Teladan: antara Menampilkan dan Menunjukkan

Minggu-minggu awal setelah kelahiran anak kami yang pertama, beberapa teman dan keluarga berkunjung ke rumah kami untuk memberi selamat dan tentu saja turut mendoakan bayi yang baru lahir. Dari sekian tamu yang datang berkunjung, mereka rata-rata telah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak atau bahkan lebih. Maka sebagai orang tua baru, kami tentulah membuka diri terhadap berbagai masukan tentang cara menangani dan merawat bayi yang masih merah—mengingat orang tua kami tinggal di kota yang berlainan. Mereka pun tak segan berbagi ilmu dan pengalaman perihal perawatan bayi. Ada yang sifatnya ringan seperti curhat, ada yang cerewet melebihi ibu sendiri, bahkan ada yang lebih galak dan sok tahu daripada dokter.

Terjebak periodisasi

Namun saya paham betul bahwa muatan dan semangat mereka sama, yaitu membantu. Dan secara umum pembicaraan biasanya berkisar pada periode dan beratnya perawatan bayi. Ada yang bilang, periode paling berat dan melelahkan dalam merawat bayi adalah usia 0 sampai 3 bulan karena bayi masih sering buang air, baik kecil maupun besar, sehingga orang tua harus siap capek—terutama saat malam hari di mana begadang adalah rumus pasti. Tak jarang mereka menakut-nakuti saya soal berapa kali bayi akan terjaga di malam hari dan betapa beratnya didera kantuk akibat begadang.

yuninasir.blogspot.com

Ada lagi yang mengatakan bahwa periode sulit akan lewat setelah bayi berusia 1 tahun sebab pada usia ini bayi sudah bisa mendapat asupan makanan tambahan dan relatif bisa diajak berkomunikasi, serta cukup nyaman saat digendong. Sementara yang lain lagi berpendapat bahwa masa-masa sulit baru akan berakhir ketika anak mencapai usia 5 tahun sebab rentang 0 – 5 tahun biasanya rawan cobaan kesehatan fisik.

Ketiga pendapat itu memang benar adanya, terlepas dari pengertian kata ‘sulit’ yang tentu bisa sangat relatif. Setelah saya renungkan bersama istri, ternyata periodisasi semacam itu bisa sangat menjebak dan kontraproduktif. Secara pribadi saya berpendapat bahwa tugas orang tua tidak akan pernah mudah, dan ini tidak mengenal kompartmen tahapan rentang usia. Artinya, orang yang mendapat amanah sebagai orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab berkesinambungan yang tidak tidak selalu mudah dan ringan. Sekali lagi, dua kata sifat terakhir ini juga akan sangat relatif makna dan implikasinya bagi masing-masing orang tua.

Beda usia, beda tantangan

Yang jelas, pertumbuhan dan perkembangan usia anak akan menghadirkan masalah, kesulitan, dan tantangan berbeda-beda. Kegembiraan yang muncul pun bervariasi, mulai dari yang sederhana hingga yang luar biasa. Dengan demikian, orang tua harus selalu siap dan waspada terhadap kejutan-kejutan yang mungkin muncul, kecenderungan-kecenderungan yang mungkin mengemuka serta potensi diri yang dimiliki sang anak. Dengan bekal yang memadai baik menyerap dari pengalaman orang lain maupun dari buku, orang tua paling tidak akan mampu menguasai emosi sendiri dan mengendalikan situasi.

Barangkali tugas yang paling berat bagi orang tua adalah membesarkan anak dengan pola pengasuhan dan pendidikan yang tepat. Orang tua harus berkenan menyediakan diri sebagai figur yang setiap saat mampu mengulurkan tangan dan sanggup memberikan pandangan atau petuah yang mencerahkan. Begitu beratkah tugas orang tua bagi anaknya? Ya, dan bahkan mungkin jauh lebih berat dalam tataran praktik. Orang tua harus tahu kapan berlaku keras dan kapan bisa bersikap longgar terhadap anak; mereka dituntut punya kejelian kapan waktu yang tepat untuk memberikan hukuman dan bentuk hukuman apa yang pantas dan mendidik.

Teladan, teldan!

Selain itu, hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang tua hendaknya senantiasa berperan sebagai teladan atau contoh bagi anak-anaknya. Menjadi sosok panutan bukan perkara mudah dan seringkali orang tua lupa bahwa anak-anak adalah cerminan diri mereka. Saat anak-anak tidak menghargai waktu, barangkali orang tua mereka memang pribadi yang tidak disiplin. Ketika anak berkata kotor atau berperilaku buruk, jangan terburu-buru menyalahkan si anak sebab boleh jadi ia hanya memantulkan sikap yang ia serap dari orang tuanya sebagai tokoh panutan pertama dalam lingkup sosial terkecil, yakni keluarga.

Ingat ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris, Children see, children do. Anak-anak akan cenderung meniru hal-hal yang mereka lihat dan rekam dalam memori mereka. Ungkapan ini menegaskan bahwa kita mesti berhati-hati dalam berkata-kata serta berperilaku di hadapan anak-anak kita. Namun tentu saja bukan berarti bahwa kita bisa berkata atau bersikap semau kita tatkala anak-anak tidak ada. Kata-kata mencerminkan isi pikiran, dan perilaku menunjukkan muatan hati, maka wajib bagi kita sebagai orang tua menjaga lisan dan tindakan. Jika lisan terbiasa mengucap hal-hal kotor dan menyakitkan, maka anak-anak terdorong untuk mengeluarkan kata-kata beracun; bila perilaku kita selalu ngawur, maka anak-anak akan jauh lebih ngelantur.

Perkara keteladanan ini memang masalah yang pelik dan sangat mendasar, sebab hal itu turut menentukan masa depan suatu bangsa yang akan dikelola dan dipimpin oleh generasi mendatang. Akan tetapi, urgensi keteladanan seringkali terlupakan atau hanya mendapat porsi perhatian yang kecil akibat deru dan laju kehidupan modern yang kian pesat. Bahkan pada sepuluh tahun terakhir di negara kita kerap didengungkan tentang adanya terjadinya krisis keteladanan—di mana generasi muda sulit menemukan figur yang patut dijadikan contoh atau panutan dalam kaitannya membangun negeri ini secara bijaksana dan penuh kasih sayang.

Salah siapa?

Bisakah kita katakan bahwa krisis keteladanan yang saat ini terjadi adalah akibat kegagalan setiap keluarga dalam menyiapkan manusia-manusia muda? Mungkinkah sulitnya kehadiran tokoh teladan adalah sebuah bom waktu yang dirakit akibat ketidakmampuan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka selagi masih bersama-sama? Ataukah kesalahan seharusnya dialamatkan pada institusi agama, lembaga-lembaga pendidikan, sekolah-sekolah, serta masyarakat pada umumnya? Barangkali sajak yang ditulis oleh Dorothy Low Nolty berikut dapat membantu kita menemukan jawabannya.

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang

Jika anak dilingkupi rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.

Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas

Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu

Jika anak terbiasa dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya.

 

Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai.

Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar.

Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri.

Jika anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi.

Jika anak diliputi keramahan, ia akan terbiasa berpeandangan “Alangkah indah dunia ini.”

 

Jika anak tidak banyak dipersalahkan, ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.

Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.

Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan.

Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang di sekitarnya.

 

Beragam pertanyaan sebenarnya bisa kita jawab asalkan kita mau jujur. Kita para orang tua adalah individu-individu yang menyusun masyarakat di mana semua interaksi sosial terjadi; di mana nilai-nilai dan prinsip hidup teruji dan terus dikaji. Jika satuan masyarakat terkecil bernama keluarga dapat menelurkan pribadi-pribadi unggul secara moral dan spiritual, maka lingkungan sosial yang lebih besar yang terbentuk akan menjadi baik dan terarah. Jika setiap keluarga peduli pada hal-ihwal setiap anggotanya, maka masyarakat dan bahkan negara akan menemukan puncak prestasinya—di mana kasih sayang, keadilan dan kejujuran menjadi pelita warganya; di mana keikhlasan menjadi sumber kemakmurannya.

Harapan semu

Semua kembali kepada kita, semua bergantung pada keluarga. Anak tidak mungkin menjadi ahli ibadah bila kita bahkan tak pernah menunjukkan bagaimana shalat dan ajaran agama harus ditegakkan. Bagaimana mungkin anak-anak menjadi pemurah jika kita termasuk orang yang pelit dalam bersedekah. Mungkinkah kita mengharapkan anak-anak bertutur kata santun sementara kita kerap membentak istri di depan mereka? Amat mustahil anak-anak akan gemar membaca bila orang tua mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dan sekali pun tak pernah bercengkerama bersama anak mereka.

Pada dunia modern saat ini, paling tidak dalam lingkungan kita sendiri, telah muncul kecenderungan berpikir bahwa tugas orang tua sudah selesai dengan menitipkan anak-anak di pesantren atau mengirimkan ke sekolah-sekolah berlabel global atau internasional serta sekolah yang mengadopsi muatan-muatan Islam dengan label Islam terpadu. Apakah salah melakukan hal demikian? Tentu saja tidak. Yang kurang tepat adalah terpeliharanya pemahaman bahwa pendidikan anak-anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah atau pesantren tempat mereka belajar. Padahal orang tua tetap punya kewajiban mengasuh dan mengajarkan hal-hal tertentu, baik yang sudah atau yang tidak dipelajari di sekolah. Biasanya mereka beralasan karena tidak punya waktu untuk mendampingi anak-anak mereka akbat padatnya jadwal bekerja. Mengenai fenomena ini, saya teringat ucapan Kak Seto pada sebuah talkshow di TVRI mengenai anak-anak Indonesia. Dengan nada setengah menyindir, ia mengatakan, “Kalau tidak punya waktu untuk anak, ya jangan bikin anak.” Sebuah kalimat sederhana yang menohok kesadaran kita semua.

Orang tua wajib menyuntikkan nilai-nilai dasar ke dalam diri anak-anak mereka, antara lain mengenai kejujuran, ketulusan, kebaikan hati, keberanian dan kemandirian. Dan semua muatan positif itu akan percuma dan sia-sia jika orang tua sekadar memberi perintah dan ceramah tanpa menghadirkan praktik nyata di sekitar mereka. Ajaran apa pun akan berhenti sebagai ajaran jika tidak maujud dalam tindakan sebagai teladan. Ayah dan ibu harus harus sudah mendiskusikan dan sepakat mengenai pola pengasuhan dan pendidikan yang akan mereka terapkan sehingga anak tidak merasa kebingungan melihat perbedaan standar orang tua mereka. Ungkapan ‘Lakukan semua seperti kataku, dan bukan seperti tindakanku’ kini sudah usang sebab anak-anak lebih meniru perbuatan kita daripada perkataan. Tindakan jauh lebih menancap ketimbang ucapan.

Menyelamatkan keluarga

Semua upaya untuk menularkan ajaran-ajaran yang baik dan menampilkan teladan yang mulia adalah sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan sesuai pesan Allah dalam Al Quran agar kita menjaga dan menjauhkan keluarga kita dari sengatan api neraka. Jika pelajaran dan teladan telah kita berikan, namun anak tetap enggan mengikuti, cobalah meminta bantuan guru atau orang-orang yang dekat dengan anak kita agar mengajak ke jalan cahaya. Kadang-kadang orang-orang selain orang tua justru mendapat kepercayaan dan kenyamanan saat anak berkeluh kesah, jadi manfaatkan jaringan selain keluarga inti. Kalau masih tidak berhasil, mungkin ucapan seorang ustad berikut perlu kita renungkan: ketika anak susah diatur—padahal kita merasa telah bertindak dan memberikan contoh yang luhur—barangkali kita masih punya kesalahan atau dosa yang belum kita insyafi secara jujur.

Mari perbanyak istighfar, pertolongan dan doa kepada Allah; agar kita mampu menyalakan cahaya keteladanan di dalam keluarga yang akan menerangi hati dan perilaku anak-anak kita dan mampu membawa terangnya ke seluruh semesta. Wallahu a’lam bissawab.

Advertisements

3 thoughts on “Teladan: antara Menampilkan dan Menunjukkan

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s