Transaksi Digital Semakin Mudah, Waspadai Penipuan Jangan Sampai Lengah

Pada awal pandemi, saya mendapat dua pesan pendek melalui WhatsApp (WA). Mereka menanyakan tentang pengiriman masker medis yang saat itu jadi barang langka. Dua-duanya berasal dari Jogja. Pembeli pertama telah membayar Rp300.000 sedangkan pembeli kedua telah mentransfer Rp1.000.000. Masker senilai satu juta ini sedianya akan dikirim ke Korea untuk para buruh migran di sana karena di Negeri Gingseng memang sedang sulit mendapatkannya.

Kenali dan waspadai penipuan online agar dana kita aman (Foto: Mikhail Nilov/Pexels.com)

Hati-hati mengunggah foto

Kedua pembeli itu mendapatkan nomorku dari paket yang diklaim penjual telah dikirimkan kepada saya. Di sana tertulis alamat lengkap saya di Bogor dan nomor ponsel yang masih aktif. Faktanya, foto paket itu dicomot oleh penipu dari blog saya sengaja untuk mengelabui korban.

Paket itu aslinya berisi buku novel yang saya dapatkan sebagai hadiah dari sebuah lomba dan saya unggah tahun 2011 silam. Untunglah nomor WA itu masih aktif sehingga para korban bisa menghubungiku dan terhindar dari kerugian lebih besar tanpa harus mentransfer kekurangan transaksi sebab barang (masker) tidak pernah dikirimkan sesuai kesepakatan.

Setelah kejadian itu, saya pun segera menghapus foto paket dari blog agar tak ada lagi korban berjatuhan akibat foto palsu yang diklaim oleh penipu entah berisi apa di kemudian hari kalau saya biarkan ada di blog. Selanjutnya, saya jadi berhati-hati mengunggah foto atau gambar apa pun di medsos atau blog, lebih-lebih yang tanpa watermark sebab rentan disalahgunakan.

Telepon berkedok investasi

Penipuan online lain pernah nyaris menimpa seorang teman bloger asal Bekasi. Setelah pandemi berlalu, suatu siang dia meneleponku lewat WA. Dia memohon agar aku mau menerima panggilan itu walaupun chat-nya di WA sudah kujawab. Singkat kata, kami pun bercakap di jaringan itu dan dia lantas merasa plong.

Ternyata tujuannya menelepon adalah ingin membandingkan suaraku dengan suara lelaki yang sudah meneleponnya lebih dahulu dan mengaku sebagai aku. Untunglah, ia berinisiatif mengontakku dengan cepat tanpa tergiur tawaran investasi produk elektronik dari si penelepon.

Saat itu memang marak penipuan kedok investasi gadget dengan harga sangat murah dan iming-iming keuntungan superbesar. Modusnya adalah penelepon mengaku sebagai teman korban dan bilang bahwa nomornya baru saja ganti dengan mencomot foto teman agar meyakinkan.

Kenali jenis penipuan online

Semakin canggih perkembangan Internet, ternyata semakin beragam pula modus penipuan yang dilancarkan para scammer atau fraudster. Mereka memanfaatkan celah keamanan dan kelengahan pengguna Internet dengan mencomot informasi atau data online sebagai bahan untuk menipu.

Betapa tidak gampang, karena saat ini kita memang sangat akrab dengan transaksi online menggunakan bank digital atau dompet digital (e-wallet). Kalau dulu opsi ini masih terbatas, tapi kini semakin luas dipakai dengan berbagai kemudahan.

Jaga kerahasiaan data demi menjaga dana yang kita punya (Foto: pexels/Ivan Samkov)

Bayar apa pun bisa cashless. Mulai dari transaksi di marketplace hingga bayar makanan di resto favorit, kita tinggal pencet beberapa tombol atau swipe tanpa perlu mengeluarkan uang fisik–semua beres!

Karena telah menjadi gaya hidup inilah, maka para penipu mengintai lewat kebiasaan kita berbelanja online, membayar tagihan, hingga transfer uang yang semuanya bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Kemudahan ini rupanya memiliki risiko yang wajib kita waspadai, yaitu para penipu online yang bergentayangan dengan memanfaatkan data atau jejak digital kita.

1 | Judi online

Beberapa pekan terakhir saya menemukan video-video pendek berisi promo judi online (judol), baik di Facebook maupun TikTok. Kalau diperhatikan, modusnya sama: menggunakan sosok orang terkenal untuk menarik mangsa. Dengan bantuan AI, video seleb pun direkayasa seolah mengajak judol beserta iming-iming besarnya.

Yang sosoknya digunakan untuk menyaru antara lain Denny Sumargo, Willie Salim, Baim Wong dan bahkan seorang ustaz muda. Luar biasa memang cara pelaku untuk mengelabui calon korban agar tersedot dan ketagihan judi online yang seolah menguntungkan padahal penuh jebakan.

Dengan janji manis “uang cepat” atau “untung sangat besar”, tak sedikit korban yang terbuai untuk bermain. Awalnya dimenangkan, lambat laun ia dibuat penasaran hingga ketagihan dan terus main walaupun harus menjual barang atau aset bahkan sampai berutang.

Penipu atau fraudster sebenarnya hanya melancarkan trik atau permainan psikologis yang membesarkan hati pemain judol dengan kemenangan sesaat sampai mereka kehilangan lebih banyak uang dan tak jarang ada yang berakhir dengan jeratan pinjol yang jadi siklus setan. Walhasil, kepercayaan diri korban secara fisik dan mental pun tergerogoti dan bisa berakhir fatal.

2 | Pencurian identitas

Ada lagi bentuk penipuan lainnya, yaitu pencurian identitas yang juga marak. Kadang pengguna Internet atau netizen tidak sengaja mengunggah konten atau materi yang mengandung dokumen penting seperti alamat rumah atau bahkan KTP. Akhirnya, kesempatan itu dimanfaatkan penipu dengan menggunakan identitas tersebut untuk membuka akun baru dan berbelanja atau mengajukan pinjaman ilegal.

Dari sini jelas, sobatku, jangan sampai mengumbar data pribadi seperti KTP atau SIM di media sosial atau laman pribadi seperti blog agar tidak disalahgunakan oleh penipu atau scammer. Kalau dibiarkan, jangan kaget kalau kita yang mengalami kerugian sementara orang lain memetik keuntungannya. 

3 | Customer Service gadungan

Modus penipuan ketiga ini juga sempat marak. Beberapa teman bloger hampir menjadi korbannya. Setelah mem-follow akun resmi suatu bank, maka penipu dengan akun kloningan di medsos segera melancarkan serangan. Mereka lantas menghubungi calon korban melalui DM, baik di Twitter maupun Instagram dengan menawarkan bantuan.

Untuk kasus di Twitter, biasanya calon korban baru saja mengajukan komplain atau permintaan bantuan kepada admin official secara terbuka. Dari sanalah penipu masuk dengan menyaru customer service padahal gadungan. Dia berusaha menawarkan solusi sesuai keluhan yang disampaikan di akun official.

jadi, penipu kerap menyamar sebagai perwakilan bank atau e-wallet dengan menghubungi kita melalui telepon, email, atau media sosial. Modusnya sama: semula mereka berpura-pura menawarkan membantu untuk mengatasi keluhan, tetapi sebetulnya berusaha mendapatkan informasi pribadi atau detail akun untuk dipakai sebagai akses menuju akun kita lalu menguras saldo secepat mungkin.

4 | Phishing

Phishing menarget pembajakan data pribadi, hati-hati! (freepik/stokset)

Kasus phishing pernah terjadi ketika pesan WA tersebar luas dari sebuah bank. Tentu saja ini para penipu yang berkedok pihak bank dengan menginformasikan sesuatu. Yang masih saya ingat adalah informasi tentang naiknya biaya administrasi bulanan sebuah bank BUMN. Saya ingat betul sebab pernah saya angkat sebagai materi dalam sebuah Zoom meeting tentang editing dan penulisan.

Di sini penipu seolah ‘mengancam’ bahwa jika penerima pesan tidak segera menghubungi CS palsu itu, maka tarif admin bulanan yang baru akan segera diterapkan. Modusnya: ia mengirimkan link atau tautan untuk diklik korban agar pemberlakuan tarif baru dibatalkan.

Faktanya, lewat email atau pesan WhatsApp yang terlihat resmi ini, para penipu tengah mencuri informasi login atau data pribadi kita untuk selanjutnya digunakan sesuai keinginan mereka. Entah demi menguras saldo atau tujuan lain, kita wajib berhati-hati ya Sob!

5 | Spyware

Modus penipuan lain bisa pula berupa spyware, yaitu dimasukkannya software jahat ke dalam komputer atau gadget kita. Tujuannya tentu saja menghimpun data tentang diri kita lalu mengirimkannya kepada pihak ketiga tanpa seizin kita.

Karena kebocoran data itu sangat berbahaya, maka waspadalah untuk tidak mengklik sembarang iklan saat berselancar di dunia maya. Internet memang menyenangkan dan begitu canggih sehingga kadang membuat kita terbuai dan lengah. Jangan sampai gambar atau iklan menggiurkan membuat kita mengklik padahal itu mengandung link download atau instalasi yang memasuki sistem kita.

Lindungi Dana, jangan lengah

Kabar baiknya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sejumlah bank serta platform e-wallet seperti BCA, Mandiri, DANA, dan OVO sudah sering merilis peringatan tentang bahaya penipuan online tersebut. Selain waspada terhadap konten mencurigakan, jangan lupa ya gaes untuk memilih langkah-langkah pengamanan seperti verifikasi dua langkah (2FA) lewat HP dan notifikasi transaksi secara real-time.

Pada akhirnya, keamanan finansial kita ya ada di tangan kita sendiri. Jangan gemar mengumbar data di medsos, bahkan sesederhana alamat rumah. bersyukur boleh, tapi jangan sampai flexing data pribadi apalagi doxing data orang lain. Bertindak waspada sudah harus jadi tindakan otomatis dan pembiasaan sejak dini, terutama untuk ditularkan kepada anak-anak kita yang setiap hari akrab dengan gawai.

jika sebuah tawaran too good to be true, itu jelas tidak benar. Kalau ada cara mengambil keuntungan dengan cepat dan besar secara mudah, secara naluriah orang akan menyimpannya sendirian tanpa mengajak orang lain. Wajar kan ego pribadi manusia yang cenderung serakah, hehe….

Tinggalkan kalau meragukan

So if something is too good to be true, then it is too good to be true. Kalau sudah di luar nurul eh nalar, jangan gegabah. Pastikan selalu menjaga kerahasiaan data pribadi salah satunya dengan mengaktifkan verifikasi dua langkah (2FA) pada akun kita. Kalau bisa, data transaksi apa pun jangan diunggah demi menjaga privasi.

Selain mengenali layanan pelanggan (customer service) palsu, usahakan untuk menggunakan password pada akun-akun dengan sesuatu yang tidak mudah ditebak. Lakukan pembaruan password secara berkala demi menjaga keamanan.

Pilih platform pembayaran tepercaya seperti DANA, andal untuk segala kebutuhan

Keamanan digital adalah tanggung jawab bersama. Platform keuangan memang meningkatkan sistem keamanan, tapi tetap membutuhkan partisipasi aktif kita  sebagai pengguna. Bijak bertransaksi dan bermedia sosial, yuk ajak keluarga dan sahabat untuk mewaspadai berbagai penipuan di dunia digital. Jangan sampai menyesal ketika dana yang kita miliki amblas akibat kelengahan atau tergiur iming-iming surga yang tidak benar.

28 Comments

    1. Nah, itu dia, Mbak. Harus waspada deh kalau mau unggah apa pun di dunai maya, terlebih medsos yang bisa dicomot orang untuk penipuan. Yang sering terjadi juga penipuan jual beli buku dengan mengambil foto buku orang di grup FB lalu dipakai untuk gambar jualan penipu. Ngeri deh!

      Like

  1. Kalau aku kadang khawatirnya di pencurian data Pak. Entah dari mana lah mereka bisa dapat meski kita sudah hati-hati. Dan yang lebih keselnya, pemerintah kurang menjaga kerahasiaan data kita sebagai warga negara.

    Like

  2. Zaman sekarang kudu ekstra waspada, siapa pun online jangan dipercaya karena bahaya mengintai. Pencurian data sama peliknya dari pencurian uang langsung. Makasih!

    Like

  3. Penipuan online memang masih marak, padahal banyak edukasi tapi penipu kadang lebih lihai ya, thx for sharin again, Kak!

    Like

  4. Kalau sudah tahu modus dan jenis penipuannya, nah makin mudah deh kita menghndari jebakan mereka. Semoga makin aware semua ya, makasih for sharing, semoga dunia digital makin keren di Indonesia minim dari scamming dsb.

    Like

  5. Kejahatan digital mengintai, wajib diwaspadai. Ada teman yang sampai kena hipnotis dan saldonya dikeruk habis itu apakah termasuk modus scamming ya?

    Like

  6. tinggalkan kalau meragukan, sepakat kaka! jangan sampai tergiur tawaran menarik padahal jebakan betmen, dunia digital ga selalu tampak apa adanya, wajib waspada.

    Like

  7. zman serbasusah gini, ada aja orang jahat yang manfaatin celah kemanan atau kelengahan, jadi wajib teliti. makacih dah diremind, kak.

    Like

  8. Sekarang mah cari duit emang sulit, jadi kadang orang ngegampangin dapat cuan walau nipu orang. Wajib banget proteksi data pribadi secara online.

    Like

  9. Kadang emang simalakama, pakai teknologi digital terancam penipuan, tapi kalau ga pakai ya bisa ketinggalan. Untung ada edukasi seperti ini, thx kak 😀

    Like

  10. Kadang hal-hal sepele di medsos bisa berujung penipuan, jadi emang jangan mudah terbujuk rayuan, termasuk jangan dikit-dikit mengunggah data yang sifatnya pribadi–termasuk alamat. Nah, publish paket beralamat aja bisa disalahgunakan, ngerri….

    Like

Leave a reply to Mister Blangkon Cancel reply