Kopdar #2: Mie Janda dan Rahasia Tiga Sahabat

Ngeblog tanpa memposting tulisan ibarat makan angin. Kosong dan hampa. Nge-blog tanpa mengunjungi blog lain (blogwalking) bak makan tanpa garam. Kurang sedap. Blogwalking tanpa membubuhkan komentar laksana makan tanpa lauk. Ada yang hilang. Dan nge-blog tanpa mengenal sahabat narablog lain seperti menyantap makanan tanpa tahu siapa peracik bumbunya.

Dengan semangat itulah akhirnya tiga sahabat memutuskan untuk bertemu muka. Istilah populernya: kopdar atau kopi darat. Lapanta ini mungkin agak terlambat untuk saya tuturkan. Walaupun momen romantis ini sudah berlalu sekitar sebulan yang lalu, namun kesan mendalam dari pertemuan itu membuat saya tetap berapi-api untuk menceritakannya.

Jumat sore Bunda Niken tiba-tiba mengirim pesan pendek kepada saya. Isinya singkat: beliau berencana berkunjung ke salah satu kedai Kang Haris di Cibinong, Bogor. Selain ingin menjalin tali silaturrahim dengan cowok yang konon mirip ustaz Solmed ini, Mbak Niken (jiaaah…ngaku2 mbak biar dibawain rendang jengkol lagi:) juga berniat menyerap ilmu bisnis dari doi yang mengelola usaha mi ayam laris dengan beberapa outlet di Bogor ini.

Saya pun mengiyakan ajakannya. Bagi saya sendiri, ini merupakan pertemuan kedua dengan Bunda Niken; kami berjumpa untuk kali pertama di sebuah acara kopdar dengan beberapa sobat narablog tak lama sebelum Ramadan tahun ini di JCC. Walaupun agak berat meninggalkan istri saya yang sedang tak sehat, saya pun berangkat untuk menemui dua sahabat baru ini pada Sabtu 20 Oktober. Karena Ford Ranger sedang ada yang pakai, maka saya meluncur ke kedai Mie Janda Cibinong dengan menunggang Mio ungu bersama Rumi anak sulung saya. Saya bersemangat datang bukan karena akan menerima rendang jengkol dan mi ayam gratis, namun lebih karena dorongan persahabatan yang sudah terbangun di dunia maya selama ini. Bertatap muka dan bercengkerama dengan para sahabat yang selama ini tulisannya saya nikmati secara daring tentu merupakan keasyikan tersendiri.

Maknyus banget kan, sobat?

Pukul 10.30 kami bertolak dari rumah. Saya sengaja mengambil jalan dalam dengan menyusuri jalanan Cileubut hingga mencapai perempatan Pemda. Walaupun kedai Mie Janda masih satu kota, namun butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana—mengingat saya memacu motor pada kecepatan yang relatif rendah.

Alangkah gembira ketika saya lihat dua sahabat tengah berbincang ramah. Kehadiran kami disambut dengan tawa renyah. Saya lihat Bunda Niken sudah rampung menyantap semangkuk mie janda super. Tak ketinggalan minuman andalan: es duda keren yang merupakan perpaduan antara kelapa muda, nangka dan madu. Duduk di samping Mbak Niken adalah seorang lelaki berkacamata yang tak lain adalah suami tercinta. Meskipun baru kali pertama bertemu, kami langsung akrab, yakni antara Mas Teguh (suami bunda Niken), saya dan Kang Haris. Bunda Niken memang benar ketika mengatakan bahwa kami adalah pribadi sanguinis. Saya sendiri sangat menggemari sangu alias nasi hehehe…

Siap menyantap menu lezat!

Memang nikmat kok!

Rumi yang selama perjalanan sempat tertidur akhirnya terbangun saat kami tiba. Langsung saja saya pesan mie janda komplit dan es duda andalan kedai Kang Haris. Setelah hidangan tersaji, langsung saya sikat tanpa segan sambil sesekali diselingi perbincangan ringan. Kedua sahabat yang sama-sama pengusaha ini pun lantas terlibat obrolan serius tapi santai mengenai romantika dan kiat-kiat bisnis kuliner. Sementara Fanny yang bergelondotan manja pada Mas Teguh terlihat lebih banyak diam dan kadang-kadang tersenyum manis. Duh, pokoknya saya langsung klepek-klepek (lho…hahaha…colek Cak Insan).

Markotop!

Setelah semua menu tandas, perbincangan masih berlanjut hingga sejam kemudian. Kami sampai tak sadar bahwa selama kami mengobrol banyak pelanggan yang telah silih berganti mengisi bangku kosong, menyantap pesanan mereka lalu pulang. Kemudian diganti pelanggan lain, dan begitu seterusnya.

Kami lalu pindah ke musala SMPN 1 Cibinong yang terletak di seberang kedai. Setelah menunaikan shalat Zuhur, perbincangan berlanjut. Bahkan tak kalah seru. Di sinilah banyak rahasia terungkap di antara kami. Bahwa ternyata Bunda Niken itu bla bla bla…dan Kang Haris adalah bla bla bla…serta saya yang …bla bla bla…Tak elok rasanya saya ungkap di sini walaupun rahasia itu bukan hal negatif :D. Saya sendiri cukup kaget mendengar penuturan dua sahabat tersebut. Banyak pelajaran yang saya petik. Bagi yang penasaran, silakan ber-BBM-an atau kontak japri kepada sobat yang saya maksud hehe.

Obrolan berjalan sangat nikmat sampai tak terasa masuk waktu Asar. Setelah beres shalat, kami pun pamit—walaupun hati sebenarnya masih ingin melanjutkan tukar pengalaman. Mas Teguh ada jadwal bermain bulu tangkis sore itu, sementara saya juga tak bisa terlalu lama meninggalkan istri dan Bumi yang masih berumur 3 bulan. Sepanjang siang itu Bogor diguyur hujan yang lumayan lebat. Syukurlah selepas asar hujan berhenti total sehingga kami bisa melenggang pulang dengan nyaman. Sebelum meluncur ke rumah masing-masing, tak seru bila kami tak mejeng di depan kedai yang sudah wara-wiri di stasiun TV swasta ini. Lalu kami bertukar buah tangan untuk dibawa pulang sebagaimana yang bisa sahabat lihat dalam foto berikut ini.

Mejeng di depan Mie Janda yang udah kesohor

Kopdar tanpa makan-makan bagai hujan tanpa mendung. Ga lengkap. Makan-makan tanpa difoto hanya HOAX saja, kata orang. Pulang kopdar bawa oleh-oleh, itu empat sehat lima sempurna! Makasih ya Kang Haris atas sajian istimewanya; nuhun pisan buat Bunda Niken untuk rendang jengkie yang sangat maknyusss—disantap ma nasi putih hangat pun bisa nambah berkali-kali haha. 🙂 Semoga usaha kuliner Anda berdua semakin maju, sukses dan berkah.

Lirikan matamu…menarik hati…sehingga membuat…

Sungguh kopdar singkat yang mengesankan. Penuh cerita, cinta dan hikmah. Semoga persahabatan kami terus berlanjut dan membuahkan banyak manfaat. Bagaimana dengan sahabat pembaca, punya cerita kopdar seru? Yuk kopdar yuk…

Advertisements

39 thoughts on “Kopdar #2: Mie Janda dan Rahasia Tiga Sahabat

  1. Walau kopdarnya sudah lama, tapi rupanya masih lekat dalam ingatan ya mas Belalang….
    Pokoknya nice to meet mas Belalang dan Kang Haris deh…
    Ga nyangka kalau ternyata mas Belalang merhatiin Fanni yaaa…

    Like

    1. Maaf fotonya macet ga mau diunggah, jadi kelucuan Fanni ga bisa terdeteksi haha.. Iya dong, kalo yang Surabaya meleset kan bisa ke Bogor hehey 🙂

      Like

    1. Mama Cal-Vin, ini kopdar lama kok, yang sebulan lalu itu lho. Cuma saya yang telat bikin laporannya..hehe. Kapan yuk kopdar? 🙂

      Like

      1. Kayaknya wordpress lagi error, jadi fotonya tak segera tampak. Memang lezat mi ayamnya Dew! Yuk kopdar. Jauh pisan kalo ke Bintan hehe 😀

        Like

    1. kita kopdar yuk cyin….kau disana aku disini satu rasa menyantap mie. namun hanya kau yg traktir ku kembali. mungkinkah terjadiiii hihi

      #mf mas walank..numpang ngerusuh!

      Like

  2. Manteb, kopdar terlama yang pernah saya baca nih, soalnya sampai harus melewati dua shalat sekaligus. Jengkol? kebeteluan barusan saya juga nyantap jenggol bikinan istri.

    Like

    1. Hehe, iya Pak Ies. Tak terasa saking asyiknya bercengkeraman. Berbagi pengalaman dan kisah dengan sahabat baru. Wah, saya kapan ya terakhir makan jengkol yang enak? Ya pas dikasih Bunda Niken itu, rendang buatan beliau memang makjleb jleb hehe…Istri masak rendang disemur atau direndang Pak? Bagi dong 😀

      Like

  3. Beneran, gue baru liat penampakan Om Belalang di kopdar mie janda. di blog ini sama yang ditempat bunda. 😀 #kemaneeeeeee ajee. 😛

    Om, Jengkole iku lho. 😆

    Like

    1. Penampakan? Hmmm…Ini sebeneranya pake topeng lho Dah. Aslinya lebih menyera*kan 🙂 Ini kan sekalian mejeng pake kemeja batik hadiah dari Bunda Sumiyati…alhamdulillah.

      Kamu doyan jengkol apa alergi? Uenakk polll..

      Like

  4. Hah… kenapa jadi colak-colek saya…
    masa jeruk makan jeruk… hihihihi…
    Awas ya.. satu guru jangan ganggu.. *ngancam

    Like

    1. Kucak mata cepatlah melek
      Ambil wudhu segarkan muka
      Jangan GR si Abang saya colek
      Ini menyangkut si imut yang jelita

      😀

      Like

  5. kopdar sama ustad solmet niyee, eeh itu ayah haris yaa, wah keren makan mie janda sama duda keren, mau mau mau #elap iler 😀

    Yang dibawa cuma fannya jah yaa, lutfhan kok gag ikutan bunda niken 😀

    Like

    1. Iya Ni, kopdar ma ustaz Solmed. Padahal lebih mirip koko koko loh aslinya hehe. Justru ustaz Solmed yang mirip Kang Haris..jiahh 🙂 Es duda kerennya mantab banget Ni!

      Kalo Luthfan diajak, Asri pasti pengen ikut. Kalo Asri dan Luthfan ikut, tentu Hilman merajuk pengen diajak. Nah, tar ga bisa dua-duaan ma Om Teguh dong Ni xixixi… (sotoy.com)

      Like

    1. Betul, Mbak Esti. Kopdar selalu menyenangkan–apalagi plus makan-makan hehe..Kapan ya kopdar di Simpang 5? 🙂

      Like

    1. Ternyata Mbak Niken asli dari Yogyakarta. Pantesan pinter masak haha..ada hubungannya ga? 🙂 Memang sangat nikmat rendangnya. Sayang sekali Mbak Rahmi ga ikutan? Kapan2 kopdar di Soto Bangkong ya..

      Like

  6. Memang bukan hal yang mudah untuk menulis hal-hal menarik, tapi ini sangat menarik sekali dan akhirnya menjadi kopdar yang manis.
    Bunda Niken : bagi ilmunya dong, saya membuka usaha minuman jus buah …

    Like

    1. Kopi darat teman dari dunia maya sangat markotop Mas Misbach. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga kapan-kapan bisa kopdar di Kota Apel ya 🙂

      Wah punya usaha sari apel kemasan ya Mas? Semoga sukses!

      Like

    1. Para pegawainya ada yang anak dari para janda, Mas. Dan sebagian keuntungan penjualan mi ayam diberikan kepada para janda untuk memperbaiki kehidupan mereka. Sok atuh mampir 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s