Bangga Berarti Setia Pada Mimpi


Kejadian pagi itu tak mungkin kulupa. Aku meraung kesakitan karena ada serangan sengit pada bagian kiri perut. Aku nyaris berguling-guling saat kuminta Mas Sam sang office boy kantor untuk menelepon mobil ambulans. Sakit semakian kuat mendera begitu kudengar tak ada ambulans yang siap menjemputku. Dengan suara tertahan dan setengah merintih, aku mengusulkan agar dipanggilkan taksi. Namun sayang, sepagi itu belum ada satu taksi pun yang masuk ke kompleks tempatku mengajar.

Karena tak kuasa lagi menahan sakit, Mas Sam lantas membopongku menuju klinik kecil di samping kantor. Dokter jaga hanya memeriksaku sebentar dan tak berani melakukan injeksi. Rasa sakit makin menghebat sehingga aku menggeliat di atas sofa kecil dengan pikiran tak tentu arah. Saat itulah seorang ibu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobilnya. Lamat-lamat kukenali, ternyata ibu itu pernah bekerja sama denganku. Dia masih mengenalku. Kira-kira enam bulan sebelumnya aku sempat menjadi juru bahasa (interpreter) untuk himpunan ibu-ibu pengusaha dalam memajukan usaha kecil mereka di Jawa Tengah. Aku membantu mereka agar mendapatkan kredit tanpa agunan yang dikucurkan dari lembaga swasta Kanada. Kredit itu berhasil dicairkan dalam dua tahap.

Singkat kata, kru rumah sakit bergerak sangat cekatan. Setelah diberi obat penghilang rasa sakit, aku pun diperiksa dengan serangkain tes. Aku limbung saat dokter mengatakan bahwa ada yang salah dengan ginjalku. Ada kelainan yang menyebabkan rasa sakit hebat itu. Walhasil, selain rasa tak nyaman, aku juga jadi kerap ingin buang air kecil. Ini sungguh siksaan tersendiri. Bekerja jadi tak jenak, beraktivitas sehari-hari pun jadi tak enak.

Mengajar dan fantasi keluarga
Waktu itu aku masih mengajar bahasa asing di sebuah lembaga kursus di bilangan Tlogosari, Semarang. Dengan kelainan ini, hanya pekerjaan mengajar yang mungkin kulakukan. Sebelumnya aku sempat menyambi dua pekerjaan lain. Pagi hari aku menjadi penerjemah lepas di sebuah yayasan anak asuh, sore hari mengajar bahasa Inggris di tempat kursus, lalu malam hari mengajar privat di lembaga lain. Setelah fisikku tak memungkinkan, mengajar sore hingga malam menjadi kegiatan utamaku untuk mendulang rupiah—walaupun sangat kecil. Mengajar satu kelas selama satu setengah jam memberiku jeda untuk ke kamar kecil. Dan itu bertahan selama dua tahun.


Saat itu pikiranku terteror, “Okay, my life is stuck here. Biarlah kujalani hidup yang sepi, mengajar bahasa Inggris entah sampai kapan, tanpa siapa pun selain teman dan sahabat yang ada di kota ini. That’s it, not more, but can be fairly less !” Aku tak berani membayangkan pernikahan. Atau keluarga—sesederhana dan sekecil apa pun keluarga itu. Aku hanya akan menjadi beban bagi istriku kelak (kalau ada yang mau), maka lebih baik aku hidup sendiri. Begitu batinku terus menggerogoti jiwa. Lalu aku tenggelam dalam puisi dan fiksi.

Dalam lubuk hati terdalam, aku merasa harga diriku sudah terenggut. Apa lagi yang bisa di-BANGGA-kan oleh seorang lelaki tak sehat macam aku ini? Padahal kesempurnaan fisik akan menuntun pada kesempurnaan pencapaian banyak hal dan terbukanya peluang yang menjanjikan. Kata ‘bangga’ mungkin lebih baik kupensiunkan dari kamus hidupku. Pekerjaan mana lagi yang bisa dikerjakan oleh lelaki ringkih macam aku? Hanya mengajar, tak mungkin menikah, hidup sepi, sendiri, sendiri…. Itulah yang mendera hati setiap hari!

Menyunting dan mempersunting
Namun kenyataan berbicara lain. Setelah dua tahun mengajar, aku mendapat informasi tentang lowongan editor bahasa Inggris di penerbit buku sekolah di Bogor. Aku pun mengirimkan lamaran. Dengan kondisiku yang tak fit betul, aku tak berharap banyak. Tapi ternyata aku lulus tes, lalu diwawancarai, dan akhirnya diterima. Sungguh di luar dugaan. Aku bersyukur mendapat peluang ini. Aura kebanggaan sedikit terbersit di hati.

Namun kata ‘menikah’ masih belum tercetak dalam kamusku. Lebih tepatnya tak berani membayangkan ide membangun rumah tangga. Sangat jauh, Sob. Mana mungkin ada wanita yang begitu gila mau menikah dengan lelaki berwajah biasa, tak pandai, dan sakit-sakitan macam aku? Kalau bukan tak waras, tentulah dia sudah kuguna-guna 🙂

Man proposes, God disposes. Ini hukum yang gamblang: manusia memang kerap sok tahu terhadap rencana Tuhan yang tak terjangkau oleh pikiran atau imajinasi mereka. Dua tahun bekerja aku pun menemukan seorang wanita yang (begitu gilanya) mau kunikahi. Entah tersihir oleh pesona semburat (kepala)-ku ataukah dia sebenarnya merasa kasihan padaku, aku tak tahu. Dia teman seruangan yang sampai kini belum sadar bahwa telah kunikahi, hehe. 😉 Butuh pergulatan batin untuk akhirnya meminangnya sebagai istri. Beberapa kali aku ingin mundur saja dan menyerah. Aku sempat berencana resign agar terhindar dari bayang-bayangnya, ehem! Jujur saja karena beberapa cowok juga mengincarnya. Namun seperti slogan yang kukobarkan, kotak-kotak Kakbah Mekah//biar botak membawa berkah, maka dia pun (terpaksa) mau kunikahi. Aku yakin cinta memang patut diperjuangkan.

Bangga bukan dari tampilan fisik
Perasaan bangga diam-diam mulai menyusup dalam kalbu. Oh, ternyata tampilan fisik atau hal-hal yang bersifat kebendaan bisa dengan mudah nihil dalam pandangan atau wacana paling liar manusia sekalipun. Begitu gumamku. Wanita itu (ajaibnya) mau menerima apa adanya aku. Kelebihan (emang punya?) dan kekuranganku (jelas banyak!)—termasuk kondisi fisik yang kualami. Kami bahkan sudah ikhlas bila ternyata kami tak diamanahi anak atau momongan. Nyatanya, Rumi (3 tahun) dan Bumi (1,2 tahun) telah menghiasi hari-hari kami dengan celoteh dan kenakalan mereka. Bukankah aku udah sok tau lagi?
rumi
Karena tak diizinkan menikah seatap, maka aku memutuskan keluar dan bergabung dengan sebuah penerbit buku umum di kawasan Cimanggis. Namun sayang aku hanya bertahan selama setengah tahun menjalani pekerjaan di tempat yang baru. Perjalanan laju Bogor-Depok setiap hari jelas menguras kekuatan fisik. Aku lalu mengundurkan diri dan bekerja secara paruh waktu (part time) dan freelance sementara istri masih bekerja di penerbitan yang lama tempat kami cinlok :D.

Saat anak pertama kami lahir, istriku ternyata ingin mengasuhnya sendiri. Maka ia pun resign dan kami sama-sama bekerja secara freelance. Sungguh nekat ya, Teman! Tapi rezeki sudah diatur, kita tinggal menjemputnya. Beberapa bulan setelah Rumi lahir, seorang teman menawariku bekerja di bidang pembiayaan syariah yang berbasis di Connectitut, AS. Gajinya sangat besar (menurutku): 6 juta rupiah dan akan naik menjadi 10 juta dalam waktu enam bulan. Aku tergiur mendapat tawarannya, namun tawaran itu kutolak karena tuntutan fisik yang tidak memungkinkan. Selain itu, aku ingin mendampingi istriku merawat Rumi tanpa asisten setiap detik, menit, dan hari.

Untuk apa gengsi?
Di mata tetangga atau teman kami mungkin tak lagi berjalan dengan kebangaan. Dahulu kami berangkat ke kantor setiap hari dengan busana rapi, gaji pasti, dan status yang bergengsi. Editor yang setiap hari ngantor di kantor mewah, ber-AC, dan sebagainya! Kini kami hanya dua manusia yang menyusun kepingan dan rahasia kehidupan dengan mengandalkan potensi dan keberkahan Tuhan. Kami tak perlu kebanggaan pada kacamata yang ditentukan orang. Kami tak butuh gengsi yang didasarkan asumsi atau persepsi. Kami lapar atau kenyang sama sekali tak merepotkan orang lain. Itu prinsip kami. Bagi kami, mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan kegiatan primer yang tak bisa terulang lagi. Sementara mengejar mimpi lain atau obsesi bisa menyusul di lain hari. Masa emas anak tak akan terulang.

Setahun kemudian kami merintis penerbitan buku sendiri. Kami mulai dengan menerbitkan dua buah buku cerita karya istriku. Penerbitan sempat terseok karena kami masih sibuk menerima pekerjaan editing dan penerjemahan dari penerbit lain atau pihak luar. Karena penerbitan adalah mimpi kami, maka kami memperjuangkannya agar tetap hidup dan bekelanjutan walaupun hanya kami kerjakan berdua dengan bantuan sejumlah tenaga freelance. Hingga kini usaha ini masih berjalan dengan menyediakan jasa penerbitan buku dari pracetak hingga paskacetak.

Saat penerbitan lesu, kami sempat berencana akan kembali bekerja secara full time seperti dulu. Namun setelah dipertimbangkan masak-masak, kami sudah committed pada pendidikan anak secara langsung dan ingin membangun usaha sendiri. Maka kami setia pada gagasan atau impian tersebut. Sejauh itu bukan pekerjaan full time, maka kami masih bisa menoleransi. Namun jika harus 8-5 di kantor, itu jelas bukan prioritas kami.

Lima juta pupus sudah
Awal tahun lalu aku sempat melamar pekerjaan sebagai editor lepas di salah satu perusahaan multinasional Jepang yang ada di Jl. MH Thamrin Jakarta. Aku mengirim aplikasi karena menurut info seorang teman pekerjaan menyunting bisa dikerjakan di rumah dan aku hanya wajib datang sekali dalam seminggu atau dua minggu. Dengan bayaran 5 juta rupiah tentu ini tawaran yang mengasyikkan. Aku pun menjalani setiap tahapan dari tes hingga wawancara kedua dengan presdir yang merupakan wanita asli Jepang. Wawancara berjalan lancar. Namun (mungkin) karena aku menolak persyaratan dari dia yang meminta aku harus stay di kantor seperti karyawan biasa, maka aku pun ditolak. Ya, melayanglah 5 juta itu!

Namun Tuhan menghadiahiku imbalan lain. Karena aku cinta dunia editing dan penerjemahan, maka pekerjaan menyunting selalu ada. Entah menyunting buku fiksi, nonfiksi, atau bahkan sekadar me-review buku yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aku menjalani semuanya dengan penuh cinta, dengan suka cita, dengan semangat menyala-nyala walaupun kadang hasilnya (secara materi) tak selalu menggembirakan. Bahkan ada beberapa kali aku tak dibayar oleh penerbit yang memintaku menerjemahkan buku. Pernah 3 juta lenyap sia-sia. Padahal aku sudah mengajak temanku dalam proyek ini. Walhasil, aku harus membayar sebagian kepada temanku dari kocekku sendiri. Haha, inilah harga sebuah mimpi.

Tonggak lain adalah ketika seorang penulis lirik asal Malaysia menghubungiku dan meminta jasaku untuk menerjemahkan lagunya ke dalam bahasa Indonesia. Senang? Tentu saja? Walaupun menerjemahkan lirik tidak mudah, namun bayarannya menyenangkan dan pekerjaan relatif lebih cepat rampung, hehe. Rasa bangga saat merampungkan penerjemahan setiap lirik sangat unik, mengangkasa di batinku sendiri, tanpa seorang pun tahu. Penerjemahan lagu juga menghadirkan keasyikan tersendiri bagiku yang menyukai dunia seni. Alhamdulillah….

Blogging is my life
Namun dari semua yang kudapat, puncaknya adalah kegiatan blogging. Aktivitas ngeblog merupakan kebanggaan tersendiri buatku. Aku yang dulu pernah mendamba jadi penulis fiksi rasanya cukup puas bisa menuturkan khayalan, imajinasi, gerakan hati, dan aneka letupan pikiran dalam media maya bernama blog. Blog memberiku keleluasaan dan keamanan dari campur tangan seorang editor (walaupun aku juga bekerja sebagai editor :)). Aku bebas menuangkan ide tanpa khawatir disterilkan oleh pihak lain–walaupun tentu saja aku punya batasan yang tidak bisa kulanggar dalam menulis di dunia maya.

Dalam formulir yang harus kuisi sebelum melakukan wawancara di perusahaan Jepang itu, ada pertanyaan tentang hal-hal yang aku banggakan. Dengan mantap kugoreskan di sana bahwa salah satu kebanggaanku selain bisa mendongeng adalah menjadi seorang blogger. Mengapa menulis di blog patut kubanggakan? Selain membutuhkan ketekukan dan kemampuan memilih tema untuk ditampilkan, blogger haruslah jujur. Sebab blogger yang tidak menulis dengan jujur akan ditelan hiruk-pikuk dunia maya. Setinggi apa pun ilmunya, ia akan lapuk dalam cengkeraman waktu bila ia berpura-pura.

Pencapaian kreatif
Menulis di blog adalah kenikmatan sekaligus pencapaian kreatif yang sangat langka—tidak dimiliki setiap orang, tidak dilakoni oleh semua manusia. Dan blogging menyumbangkan nilai yang sangat dalam ketika tulisan kita mampu menggerakkan orang untuk sadar, untuk berkaca, untuk berbuat yang lebih baik. Dan bagi saya itu kebanggaan yang tahan lama.
viewimage
Entah sebagai editor (lepas) atau blogger, saya ingin menjaga nyala mimpi. Saya akan berusaha mengobarkan impian seperti Lelatu Namira yang tidak berhenti memperjuangkan nasib Klub Film meskipun dia dihadang pengkhianatan dan sabotase perih oleh Romi. Semua yang Lena dan krunya telah bangun kini runtuh, hancur tak bersisa. Namun dengan kecerdikan dan ketenangan Rizki, nyatanya Klub Film akhirnya menyabet juara pertama dalam Sayembara Film Remaja di ibukota.

Walaupun Dion sempat menjadi ‘korban’–dan kemudian menghilang untuk hadir dengan tambahan kompleksitas cerita yang sinergis, namun semangat dan kesetiaan para anggota Klub Film pada mimpi mampu mengantar mereka ke garis yang mereka cita-citakan. Pesan dalam bukuCineUs seolah menegaskan prinsipku! CineUs adalah novel remaja yang menggugah dan inspiratif. Selain ditulis dengan mengalir, Evi menyajikan kisah Lena dan beragam fragmen dengan sangat mendetail dan penuh ketegangan hampir di setiap bab.

Seperti yang kita lihat dalam book trailer berikut, impian dan cinta memang selalu layak kita perjuangkan dalam hidup. Impian apa pun, asalkan itu positif dan bermanfaat. Cinta dalam pengertian seluas-luasnya, cinta pada pasangan, cinta pada pekerjaan, cinta pada alam, dan terutama cinta pada Sang Pemilik Kehidupan. Tak perlu menunggu keadaan ideal untuk mengejar mimpi atau cita-cita. Mulai saja dan lihat apa yang bisa kita raih.

Rahasianya adalah setia pada mimpi, dan sabar dalam proses. Tak perlu terlena pada tepuk tangan massa, tak perlu kerdil oleh cibiran yang membuat kita menggigil. Tegakkan kepala dan lakukan apa yang menjadi passion kita dengan penuh cinta. Ada atau tak ada pujian dan penghargaan, kebanggaan akan tetap kita miliki. Sebab kebanggaan sifatnya sangat pribadi, ia bersemi di dalam hati, bukan pada membanjirnya pengakuan orang lain. Akan sangat melelahkan bila kita berbuat sesuatu hanya demi mengejar simpati atau pujian orang. Sanjungan atau hinaan orang tak akan membuat kebanggaan tercerabut dari dalam hati. So, apa arti kebanggaan buat lo, Sobat?

New-Andromax-U2-250x250-JPEG

Advertisements

44 thoughts on “Bangga Berarti Setia Pada Mimpi

    1. Benar, Mas. Tugas kita hanyalah memberdayakan semua potensi dan kebisaan yang kita miliki. Selanjutnya, biarkan ‘shir’ yang bekerja.

      Like

  1. Aku sudah menyaksikan sendiri bagaimana mas Rudi dan mbak Harni bekerja sama mengurus Rumi dan Bumi. Istrimu yang cantik itu memang luar biasa deh mas. Jadi kangen nih sama bunda Rumi.

    Kebanggaan-kebanggan dalam hidup sebenarnya muncul dari rasa bersyukur atas segala nikmatNya. Tiap membaca tulisan mas Rudi mengenai kisah hidup, menangkap rasa syukur itu.

    Semoga sukses dengan kontesnya.

    Like

    1. Terima kasih, Mbak Niken. Sebenarnya saya ini termasuk orang yang tidak pede, Mbak. Sengaja mengingat dan menuliskan kisah2 ini agar suatu saat saya down saya bisa membaca kembali bahwa saya banyak mendapat berkah, dan selalu ada alasan untuk merasaa bangga–yakni bersyukur dengan apa adanya saya. Silau, Man! 😀

      Like

  2. heummm,inspiratif sekali mas….bagi saya menjadi editor itu keren bagetttttttt hehehe…semoga usaha penerbitannya bersama istri tercinta selalu mendapat berkah aminnnn…..

    Like

    1. Alhmdulilah bila ada yang bisa dipetik, Mbak Hanna. Saya yakin setiap orang punya kisah unik masing-masing. Ini hanya sepenggal kisah saya yang biasa–tapi tak biasa bagi saya 🙂 Terima kasih atas doa Anda Mbak, semoga Anda sukses dengan keberkahan yang sama, amiin.

      Like

    1. Betul, Pakhde. Tak ada yang lebih membanggakan selain berbuat kebaikan kepada orang lain sesuai yang kita mampu. Diiringi rasa syukur yang tak padam, hidup jadi begitu indah dengan berbagi. Salam dingin dari Bogor, Dhe! 🙂

      Like

    1. Rasanya aneh berkomunikasi dengan anonim seperti Anda. Akan menyenangkan bila ada blog atau web yang bisa saya kunjungi balik. Tapi terima kasih telah berkunjung. Salam kenal Ngomong-ngomong, bulu kuduk berdiri berarti takut ya? 🙂

      Like

  3. Adanya kontes ini jadi tau kalau Om Belalang itu cinlok. Hihihihi
    Untuk merealkan sebuah impian, harus konsisten dan tekun ya, Om.

    Menginspirasai sekali tulisan ini. 🙂

    Like

    1. Cinlok pake ‘n’ ya dah, bukan cilok, hehe. Begitulah Allah menggariskan semuanya. Kupikir masa depan suram, eh ternyata emang masih suram, hehe 🙂 Jalani apa yang menjadi minat kita, tejuni insyaAllah berbuah. Tak usah peduli ucapan orang. Asal ga melanggar syariat, enjoy aja! 😉

      Like

    1. Sungguh malu bila tidak bersyukur ya Mas. Tugas kita hanya berjuang dan melakukan yang terbaik semampu kita. Sisanya biar Allah yang mengeksekusi. Terima kasih, Kangmas. salam dari Bogor 🙂

      Like

    1. Dalam kadar tertentu, menurut saya, gengsi juga diperlukan Mas untuk membangun merek misalnya, baik merek diri maupun merek dagang 🙂 Hanya saja tindakan kita hendaknya jangan semata-mata demi menjaga gengsi semata lalu mengabaikan mutu dan esensi perbuatan yang kita tampilkan. Sayangnya, kebanggaan masa kini cenderung berkutat pada hal-hal bendawi atau materiil. Tapi itu toh hak masing-masing orang. Yang penting tetap bersemangat dalam meraih mimpi demi kehidupan lebih baik, untuk kita dan orang lain.

      Terima kasih telah berkunjung. Salam kenal, Pak Insinyur! 😉

      Like

  4. kotak-kotak Kakbah Mekah
    Biar botak membawa berkah…hahaha lucu euy 😀

    alhamdulillah ya, kalau jodoh memang ga kemana ya pak..
    semoga menang lombanya…
    salam hangat dari anak sulawesi ^o^/
    ditunggu kunjungan baliknya 🙂

    Like

    1. Ya begitulah Nhinis, ketika hal-hal yang kurang sreg menimpa kita, kita punya pilihan: menyesalinya sambil tenggelam dalam duka atau memanfaatkannya untuk bergerak maju. Masa depan selalu misterius bagi manusia, maka kita mesti mengupayakan semampu kita agar apa yang terjadi menjadi hasil terbaik yang Tuhan berikan.

      Seperti jodoh dan rezeki, semuanya misteri. Terima kasih atas kunjungan kamu ya. Salam balik dari Kota Hujan. Arigato gozaimasu. 🙂

      Like

  5. saya ga bisa bilang apa apa untuk tulisan yang satu ini, sungguh luar biasa. seseorang yang berjalan sesuai dengan passion dan pendiriannya.

    saya sendiri punya niat untuk lanjut kuliah ke juusan sastra, itupun banyak pertimbangan yang saya lakukan, termasuk urusan pekerjaan nantinya. tapi setelah baca tulisan yang satu ini, saya cuma bisa diam, saya terpukul.

    Satu hal yang saya dapat hari ini, ikuti passion, dan tidak perlu khawatir bagaimana kedepannya, karena itu urusan Tuhan.

    Oh iya, ini pertamakalinya saya mampir di sini, salam kenal ^^

    Like

    1. Senang sekali bila dari kisah sederhana ini bisa dipetik pelajaran semangat. Kalau boleh kasih pendapat Mas Adam, ikutilah passion dan bidang yang Anda sukai. Apa pun itu, sejauh positif dan tidak merugikan, kejar dan berbuatlah yang terbaik.

      Dulu saat saya ambil jurusan sastra Inggris, memang kami mahasiswa sastra dipandang sebelah mata oleh mahasiswa jurusan lain, apalagi anak-anak eksak. Saat KKN, hampir semua mahasiswa dalam tim saya terdiri dari anak-anak teknik, hanya dua yang dari humaniora. Memang mereka agak gimana gitu ama orang sastra, hah. Ya biarin aja. Namun beberapa tahun kemudian, begitu sudah lulus, justru teman saya dari teknik arsitektur yang menawari kerjaan bergaji 10 juta di atas.

      Intinya kira-kira ya kita jalani aja apa yang menjadi kegemaran kita. Mendingan jadi kepala cacing daripada ekor ular, begitu pesan seorang teman. Lebih baik berprestasi dalam bidang yang kita sukai (walaupun mungkin ga bergengsi menurut orang) daripada cuma mediocre atau pas-pasan di bidang yang bergengsi namun tidak kita gemari.

      Adapun mengenai rezeki, itu urusan Tuhan. Tugas kita hanya bekerja dan memanfaatkan potensi sekecil apa pun yang kita miliki. Percayalah, asalkan kita serius, ikhlas dan jujur menjalani pilihan kita, insyaAllah jalan selalu terbuka. Tak perlu pedulikan ujaran orang lain. Saya selalu berprinsip bahwa pujian orang tidak akan membuat kita kenyang, dan cibiran/ejekan orang tidak akan membuat kita kelaparan. Pendapat orang lain tidak mempengaruhi kadar dan keberkahan rezeki yang sudah Tuhan siapkan untuk kita.

      Just believe in God and do your best 🙂

      –Maap jawaban komentar paling panjang kayaknya nih di blog ini–)

      Like

  6. cerita yang sangat inspiratif, saya pribadi selalu merasa menemukan hal baru ketika berkunjung ke blog ini. belajar banyak hal..good luck..mungkin dulu pas di Semarang pernah kenal yaa, hee

    Like

    1. Terima kasih atas kunjungan Anda, Mas Mubarok. Suatu kehormatan pemilik Jenang Mubarok mau mengunjungi blog saya–eh, salah fokus 🙂 Saya juga masih belajar Mas, belajar menulis dan menyarikan pengalaman. Semoga yang saya catat di blog ini bermanfaat untuk pembaca. Mungkin dulu sering ketemu di Simpang Lima pas saya nunggu angkot, tapi Mas lupa nyapa saya, hehe. Salam sukses selalu Mas.

      Like

  7. Hello bro/sis, Ikutan SEO Contest dari ASUS yuk dan dapetin hadiah menarik. Kontes dimulai 15 Oktober 2013 dan berakhir 15 Desember 2013. Kontes terbuka untuk umum dan untuk info lebih lanjut klik: http://bit.ly/GZbMWa

    Like

    1. Makasih informasinya, Kang Cecep. Wow, asyik banget neh kontesnya. Hadiahnya wow banget, tapi kok SEO ya, saya kurang greget kalo model kontes SEO. Tapi saya coba deh Kang. Nuhun informasinya. Salam kenal 🙂

      Like

  8. kunjungan pertama nih.. salam kenal dari Jogja 🙂
    saia suka banget definisi baru tentang bangga, menginspirasi utk semakin percaya & setia sama mimpi saia 😀

    btw, saia penerjemah, udah lama menyimpan keinginan jadi editor, kira2 langkah apa yg bisa saia lakukan?

    makasih sebelumnya…

    Like

    1. Terima kasih atas kunjungan Anda di rumah sederhana saya, Mbak. Salam kenal dari Kota Hujan, 🙂
      Itu kebanggaan menurut saya; terus berjuang demi mewujudkan mimpi adalah rasa bangga yang sebenarnya di saat banyak orang menyerah karena gagal atau minder karena kondisi mereka–atau mungkin bangga pada materi/kekayaan keluarga mereka.

      Oh, Anda penerjemah ya, wah hebat! Saya tak yakin apakah saya orang yang tepat menjawab pertanyaan Mbak tentang cara menjadi editor. Menurut saya langkah pertama adalah dengan mengirimkan surat lamaran kepada penerbit yang Mbak incar. Sesuaikan dengan genre atau jenis buku yang Anda geluti. Misalnya Mbak ingin menjadi editor novel, tentunya kirimkan aplikasi ke penerbit buku-buku fiksi. Dalam lamaran ceritakan bahwa Anda memiliki minat yang besar dalam dunia penyuntingan karena ingin turut menghasilkan buku terbitan yang rapi, cerita mengalir dan plot yang menarik.

      Atau bila mungkin, sertakan contoh hasil editing Mbak dalam surat lamaran. Mbak bisa ambil dari penggalan buku yang Mbak anggap perlu disunting lalu lampirkan naskah asli dan naskah hasil suntingan Mbak.

      Di Yogya kan banyak penerbit yang membutuhkan editor, Mbak. Coba kirimkan aplikasi kepada mereka. Atau yang paling mudah ya tunggu sampai mereka membuka lowongan sebagai editor, lalu kirimkan lamaran terbaik Anda. Selamat berjuang! 😀 — InsyaAllah bila nanti ada informasi lowongan editor, saya akan email Anda sehingga Mbak bisa mencoba.

      Like

      1. terima kasih sampe dibilang ‘hebat’ jadi penerjemah *jadi malu* *loh*

        kalo untuk menerjemahkan, saia lebih suka buku nonfiksi. kemarin kebetulan ada penerbit besar di Indonesia, menerbitkan khusus buku2 kuliah & pelajaran SMA, yg buka cabang di Jogja. saia pikir di sanalah tempat saia melabuhkan harapan menjadi editor, sesuai dgn minat saia pada buku nonfiksi. sudah melamar, tapi belum jodoh… semoga lain kali ada kesempatan lagi.

        makasih mas!

        Like

        1. Loh memang penerjemah kan?Menerjemahkan fiksi maupun nonfiksi memiliki kesulitannya sendiri. Semoga cita-cita Anda tercapai dan teruslah berusaha.. 😀

          Like

    1. Betul, Mbak Evi. Betapa banyak orang menyerah karena gagal mengejar mimpi mereka. Bagi saya kalau kita pantang menyerah demi memperjuangkan, itulah kebanggaan yang asyik. Menjalani perjuangan saja sudah nikmat, apalagi ketika mimpi itu terwujud. Tentu manis banget rasanya. Ya seperti Anda yang berhasil menerbitkan novel, tentu ada kepuasan mendalam walaupun mungkin ada orang di luar sana sudah berhenti pada langkah kesekian atau sekadar berkhayal mencapai sesuatu tanpa melakukan usaha. Terima kasih atas apresiasi Anda Mbak 😉

      Like

    1. Begitulah, Mbak Indah. Kalau digerakkan dengan cinta dan semangat, insyaAllah perjuangan dalam hal apa pun terasa nikmat. Jatuh bangun membuat hidup jadi penuh warna, walaupun jadi terasa berat mirip akrobat, hehe. Terima kasih atas doa Anda, Mbak. Salam kenal 🙂

      Like

  9. Aku suka sekali membacanya…. Meskipun ceritanya panjang, tapi aku tak merasa bosan.
    Hidup memang pilihan dan pilihan yang mas ambil benar2 telah menunjukkan bahwa mas (dan juga istri) tahu apa yang diinginkan dan tahu benar potensi yang dimiliki. Semoga semua yang diperjuangkan selama ini akan dapat terwujud. Aamiin.

    Like

    1. Terima kasih atas kunjungan dan apresiasi Sahabat. Senang sekali bisa berbagi dengan cerita sederhana kami. Salam kenal dan semoga sukses juga dengan impian Anda 🙂

      Like

  10. wah saya ternyata baca setiap paragraf sampai selesai (tipe pembaca pokok-pokok aja.) hehe. salut loh mas saya baca ini, saya bangga sama mas yang semangatnya masih nyala, bahkan masih terbakar ditengah angin sepoy sama badai hidup yang keras ini *halah! saya juga bakal terus berusaha tetap on the track, walau kadang rasanya susaaah banget, passion udah ditemuin, tapi kadang hal-hal lain dateng, fokus emang tetep jadi solusi.

    Like

    1. Betul, Melissa. Selagi masih muda dan memiliki energi yang besar, manfaatkan untuk mengejar dan mengupayakan impian. Jangan terpengaruh orang lain atau gengsi semata, fokuslah pada hasil selagi itu positif. Apa pun yang menjadi impian Anda, mulai wujudkan sejak sekarang, dan bangkitlah kalau terjatuh 🙂

      Like

  11. Setia pada mimpi dan sabar dalam proses adalah dua hal yang tidak selalu mudah untuk dilakukan. tidak semua orang bisa melakukannya. Satu hal janji Alloh itu pasti, bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan yang mengiringi. Ladang rejeki Alloh amat luas, tak terbatas profesi keren nan mentereng. Lakukan apa yang menjadi passion maka uang akan mengikuti. Mas Belalang telah menjadi pribadi yang merdeka ya, sanggup menjalani pilihan dan tak pusing dengan asumsi serta persepsi orang. Benarlah, mengikuti apa yang diasumsikan dan dipersepsikan orang akan melelahkan. Huaaaa, kenapa panjang begini komennya?salam buat Rumi, Bumi dan Bundanya.

    Like

    1. Sepakat, Mbak Ety. Setiap kesulitan diapit dua kemudahan, maka kemudahan atau jalan keluar tentu selalu ada asal kita berusaha mencarinya. Mata pencarian banyak ragamnya, asal halal, kita tak perlu malu menjalaninya., Sebab yang penting menggali rezeki yang halal dan membawa berkah. Ya menjadi pekerja lepas seperti saya pasti ada plus-minusnya, Mbak. Tapi ya itu, kalau sudah dipilih ya dijalani, hehe. Komentarnya panjang tapi maknyuss! Salam kenal balik dari kami semua untuk Mbak di Jawa Tengah 😉

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s