Tak Ada yang Sia-sia (1): Jatuh Cinta Pada Puisi

Saya memang jatuh cinta pada puisi atau sajak. Namun rasa cinta itu awalnya berwujud rasa benci. Di tahun-tahun awal di bangku SMP puisi membuat saya jengah. Ini gara-gara seorang teman yang jago membawakan puisi dan juara di beberapa perhelatan. Sayangnya, saya kerap melihatnya membawakan puisi dengan cengeng, mendayu-dayu, dengan tangisan dan air mata. Kesan yang saya tangkap kala itu adalah bahwa puisi cenderung sayu, muram, dan menyedihkan—dan tidak mengekspos kekuatan. Itulah yang membuat saya jengah terhadap puisi.

Semuanya berbalik saat seorang guru bahasa Indonesia, sebut saja Pak Hari, memberikan tugas kepada kami untuk menulis puisi tentang Gunung Galunggung. Saya kebetulan berkesempatan membawakan puisi gubahan saya di depan kelas. Tentu saja tanpa mimik sedih dan pembawaan yang melankolis. Turut tampil juga di depan adalah teman sekelas yang sudah langganan mengharumkan nama sekolah sebab kerap menjuarai kontes baca puisi di banyak tempat.

Menepi di Bengawan Solo

Respons Pak Hari cukup positif. Dan momen itulah barangkali yang menjadi pemicu minat saya pada puisi. Pada saat ujian Ebtanas, saya bersama seorang teman menyepi di rumah teman kami di Widang, Tuban yang lokasinya tak jauh dari Bengawan Solo. Kami diterima dengan baik selama menginap di rumah kawan tersebut. Kami membawa beras sendiri, lalu belajar dan makan bersama. Kesan selama tinggal tiga hari di rumah itu ternyata membuahkan banyak puisi yang memenuhi buku diary saya. Sayang sekali buku itu kini raib entah ke mana.

Lalu vakum hingga kelas 2 SMA. Saat mendapat tugas menulis puisi dari guru bahasa Indonesia, saya menulis:

Aku ini hitam

Legam

Kalau kau mampu

Catlah diriku

Puisi berjudul Catlah Diriku tersebut ternyata diganjar yang besar, mendekati angka 9. Banyak teman yang protes mengapa puisi pendek itu mendapat nilai bagus. Saya cuek walau dituduh dianakemaskan. Ini mengobarkan lagi semangat menulis puisi. Apalagi selama SMA banyak teman yang juga menggandrungi puisi. Kami pun terus menulis puisi, apalagi ketika menginjak kelas 3 kami mendapat tugas mengelola majalah dinding dengan bekal satu buah mesik ketik. Entah berapa banyak puisi yang kami gubah, dengan berbagai tema dan kualitas tentunya. Hingga suatu hari muncullah keinginan mengirimkan puisi karya kami ke Majalah Horison majalah sastra yang tersohor itu. Kami sering membaca puisi-puisi di dalamnya dan merasa mampu mengirimkan puisi dengan kualitas sama.

Setelah diadakan seleksi satu sekolahan, terkumpullah sekian puluh puisi yang akan dikirimkan ke majalah tersebut. Dengan ditemani pengantar dari Pak Garin guru seni yang membina teater, himpunan puisi itu pun meluncur ke Jakarta. Sungguh di luar dugaan, ternyata puisi itu tak pernah diterbitkan. Sedihlah kami, namun tetap menulis puisi sampai kami lulus.

Dimuat di media

Setamat SMA, saat mengikuti matrikulasi kuliah, saya iseng mengirimkankan sebuah puisi di koran lokal yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. Puisi yang saya tujukan untuk seorang guru tersebut ternyata dimuat. Walau tak ada honor atau hadiah, sungguh senang luar biasa. Apresiasi dari penyair lokal, juga para guru di SMA sungguh membesarkan hati. Setelah itu, semakin banyak puisi saya dimuat di media yang sama, juga di media lokal lainnya. Ada yang dapat honor ada juga yang cuma-cuma. Honornya lumayan loh buat anak kuliah, hehe.

Lalu bagaimana gairah saya dalam bersajak semasa kuliah? Saya ceritakan pada postingan berikutnya. Ini sudah lewat 500 kata, hehe.

Advertisements

5 thoughts on “Tak Ada yang Sia-sia (1): Jatuh Cinta Pada Puisi

  1. Yaaah … padahal penasaran.
    Saya tahu kenapa dapat nilai 9 …. karena bagus
    Saya gak ngerti puisi tapi koq bisa ya sedikit2 merasakan mana puisi yang bagus. Yang paling unik kalau pendek lalu pilihan kata2nya oke dan bikin imajinasi melayang2 lalu saya merasa mengerti.

    Like

    1. Saya juga kerap mengalami demikian, Mas. Yang menarik adalah kita sebenarnya bisa menciptakan arti sendiri loh dari puisi karya orang lain. Berbeda dengan maksud penulisnya malah lebih asyik 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s