Kecap Tanpa Nomor

Sewaktu di pesantren dulu, sesi paling favorit adalah sesi makan. Bisa dimaklumi, di tengah jadwal padat sekolah dan mengaji, tiga kali santapan dari pagi hingga malam menjadi hiburan tersendiri, terlebih bagi saya yang uang sakunya cekak. Momen makan menjadi jeda dari kegiatan sekaligus melodi memori saat lauknya mirip atau pernah dimasak oleh ibu tercinta.

Tentang lauk, boleh dibilang kami cukup beruntung. Mulai dari menu biasa hingga istimewa kami santap. Mulai dari ikan asin, tahu tempe, soto ayam hingga ayam goreng pernah kami sikat. Tentu saja frekuensi lauk proletar jauh lebih kerap ketimbang menu borjuis, hehe. Hampir semua santri menggandrungi ayam sebagai lauk favorit karena memang dianggap bergengsi bahkan hingga saat ini dalam masyarakat kita.

Kecap misterius

Nah, walau jumlah lauk sudah disiapkan sesuai jumlah santri, tak jarang santri yang telat bersantap harus gigit jari lantaran kehabisan lauk. Mungkin ada yang iseng mengambil lebih dari jatahnya. Walhasil, saya pun pernah dilanda kasus menyedihkan perihal lauk. Saat mendapati hanya nasi yang tersisa, saya pun menuju dapur dengana harapan masih ada lauk yang bisa menemani sepiring nasi. Sayangnya nihil. Sebagai ganti lauk, staf dapur menawari saya kecap manis.

Daripada hambar makan hanya dengan nasi, saya menurut. Saya tuangkan kecap langsung dari botolnya. Di luar dugaan, nasi hangat plus kecap manis itu ternyata cukup lezat. Harum nasi berpadu dengan gurihnya kecap semakin menggugah selera. Nasi + kecap akhirnya menjadi formula bagi saya dan kawan-kawan yang tidak kebagian lauk lantaran telat menyerbu tempat makan.

Belakangan saya mencoba mengingat-ingat, ternyata kecap lezat itu tidak dilengkapi merek seperti aneka produk yang kini merajalela. Yang tergambar jelas di memori saya hingga kini adalah: botol kecap standar yang dilapisi selembar kertas buku tulis atau koran; kertas itu melingkari badan botol lalu direkatkan dengan karet gelang agar tidak lepas sehingga tangan tidak selip saat menggenggam dan menjungkirkan botol.

Dugaan saya, itu mungkin kecap home-made yang tidak diproduksi secara massal. Mungkin untuk wilayah sekitar saja yakni konsumen lokal. Botolnya tinggal diisi ulang kapan saja saat kehabisan. Namun gurihnya tetap bertahan bahkan bila dibandingkan kecap nasional yang mengklaim paling nikmat sekarang.

Yang mengusik pikiran saya adalah teknik promosi produk kecap tersebut. Tanpa merek yang definitif, bagaimana cara mereka mendekatkan produk kepada para konsumen? Bagaimana pula upaya meraih kesetiaan pelanggan bila konsumen bahkan tidak tahu namanya? Jawaban yang mungkin adalah melalui getok tular. Lewat kesan dan kepuasan satu konsumen, maka kecap tanpa nomor itu pun menyebar dan melezatkan aneka masakan.

Klaim sepihak

Fenomena kecap tanpa nama ini spontan mengingatkan saya pada gaya beriklan masyarakat modern. Saya yakin pembaca sudah akrab dengan selorohan, “Mana ada sih kecap yang ngaku nomor dua?” Ungkapan ini kemudian dipakai untuk merujuk pada produk lain selain kecap. Setiap produk dituntut mengaku sebagai produk terunggul dan nomor wahid. Tak hanya produk dagang, dalam pemilu legislatif pun, kebanyakan kandidat rupanya mengadopsi pola pengakuan sepihak ini, dengan menyatakan bahwa dia bersih, jujur, amanah, adil, pintar, bijaksana, dan sederet atribut positif lainnya—walaupun akhirnya fakta kadang berbicara sebaliknya saat ia telah menjabat.

Klaim memang tidak selalu akurat. Saya berkeyakinan bahwa tak ada produk atau kandidat sempurna seperti yang disebutkan dalam klaim atau kampanye. Munculnya klaim tertentu punya maksud dan tujuan spesifik yang hendak dicapai. Betapa banyak oknum pejabat yang mengaku mewakili rakyat lalu justru menggerogoti dan mengkhianati orang yang selayaknya diperjuangkan.

Namun berkebalikan dengan kecenderungan melakukan klaim baik dan hebat, ternyata ada juga anasir dalam masyarakat yang tidak mengaku sebagai “kecap nomor satu”.

Melezatkan kehidupan

Orang-orang itu ibarat kecap—keberadaannya ‘melezatkan’ kehidupan orang lain. Mereka bisa berbentuk komunitas tak resmi, yayasan legal, atau bahkan perseorangan. Mereka memilih bertindak dan tidak banyak bercakap. Mereka tidak menunggu partisipasi pemerintah untuk memberi kontribusi pada perbaikan masyarakat. Mereka terus berbuat entah disambut dengan tepukan atau cemoohan. Mereka bergerak atas swadaya dan kekuatan masing-masing untuk membantu orang lain.

Meminjam peribahasa dari bahasa Cina, mereka memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Mereka inilah yang saya sebut kecap tanpa nomor. Tak penting bagi mereka untuk berkoar-koar mengaku sebagai orang baik atau mulia. Fokus mereka bukan mendapat penghargaan sosial atau imbalan finansial. Mereka bertindak karena sadar bahwa Tuhan memerintahkan kebaikan. Dan adapun bila mereka mempublikasi kegiatan, itu semata demi mengajak orang lain bertindak. Tidak lebih.

Mereka ibarat gula yang memaniskan secangkir kopi walaupun wujudnya tak pernah tampak. Ibarat oksigen, meski tak berwarna atau berasa, mereka penting dengan caranya sendiri. Para guru atau dokter yang mengabdikan diri di pulau-pulau terluar Indonesia, komunitas nirlaba yang peduli pada sesama, dan masih banyak lagi komunitas atau gerakan yang terus memberi warna pada Nusantara.

Walau tak kita sadari, mereka berdenyut dalam aliran sungai, embusan angin, bening embun, dan hijau pohon-pohon. Mereka berdetak dalam irama semesta. Meski tanpa suara atau kata-kata. Mereka mungkin tak dikenal di bumi, tapi dipuja-puja di langit.

Advertisements

17 thoughts on “Kecap Tanpa Nomor

  1. Kecap tanpa nomor mengingatkan saya pada status seorang teman yang kira-kira bunyinya begini, “menjadi hebat tanpa terlihat,”

    Saya yakin insya allah masih ada orang2 yang terus berjuang dan berbuat kebaikan. Tulus. Tanpa pamrih. Ya hampir2 mirip kecap tanpa nomor itu. Tanpa embel2 mencari popularitas, elektabilitas, dan sebagainya. Tak peduli tindakannya mendapat pujian atau tidak. Mereka tetap ada dan menjadi bermanfaat bagi sekitarnya.

    Like

    1. Aaamiin, semoga kita bisa demikian ya Mas. Mas Rasyid bisa menjadi kecap dengan menularkan virus kebaikan kepada anak-anak didik setiap hari. Terima kasih sudah mampir. Salam dingin dari Bogor, brrr..!!!! 😀

      Like

  2. Jd ingat anak yg di pesantren..jk tdk kebagian lauk.. sp mie instant kering tanpa dimsk bs jd lauk..teruntuk kebaikan yg tak terlihat itu bg sy spt garam yg memberikan kesedapan pd makanan..tak tampak tp begitu sgt dibutuhkan..

    Like

    1. Bila mungkin sebaiknya dihindari terlalu sering makan mi instan, Mbak. Yang dimasak aja ga bagus, apalagi yang masih mentah. Memang dampaknya ga terasa secara instan seperti namanya.
      Betul, Mbak, banyak orang seperti garam yang kebaikannya terasa namun wujudnya tak kentara.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s