250 juta & tragedi Porong
Tahun 2007 budayawan dan rohaniwan Franz Magnis Suseno menolak sebuah penghargaan atas sumbangannya terhadap pemikiran sosial di negeri ini. Nurani Franz tak mampu menyembunyikan derita warga Porong yang dicekam lumpur panas begitu rupa. Lalu tahun 2010 sastrawan Sitor Situmorang juga mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Daoed Joesoef melakukan penolakan serupa atas penghargaan senilai 250 juta tersebut. Mereka membela idealisme yang mereka yakini, bahwa sebagai manusia mereka disatukan oleh semangat kemanusiaan walaupun berbeda agama dan wilayah geografis.
Bagi kalangan blogger, entah bingung kayak apa bila mereka diganjar duit sebesar itu. Saya ingat dulu seorang penyair kawakan yang berniat akan membayar tagihan kartu kreditnya serampung menerima uang dari penghargaan ini. Yang jelas hadiah ini bukanlah uang recehan bagi kebanyakan kita saat ini. Namun beberapa tokoh di atas telah menunjukkan bahwa idealisme bisa mengalahkan urusan perut semata. Mereka tak khawatir kehilangan rezeki begitu besar sebab mereka berpegang teguh bahwa Tuhan menyediakan iming-iming yang jauh lebih fantastis ketimbang harus “menjual” hati nurani atau idealisme.
Kuitansi kosong
Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita tentang proyek cetak media publikasi di lembaga tempat dia mengabdi. Dia tahu bahwa selain penerbitan saya juga melayani jasa pencetakan. Dengan mengambil margin profit yang kecil, maka saya berani menawarkan harga cetak yang relatif lebih murah. Saya pikir dengan harga murah mereka akan tertarik menggunakan jasa cetak kami. Namun, ternyata masalah tidak sesederhana itu. Kompetitor saya sebelumnya (yang menjadi langganan cetak mereka) bisa menyediakan kuitansi kosong untuk diisi pihak pemesan.
Beranikah saya melakukan hal yang sama (memberi kuitansi kosong)? Begitu tanya teman saya. Saya spontan menolak. Bukan karena sok suci atau sok ganteng kaya, tapi saya mencoba meniru Kang Pakies yang menolak melakukan hal serupa bagi pelanggannya yang meminta kuitansi kosong. Bagi saya ini aksi kecil yang strategis untuk membangun sikap mental dan kepribadian saya. Entahlah apakah ini bisa disebut idealisme. Sebesar apa pun keuntungannya, rasanya hati saya terusik karena saya memudahkan persekongkolan. Itu saja.
Guru yang ikhlas
Kisah terakhir ini saya cuplik dari blog seorang sahabat di sini. Disebutkan seorang guru bernama Pak Kho. Dia ini tipe guru tulen, mengajar karena panggilan jiwa dan tuntutan menyebarkan ilmu. Jebolan pesantren, ia hanya berambisi untuk menularkan ilmunya sebagai bagian dari ibadah, tidak lebih. Ia kemudian pulang kampung dan mengajar di sekolah swasta.
Atas desakan kepala sekolah, Pak Kho akhirnya bersedia menuntaskan pendidikan S1 dan mengajukan sertifikasi walaupun terpaksa. Dokumen yang dibutuhkan ia isi sesuai prosedur dengan menuliskan apa adanya tanpa rekayasa. Aplikasinya ditolak. Lalu sang kepala sekolah turun tangan dengan membantu pengajuannya. Kali ini diterima padahal banyak keterangan palsu yang dimasukkan dalam pengajuan itu. Pak Kho geleng-geleng sebab sudah terlibat dalam kebohongan. Nuraninya menangis dan miris. Saat jujur, malah tak mujur. Saat berdusta, malah berjaya. Inikah Indonesia kita?
Tidak, Indonesia tidak demikian. Para penghuninya yang mungkin begitu. Dan bukan, bukan kami tak butuh uang. Kami perlu uang, tapi tentu dengan cara yang sesuai dengan keimanan.
Lebih baik jualan martabak untuk mendapatkan martabat daripada jualan martabat untuk mendapatkan martabak
Jika saya menulis buku hanya semata B/U
Maka saya sudah berhenti pada buku perdanaku
Salam hangat dari Surabaya
LikeLike
Sepakat dengan pendapat Pakde. Bekerja halal asal tidak merugikan orang lain.
Sebarkan manfaat, begitu kan de?
LikeLike
Nurcholish Madjid pernah menulis : “Dorongan kepada perbuatan baik itu sudah merupakan ‘bakat primordial’ manusia, bersumber dari hati nurani – yang dalam bahasa arabnya nurani bersifat nur atau terang – karena adanya fitrah manusia.”
Tetapi memang untuk sekedar mempertahankan ‘bakat primordial’ butuh kesungguhan, dan mungkin saja banyak pengorbanan. Tapi selalu ada jalan bagi hambaNya yang bekerja keras.
Terima kasih pengingatnya mas. 🙂
LikeLike
Memang butuh perjuangan, Mas. Tak mudah tapi bisa dilakukan, apalagi bila bersama-sama.
LikeLike
Mending pak Kho mundur saja dr kerjanya.
Saya kok ikut idealis ya?
LikeLike
Pak Kho akan mempertimbangkan yang terbaik, Mbak. Kita doakan ya.
LikeLike
malah ada yang karena jujur, tidak naik jabatan…
LikeLike
Nah, itulah Mbak. Tapi buat apa naik jabatan berkat ketidakjujuran Mbak. Sengsaraaa….
LikeLike
Hmmm… Jaman skg hanya 1 dari berjuta2 orng yang bs bersikap seperti itu mas. Harus mulai dari diri sendiri..
LikeLike
Yuk!
LikeLike
Memang susah mempertahankan idealisme ya. Moga kita tetep selalu ditunjukkan mana yang benar dan yang salah
LikeLike
Iya, Mbak. Aaamiin. Sukses terus ya!
LikeLike
Sharing yang bagus mas. Semua memang butuh uang, tapi tidak segalanya bisa dibeli dengan uang. Saya suka saat mas bilang menolak kuitansi kosong itu. Kalau memang sudah suratan untuk mas, akan datang job lain yang mungkin lebih besar.
LikeLike
Betul, Mas. Memang berat menolak, tapi pasti ada jalan lain asal kita tak berhenti berusaha. Semangat! 🙂
LikeLiked by 1 person
yang halal pasti nikmat
LikeLike
Demikianlah, Mbak.
LikeLike
Hanya orang-orang yang berhati baja yang sanggup menolak uang panas tersebut. Hati itu sudah dilindungi oleh Tuhan dan dipercaya Tuhan untuk menyebarkan nilai-nilai kebersihan hati kepada manusia.
LikeLike
Semoga ya Mas bisa menjaga hati.
LikeLike
sekecil apapun rupiahnya, akan tetap di pertanggung jawabkan di akhirat bukan? Keren deh sama mas belalang. Semoga Allah melimpahkan rezekiNya ya.. aamiin..
LikeLike
Berusaha dari yang kecil, Isha. Semoga kita dianugerahi rezeki yang halal dan berkah ya 🙂
LikeLike
Lebih baik banyak tapi berkah dari pada banyak tapi mendapatkannya dengan cara kotor. 😀
Ini juga dialami oleh suami saya, ketika mencari sumber rezeki kemudian ada yang menawarkan pekerjaan dengan penghasilan yang besar, namun berhubungan dengan riba. Ditolaklah (karena idealisme kami yg nggak mau bersentuhan sama riba-sekecil apapun). Sekali lagi Bukan Kami Nggak Butuh Uang, tapi ya karena itu tadi… seperti yang mas Rudi sebut di atas.
Selamat hari Jum’at yang penuh berkah. 🙂
LikeLike
Iya, Mbak. Fokus kita adalah pada yang halal dan bersih, tak peduli jumlahnya.
LikeLiked by 1 person
walaupun kata orang sedikit, tapi yang ngerasain berkahnya itu berasa banyak dan cukup aja, pas pasan = pas butuh pas ada 🙂
LikeLiked by 1 person
gak tenang kalau cara dapetin uangnya gak nikmat 🙂
LikeLike
Betul banget, Chi. Ketenangan batin lebih utama. Kalau ga benar caranya, pasti ga tenang hidup kita 😉
LikeLike
Saat jujur, malah tak mujur. Saat berdusta, malah berjaya.
Miris banget ngebayanginnya, tapi hal itu juga pernah berlaku padaku. Tinggal diri sendiri, mau berpihak pada nurani atau pada nafsu dunia.
LikeLike
Semoga keberpihakan kita pada nurani selalu mengundang pertolongan Tuha ya Mbak 🙂
LikeLike
Baru nemu posting ini. Duh, kayanya berat banget ya mengusung idealisme itu. Tapi sebenarnya kalau kita sudah menemukan apa yang paling berharga dalam hidup dan apa yang kelak bermanfaat di hari akhir, semuanya nggak akan terasa berat lagi. Nice post, Mas. As always 🙂
LikeLike