Tentang 63 Cermin: Ketika Jenderal Menulis Fiksi

[Tulisan berikut dimuat sebagai pengantar dalam buku 63 Cermin: Tak Ada Uban yang Tak Terhitung karya Abdul Cholik]
63c63 Cermin: Tak Ada Uban yang Tak Terhitung
Penulis: Abdul Cholik
Penerbit: Sixmidad
Tebal: 89 halaman
Terbit: Agustus 2013
Soft cover ukuran 12 x 18 cm
Kertas: bookpaper
ISBN: 978-602-97964-7-6

Menulis karangan fiksi dengan jumlah kata yang dibatasi jelas merupakan tantangan tersendiri. Selain harus memperhatikan hitungan kata yang berhasil disusun, seorang penulis juga dituntut untuk memusatkan perhatian pada isi cerita yang ia gubah. Bila seorang penulis tak jeli, sangat mungkin cerita akan rampung dalam jumlah kata yang berlebihan. Dan bila penulis abai, jalinan kata-kata yang ia lahirkan hanya akan berhenti dalam komposisi jumlah yang tepat namun mengabaikan mutu isi.

Menyusun cerita dalam bingkai kata yang ketat membutuhkan kemampuan untuk tetap teliti saat mengelaborasi kisah. Dan Pakde Cholik terbukti piawai mengolah imajinasi menjadi puluhan fiksi mini yang memukau. Tema-tema yang ia pilih begitu dekat dengan keseharian kita, dan sebagian bahkan sangat aktual dan faktual. Gaya tutur Pakde jelas menunjukkan kualitasnya sebagai pencerita ulung yang menjanjikan. Dan ini sekali lagi menegaskan bahwa Pakde memang mumpuni dalam dunia tulis-menulis.

Beberapa kisah yang ia hadirkan tak jarang menyergap kesadaran kita. Membuat kita tersenyum, tertawa, bertanya-tanya atau bahkan membenarkan kebodohan serta kemunafikan kita sebagai manusia. Meski seluruh kisah sengaja diracik dalam kata-kata yang minim, namun keseksian itu justru menyisakan kecupan lembut, cubitan, dan bahkan ledakan dalam memori atau hati kita.

Saya harus akui bahwa saya terhibur selama proses penyuntingan buku ini walaupun mempertahankan jumlah kata memang tidak mudah. Menyunting cerita dalam batasan kata-kata bahkan merupakan pengalaman pertama bagi saya. “Jangan Menjadi Perusak” langsung menuntun kita pada pemandangan yang kerap kita saksikan di layar televisi tentang potret buruk demonstrasi. Sosok ibu mendadak mengemuka begitu saya menikmati “Sawah Berkah”. Walau miskin deskripsi, saya seolah bisa melihat hamparan padi yang menguning dengan aliran air segar di sisi pematang yang ditumbuhi rumput tebal.

“Pidato Sang Juara” sukses menohok saya yang kerap merumuskan alasan-alasan atas serangkaian kegagalan atau ketakberdayaan yang ada. Padahal kemunduran atau kelemahan kita kerap terjadi akibat kemalasan dan kemanjaan kita sendiri. Dalam “Buah Langka” dan “Investasi Kebaikan” tersimpan pelajaran berharga yang kini makin tergerus dalam masyarakat modern kita.

Pada cerita mini ke-18, kita diingatkan kembali tentang bentuk investasi yang betul-betul menjanjikan; bukan berupa permata atau logam mulia, melainkan hal yang tidak bisa dihargai secara materi—sesuatu yang tak lekang ditelan waktu. Sedangkan “Sekak Mat” menyajikan perspektif lain tentang bagaimana seseorang harus memandang desa dengan berbagai ‘keterbatasan’ sekaligus potensinya.

‘Bacalah’ dirimu sebelum engkau ‘membaca’ orang lain. Ini yang bisa saya tangkap dalam “Kontraproduktif”, yaitu bahwa sebuah tuntutan boleh diajukan selama tuntutan disampaikan dengan santun dan tidak bertentangan dengan apa yang dituntut. Kita tentu tak ingin terampil berkata-kata namun ternyata kedodoran dalam tindakan nyata.

“Jujur Makmur” seolah menegaskan realita pahit di negeri ini di mana korupsi menjadi bencana dan wabah mematikan; semuanya berangkat dari sikap tidak jujur, curang, dan rakus. “Jika kami tidak jujur, maka habislah hidup ini,” begitu petuah sang kakek. Kalimat pamungkas yang tajam dan konklusif.

Silakan menyunggingkan senyum setelah menyantap “Harta Bersama” dan “Kaki Indah di Bus Kota”. Lalu siapkan diri Anda untuk menerima kebajikan besar dari “Operasi Plastik”, “Ketika Maut Menjemput”, “Bukan Sekadar Istri”, dan “Makanan Terlezat di Dunia”. Dua judul yang saya sebut terakhir wajib dibaca oleh para suami. “Kumuh Itu Ada Duitnya” tentu akrab bagi kita, sedangkan “Sopir Spesial” akan membuat otak kita berpikir keras.

Demikianlah. Cerita-cerita mini dalam buku ini, pada hemat saya, sebenarnya belum rampung, dalam artian bahwa setelah membacanya kita masih harus menyusun lanjutannya dalam otak dan hati kita; harus kita dialogkan dengan batin sebagai bahan becermin untuk meraba, mengenali, dan mengakui bahwa diri kita masih kerap diliputi kabut jahiliah dalam bentuk primitif maupun bentuk yang paling modern.

Himpunan kisah mini dalam buku ini memang bukan karya sempurna. Banyak kisah bagus yang Pakde tulis, tapi sejumlah cerita juga memerlukan sentuhan stilistika yang lebih lembut. Sependek pengetahuan saya, kecakapan Pakde baik dalam menulis fiksi maupun nonfiksi adalah sebuah bakat (yang dalam buku Puisi Enam Tiga diakuinya diwarisi dari sang ayah). Bila bakat seni tersebut dipupuk dengan latihan terus-menerus dan belajar tanpa kenal lelah, maka jangan terkejut bila suatu hari nama Pakde tiba-tiba menjulang sebagai salah satu cerpenis atau bahkan novelis mumpuni di tanah air.

Jika Pakde sanggup menulis sekumpulan cerita mini yang menarik, tentulah wajar membayangkan beliau melahirkan satu atau dua buah novel dengan ciri khasnya: menggelitik, kocak, mengejutkan, tapi tetap kuat dan menyegarkan.

Sudah selayaknya Pakde menjadi jenderal dalam dunia sastra, bukan hanya sebagai pensiunan jenderal dalam dunia militer. Selamat ulang tahun ke-63, Jenderal! Semoga Anda terus kreatif dan produktif dalam berkarya serta dilimpahi keberkahan dalam segala hal yang Pakde pilih.

Advertisements

26 thoughts on “Tentang 63 Cermin: Ketika Jenderal Menulis Fiksi

    1. Betul, Mbak Hanna. A living inspiration, hehe. Mbak bakal terkagum-kagum kalau membaca seluruh kisah mungil ini:)

      Like

  1. Walau blm menikmati sajian2 fiksi mini garapan Pakdhe Cholik, namun tiada bantahan sama sekali thd tulisan mas Belalang/Rudi ttg kepiawaian sang jenderal dlm dunia kepenulisan. Fiksi dan non fiksi garapannya layak mendapatkan acungan jempol. Tak hanya itu, kreatifitas dan inovasi yg tiada henti, sy yakini mampu meng-inspirasi kita2 yg jauh lebih muda. Pakdhe emang mengagumkan! Sukses trs dan saya yakin, nama ini akan menghias daftar nama penulis top negeri ini, segera. Aamiin. 🙂 Bravo, Dhe, happy milad yaaa.

    Mas Rudi, apa kbr?

    Like

    1. Setuju sangat, Mbak Al. Pakdhe selalu punya ide yang unik dan kreatif. Darah seni memang kental dalam dirinya. Doi ga pernah kehilangan semangat dan selalu senang berbagi…Pokoknya menginspirasi deh. Moga-moga terus berkarya.

      Hai Mbak, kabar baik. Pa kabar Bandung? Mudik ke Aceh teu?

      Like

  2. Wuuiihhh pakdhe hebring tenan yoo.. Salut bgt deh. Kita yg muda2 hrs byk blj dr beliau.
    Btw mas rudi…. Kok wagu ya rasanya memanggilmu bgtu… Hehehe… Aku persen lahh bukunya… 🙂

    Like

    1. Hararebring pokokna Pakdhe mah…Salut marsulut, hobinya menyulut nyali anak-anak muda agar ga kalah dari beliau. Kalau wagu coba panggil Mas Maher, malah nggilani tenin hehe. Pakdhe kayak kelapa aja, makin tua makin bernilai santannya….
      So, kapan dikau nulis buku? 🙂

      Like

    1. Ngucapin ultah atuh di blog-nya pakdhe, masak di sini:) bayar kalo numpang ucapan. Kompornya sampe kebawa mimpi–buruan manfaatin apinya, jangan sampe melduk! :p
      Ngaliyan hangat atau dingin sih? Yang hangat mah Pleburan….

      Like

    1. Hai Mbakje, apa kabar? Mohon maaf lahir batin ya. Udah sebulan hiatus neh daku tak ngeblog. Penyuntingan pada umumnya sekitar 1-2 minggu tergantung jenis teksnya. Karena fiksi mini ini unik, terdiri dari 63 kata, tempo hari seperti dua minggu lebih deh. Soalnya ketika cerita diedit, eh, jumlah kata justru berkurang atau bertambah. Kadang jumlah kata udah pas, ceritanya ga bunyi. Waktu ceritanya nyambung, lah masih kurang 2 kata. Kayak gitu-gitu sih, Makanya agak sedikit lambat 🙂

      Like

  3. beberapa fiksi pernah ditulis di blog , ada dalam buku ini juga ya..?
    jadi nggak sabar pengen baca2 yg lainnya
    iya pak de itu kalau buat fiksi punya ciri khusus, ngetril istilahnya pak de
    bisa bikin tertawa, kocak tapi ada kihmah di baliknya

    Like

    1. Seingat saya kebanyakan atau sedikit sekali kisah yang pernah ditampilkan di blog, Lebih jelasnya enak langsung baca bukunya, Mbak. Sok atuh pesen langsung ke Pakdhe 🙂
      Kisah-kisahnya unik

      Like

    1. Sebulan sudah blog ini tak tersentuh Mbak, dasar males ya, hehe…Silakan pesan langsung ke pakdhe Mbak biar makin maknyus bacanya:)

      Like

    1. Sangat setuju, Mas. Entah proyek apa lagi yang kini sedang beliau siapkan untuk menutup 2013 ini. Moga-moga kita bisa meniru yang baik-baik…

      Like

    1. Lebih ngakak dan takjub lagi bila Mbak Myra beli dan baca tuntas isinya ya Mbak. Ayo Mbak, beli di saya bisa, atau di Pakdhe juga boleh. Di toko online juga hayu!

      Like

  4. “Sudah selayaknya Pakde menjadi jenderal dalam dunia sastra”
    Saya setuju banget itu, Kangmas, ketika saya khusus membaca puisi-puisinya di “Puisi Enam Tiga” betapa saya menemukan makna-makna yang bercahaya, bukan sekadar baris kata yang gelap yang bagi sebagian besar pembaca ditangkap sebagai tanpa makna.

    Like

    1. Begitulah Mas. Kreativitas dan produktivitas Pakde memang patut diacungi salad buah, eh, diacungi jenpol maksudny, hehe. Selalu ada hal baru yang digagasnya. Puisi memang tak punya definisi yang rapi Mas. Luaaas….

      Like

    1. Kata Pakde, setiap rambut yang memutih menjadi saksi kehidupan kita di dunia, makanya hidup harus lurus dan waspada. Semua ada perhitungannya.

      Alhamdulillah baik, Mbak. Baru pulang mudik. Bagaimana kabar bak Lidya dan keluarga? Saya juga lama ga BW neh:)

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s