Yang Tersisa Dari Peluncuran The Coffee Shop Chronicles: Kedai Kopi dan Rahasia yang Tak Pernah Usai

MINGGU, 3 Juni 2012. Setelah membayar dua buku karya Yusuf Mansur pesanan adik saya, saya bergegas meninggalkan TM Bookstore DETOS. Berbeda dari hari-hari lain, udara Depok terasa sejuk dan langit pun bersahabat dengan memekarkan selaput mendung siang itu. Maka langkah saya menuju Gramedia Depok terasa ringan dan penuh semangat. Kaki-kaki menapaki anak tangga jembatan penyeberangan dengan mantap hingga akhirnya tiba di musala yang terletak di lantai bawah. Istri dan anak saya telah menunggu di sana. Kami berdiam sejenak sampai Ashar. Saya pun sempat membuka komputer jinjing untuk mengecek email masuk. Setelah itu barulah kami bergerak ke lantai dua Gramedia.

Buku yang terbungkus rapi
Dentum musik yang cukup kencang dari video primaraga di lantai 1 ternyata berhasil meredam dan bahkan mengalahkan gebyar acara peluncuran buku yang sudah dimulai saat kami tiba di lantai dua. Lokasinya tepat berada di ujung dekat jendela; mewah dan elegan—itulah kesan yang segera muncul kali pertama saya melihat backdrop acara. Hanya saja, acara yang harusnya menarik tersebut tidak langsung terlihat saat pengunjung Gramedia sampai di lantai dua. Pandangan mata langsung tersaput oleh deretan rak-rak tinggi dan rapat yang otomatis menghalangi pengunjung mengetahui kesibukan yang berlangsung di seberang ruangan. Sebelum sampai tepat di tempat, saya sempat berpikir bahwa suara seseorang di mikrofon adalah pegawai Gramedia yang memperkenalkan buku baru terbitan mereka.

Ternyata acara peluncuran buku telah dimulai, dan suara yang beberapa saat sebelumnya terdengar adalah suara moderator acara. Kami terlambat beberapa puluh menit. Ketika mengambil tempat duduk, kami melihat sembilan penulis duduk berderet di depan—tengah diwawancarai oleh moderator. Sayang sekali, moderator tidak berhasil menghadirkan ‘interogasi’ yang cantik terhadap para penulis karena ia (lucunya) belum membaca isi buku yang tengah diluncurkan. Ia memang terlihat memegang satu kopi buku TCSC, tapi mata saya jelas menangkap bahwa buku itu masih rapi terbalut kemasan plastik. Dia sendiri pun secara gentle mengaku bahwa ia belum membaca himpunan kisah dalam TCSC dan berjanji akan segera membacanya. Bukankah sudah terlambat? 😦

Antara bingkisan dan keingintahuan
Walhasil, acara peluncuran yang saya bayangkan akan mengulik proses kreatif para penulis secara lebih mendalam, akhirnya berjalan biasa saja—walaupun tetap menarik. Selain ketiadaan musik yang mengiringi acara, antusiasme peserta terhadap karya yang tengah dibahas juga tidak terlalu kuat. Terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul (menurut saya) bukan jenis pertanyaan yang bisa menggali potensi buku yang merangkum 33 kisah pendek tersebut. Ketika moderator akan membuka sesi bertanya dan setiap penanya dijamin akan memperoleh bingkisan dari penerbit, segeralah lima orang mengacungkan tangan. Tapi menilik materi pertanyaannya, selain lelaki bercelana tiga perempat itu :D, para penanya tampak sekadar ingin menyabet hadiah yang dijanjikan.

Pak Wahyu menerima bingkisan dari penerbit berkat pertanyaan yang ia ajukan
Lelaki paruh baya yang mengaku bernama Wahyu tersebut ingin tahu lebih banyak tentang manajemen alur atau plot dalam rangkaian kisah yang ditulis keroyokan tersebut. Sungguh hal yang menarik, bukan? Sebab menyatukan 33 kisah dengan satu benang merah dan ditulis berjemaah sebanyak 22 penulis tentulah pekerjaan yang tidak mudah. Wahyu juga mengusulkan agar para penulis menyuntikkan nilai-nilai budaya Indonesia kelak bila mereka berkesempatan menerbitkan karya serupa di masa mendatang. Saya sepakat dengan pendapatnya karena buku setebal 200-an halaman tersebut belum menampilkan kekayaan budaya yang saya yakin akan semakin menonjolkan karya mereka di tengah-tengah gempuran fiksi terjemahan di Indonesia.

Sampulnya bagus!
Selain Wahyu, hampir tak ada penanya yang memunculkan pertanyaan atau komentar yang produktif. Penanya ketiga, misalnya, justru penasaran dengan perancang sampul buku yang memang terlihat fantastik itu. Secara terbuka ia mengaku bahwa ia tengah belajar mendesain sampul dan oleh karena itu takjub dengan olahan sampul sang desainer—lagi-lagi menurut saya tidak terlalu relevan dengan muatan buku yang dibahas walaupun ia juga sempat menanyakan makna sampul yang kemudian dijawab oleh moderator. Sebuah jawaban yang cukup mudah karena gambar sampul jelas-jelas melukiskan suasana sebuah kedai kopi modern.

Aditia Yudis, salah satu penulis yang merangkap sebagai jubir penulis
Penanya keempat ingin tahu apakah para penulis mau bila suatu saat himpunan kisah mereka diterjemahkan ke dalam film. Bukankah sebuah pertanyaan yang naif? Adakah penulis atau pengarang yang cenderung menolak goresan penanya difilmkan? Kalaupun ada, barangkali itu karena alasan yang sangat idealis atau berdasarkan hal-hal yang sangat personal. Namun secara umum, seorang novelis atau cerpenis tentu akan menyambut baik bila karya mereka diangkat ke layar lebar karena tentu saja jumlah penikmat karya mereka akan kian bertambah dan dampak atau pengaruh karya berpotensi meluas dan mungkin jauh lebih dashyat saat hadir dalam bentuk sinematografi. Dan bisa diduga, kesembilan penulis TCSC mengangguk mantap terhadap kemungkinan difilmkannya buku mereka. Sah-sah saja memang bertanya demikian, namun pikiran saya yang cerewet menganggap pertanyaan semacam itu sama sekali tidak menggali kekayaan cerita.

Euforia film
Dan tibalah pada momen yang menurut saya ‘kelewatan’. Sesaat setelah euforia kemungkinan akan difilmkannya TCSC, penanya kelima membuat hati saya remuk. Dengan ringan ia malah menghadirkan pertanyaan yang tidak membumi. Maksud saya pertanyaannya lagi-lagi tidak berbasis pada resepsinya setelah membaca TCSC atau motif-motif lain yang sebenarnya bisa didedah dari karya tersebut. Dengan santai, ia menginterogasi para penulis tentang siapakah bintang film atau artis Indonesia yang kira-kira akan cocok mewakili karakter-karakter yang ada dalam cerita, terutama Tuan Arsitek dan istrinya. Forum pun mendadak ramai karena masing-masing sibuk mengusulkan nama artis untuk menghadirkan tokoh-tokoh cerita secara lebih nyata.

Saya pribadi berpendapat bahwa buku ini akan menarik jika diangkat menjadi sebuah film, entah film TV atau film layar lebar. Namun perlu diingat bahwa karya tulis dan karya sinematografi adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan perbedaan karakter keduanya menuntut jenis dan metode apresiasi yang berlainan. Saat buku dibedah, ia sepenuhnya maujud sebagai sebuah himpunan cerita yang menawarkan banyak hal kepada pembaca, terutama dalam memberdayakan imajinasi mereka ketika menghadapi kisah yang dijalin sinergis itu. Maka terlalu dini rasanya untuk berkutat pada siapakah yang akan menjadi sutradara atau siapakah nama-nama yang akan menghidupkan karakter itu dalam bentuk visual. Terlalu jauh dan tidak relevan pada saat buku yang bersangkutan baru akan diluncurkan.

Belum tergali
Dan ini bukan tanpa risiko. Acara peluncuran yang seharusnya diwarnai diskusi hangat dan menggali banyak hal dari para penulis muda berbakat akhirnya berjalan seperti perkenalan biasa. Tidak terlalu membekas dan segera lenyap di langit-langit Gramedia. Harusnya peluncuran buku dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengekspos karya dengan bantuan penulis yang hadir dalam acara. Sebab banyak cerita menarik yang bisa diselami dan digali untuk lebih memahami konteks dan keistimewaan setiap peristiwa yang ditampilkan oleh setiap penulis. Selain Aditia Yudis yang memang sudah dikenal sebagai penulis, penulis lain hampir sangat berhemat dalam kata-kata. Padahal ada Yuska Vonita yang menutup cerita dengan apik walaupun bagi saya ending-nya terlalu sederhana. Juga ada Ifnur Hikmah yang mengangkat tema penting yakni dilema seorang ibu yang menjadi PSK. Dan juga kisah-kisah lain yang tak kalah unik. Intinya, banyak hal dalam buku ini tidak terkuak pada saat peluncuran yang seyogianya menjadi salah satu jurus ampuh untuk mempromosikan karya kepada pengunjung toko buku yang hari itu hadir.

Ollie berbicara sesaat sebelum buku resmi diluncurkan
Pada hemat saya, selain karena moderator yang belum membaca isi buku, ketiadaan seorang pembicara yang bertugas mengantar atau mengupas kisah-kisah itu juga menjadi penyebab acara peluncuran tidak seasyik yang saya bayangkan. Padahal dalam peluncuran tersebut ternyata hadir seorang penulis wanita cum pengusaha yang produktif yakni Ollie atau Salsabeela—yang oleh banyak orang mungkin lebih dikenal sebagai blogger senior. Andaikan Ollie dihadirkan sejak awal, saya pikir acara peluncuran akan sangat hidup ketika ia menyampaikan kupasan atau komentar kreatif terhadap buku yang tengah dibahas. Hal ini juga akan memancing peserta diskusi untuk menggagas pertanyaan-pertanyaan yang lebih cerdas dan unik—ketimbang membayangkan nama-nama artis yang akan berperan dalam film (yang belum jelas juntrungannya). Sayangnya, Ollie baru diundang untuk berbicara beberapa saat sebelum acara peluncuran buku resmi dilakukan. Dan dia hanya mengucapkan selamat kepada para penulis atas terbitnya karya mereka di penerbit besar seperti bypass. Selain tentu saja mengajak para calon penulis untuk menerbitkan karya mereka secara indie atau self-publishing di nulisbuku.com yang ia kelola.

Tentang TCSC
Buku yang diluncurkan adalah The Coffee Shop Chronicles (TCSC). Sesuai informasi yang dibubuhkan pada sampul depan, buku ini menghimpun 33 cerita pendek (flash fiction) yang ditulis oleh 22 orang dalam waktu sekitar dua minggu. Uniknya, setiap kisah yang dituturkan oleh masing-masing penulis berlatar sama, yakni di sebuah kedai kopi modern di bilangan Jl. Malioboro, Yogyakarta. Setiap penulis menceritakan tokoh(-tokoh)nya dari sudut pandang tokoh tersebut yang tidak jarang atau bahkan selalu memasukkan tokoh lain dalam cerita sebelumnya dalam stream of consciousness tokoh yang tengah berkisah. Dari sebuah kedai kopi inilah muncul beragam cerita yang menunjukkan keajaiban sudut pandang. Buku yang mengambil plot selama 24 jam ini menampilkan aneka pribadi dengan rahasia masing-masing yang spesifik dan unik.

Buku yang diluncurkan, kini bisa didapatkan di toko Gramedia terdekat

Namun saya ragu apakah memang ada sebuah kedai kopi modern semacam Priya’s Coffee di Jl. Malioboro. Mengapa penulis tak mengambil latar di Bandung misalnya atau di jalan lain di Yogyakarta? Toh pemilihan Yogyakarta sebagai latar tak terlalu signifikan terhadap keseluruhan bangunan cerita. Kecuali tentu saja kehadiran Mbok penjaja kopi dan rempeyek keliling yang bisa disematkan dengan budaya setempat—terbukti dari pola pikir si Mbok tersebut dalam memandang hidup. Saya patut menduga, penulis hendak memanfaatkan memori kolektif pembaca tentang suatu tempat yang telah banyak dikenal orang—antara lain pernah diangkat dalam salah satu lagu Doel Sumbang. Selain itu, saya sedikit terganggu dengan beberapa adegan ciuman bibir yang diulang-ulang dan berlangsung di kedai kopi tersebut. Rasanya sulit membayangkan adegan seperti ini bisa ditemukan di Yogyakarta, dalam kedai kopi semodern apa pun. Bahkan di dalam kafe sekelas Starbucks Coffee pun hampir mustahil terjadi adegan semacam itu di Indonesia. Dengan demikian, kebenaran cerita ini adalah suatu kebenaran hipotetis, yang tidak memenuhi syarat penuh terhadap dunia referensial yang ia tuju. Ia benar sebagai sebuah cerita yang logis, tidak melulu akurat dalam dunia yang ia potret.

Harumnya racikan cerita
Buku ini dibuka dengan bagus oleh Firah Aziz dengan cerita berjudul “Surat Cinta untuk Tuan Arsitek”. Kisah ini menurut saya sangat berhasil menggambarkan sosok Tuan Arsitek yang memesona dan misterius. Firah menceritakannya dengan hati-hati dan dalam kalimat-kalimat ringkat yang efektif. Sebagai konsekuensi dari sebuah karya kompilasi, maka kesan yang segera muncul, paling tidak menurut pandangan saya, adalah keragaman teknik atau kemampuan bercerita dari masing-masing penulis. Saya bisa mencatat beberapa nama yang berbakat daln luwes dalam menghadirkan tokoh-tokoh mereka di dalam cerita.

Namun secara keseluruhan himpunan kisah ini tetap nyaman dinikmati walaupun ada satu atau dua buah cerita yang tak sanggup saya pahami entah karena terlalu pendek atau karena relevansinya yang terlalu lemah dengan kisah-kisah lain sebelumnya. Untunglah, Yuska mengeksekusi bab terakhir dengan jalinan kata-kata yang ampuh dan irama yang terjaga. Setiap deskripsi mengalir dengan padu dan bahkan ada metafora yang sangat membekas dalam ingatan saya, yakni:

“…si Mbok yang akan menjadi obor penghangat tempat itu, hingga ia menyerahkannya ke tangan yang lain.”

Walaupun jujur saja saya masih belum menemukan logika yang cukup tentang alasan mengapa si Mbok mendapat ‘warisan’ berupa kedai kopi modern itu. Bukankah absurd menyerahkan sebuah coffee shop kepada wanita tua yang buta terhadap menu-menu racikan kopi modern dan juga cara mengelola kedai modern—walaupun ada Dimas yang akan membantunya? Ataukah platform kedai akan diubah setelah pemilik lamanya terbang ke Swiss demi mengejar cita-citanya sebagai pakar kuliner?

Metamorfosis TCSC
Namun sekali lagi, semua itu sama sekali tidak mengurangi kenikmatan saat menyantap menu-menu cerita yang tersaji dalam TCSC ini. Saya pikir kronik dalam buku tersebut akan menarik bila diangkat ke layar lebar—tentu saja dengan modifikasi dan penyesuaian di sana-sini. Sebab ke-33 cerita tersebut dijahit dengan satu benang merah bernama cinta dan akhirnya menjadi selembar kain indah yang tetap memancarkan misteri dan rahasia. Buku ini juga membuktikan bahwa dalam ragam aktivitas apa pun pikiran manusia tidak pernah diam atau berhenti bekerja; setiap orang akan selalu tenggelam dalam trans pribadinya masing-masing—dalam selimut ceritanya sendiri-sendiri. Dan karena karya fiksi kerap bisa menawarkan banyak hal ketimbang hal-hal nyata, maka membaca kisah-kisah dalam buku TCSC ini akan sedikit membuka tabir rahasia tentang bagaimana orang yang berbeda menjalani hidup dengan cara dan penafsiran mereka terhadap cinta. Entah Anda penikmat kopi atau bukan, yang jelas setiap kedipan mata atau setiap getaran hati selalu menyimpan rahasia yang punya tenaga. Dan lazimnya sebuah rahasia, ia akan diliputi oleh rahasia-rahasia lain; sebab kita pada dasarnya menjalani hidup yang penuh dengan rahasia.

Karena rahasia tidak akan pernah usai atau tuntas, maka tugas kita hanyalah memaknainya dengan cara terbaik dan melakoni hidup dengan bekerja menurut potensi yang kita miliki. Bukalah mata dan temukan kekayaan apa pun dalam kisah hidup orang lain. Karena semua benda dan peristiwa menyimpan rahasia dan energi. Bahkan every sip of our coffee keeps a secret!

PS. Saat membayangkan jika buku ini difilmkan, saya langsung teringat film Vantage Point yang dibintangi oleh aktor gaek Dennis Quaid dan Forest Whitaker, juga Ayelet Zurer yang sempat beradu peran dengan Tom Hanks dalam Angels and Demons. Film ini mengisahkan percobaan pembunuhan presiden AS dari beberapa sudut pandang tokoh pada satu tempat yang sama.

Advertisements

6 thoughts on “Yang Tersisa Dari Peluncuran The Coffee Shop Chronicles: Kedai Kopi dan Rahasia yang Tak Pernah Usai

    • Andai saya punya kopi bukuny yang lain hehe…Sok tinggal ke toko buku terdekat aja. Atau di toko buku online hehe…Makasih ya dah mampir lagi. Salam 😀

      Like

    • Silakan masbro…menepi di Gramedia terdekat hehe..makasih ya berkunjung ke rumah saya lagi..salam sukses 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s