hasil terjemahan?” ujar beliau lebih lanjut.

“Saya bisa ke rental, Pak” jawab saya singkat.

“Wah, jangaaaan. Kalau gitu kamu bisa tekor dong!”

“Saya tersenyum kecut, tak tahu harus bicara apa.

“Gini aja, di rumah ada komputer ngangggur. Kami pinjami mau?” tanya pak dosen.

“Wah, mau banget, Pak.”

“Ya sudah lusa kamu ke rumah ya buat ambil komputer itu,” perintah beliau.

“Baik, Pak. Terima kasih.”

Setelah tiba di rumahnya, komputer pun saya lepas kabelnya dan kemudian diangkut ke mobil beliau. Sungguh beruntung karena komputer itu diantar hingga tempat kos yang jaraknya sungguh sangat jauh dari rumahnya. Setelah menurunkan komputer dan memasukkannya ke kamar kos, saya masih mendapat tawaran untuk nebeng ke kampus. Alhamdulillaaaah. Maklum, anak kampung jarang naik mobil sedan keren, hehe.. edisikatrok.com 😀

Saat terjemahan sudah rampung, saya pun memohon izin kepada pak dosen. Kali ini lewat istrinya yang kebetulan mengajar di kampus yang sama dan dikenal sebagai dosen killer. Waktu itu pak dosen sedang absen. “Ibu, apakah boleh untuk sementara saya pinjam komputer untuk menulis skripsi?” kata saya tanpa tedeng aling-aling. “Apa, pinjam?! Ngapaian kamu pinjam komputer segala. Sudah, komputer itu buat kamu aja, enggak usah dibalikin!” jawab bu dosen yang pernah mengganjar saya nilai E lalu jadi A pada sebuah mata kuliah. Bagai disambar petir, saya duduk menganga sambil ngiler dikit, hahaha. “Betu, Bu?” saya khawatir salah dengar. “Iyaa, buat kamu. Pakai saja.” Setelag=h berterima kasih, saya pun meninggalkan ruangan dosen dan mengambil foto levitasi. Bo’ong ding, zaman itu saya mana punya kamera yang keren, hehe. Syukurlah dua benda kini sudah di tangan.

Tiga pekerjaan dan motor biru

Saat tengah menulis skripsi, kakak saya memberitahu lewat pesan singkat. Isinya: di rumah sudah bertengger 1 unit Honda Supra Fit warna biru. Setelah diperjelas bahwa motor itu dibeli untuk saya, saya girang tak keruan. Gembira bukan kepalang sebab akhirnya punya motor juga. Beli di sini maksudnya kakak bersedia membayar uang mukanya, kalau tak salah 250.000 rupiah yang sudah cukup besar bagi saya. Lalu cicilan bulanan akan kami bayar secara patungan. Maksudnya, kakak saya yang bayar penuh, lalu saya pura-pura jadi patung biar ga usah bayar, xixixixi. Saya setuju dan motor pun saya boyong ke Semarang.

Motor itu hadir pada saat yang tepat. Sambil menyelesaikan skripsi, saya akhirnya bekerja di tiga tempat yang berbeda. Sejak pukul 8 pagi hingga 2 siang saya bekerja sebagai penerjemah part time di sebuah yayasan sosial, lalu pulang mandi dan bersiap mengajar bahasa Inggris di sebuah kursus tak jauh dari kos. Selepas mengajar di kursus saya biasanya meluncur ke rumah siswa yang menjalani les privat. Les privat ini dikelola oleh lembaga khusus privat yang datang ke rumah-rumah. Kadang jadwal berjalan aman, namun kadang juga berbenturan. Biasanya saya akan mengusulkan agar les privat diganti hari saat saya tak ada jadwal di tempat kursus, atau bila mereka mendesak karena menjelang ujian, saya akan meminta tolong rekan guru untuk menggantikan saya mengajar di tempat kursus.

Dengan adanya motor, semua nyaris tanpa kendala. Kegiatan bisa lebih praktis dan relatif cepat. Tinggal membagi waktu antara jadwal bimbingan skripsi dan waktu mengajar. Selama tahun pertama, saya masih patungan membayar cicilan motor tersebut bersama kakak. Namun sejak saya pindah ke Bogor, alhamdulillah motor bisa saya cicil mandiri hingga lunas dan menjadi milik sendiri. Legaaa dan bahagiaaa. Demikianlah, Sobat pembaca. Tiga hal tersebut sangat berarti sebab meraihnya penuh misteri dan perjuangan.

Berbahagialah bila Anda dilahirkan dalam keluarga yang berada sehingga fasilitas mudah Anda dapatkan. Jangan sia-siakan kesempatan dan peluang dari orangtua sebab tidak semua anak menikmatinya. Manfaatkan sebaik-baiknya demi produktivitas studi dan pekerjaan, bila mungkin. Ingatlah bahwa mencari rezeki yang halal tidak mudah, maka belanjakanlah dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Apa sih? ^-^ Apa saja yang kita miliki, mari pergunakan demi kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Benda apa yang sangat berarti bagi Anda, Sob?

Advertisements

49 thoughts on “Ponsel, Komputer, dan Motor

  1. kalau saya laptop dan hp merupakan dua hal yang dulu pengen banget dibeli, tapi kalau motor justru ibu yang ngasih uang buat beli, katanya kasihan liat aku naik sepeda.

    Like

    1. Sungguh beruntung ibu Anda sangat mencintai Mas ya. Maksud saya betapa beruntung saat itu ada dana untuk membeli motor. Setiap ibu tentu mencintai anaknya dengan cara terbaik yang mereka bisa. Semoga sukses selalu ya Mas dalam beraktivitas 🙂

      Like

  2. Laptop, dulu pingiiiiiiiiin banget punya laptop… nulis skripsi juga numpang2 komputer teman || akhirnya terbeli setelah dapat beasiswa S2 (yang cair setelah satu semester berakhir, he3)….

    Penantian yang berujung manis…

    Saya juga belajar bahwa minimnya fasilitas waktu itu tidak berhasil menghalangi saya meraih mimpi 🙂

    Like

    1. Sesuatu yang dicapai penuh perjuangan dan penantian panjang kerap mengguratkan memori indah dan mengesankan ya. Saya baru bisa beli laptop versi mini aka netbook tahun 2009 hehe.

      Yang penting berusaha semampu kita ya, minim atau maksim tak boleh bikin menyerah! Salam.

      Like

  3. Hahahahaa…saya bacanya campur aduk rasanya…haru sekaligus geli karena gaya ceritanya itu, jaman susah tapi di bawa hepi aja…trus memang ya Allah itu Maha segalanya, tau ajaaaaa…kalo hambanya membutuhkan itu semua dan selalu diberi kemudahan untuk memilikinya…

    Like

    1. Jangankan, Mbak Lies, saya yang nulis aja sampe guling-guling pas baca lagi, hehe. Iya Mbak, hidup tidak selalu indah, jadi kita jalani saja. Indah atau tak indah toh hanya soal persepsi saja kan, makin variatif makin kaya pengalaman hidup. Kadang-kadang pahit, kadang pahit banget, hiks, nasib, haha. Kalau sudah waktunya in sya Allah akan diturunkan. Yang penting semangat dan terus ngeblog, hehe 😉

      Like

  4. Tuhan memang mengerti apa-apa yang dibutuhkan. Kalau memang minta HP laptop motor untuk kebutuhan sebagai penerus kehidupan demi kebaikan, akan selalu ada jalan yang “Tanpa diduga-duga”

    Like

  5. Boro boro benda benda itu mas, sekolah aja saya harus sambil jualan nasi kucing malamnya dan loper bakpia sebelum sekolah.
    Btw kalau jaman supra fit berarti tahun 2004/2005 dong kuliahnya…..saya dah punya anak dua tuh…

    Salam dari Tangerang

    Like

  6. kalo saya sama mas, bukan ngejiplak nih tapi 3 benda ini selalu saya bawa setiap hari: hp, laptop, motor. motor utk keliling lapangan (wong kerjaannya di lapangan), hp buat ngehubungin petani (petani sekarang udah pada punya hp hehe), laptop buat ngerjain laporan dimanapun selalu dibawa. plus dompet tentunya hehe. asik banget ya baca ceritanya, semua ada jalannya klo kita bersabar

    Like

  7. Sama ya mas, dulu jaman kuliah juga gak segampang itu mau punya ketiga barang yang kausebutkan tadi. Malah ketoknya klo hape blm usum banget hihihii… konangan umure reeeekk 🙂
    Bersyukurlah kita yang mendapatkan barang2 yg diinginkan dengan penuh perjuangan. Jadi klo misal mendapatkan sesuatu dg mudah sekarang ini, harus cepat2 bersyukur, bukannya mlengo ke barang punya tetangga yg lebih bagus. Lak ngono seee… *braaakk…tibo seko ranjang, ngimpi jebuleeee 😉

    Like

    1. Iyo, Bu. Kita malah harus bangga telah mengalami kesulitan hidup. Jadi pengalaman lebih kaya karena dulu sulit sekarang relatif agak lebih mudah, Beda ma orang yang gampaaaang aja buat dapetin sesuatu. rasanya tentu ga istimewa sebab tak ada perjuangan.

      Ngelirik kamera Canon EOS maksudnya? xixixix

      Like

  8. kalau saya paling butuh handphone mas, untuk motor sih saya gabisa bawa.. kalau notebook / komputer sih pakai juga tapi dulu ga sampai kepengen2 banget sewaktu belum punya hehe
    salam kenal yah 🙂

    Like

    1. Biasanya sih demikian, Uni. Banyak juga kok orangtua yang ‘berada’ sengaja menempa anaknya dengan cara-cara kreatif agar tidak manja. Ada juga yang terpaksa, seperti saya, hehe. Semoga anak-anak di mana pun bisa tumbuh mandiri dan berkembang ya Uni. Apa pun makannya, minumnya Arenga, heh 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s