Weekly Photo Challenge: Beginning

rumi sawah 3

Kata beginning selalu menarik. Selain membuka banyak penafsiran, kata ini juga sangat menjanjikan: permulaan dengan energi baru dan semangat baru pula. Permulaan itu menentukan tercapai tidaknya suatu cita-cita tergantung niat yang ditanamkan dalam hati juga kerja keras yang menyertainya.

Inilah beginning bagi saya: melihat sawah yang jumlahnya kian menipis, padahal itu sumber logistik kita selama ini. Dari sinilah semua bisa berawal, makanan menentukan perilaku dan tindakan manusia dalam menyelenggarakan kepentingan hidupnya. Karena makanan manusia bisa mulia atau celaka. Salah satunya bemula dari sini; dari sepetak tanah kelahiran yang menjanjikan kemakmuran bangsa.

Apa ceritamu, Sobat?

Advertisements

32 thoughts on “Weekly Photo Challenge: Beginning

    1. Betul, Uni. Di Karawang Jabar yang menjadi salah satu lumbung padi nasional konon kian menyempit areal pertaniannya. Pernah dibahas khusus di Radio Elshinta beberapa waktu lalu. Bukan semata-mata karena minat petani pupus, melainkan juga karena serbuan mall yang kian meluas, meluassss….

      Like

  1. aku kalo lihat sawah yang menguning seluas mata memandang, aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga sawah ini masih ada kelak dan bisa menghasilkan beras buat dijadikan nasi untuk dimakan oleh anak cucuku…..
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

    Like

    1. Aamiin, semoga harapan itu terwujud ya Mas. Tapi saya juga yakin bahwa ketika padi tidak bisa kita hasilkan, manusia tentu mengupayakan berbagai cara sebagai alternatif pengganti. Salam untuk keluarga Mas Hari dari blogger Kota Hujan 😀

      Like

    1. Sangat memprihatinkan, Mas. Entah populasi manusia yang kian bertambah ataukah kita yang tak cukup memiliki satu rumah saja sehingga sawah dan ladang pun kita tanami bangunan. Segera meluncur, Mas.

      Like

  2. Dulu waktu saya kecil jika pulang dari Bekasi ke Cikampek sepanjang jalan banyak sawah (bukan jalan tol) tapi saat ini yang banyak malah pabrik

    Like

    1. Itulah Mbak Lidya, itulah yang kita lihat sekarang. Saat saya pulang kampung juga sudah ada beberapa rumah yang merangsek ke areal persawahan. Semoga 2014 menjadi awal yang baik untuk kita semua ya Mbak.

      Like

  3. Kalau lihat sawah jadi keinget masa kecil, sering main layangan sampai kulit jadi menghitam. Tapi entah kenapa tidak pernah rasakan panasnya, yah mungkin karena suasana sawah yang mendamaikan jiwa. 😀

    Like

    1. Mungkin juga karena cuaca zaman dulu yang belum ekstrem ya Mas. Dulu mungkin ozon belum bocor dan lain sebagainya. Kini udara di mana saja cenderung panas. Terik matahari begitu menyengat kulit. Tapi hati tetap harus damai 😛

      Like

      1. Ada sawahnya khan beda..ladang Gandum sama ladang bunga Raps yg buat dibuat minyak goreng hehe
        Beda sekali dgn di indonesia, sawah yang bertingkat eh bertingkat2 khan,,?? Terus kangen berjalan di pematang sawahnya, kangen aroma tanah dan Padinya pokoknya kangen berat deeeh

        Like

        1. Iya ya Teh. Karakter sawah dan gaya bertaninya tentu beda ya. Kapan-kapan mau dong Teteh kasih bocoran tentang model sawah dan jenis tanaman mereka.

          Tapi memang aroma kampung halaman tak lekang dalam memori, secara tempat kita dilahirkan gitu loh 😛 Rencana kpan balik ke tanah air? semoga dimudahkan.

          Like

          1. InshaAllah nanti posting, ya itu lah teteh, belum berjiwa blogger hehe
            Masih abal-abal 😀

            Aamiin…pengennya mah tahun ini, tp kelihatannya harus diundur ke tahun depan..but semoga saja Allah mengabulkan keinginan teteh pulang awal Agustus ini ..

            Like

  4. Bapak saya petani murni, Kangmas, di Jombang sana.
    Sawahnya (juga tegalan) tidak terpengaruh untuk dijual.
    Padahal, di sekitarnya sudah satu-satu yang dijual kepada para pemodal (pengembang perumahan dlsb)

    Like

    1. Bagus, Mas. Menikmati beras dan aneka tanaman dari tanah yang diolah sendiri tiada tara loh. Setiap tetes keringat rasanya terasa legit dan maknyus dengan bumbu rasa syukur. Semoga di Jombang masih banyak sawah dan ladang. Sebab perumahan memang sekarang sudah menyerbu kampung-kampung. Miris.

      Like

  5. Sawah? Ah makin habis saja nih sekarang. Kalau gak tergerus oleh pembangunan pabrik ya tergerusnya oleh pembangunan perumahan. Padahal itu sumber pangan. Dulu ada istilah Karawang sbg lumbung padi. Sekarang mungkin tidak lagi ya? Karawang sekarang jadi lumbung pabrik..
    Ah menyedihkan. Makanan pokok akhirnya harus di impor…

    Like

  6. saya sangat prihatin dengan sawah di Indonesia yang semakin lama semakin berkurang dengan didirikannya bangunan-bangunan dan rumah. Indonesia sebagai negara agraris pun sangat disayangkan kalau harus import dari luar negri

    Like

    1. Walaupun terlihat materiil, makan sebenarnya sangat penting ya Mbak. Orang bertindak baik atau buruk sering kali juga terdorong karena kemampuan atau ketidakmampuan untuk makan. Dari sawh semua bisa berawal.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s