Ikhlas Berbalut Cemas

Suatu malam di Masjid Nurul Ma’i yang berada di kompleks PDAM Sukasari Bogor. Selepas shalat Isya, saya duduk sejenak untuk meregangkan otot-otot sebelum memacu kendaraan menuju rumah. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba beberapa orang menghampiri saya. Ternyata mereka adalah satu keluarga—ayah, ibu dan dua orang anak. Sejujurnya saat melangkah keluar dari masjid beberapa saat sebelumnya, saya sudah melihat mereka berjalan beriringan dengan wajah bingung dan panik.

Jual baju bekas
Si ibu pun bertanya, “Maaf, Mas. Di mana ya pasar terdekat di sini?” “Kira-kira 15 menit perjalanan kalau naik angkot. Ongkosnya dua ribu rupiah,” jawab saya spontan. Saya lihat mereka semua tampak bingung. Saya sendiri juga bingung mengapa mereka ingin ke pasar malam-malam—mengingat mereka tampak berasal dari luar kota. Entah mengapa saya kemudian bertanya, “Memang ada apa kok cari pasar?”

Ternyata si ayah dan ibu bermaksud menjual baju bekas karena mereka habis kecopetan. Dompet dan semua surat raib saat mereka di dalam bus. Sedianya mereka datang ke Bogor untuk mengunjungi sanak-famili yang ternyata sudah pindah entah ke mana. Saya terketuk dan mengangsurkan uang secukupnya untuk ongkos mereka agar bisa sampai di Bandung. Setelah itu kami berpisah.

Itung, itung, itung…
Sambil mengendarai kendaraan, wajah mereka masih terbayang dalam benak saya. Namun yang sebenarnya terjadi adalah bahwa di antara deru kendaraan, pikiran saya tengah mereka-reka tentang imbalan yang akan saya terima. Tergoda oleh Surah Al-Baqarah Ayat 261, maka saya mulai melakukan kalkulasi matematis dengan rumus sebagaimana disebut ayat itu. Wah, wah, banyak banget duit yang akan kuterima—gumam saya tak henti-henti. Bahkan Allah masih akan melipatgandakan lagi sesuai kehendak-Nya. Duh, asyiknya sedekah!

Sampai beberapa minggu ke depan, bahkan sebulan, dua bulan hingga berbulan-bulan saya tak juga menerima ‘imbalan’ yang sudah saya hitung. Sebagai manusia biasa, saya jadi hopeless, kosong, dan tak menentu—hanya karena memikirkan imbalan sedekah yang sudah saya berikan. Tanpa sadar, saya ternyata merasa bangga pada diri sendiri dan seolah lebih baik dari orang lain karena telah melepas sedekah dalam jumlah yang cukup besar. Ditambah lagi dengan ekspektasi jumlah imbalan yang lebih besar. Apakah ini bisa disebut ikhlas? Saya kira tidak. Meskipun tidak berkoar-koar kepada orang lain soal pemberian itu, namun diam-diam saya sendiri tak henti memuji kemurahan hati saya sendiri.

Habis tak bersisa
Jangan-jangan sikap saya tepat tercermin dalam Al-Baqarah Ayat 264: ibarat debu di atas batu licin yang kemudian diterpa air hujan. Tiada bersisa. Terhempas ke udara sia-sia. Atau, saya sebenarnya telah menerima imbalannya, namun bukan berupa segepok rupiah, melainkan kemudahan-kemudahan lain yang tidak pernah saya sadari. Malah, belakangan saya ketahui bahwa ternyata di beberapa masjid Bogor muncul kejadian-kejadian serupa yang dialami oleh teman lain. Artinya, itu boleh jadi hanya tipuan belaka alias bisa-bisanya mereka merayu calon pemberi dengan berbagai alasan. Ulala…

Saya belajar sesuatu. Berbuat ikhlas ternyata tak semudah mengucapkannya. Bukan ikhlas namanya jika masih diiringi kecemasan kapan akan menerima imbalan atas sedekah kita.

Advertisements

14 thoughts on “Ikhlas Berbalut Cemas

    1. Aku udah beberapa kali ketemu sama yang begituan, Nies. (Begituan kesannya apa gitu ya…:O) Tapi kalo yang satu keluarga ini sepertinya emang tulus dan apa adanya–maksudnya emang bener2 abis kehilangan. Tapi kalo beberapa kasus lain, aku emang hampir 80% itu penipuan (kepedean.com). Karena ada yang 2x ketemu aku di 2 masjid yang berlainan setelah 2 bulan, dan doi maluuuu banget coz udah ‘boongin’ aku di pertemuan pertama. Satu lagi ada yg sampe mau ngotot kasih Al-Quran kecil yg masih baru agar aku percaya dia memang kehilangan jejak keluarganya di Bogor. Ada pula yg alasannya kehabisan ongkos buat ke pesantren, eh ternyata pas abis kukasih piti, doi malah pake tuh duit buat beli rokok (masih remaja neh anaknya)–ga sengaja dia ketahuan beberapa menit setelah berpisah dariku..halahhhh. Memangnya Anies ada kisah serupa yg bisa di-share? Ayo2, critain…

      Like

    1. tuaffi, maksud hati memang begitu. Sayang disayang, susah banget buat ikhlas, makanaya terus belajar sampe sekarang. betul, kalau dia emang nipu, semoga dapat imbalan, sekurang2nya teguran biar ga nipu lagi org yang lain! Memang jebakan suuzon sangatlah mudah dan halus akibar bisikan iblis…btw, thx dah berkunjung ke blog sederhana blogger newbie :p

      Like

    1. Lily, salam kenal juga. Betul, banyak pelajaran di sekitar kita ya ternyata, cuma sering luput dari perhatian karena kita cenderung selalu fokus pada diri sendiri, hehe..Maaf, halaman about belum di-update, saya termasuk yang ga pede mendeskripsikan diri sendiri. Kapan2 mungkin akan dibubuhkan informasi personal lebih lanjut. In the meantime, silakan berkenala lewat coretan serbatanggung saya, atau bisa pula nanya sama Zoothera, hehe. By the way, makasih dah singgah di blog saya. Xie xie. Nanti saya samperin ke blog Anda 🙂

      Like

  1. Mas, aku jg dari luar kota, mo cari emas, tp emasnya gak dateng2, bete mas, tp saya ikhlas kok mas … wong mas e dah ketemu sm mb harni, hahahaha

    Like

    1. Mas catur catriks, makasih dah mampir ke halaman ini. Kalo mo cari emas, ups, maksud saya, cari sesuatu yang bahkan jauh lebih berharga dari emas, silakan kunjungi situs ini mas, http://www.halamanmoeka.com/, toko buku yang lengkap, langganan saya–ehh, maaf bukan langganan ding, hanya emang beberapa kali beli di situ coz layanannya memuaskan, produknya beragam, prosesnya juga cepet. Malah sekarang ada undian kalo beruntung bisa ke pulau Tidung gratis Mas, tapi musti beli buku2 Mizan minimal Rp100rb. Lebih lanjut tengok sndri ya Mas, jangan males2an. Saya aja dulu dapet info lomba kasih komentar Novel juga baca di situs itu. Ayo Mas, jia you!!! Pokoknya toko buku online ini highly recommended deh :p

      Like

  2. Pernah sih beberapa kali nemuin yang kek gitu, awalnya kirain beneran trus karena kasian ngasih ala kadarnya. Ehh taunya besok2 nemuin jg yang model begitu akhirnya jadi tau kalau itu cuma modus aja.. n makin yakin kalo itu cuma triki pas byk orang ngomongin soal ini.. akhirnya makin ke sini jadi ga mau percaya sama yang kek gitu

    Like

    1. Sekali kita ngasih, maka temen2nya akan datang menghampiri kita di hari lain. Mungkin bilang, “Minta ama itu tuh, orangnya baek. Suka ngasih dan gampang dikibulin..hahaha” Ya semoga mereka tobat kalo beneran nipu. Kalo beneran, semoga dapet jalan lebih baik ya…:)

      Like

    1. hanya Allah yg tahu. KIta pun sering kali tertipu kok ya..hehe. Memang mengharap apa pun boleh kepada Allah–tapi paling tidak kita nggak sekadar berkutat pada imbalannya saja yg dikhawatirkan bisa merusak nilai keikhlasan kita. Trims dah mampir sob 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s