Bogor – Jepang 5 Jam PP: Sebingkis Dongeng dan Senyum yang Retak

Mendongeng di depan anak-anak gempa menjadi pengalaman pertama saya yang cukup menegangkan. Selain jarak ke lokasi terdampak sangat jauh, menghadapi anak-anak yang trauma jelas sangat berbeda dibanding mendongeng di depan anak-anak biasa. Rabu 20 September telepon yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Saya diminta datang ke kantor Yatim Mandiri kota Bogor untuk menemui kepala cabangnya. … More Bogor – Jepang 5 Jam PP: Sebingkis Dongeng dan Senyum yang Retak

Untitled (3)

This is nobody’s universe life of an unknown entity morning is morning, very old and night swivels around carrying a piece of pain’s history this part of adventure, very old what’s older is our sanity our sonorous journey those homely decayed Mondays are trimming, and keep trimming snatching away any visual memory places that shine … More Untitled (3)

Legacy

More, more on touch that sends you around the moment of any spoken emotion of every rained demolition and I shall chase you somewhere To designate a complete feeling in this very absolute temptation which you find yourself gone vanishing before days melt on your transparent dreams.

Syair Sederhana tentang Ibu

/I/ angkasa yang bijak memahat cintamu dan menyirami bumi dengan pelangi keindahan semerbak merekam cahaya di dalam benak yang maha wanita tegak berdiri memeluk semesta dengan puisi ibu berkata lewat cinta ia bertutur dalam syukur hatinya embun yang merekah menyegarkan mimpiku senyumnya rembulan yang membara meremajakan langkahku aku makin habis saat menembus lapis-lapis kasihmu /II/ … More Syair Sederhana tentang Ibu

Februari VI

Apakah hujan mesti ditakuti padahal kehilangan demi kehilangan telah menjadi semangatmu untuk meledakkan anatomi waktu sebelum langit meludahi bumi sebelum anyir membanjiri dukamu

Februari V: the Butterfly

siapa yang bekerja memutar kesunyian ini malam dan aku tak sanggup merekam keriap atau gejolak hanya sepercik bintang tertancap di ujung langit lihat, hoi, lihat amboi ia gemebyar seperti kupu-kupumu hinggap di pucuk bougenville menularkan warna namun aku tak punya nyala, atau sayap tapi aku bisa terbang melesat ringan menuju angkasa di batinmu

Februari IV

hilang ya ya hilanglah keriput zaman di kelopak mataku setiap kali kukedipkan berlinang ya ya berlinanglah kisut alam membaringkan suara di pucuk waktu yang selalu pecah hilang ya ya hilanglah

Februari III

pelan-pelan kubaca yang redup itu rembulan di balik jaring-jaring tak berdaya memadamkan sunyi cinta dan api yang kamu percikkan sungguh tak pernah menjadi nafas memang tak menyimpan nafas mari membaca yang kian redup itu rembulan sinarnya habis terkuras

Februari II

Hujan mati suri disihir Valentine yang jahat rembulan bangkit dari rerumput mimpi menyala, bagai ingin dipahat sambil meneguhkan gelap sementara cinta hanya seanggun sulap

Februari I

setelah hujan mati rembulan lalu tumbuh menajamkan risau entah rindu pada kedalaman segumpal hati sinar yang mengalir pada angka kalender mengunci sujud di titik paling lemah maka di mana saja air memilih sumber di situ luka-luka melahirkan malam, mungkin langkah hujan mati dan rembulan runtuh membusuk menjadi sajadah