Di Zaman Millennials Kok Masih Kena Penyakit Ini

salep hitam

Sulit dipercaya saya bercerita soal ini di tengah abad kekinian yang semuanya serbamentereng. Namun demi mengembalikan fungsi blog ke ranah personal yang lebih hangat, jadi tak melulu diisi konten berbayar atau pesanan sponsor, tak apalah menuliskan soal penyakit yang mungkin terkesan tidak berkelas, haha. Masa sakit pun harus mengesankan ya?

Tapi soal kehangatan, gangguan kulit ini memang tak diragukan sebab bisa bikin badan meriang juga. Konon akibat infeksi bakteri permukaan kulit menjadi bengkak karena bernanah dengan setitik noda hitam di tengah-tengah seolah sebuah mata. Rasanya nyeri bin hangat walau sengaja enggak dirasakan.

Tak perlu berbelit-belit, bisul oh itulah yang saya maksud. Barah itulah nama lainnya atau populer disebut udun dalam bahasa Jawa. Meski sudah berusaha hidup bersih, entah mengapa mendadak kena penyakit ini setelah entah berapa purnama. Dan yang bikin diriku bertanya-tanya kenapakah posisi bercokolnya kerap mengambil spot-spot tersembunyi yang sulit dijangkau, misalnya di lipatan paha atau siku. Untunglah ada kamera ponsel yang memfasilitasi pemotretan untuk memantau perkembangan.

Memori soal bisul yang kuat terpatri meliputi dua momen saat masih berseragam putih abu-abu. Setelah itu rasanya bisul enggan singgah, alhamdulillah. Kelas satu SMA bisul muncul di sisi lutut sebelah kiri yang membuat gerakan langkah cukup menyakitkan. Saat itu masih tinggal di pesantren sehingga tak bisa dimanja oleh orangtua. Banyak yang menyarankan dikop alias disedot semacam bekam. Saya takut sakit sehingga cari alternatif lain.

Sama-sama hitam

Seorang penjual bubur kacang ijo di depan pondok mengusulkan debog bosok alias pelepah pisang yang sudah bonyok secara alami. Setelah sepakat, saya tempelkan ramuan hitam itu tepat di tempat bisul. Alhamdulillah bisul sembuh tanpa sakit meskipun meninggalkan bopeng hitam hingga kini. Risiko pilih jalan yang aman, hiks.

Momen kedua pada saat kelas tiga ketika sudah di sekolah baru. Bisul nongol di dagu sehingga cukup menyulitkan saat bercakap-cakap. Bu Wiwik, guru bahasa Inggris baik hati itu, berempati dengan mengusulkan penggunaan salep hitam untuk mengusir bisul yang belum jadi. Kalau tak salah ingat, beliau juga yang menghibahkan obat itu untuk saya oles di bawah bibir. Syukurlah salepnya manjur.

Dan kini saat bisul datang menyerang, saya mengandalkan obat bernama Ichtyol ini. Sama-sama hitam seperti debog bosok. Memang tak sekali sembuh tapi cukup mengurangi rasa sakit sehingga gerakan masih relatif memungkinkan terjadi. Semoga si hitam ini kembali menunjukkan kedigdayaannya ya.

Itulah kisah tak penting soal bisul, haha. Adakah BBC Mania pernah kena bisul? Bagaimana akhirnya bisa pulih? Share atuh!

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Di Zaman Millennials Kok Masih Kena Penyakit Ini

  1. Hehe, saya dulu kalau bisulan mencari sogok tunteng, itu biji buahan yang kecil, bulat, warnanya paduan merah dan hitam. Tidak tahu ilmiahnya di mana, kata teman-teman dan tetangga begitu, maka saya untallah itu buah, beberapa biji, hehehe… Ohya, istilah untal itu original 🙂

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s