Indahnya Hidup dan Sesudah Mati

Kematian adalah tema favorit, barangkali topik yang paling populer, dalam dunia tasawuf. Tak habis-habis pembicaraan tentang maut tersaji dalam risalah para sufi atau pujangga. Maulana Rumi berpesan dalam salah satu Rubaiyat-nya bahwa ketika hidup selesai, Tuhan memberi kita hidup beda//ketika hidup kita sesaat usai, Tuhan menunjukkan yang lain//cinta adalah air kehidupan, maka loncatlah tepat ke dalamnya//ada hidup baru pada setiap tetes samudra. Kata kunci dalam gugusan kalimat ini adalah cinta. Di mana cinta harus menjiwai seluruh aspek kehidupan; cinta hendaknya menjadi basis dalam setiap gerakan manusia di bumi yang fana. Sebab ketika cinta telah menjadi ruh, menjadi semangat, menjadi energi dan kecenderungan dalam hidup, maka hidup akan penuh makna dan keberkahan. Dengan cinta, manusia tiada perlu takut terhadap mati sebab telah tertanam kesadaran bahwa sehabis kehidupan dunia akan tersingkap kehidupan lain setelah mati, dan hidup yang cuma sekejap ini memang sekadar bagian dari lompatan dari satu dunia ke dunia lain, dari satu etape ke etape berikutnya.

Dalam bagian pendahuluan, Shaykh Fadhlalla Haeri menulis bahwa kematian adalah akhir dari interaksi seseorang dengan benda-energi, bentuk-makna serta dinamika subjek-objek yang lain. Kematian menyebabkan hilangnya semua indera duniawi kita, juga pikiran dan persepsi tentang ruang dan waktu serta ukuran-ukuran duniawi yang lain. ‘Kehidupan sesudah mati’ menyiratkan suatu zona di luar jangkauan kesadaran dan pemahaman normal kita. Zona seperti itu tidak banyak diketahui dan asing sehingga kurangnya pengetahuan mengenai hal itu cenderung menciptakan ketakutan dan kekhawatiran untuk menghadapi kematian.

Lebih lanjut penulis menuturkan, kematian adalah pintu alami untuk menuju kesadaran lebih tinggi di mana dualisme duniawi seperti baik dan buruk, kayangan dan bumi, yang tampak dan yang tak tampak, serta objek-subjek akan dihubungkan sebagai sebuah kesatuan. Ketika seseorang (yang terdiri dari jasad dan ruh) mati, maka ruh menembus batas kematian muncul sebagai suatu gelombang. Jika semasa hidupnya telah terjalin sinkronisme antara tubuh, pikiran, hati dan ruh, maka proses meninggalnya akan cenderung lebih mudah dan alami. Cahaya akan kembali kepada cahaya, dan zat akan kembali ke zat. Kemudahan dan harmoni dalam kehidupan sesudah mati mirip dengan koherensi dan kesatuan.
Dalam bagian pendahuluan juga disinggung pandangan mengenai kematian dari berbagai perspektif, mulai dari simulasi sains, budaya, serta berbagai agama lain (Yahudi, Kristen, Budha, dan Hindu). Adapun menurut kacamata Islam, kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan sebuah transformasi dari dunia fana menuju kehidupan yang baka. Oleh sebab itu, kehidupan setelah mati disebut akhirat yang artinya datang kemudian atau yang abadi. Kematian adalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan orang-orang salih menyeberang dari kesulitan dan penderitaan duniawi menuju kebun surga yang penuh kenikmatan. Kematian menyebabkan jasad fisik musnah, namun ruh beserta rekaman perbuatan baik-buruk seseorang akan terus terbawa hingga ke akhirat. Kehidupan dunia tidak lain adalah sebuah persiapan dan sekaligus tempat singgah menuju kehidupan selanjutnya.

Sebagaimana tampak dalam bab demi bab, buku ini memang kental nuansa sufinya, di mana semua segala hal pokok tidak bisa lepas dari kesadaran. Dalam bab 1 dan bab 2 penulis mengelaborasi secara apik tentang ranah kesadaran hingga tingkatan kesadaran. Dikatakan bahwa kesadaran manusia cenderung bergerak dan berkembang menuju kesadaran serta kebijaksaanaan yang semakin tinggi. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan untuk memancarkan atau meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia serta terdorong untuk mencapai kesempurnaan. Sebagai contoh, sifat Keabadian Allah dicontoh manusia dengan berlaku agar mereka bisa senantiasa bertahan hidup dan terus tumbuh dan berkembang. Manusia selalu ingin mewujudkan atau mendekati rasa maaf, rasa ingin tahu, keindahan dan cinta kasih sebagaimana tercermin dalam Asmaul Husna.

Pada bab 3 dikemukakan siklus sejak kelahiran dan kematian. Ada pula sifat manusia yang paradoks di mana mereka paham bahwa mereka adalah makhluk yang pasti mati namun mereka berupaya mengejar keabadian. Satu lagi hal yang khas dunia sufi adalah pentingnya hati sebagai konektor atau penghubung antara diri (self) dan ruh (soul) dan oleh karena itu hati harus dijaga agar tetap murni dan suci dari noda akibat hadirnya emosi-emosi negatif maupun dorongan-dorongan setan. Adapun mengenai kematian, berziarah kubur akan sangat berguna untuk senantiasa mengingat mati agar tidak lupa atau melewati batas. Rasulullah bersabda, “Bagi orang beriman, kematian adalah semerbak harum tiada tanding yang sanggup menghapuskan semua keletihan dan kepedihannya, sedangkan bagi orang kafir kematian lebih menyakitkan daripada gigitan ular. Imam Ali r.a. berpesan: kematian adalah yang pasti dan bisa datang kapan saja, maka siapkan perbekalan terbaikmu yaitu kesalehan dan keimanan. Jika kematian merenggut kalian saat ini juga, niscaya kalian terbebas dari semua kepedihan dan kesakitan dan sebaliknya akan meraih kebahagiaan dan kegembiraan hakiki. Rasa takut akan mati disebabkan karena ketidaktahuan tentang hakikat mati yang sesungguhnya. Dengan demikian jelas bahwa dalam pandangan sufisme kematian adalah pembebasan dari segala anacaman dan ketidakpastian dunia. Kematian merupakan titik pertemuan dan sekaligus titik persatuan.

Pada bab 6, kematian kembali mengemuka. Penulis menjelaskan bagaimana mengatasi rasa takut akan kematian dan apa yang akan terjadi setelah seseorang mati serta persiapan sebelum ajal menjemput. Dengan mengutip kalimat gubahan Jalaluddin Rumi, penulis cukup berhasil menyampaikan maksudnya: ‘Aku mati sebagai zat mineral dan terlahir sebagai tumbuhan. Kemudian tumbuhan itu mati dan dilahirkan sebagai binatang dan kemudian binatang mati sehingga manusia bisa terlahir. Ketika manusia dalam diriku mati, maka aku akan bermetamorfosa menjadi jiwa yang abadi.’

Bab 7 mengangkat ihwal penguburan jenazah dan liang lahat, mulai dari ritual penguburan hingga mendoakan bagi mayit. Bab berikutnya secara spesifik mengupas kehidupan di dalam alam kubur sebagai domain kehidupan yang baru, berbeda dari alam dunia. Adapun bab 9 menurunkan penjelasan mengenai kehancuran alam (kiamat) hingga hari dibangkitkan kembali. Dan pada bab pamungkas manusia akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan di dunia, baik atau buruk. Di sinilah dusta telah musnah, rekayasa pun tak pernah ada. Yang ada adalah kebenaran yang Satu, yaitu kebenaran dari Allah.

Advertisements

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s