Orang Jawa Dilarang Jadi Penyiar

/1/

Kira-kira di penghujung tahun 2006 seorang teman memberitahuku tentang lowongan sebagai Voice Over (VO) di salah satu stasiun televisi swasta, yakni TV7 (kini Trans7). Kala itu aku baru beberapa bulan bekerja sebagai editor di sebuah penerbit buku sekolah di Bogor. Karena gaji yang kudapat termasuk kecil (bahkan tetap kecil sampai aku berhenti kerja dua tahun kemudian:), aku pun segera mengirimkan aplikasi via email ke stasiun tersebut. Bekerja di stasiun teve di Jakarta tentulah bergaji besar, pikirku waktu itu. Maka informasi itu pun tak kusia-siakan.

Bagi sahabat yang belum akrab dengan istilah ini, VO adalah suara yang diperdengarkan untuk menyertai film, program televisi, dll. agar informasi bisa tersampaikan kepada pemirsa tanpa kehadiran wajah sang narator. Jadi gambar-gambar akan tampil di layar kaca sesuai dengan tema acara/program sementara sang narator membacakan informasi atau keterangan tanpa memunculkan ‘dapur’-nya. Nah, aku yang memang menyukai dunia public speaking tentu saja tertarik menjadi narator untuk aneka program TV. Selain bakat dan minat tersalurkan, pundi-pundi rupiah mulai membentuk cakrawala dalam benakku. Dan yang paling penting, aku tak perlu nongol dan berpotensi merusak rating acara, haha….

Singkat kata, kukirimlah surat aplikasi dan CV, beserta dua buah rekaman berisi dua contoh narasi dalam dua jenis teks yang berbeda. Meminjam mikrofon rekan kerja, kulakukan rekaman sederhana dengan mempergunakan komputer milik kantor (maklumlah waktu itu aku belum punya PC, apalagi laptop)—emang sekarang punya(?). Berkali-kali coba kurekam suaraku agar menghasilkan rekaman paling maksimal. Kucomot dua buku dari perpustakaan sebagai sumber narasi.

38550_122313401148201_61515_nRekaman kulakukan secara nomaden: kadang di ruangan tempatku bekerja, kadang di perpustakaan, kadang di ruang lain. Tentu saja aku harus melakukan perekaman suara saat suasana sepi (yakni ketika para karyawan belum datang atau saat mereka telah pulang). Malu bo kalau ada yang denger (lha mo jadi narator VO di teve masak pake malu-malu.. 🙂 ) wkwkwk…Kalau ruangan-ruangan itu bisa bersaksi, niscaya mereka akan menumpahkan kesebalan akibat geluduk suaraku yang berisik. EGPDL!

Siang berganti malam. Hari silih berganti. Jadilah dua buah rekaman yang kuanggap cukup (cukup ancur haha:). Bismillah, kukirimkan. Berhari-hari tak ada kabar. Ah, tak mungkinlah kandidat coba-coba macam aku ini bakal di-casting jadi petugas VO, begitu gumamku. Hingga suatu hari aku akhirnya mendapat panggilan untuk take vocal di stasiun teve yang berada di Jl. Kapten Tendean itu. Wah, tentu senang bukan kepalang. Setelah meminta izin absen dari atasan (durhaka ga ya?), aku pun melangkah, eh, naik bus menuju TKP. Kukenakan rompi merah andalanku sebagai senjata untuk menyihir mata tim penyeleksi (Ini mo tes suara atau mo fashion show sih..)

/2/

Bangunan megah itu giliran menyihirku. Apalagi saat memasuki pintu lift dan berpapasan dengan Ferdi Hasan yang putih cakep itu (idihhh, sesama cowok pake muji..:). Waktu itu doi masih kondang sebagai pembawa acara pagi bersama Desi Ratnasari di stasiun teve yang sama. Tapi itu bukan urusanku. Yang jelas, saat menerima teks yang harus disuarakan sebagai voice over, hatiku jadi deg deg ser. Selembar kertas itu berisi beberapa kalimat dari ragam acara yang berbeda. Mulai dari acara anak-anak, wanita, film kungfu, olahraga dan lain-lain. Gaswat, aku tak suka olahraga (baca: bola!). Intinya, 10 kandidat yang datang hari itu harus membacakan ragam-ragam teks acara yang berbeda semenarik dan sekreatif mungkin.

Untunglah sesi perekaman suara diselang shalat Zuhur. Lumayan, bisa rileks sambil makan siang. Sepiring nasi dan selonjor ikan cue lumayan mengganjal perut. Untung saja ikan laut ini tak tertahan di tenggorokan 😀 Eh, abis makan siang malah deg deg plas tak keruan. Bukan apa-apa, Sob. Saat menunggu giliran masuk ke ruang perekaman VO, semua kandidat berkumpul di depan ruangan. Di situlah mereka semua (kecuali aku) berlatih dengan suara-suara yang siap membuat tim penyeleksi terpana(h).

Aku memilih mojok ke dunia antah-berantah agar bisa berlatih tanpa didengar orang lain (halahh…lebay :). Terus terang, aku merasa minder saat mendengar sejumlah kandidat berlatih vokal sebelum dipanggil masuk. Rata-rata mereka telah malang melintang di dunia radio sebagai penyiar. Ada yang sudah 5 tahun dan bahkan 10 tahun berpengalaman sebagai penyiar radio. Oalah, pantes suara mereka makjuss banget!

Tapi aku tentu tak lantas melipir, lalu meloncat ke atas bus untuk pulang ke Bogor. Saat giliranku tiba, kuberikan performa terbaikku. Artikulasi, intonasi, dan irama kujaga dengan baik. Semua berjalan lancar. Setidak-tidaknya menurutku. Apalagi tim penyeleksi tersenyum meyakinkan saat kami bersalaman sembari aku meninggalkan ruangan. Wah, optimisme pun membuncah. Langkah pulang jadi ringan dan begitu indah disinari pelangi harapan. (Tuh kan lebay lagii…)

/3/

Hari berganti minggu. Minggu membentuk bulan. Kok tak ada kabar berita? Wah, pasti ada yang salah nih. Mengapa mereka tak kunjung meneleponku? Bayangan kegagalan mulai memenuhi diriku. Hati resah dan resah. Resah pertama: karena kegagalan itu berarti aku akan tetap bertahan bekerja dengan gaji yang segitu-gitu saja. Resah kedua: karena kegagalan itu berarti bahwa aku terbukti tidak cukup kompeten dan tak punya bakat dalam olah suara. Dan itu sungguh terlaaaluuu…(kata Bang Haji). Terlalu menyakitkan.

Aku pun mencoba menganalisis faktor kegagalanku. Ternyata ada dua faktor utama yang menjegal perjalananku sebagai narator VO. Pertama, para pesaingku memang lebih jago dengan jam terbang tinggi dan kemampuan memadai. Suara mereka memang memukau. Faktor kedua, menurut pendapat teman-teman di kantor, adalah karena kemedokanku. Ya, aku yang keturunan asli Jawa dan besar di lingkungan orang-orang Jawa memang tak bisa mendustakan aksen daerahku yang sangat terpampang nyata.

Aku memang tinggal di Bogor dengan iklim Sunda yang khas. Namun rekan-rekan sekantor kebanyakan juga orang Jawa. Sehingga komunikasi lebih banyak berlangsung dalam bahasa ibu kami. Rumah yang kukontrak juga banyak dihuni orang Jawa sehingga bahasa Jawa tetap dominan sebagai bahasa dalam interaksi sosial kami. Jadi, walaupun sudah hampir 7 tahun tinggal di Bogor, bahasa Sundaku cukup memprihatinkan. Kalaupun bisa sesekali bercakap dalam bahasa Sunda, orang asli akan cenderung tertawa atau setidaknya geli karena aksen Jawa masih kental mewarnai kata-kata yang kututurkan. Aku sendiri menyadari bahwa sulit sekali berbahasa Sunda dalam aksen yang natural.

Kegagalanku sebagai narator VO membuatku menarik kesimpulan bahwa orang Jawa (seperti aku, dengan aksen daerah yang khas) hampir sulit menjadi penyiar untuk acara-acara televisi yang bernuansa formal. Orang Jawa dengan logat daerah yang masih tulen ternyata “dilarang” menjadi penyiar—setidak-tidaknya menjadi penyampai VO dengan berbagai genre acara. Memang Tukul akhirnya melejit sebagai pembawa acara yang diperhitungkan dan dibayar mahal. Namun tetap saja acara yang ia bawakan bukanlah acara formal. Produser mungkin akan berpikir sejuta kali untuk mempercayakan acara dengan ragam yang lebih serius (misalnya berita) kepada pelawak berbakat asal Semarang ini.

Padahal aksen Jawa, sebagaimana logat daerah-daerah lain, adalah kekayaan bangsa yang harus dilestarikan sebagai bagian dari khazanah peradaban dunia. Nyatanya, aku belum pernah menemukan pembawa acara formal di tv dengan aksen yang medok. Padahal menurutku itu sah-sah saja. Jika pun ada, itu hanya sebatas parodi atau humor belaka. Aku membayangkan betapa indah dan variatifnya dunia pertelevisian kita bila orang dengan aksen daerah apa pun diberi kesempatan yang sama sebagai penyiar acara serius.

Selama mereka masih berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tak peduli logat bawaannya, dunia televisi harusnya menyambut mereka dengan tangan terbuka. Bila televisi tidak mengambil peran dalam mengawetkan kekayaan aksen daerah, maka tunggulah saatnya ketika anak-anak kita enggan berbahasa daerah dan lebih memilih berbahasa asing karena malu dianggap medok atau bahkan kampungan. Padahal masing-masing aksen sebenarnya sangat unik dan cetar membahana!!!

/4/

Menutup tulisan ini, aku teringat peristiwa delapan tahun silam. Yasmin, sahabatku dari kota lumpia, akan dipersunting oleh seorang bule dari Eropa. Sebut saja bule itu dengan Reno. Aku sempat diundang ke rumah Yasmin untuk menemaninya berbincang dengan Reno. Maka kami pun terlibat perbincangan hangat seputar banyak hal. Obrolan kami berlangsung dalam tiga bahasa: Indonesia dan Jawa (antara aku dan Yasmin), dan Inggris (antara kami bertiga). Reno jelas menyatakan kekagumannya pada kami orang Indonesia. Menurut dia, hebat sekali kalian bisa bercakap-cakap dalam bahasa yang banyak. Maksud Reno adalah tiga bahasa, yakni Jawa, Indonesia, dan Inggris.

Reno semakin takjub saat tahu bahwa Indonesia memiliki puluhan bahkan ratusan bahasa daerah yang berbeda. Ini jelas berbeda dengan dia yang berasal dari Belgia. Dia tak punya bahasa Belgia seperti kita yang mempunyai bahasa Indonesia. Bahasa resmi mereka adalah Perancis, Belanda dan Jerman. Selain itu, mereka juga berbicara dalam bahasa Spanyol. Perbandingan yang mencengangkan, bukan?

Beberapa tahun terakhir, Google bahkan turut aktif dalam penelitian dan penyelamatan ribuan bahasa dunia yang terancam punah. Maka tanpa mengurangi pentingnya bahasa Inggris, mari abadikan bahasa daerah beserta aksen uniknya dengan cara tetap menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Dan tentu saja jangan kita lupakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebab ia menjembatani kesenjangan antarabahasa lokal. Bila kita sudah mempunyai padanan bahasa asing dalam bahasa Indonesia, tentu asyik bila kita memakainya. Kecuali bila memang kata tertentu belum punya padanan. Atau ketika konteks memang menghendaki penggunaan bahasa asing yang tak mungkin diganti.

—Adapun aku, biarlah terus bermimpi menjadi narator VO dengan gaya dan logat yang khas. Tanpa ada yang “melarang-larang”, tanpa ada yang merasa keberatan. Atau perlukah mendirikan stasiun televisi sendiri? Salam medok!

“Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway

banner-giveaway-aku-cinta-bahasa-daerah-ala-niar-ningrum

Advertisements

27 thoughts on “Orang Jawa Dilarang Jadi Penyiar

  1. #Mengingat-ingat logat bicara mas Belalang waktu kopdar. Aahh… ga fokus disitu. Atau karena kita sama-sama medhok ya…? hehehe….
    Ayo mas buat stasiun teve khusus org medhok…

    Like

  2. Sebenarnya menurut saya wajar kok mas kalau ada standar tertentu buat menjadi VO atau presenter di stasiun tv nasional. Mungkin lebih pada pertimbangan kenyamanan pendengarnya karena bersifat nasional. Mungkin tidak hanya spesifik aksen Jawa, sejauh ini saya belum pernah dengar VO atau presenter di tv nasional yang beraksen Padang, Batak, Papua, atau daerah lainnya.

    Saya jadi membayangkan jika seandainya acara On the Spot (Trans7) dibawakan kental dengan aksen Batak atau Papua. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan (saya sendiri berasal dari daerah), tapi khawatir aja, kalau pesan dari program tersebut tidak tersampaikan dengan baik berhubung pemirsa televisi lebih tertarik mengomentari aksen dari VO daripada menyimak program tersebut.

    Lain ceritanya kalau televisi daerah. Sekian mas sedikit uneg-uneg dari saya. 😀

    Like

    1. Iya Mas, saya kira juga memang karena pertimbangan kenyamanan–walaupun kenyamanan di sini bisa sangat relatif. Sebenarnya tak apa-apa juga kalau On the Spot dibawakan dengan aksen lain Mas. Kan belum pernah dicoba toh? :p

      Menjamurnya stasiun televisi daerah memang bisa mengakomodasi khazanah lokal, Mas. Terima kasih atas kunjungan Anda. Salam 🙂

      Like

    1. Sama dong. Saya dah tinggal hampir 7 tahun tapi tetap kental aksen Jawa Timuran, Mbak. Ngomong Sunda teteplah pake logat Jawa, haha..

      Gimana kabar Surabaya?

      Like

    1. Iya Mbak, mungkin saja itu terjadi. Tapi saya yakin itu VO untuk acara jalan-jalan. Dalam kasus saya, VO yang dicari adalah narator untuk memperkenalkan setiap program baru yang akan ditayangkan di TV terkait. Bukan VO untuk acara lain. Di Trans TV juga ada host merangkap narator VO yang medok Jawa. Jejak Si Gundul di Trans7 pun demikian.

      Hebat Mbak, penyiar radio ato televisi? Salam dari Kota Hujan 🙂

      Like

    1. Terima kasih atas award-nya, Mbak. Saya tersanjung dan bahagia walaupun merasa belum pantas. Tapi tetap, terima kasih! Jengkienya mana? :p

      Like

  3. Ya, aku yang keturunan asli Jawa dan besar di lingkungan orang-orang Jawa memang tak bisa mendustakan aksen daerahku yang sangat terpampang nyata.
    Kalo baca kalimat itu kok rasanya kepingin nambahin “cetar membahana” 😀
    aku juga gitu kok Mas belang, eh Mas belalang… Mau dimedok2in bahasa Indonesia yang baik dan benar kayak orang2 Jakarta gak bisa. Eh, malah njuk wagu. Aksen ngapaknya itu masih keliatan walaupun sepersekian mili 😀
    Tapi apapun itu, bersyukur sekali karena kemedokan ngapak saya malah menjadikan saya banyak teman yng setidaknya saya menjadi hiburan tersendiri untuk mereka :mrgreen:

    Like

    1. Ngapak itu salah satu aksen yang unik dan menarik. Tidak ada alasan untuk malu. Luar biasa Mas bahasa kita!

      Like

  4. Walank,…apa kabar..?

    Maaf baru berkunjung lg…
    Wah ternyata ada pengalaman yg mendebarkan begitu yak… Hihihi…
    Mgkn pertimbangan mereka, krn gak semua orang bisa paham kali klo ada aksen Jawanya… Entahlah… Hehehe…

    Tp aku sih setuju, bahasa daerah butuh sekali utk dilestarikan… Pernah jd bahasan khusus ttg ini nih Walank, di majalah National Geographic… Punahnya bahasa dunia… 😦

    Like

    1. Haha, atau sebaliknya: gara-gara aku bergabung di stasiun mereka, terus stasiunnya sepi iklan dan malah bangkrut, wakaka :p

      Like

  5. saya suka bahasa sampeyan,,,,cara sampeyan bercerita dan menuliskan apa yang ada di kepala smpeyan itu mnurutku punya nilai jual tinggi dibanding ngarep2 jdi vo,,,,,,cocok klw nulis novel atau cerita2 humor,,,,

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s