Sepulang Dari Rumah Sakit

Sepulang dari rumah sakit, langsung deh ikut #SabtuRebahan. Sabtu sore selepas Asar badan terasa capai jadi saya lanjutkan istirahat sampai waktu magrib. Habis shalat Magrib pun rebahan masih jadi pilihan. Sampai bangun tengah malam buat Isya’an. Walau cuma 4 hari menemani Bunda Xi di rumah sakit, entah kenapa rasa lelah tak sudah-sudah. Mungkin sebab tak bisa tidur nyaman, ditambah beban pikiran.

Sepulang dari rumah sakit, esok paginya, jelas terlihat tumpukan baju kotor yang didominasi punya duo Xi. Mereka masih menginap di rumah Mbah Uti sejak sebelum Bunda diopname. Walau liburan ke Malang batal, mereka tetap gembira karena bisa berenang bersama para sepupunya di kolam renang favorit, juga berkunjung ke Pantai Kelapa bersama-sama.

Bergerak ke kamar depan, sepulang dari rumah sakit, cucian bersih tampak menggunung seolah memanggil-manggil agar cepat diseterika dan dilipat. Akhirnya cukup dirapikan dengan lipatan sekenanya, asalnya enak dipandang dan mudah ditumpuk lagi. Solusi cepat sesuai kondisi badan yang belum sepenuhnya sehat.

Cuci sendiri

Sempat terpikir untuk mengirimkan pakaian kotor ke laundry saja. Saya tak setuju karena secara personal mendapatkan laundry yang bagus bukan perkara mudah. Cara mencuci dan higienitas jadi problem utama. Sebenarnya problem tak kalah penting adalah uang, tak bisa dimungkiri. Sepulang dari rumah sakit tentu saja kami mengeluarkan biaya cukup besar, apalagi tanpa dukungan BPJS.

Sepulang dari rumah sakit, menulis di blog masih rutin terjaga. Rutin maksudnya bukan setiap hari, tetapi update setidaknya dua hari sekali untuk artikel organik termasuk tulisan tentang kilas balik 2019. Oh iya, awal Januari ada tulisan pesanan yang kukerjakan dengan penuh kegembiraan. Honornya tidak besar, malah cenderung kecil, tetapi topiknya asyik sehingga kutulis dengan hati-hati dan apik.

Tak habis pikir

Sepulang dari rumah sakit, masih tak habis pikir ternyata ada pembeli online yang mau membayar separuh harga bahkan sebelum bertemu. Begitu percayanya dia sama penjual; entah karena kasihan sama saya ataukah pernah mengalami musibah serupa. Sempat tebersit ia sebenarnya mau menipu sebab tak mencoba menawar harga dan begitu saja mau membeli barang dari orang asing.

Sepulang dari rumah sakit, gairah ikut lomba masih redup. Padahal banyak info lomba bertebaran. Penyebab utama sepertinya lantaran belum ada lomba yang benar-benar cocok untuk diikuti. Belum ada ide yang cukup kuat untuk diolah jadi tulisan yang memikat sehingga layak dimenangkan. Akhirnya hanya memoles artikel lama yang belum masuk tenggat.

Ingat waktu

Sepulang dari rumah sakit, jam tangan kesayangan mengalami masalah. Indikator angkanya berlesatan ke sana kemari, mirip kaki-kaki lincah penari balet atau penari lantai yang gemulai memainkan gerakan indah. Jarumnya masih berjalan sempurna, menunjukkan waktu sebagaimana mestinya. Hanya saja, angka romawi bergeser tak tentu arah sehingga harus konsentrasi saat meneliti waktu agar presisi. Begitu mengunggahnya di story Instagram, yang nge-link ke Facebook, hari-hari berikutnya aku diserang iklan jam Seiko yang tahan air.

Butuh jam tangan baru

Sepulang dari rumah sakit, honor atau fee menulis belum juga cair. Mundur cukup lama dari waktu yang dijanjikan. Upaya penagihan sudah dilakukan, tetapi kantor brand konon tengah banyak liburan. Waktu reportase awal Desember dan pembayaran belum cair hingga sebulan kemudian. Liburan akhir dan awal tahun jadi biang keladi, kabarnya demikian.

Hujan dan kesadaran

Sepulang dari rumah sakit, Lamongan diguyur hujan nyaris setiap hari. Hujan bukan sembarang hujan, tetapi hujan beneran yang deras dan menyeramkan karena disertai petir dan angin kencang. Di Surabaya pohon-pohon ikut bertumbangan. Di Jakarta dan sekitarnya jangan ditanya lagi. Banjir melanda begitu parah, melumpuhkan lalu lintas dan bahkan memakan korban jiwa. Hujan terus turun dan hati hanya bisa berdoa. Bukan agar banjir surut tetapi agar manusia semua paham bagaimana memperlakukan alam dan memperhatikan ucapan.

Kalau hujan surut dan pergi, perilaku lama terulang kembali. Lupa pada apa yang sudah terjadi pada saat air langka nanti. Begitu juga kondisi pribadi. Sesat lalu tersadar. Maksiat lagi dan memohon ampun. Kembali berdosa dan lupa pada apa yang sudah jadi komitmen sebelumnya. Inikah lingkaran yang akan kita pelihara?

Sepulang dari rumah sakit, apakah ada beda antara sehat dan sakit kalau kesehatan justru melenakan dan rasa sakit malah menumbuhkan kesadaran untuk berdekatan dengan Tuhan?

1 Comment

  1. Inii yang sakit bundanya anak-anak ya, Mas. Semoga lekas sembuh dan terus sehat ya. Soal lomba, sama nih udah nandain beberapa (karena hadiahnya menggiurkan) tapi kok belum nemu greget buat garap. Feel-nya belum dapet.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s