Februari I

setelah hujan mati
rembulan lalu tumbuh
menajamkan risau entah rindu
pada kedalaman segumpal hati

sinar yang mengalir pada angka kalender
mengunci sujud di titik paling lemah
maka di mana saja air memilih sumber
di situ luka-luka melahirkan malam, mungkin langkah

hujan mati
dan rembulan runtuh
membusuk menjadi sajadah

Advertisements

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s