Waktu Mengubah Kita?

Beberapa hari lalu, lewat pesan di BBM, saya bercakap dengan seorang teman SMA dulu. Selain menjadi ibu rumah tangga, sehari-hari ia kini bekeja sebagai tenaga marketing rumah dan produk properti. Seperti kita ketahui, geliat properti di daerah saat ini tak kalah dengan perkembangan di kota. Banyak developer dan investor berlomba-lomba membangun kompleks perumahan ataupun ruko untuk dijual dengan harga yang ternyata tak jauh berbeda dari harga di kota. Namun menjual properti, walaupun nilainya terus meroket, bukanlah perkara gampang. Ini pula yang dihadapi oleh teman tersebut.

Saya pun berujar ringan, “Ga pengen coba daftar jadi CPNS aja?”

Dia spontan menjawab, “Otakku ga nyampe, cuy. Kemarin ditawarin Zac tanpa tes 200 juta. Emang duit dari Hongkong!”

“Waduh, mending jualan rumah aja daripada kamu masuk jd CPNS tanpa tes tapi bayar. Masuknya aja nyogok, mau jadi apa nanti?” Demikian sergah saya sok tahu.

“Susah banget lolos tesnya!” keluhnya.

Saya lalu menimpali lagi dengan optimisme, “Coba saja dulu, siapa tahu beruntung.”

Yang membuat saya terhenyak bukan ketidakyakinan teman agen properti ini untuk menjadi CPNS. Hati saya berdegup kencang saat membaca bahwa Zac menawarinya jadi CPNS tanpa tes dengan syarat membayar 200 juta. Zac adalah salah seorang sahabat saya sewaktu SMA. Bersama tiga sahabat lain, kami sering “menggelandang” di sekolah, mengelola majalah dinding dan saling membantu dalam suka maupun duka.

Zac kini bekerja sebagai PNS di Jakarta mewakili daerahnya. Dia piawai bermain musik juga bersuara merdu sehingga pernah memenangkan lomba saat SMA dulu. Lalu ada Ian yang kini berprofesi sebagai jurnalis di Surabaya. Ian juga bersuara merdu tapi tak bisa memainkan alat musik. Ia sering menjadi qari di banyak acara. Selain mereka, masih ada dua sahabat lagi, yakni Leo dan Nico. Leo pandai menggubah puisi dan juga bersuara merdu. Kini ia menjadi guru SD bidang seni dan musik di Malang selepas menamatkan pendidikan S2 di universitas negeri kota yang sama. Adapun Nico, seperti Zac, juga punya suara bagus dan jago bermain musik. Kini Nico membuka toko batik di Gresik sambil bergiat di program PNPM yanag dicanangkan pemerintah.

Zac, Ian, Leo, dan Nico pernah membentuk grup vokal saat SMA dulu dan tentu saja terkenal di antero sekolah. Kami berlima sering disebut grup tak jelas namun akhirnya kami semua berhasil diterima di universitas negeri melalui jalur PMDK. Kami saling mengenal dan boleh disebut sebagai Laskar Pelanggan, karena langganan menginap di sekolah dan kadang berutang di kantin seberang sekolah, hehe.

Maka saat membaca kabar bahwa Zac menawari teman untuk jadi CPNS tanpa tes dengan menyogok, saya pun melongo sampai ngiler. Seperti petir di siang bolong. Ibarat hujan salju di Pantai Utara. Tak percaya, sungguh tak percaya. Betulkah Zac yang saya kenal telah berubah sedemikian rupa? Di rumah ia anak yang pendiam, sementara di sekolah ia anak yang riang dan supel. Memang pernah kudengar berita miring lain tentang dia belakangan ini. Terakhir ketemu dia empat tahun lalu.

Betapa waktu sudah mengubahnya. Sungguh masa telah menyulapnya menjadi pribadi yang berbeda. “Zac sekarang bukan Zac yang kita kenal dulu, bro! Udah berubah!” begitu kata teman penjual properti. Mungkin saya ditertawakan dengan merasa aneh atas perubahan diri Zac. Tapi sungguh saya terkesiap betapa waktu bisa mengubah seseorang.

Bukan! Setelah saya pikir-pikir, bukan waktu yang mengubahnya. Waktu selalu melingkupi manusia, tapi dialah yang membiarkan dirinya diserap oleh pengalaman atau dibentuk oleh peristiwa yang dilaluinya. Memang ada proses-proses alami yang tak mungkin dihindari, namun kekuatan kehendak dan nyala nurani selalu bisa dihadirkan atau dimatikan kapan saja.

Semoga kabar tentang Zac hanya isapan jempol belaka.

Advertisements

10 thoughts on “Waktu Mengubah Kita?

  1. Aamiin ya mas, semoga nggak bener.

    Suka bagian: dialah yang membiarkan dirinya diserap oleh pengalaman atau dibentuk oleh peristiwa yang dilaluinya

    Semoga kita termasuk orang-orang yang nggak membiarkan diri berubah ke arah yang tidak baik, aamiin.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s