Gelap Bersemi

gelap bersemi
mencengkeram semesta begitu sunyi
ketika matahari pamit
menyisakan setitik nur tanpa bunyi
hanya daun-daun yang bertasbih
hanya pepohonan yang rukuk
mengaburkan kebiadaban kita yang canggih

genaplah ini nyeri
lalu karam kata-kata dalam nyanyi
saat bumi sakit
sebab kita terus bersembunyi
pada apa yang kita baca
namun tak pernah kita pahami

lelap di bumi
lelap ini hati
ketika matahari pupus
ketika cahaya perlahan mampus.

Advertisements

18 thoughts on “Gelap Bersemi

  1. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha, bila ada salah kata dan khilaf atas prilaku selama ini, serta bila ada salah baca atau salah dalam berkomentar, atau belum sempat membalas komentar, dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon dimaafkan lahir dan batin…salam

    Like

    • Terima kasih, Mas Hari. Bila ada khilaf dan salah saya, mohon berkenan memaafkan. Salam dari kami di Bogor. Semoga sehat selalu Anda bersama keluarga 🙂

      Like

    • Sulit dibayangkan, Bu. Walaupun dalam gelap kita masih bisa bergerak, namun terang benderang jauh lebih nikmat. Lebih banyak manfaat 🙂

      Like

    • Betul, Bu Guru. Sulit dibayangkan kalau kegelapan menyelimuti hidup kita. Terutama karena jauh dari ilmu atau orang berilmu 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s