Keluhan yang Berbahaya

Salah satu cara meringankan beban atau masalah hidup adalah dengan membaginya kepada pihak lain. Saat masalah sudah keluar dari mulut kita, rasanya sedikit beban terangkat sehingga hati pun sedikit lega. Nah, perasaan lega ini penting untuk menyalakan api optimisme dan berpikir kreatif demi menuntaskan masalah yang kita curhat-kan. Perasaan plong akan mengurangi sumpeknya pikiran untuk menggagas solusi. Syukur-syukur bila orang yang kita curhatin punya jalan keluar atau saran yang mencerahkan. Tentu itu rezeki pula kan?

Namun berbeda dengan Desi dan Fara. Kedua teman ini kerap melakukan sesi curhat kepada kami (saya dan istri). Nama pertama, karena jarang bertemu, sudah tak lagi mencurahkan kegalauannya. Sedangkan Fara masih sering curhat tentang banyak hal, terutama tentang anak-anaknya. Sebagai teman, kami tentu saja membuka diri untuk mendengarkan keluhan mereka, sejauh tidak membuka aib keluarga dan menyangkut hal yang positif. Namun bagaimana perasaan Anda bila solusi atau gagasan jalan keluar dari kami tidak pernah mereka dengar atau justru mereka tolak?

Kondisi keuangan
Dalam beberapa kesempatan Desi menceritakan kondisi keuangan keluarganya yang tampak ruwet. Dia dan suaminya sama-sama bekerja, namun entah mengapa penghasilan mereka terasa tak cukup. Selidik punya selidik, ternyata mereka memang banyak pengeluaran. Mereka kerap makan di luar yang tentu butuh merogoh kocek yang dalam. Alih-alih masak sendiri yang bisa menghemat, mereka asyik jajan di luar. Makan di luar sih boleh saja, asal tidak terlalu sering. Pembelian konsumtif mereka juga lebih besar ketimbang barang yang produktif, hingga tagihan kartu kredit menumpuk. Belum lagi membayar gaji dua orang pembantu dan biaya renovasi rumah yang sebenarnya bisa ditunda.

Anehnya, setiap kali disarankan untuk melakukan penghematan, Desi enggan melakukan perampingan. Jadi kami hanya seperti ember saja tempat menuangkan emosi dan kesulitannya padahal ia sendiri yang menikmati berbagai fasilitas dan “kemewahan” keluarganya. Sesekali kami juga ingin menjadi ember yang nakal dengan memercikkan muntahan emosi ke mukanya agar ia tersadar, hehe. Menurut kabar yang saya dengar terakhir Desi kini telah berhenti kerja dan mengasuh kedua anaknya sendiri tanpa jasa pembantu. Ia juga membuka usaha online yang cukup berhasil sehingga keluhan tak lagi terdengar. Alhamdulillaaah …. πŸ˜€

Masalah anak
Kini yang masih sering berkeluh kesah adalah Fara. Anak pertamanya konon susah makan dan agak susah diatur, terutama setelah kehadiran adiknya yang sama-sama cowok. Bisa dimaklumi bila Fara stres berat karena ia mengasuh kedua putranya sendiri sedangkan suaminya bekerja di kantor dari pagi hingga sore. Status BBM atau WA kerap bernada negatif dan kepayahan. Sang suami konon kurang tanggap ketika melihat anak mereka perlu penanganan khusus, misalnya tiba-tiba pengen pup dan sebagainya.

Bagi saya pribadi yang sehari-hari lebih banyak berada di rumah, memberikan bantuan kecil kepada istri sangatlah bermanfaat. Mencuci baju, mencuci piring atau mengepel sungguh memberi jeda penting bagi istri untuk menjauh dari rutinitas rumah tangga yang tampak tak pernah terhenti. Nah, kepayahan mengasuh anak yang sulit makan atau mengudap camilan, ditambah pekerjaan rumah tangga yang seabrek, tak pelak membuat Fara capek fisik dan pikiran.

Gratis pun ogah
Sebagai dampaknya, Fara kerap membandingkan Rumi dan Bumi anak kami dengan anak-anaknya yang juga cowok. Dalam kunjungan terakhirnya ke rumah, ia berujar, “Oh, gini ya kalau dididik dengan ilmu?! Pinter-pinter ya…” Ia merujuk pada Rumi dan Bumi yang akur, mau membereskan atau berbagi mainan, juga hal tertib lainnya. Intinya anak saya terlihat mudah diatur. Kami bilang bahwa ada kalanya mereka juga sudah diarahkan, namun kami tak berhenti begitu saja. Mencoba terus sampai anak-anak menuruti dengan cara yang paling nyaman dan positif. Marah juga tentu pernah.

Suatu kali saya mendapat jatah kursi pelatihan parenting secara cuma-cuma. Satu tiket untuk suami dan istri. Lalu saya membeli satu tiket dengan maksud akan saya berikan kepada Fara agar ia bisa berangkat bersama suaminya. Bayangan kami sebagai keluarga muda, tentulah banyak ilmu yang bisa kami gali dari forum itu, terlebih lagi buat Fara dan keluarganya. Ia juga bisa berkonsultasi gratis tentang masalah anak-anaknya.

“Enggak dulu, Mbak,” begitu jawabnya kepada istri saya saat mendapat tawaran tiket gratis. Jawaban yang segera mengingatkan kami pada penolakan tawaran baju di mal, hehe. Segudang alasan disampaikan yang intinya mereka enggan pergi dan malas belajar padahal tempatnya masih di Bogor dan tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Fara ini memang termasuk ‘unik’ karena gemar berkeluh kesah tapi tak mau mendengar usulan kami. Bahkan mencobanya pun tidak. Kami sarankan agar ia sering memberikan sugesti positif kepada anaknya mengenai kesulitan yang ia keluhkan. Namun ia selalu mementahkannya bahwa anaknya begini, begitu, beginu, dan seterusnya.

Keluhan-keluhan seperti Desi dan Fara ini berbahaya, baik bagi yang bercurhat atau yang dicurhati. Bagi pencurhat, ia akan semakin dirundung masalah sebab tak juga mengambil langkah aksi untuk mengakhiri kesulitannya. Lebih parah lagi adalah bagi kita yang menerima keluhan. Waktu kita bisa habis dan energi terserap lantaran digerogoti keluhan yang tidak produktif. Masih beruntung kalau usulan kita didengar, kalau tidak, sungguh sia-sia. Waktu kita terbuang percuma.

Khusus pada kasus Fara, anaknyalah yang menjadi atensi kami. Kasihan betul bila ia dibesarkan terus-menerus dengan cara seperti itu.

Advertisements

23 thoughts on “Keluhan yang Berbahaya

  1. Menjadi tempat curhat memang menyenangkan, bisa menolong orang.
    Namun tetap ada batasnya juga. Telinga dan hati bisa disediakan untuk siapa saja yang membutuhkan asalkan ada aturannya.
    Biasanya saya memberikan peraturan di depan “Ini mau curhat saja atau nyari solusi?”
    Atau pas di tengah-tengah cerita langsung saya potong “Kemarin kamu cerita seperti ini dan sudah saya kasih solusi. kok kejadian lagi. Lama-lama bosen sayanya. Kamu aja yang punya masalah juga galau apalagi saya.”

    Liked by 1 person

    • Hahaha, nah itu dia, Mas. Mengeluhkan hal yang sama berulang-ulang padahal sudah dikasih usulan jalan tapi enggan dicoba. Kalau cuma curhat yang bikin hati kita sumpek juga ya mendingan dihindari. Seperti saya bilang, malah bikin waktu dan energi kita sia-sia.

      Like

  2. ini sih sesi curhat yang berat sebelah dan cuma buang waktu menurutku. orang nggak mau dinasehati kok. Mendingan nyiweli pipinya Rumi n Bumi aja πŸ˜›
    next time kalau datang ke rumah lagi dan mo curhat langsung di cut aja, bilang “sesi curhat udah nggak ada lagi. kalau mau cari tempat sampah jangan disini. kalau mau cari masukan boleh kemari.”

    Like

  3. Beberapa kali saya juga sering menjadi tempat curhat teman. Dari sejak sekolah sampai berumah tangga. Alhamdulillah saya dipercaya oleh mereka. Paling seneng kalo saran kita mengena di hati pencurhat terus dijalanin, tapi bisa juga makan hati kalo udah dikasih saran tapi bersikukuh dengan pendiriannya . Akhirnya, curhatan jadi memanjang deh…., memang bener kadanga menyita waktu dan pikiran kita ya..he..he…

    Like

  4. Bagi beberapa orang, mereka sebenarnya hanya butuh “sasaran” untuk pelampiasan emosi, bukan untuk menemukan solusi. Karena tembok terlalu kaku untuk memberikan umpan balik, maka dari itu mereka mencari “sasaran” berupa manusia.

    Menurut saya, mereka yang seperti ini umumnya orang yang sedang menghadapi sesuatu seorang diri dalam jangka waktu yang relatif lama.

    Like

    • Sepakat, Mas. Saya kira memang ada orang dengan jenis sekadar butuh bantalan emosi. Saya bisa menerimanya sesekali saja, selebihnya saya sarankan untuk curhat langsung kepada Tuhan.

      Like

  5. Para psykolog itu dibayar mahal buat dengerin saja… hehe
    Biasanya yg ngeluh akhirnya tau sendiri cara keluar dr masalahnya…

    Jd ntar kalau sudah dicurhati, keluarkan kwitansi hihi

    Like

  6. Repot juga ya mas kalau curhat tapi enggak mau menerima saran orang laen. Semoga keluarga mereka diberikan jalan terbaik.
    Aku yo pernah curhat mas, sing tak curhati malah ora ngenehi solusi…terus aku curcol nang tembok…hehe. salam dari Malang.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s