Tak Ada yang Sia-sia (2): Menggeluti Puisi

Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang awal mula menyukai puisi hingga memasuki bangku kuliah. Memulai dunia mahasiswa, saya kian tertarik pada dunia persajakan. Ada aura magis yang menyedot perhatian saya pada puisi. Saya gandrung baik menulis maupun membacanya. Memilih jurusan sastra rasanya memang tepat sebab saya benar-benar menikmatinya–ditambah dengan ekstase dari kegiatan berpuisi.

Mengenal banyak penyair
Hampi setiap hari saya menulis puisi, meliputi berbagai tema dan aneka gaya. Maklumlah, sebagai penyair amatir (bahkan hingga kini), eskpresi puitik saya dipengaruhi oleh sajak-sajak yang saya baca. Mulai dari penyair kawakan periode lama hingga penyair-penyair kontemporer semuanya saya baca. Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Taufik Ismail, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, dan Danarto adalah beberapa nama yang sudah kesohor di jagat puisi Indonesia. Buku kumpulan penyair senior asal Bali Putu Oka Sukanta bahkan sudah saya lahap habis saat masih di SMA walaupun tak paham isinya. 😀 Penyair-cum-kiai asal Madura D. Zawawi Imron dan presiden penyair Sotardji Calzoum Bachri bahkan pernah saya jumpai secara langsung. Pun juga Sapardi saat dia memberikan kuliah di Undip Semarang.

Penyair-penyair kontemporer seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Tan Lioe Ie, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Afrizal Malna, Kurnia Effendi, Agus R. Sarjono, Ahmadun Yosi Herfanda (yang terkenal dengan Sembahyang Rumputan), Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Hamdy Salad, Herdi Sahrasad, Joko Pinurbo dan masih banyak lainnya. Selain lewat buku dan jurnal, karya-karya mereka saya nikmati kebanyakan melalui koran hari Minggu pada rubrik sastra. Setiap Senin saya akan merapat ke perpustakaan wilayah Semarang di Jl. Sriwijaya untuk ‘mengunyah’ puisi-puisi yang dimuat hari Minggu dari semua surat kabar.

Gambar dari www.theartmad.com
Gambar dari http://www.theartmad.com

Jujur saja, saya tak selalu mengerti apa maksud setiap puisi yang saya bisa, namun jelas ada kenikmatan dan daya magis melalui jalinan kata-kata yang sublim itu. Selain mendapat hiburan, saya juga mempelajari jenis-jenis puisi yang ditampilkan di semua koran tersebut agar bisa saya sesuaikan dan kemudian mengikuti jejak mereka nongol di media cetak.

Oh iya, nama-nama penyair yang tak boleh dilupakan sebab kekhasan dan kekuatan mereka adalah Gus Mus atau KH Mustofa Bisri yang sering menggelitik dengan ekspresi yang sederhana, Widji Tukul seorang pengayuh becak yang kemudian hilang dalam tragedi penculikan aktivis, juga WS. Rendra yang begitu flamboyan. Yang terakhir ini sangat mempesona saat membawakan puisi di atas panggung. Apalagi setelah dia memeluk Islam, puisi-puisinya kaya dan maujud dalam makna yang transenden.

Semakin menyelami puisi, semakin pula saya hanyut dalam kenikmatan estetis. Luar biasa. Saya takjub pada kekuatan kata-kata yang berhasil dipilih dan disusun menjadi sajak yang penuh daya. Hal ini pula yang membuat saya semakin mengakrabi Al-Quran sebab ayat-ayatnya sangat puitis. Paus sastra HB Jassin bahkan pernah mengerjakan karya terjemahan Al-Quran dalam versi puitis walaupun saya belum pernah membacanya langsung.

Serangan puisi
Dalam kenikmatan menggeluti dunia puisi, tak jarang saya justru didera oleh serangan kata-kata. Kata-kata itu menggedor-gedor otak dan hati seolah ingin segera dimuntahkan dalam bentuk tulisan. Bila sudah demikian, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Kala itu saya belum punya mesin ketik apalagi komputer. Bila bisa saya tulis di buku atau kertas, saya tulis. Namun bila invasi kata-kata itu begitu meluap-luap, saya kadang harus rela begadang. Biasanya saya akan mengayuh sepeda dari kos menuju rental komputer. Saya bisa berjam-jam di sana, mengetik puisi hingga mencetaknya sekalian. Dengan demikian saya bisa tidur lelap dan tenang. Esok paginya akan saya baca kembali dan mengoreksinya kalau-kalau ada dorongan untuk mengganti atau menambahkan kata/kalimat.

Begitu banyaknya puisi tersimpan di komputer rental, hingga suatu hari seseorang tampaknya akan menyabot puisi saya, walaupun sudah saya proteksi dengan password. Celakanya saya pelupa, sehingga ada beberapa puisi yang tak bisa saya buka lantaran lupa kata kuncinya. Hehe. Seorang teman menyarankan agar saya mengambil sikap tegas. Apa usulannya? Lalu bagaimana nasib begitu banyak puisi yang sudah saya tulis?

Nantikan lanjutannya ya. Nanti bakal ada kejutan menggembirakan kok. Terima kasih.

Untuk menutup tulisan kali ini, saya tampilkan sebuah puisi pendek yang tidak terencana. Suatu hari saya terjebak hujan lebat di dalam kos sejak pagi hingga malam. Tak bisa keluar sebab tak punya kendaraan walau sekadar untuk cari makan. Untuk mengabadikan hujan seharian itu, saya menulis:

Hujan mengental
malam

Terima kasih telah berkenan membaca.

Advertisements

11 thoughts on “Tak Ada yang Sia-sia (2): Menggeluti Puisi

    • Jangan ragu atau khawatir untuk menampilkan puisi di blog, Mbak Anggi. Puisi bagus atau jelek tidak ditentukan oleh medianya (entah koran cetak atau media digital), juga bukan oleh respons pembacanya. Tampilkan saja. Minimal bisa melepaskan lapis-lapis kelelahan dalam diri, plus melatih mengungkapkan perasaan/pengalaman dalam bentuk yang singkat dan efektif. Semangat!

      Like

  1. Saya jg suka puisi. Klo ada ide suka nulis di otak dulu, tp krn gak langsung ditulis jd ilang semua… 😀
    Tp beruntung klo yg disukai sesuai dg background ya, jd nyambung & beraturan

    Like

  2. saya suka baca puisi di koran dan punya satu buku milik Sapardi Djoko Darmono, walaupun kadang ada untaian katanya saya gak ngerti tapi tetep aja suka baca. Dan saya salut sama yang buat puisi *karena saya gak bisa*, memilih kata yang tepat di puisi itu gampang-gampang susah 😦 ayo mas ditulis lagi puisinya..

    btw, udah lama yak saya gak main ke sini >.<

    Like

    • Iya, saya juga suka baca puisi di mana saja, Mbak. Sama juga kalau saya juga pernah ngadepin kata-kata atau kalimat yang dipaham, tapi tetap menikmatinya. Hehe.
      Sekarang masih nulis kok, tapi ga seintensif dulu. Buat menyalurkan hobi aja, hehe. Ternyata kebiasaan nulis puisi ada manfaatnya di kemudian hari. Tunggu kelanjutan kisahnya ya 🙂
      Terima kasih sudah mampir lagi. Lagi di Solo atau Manado nih? Masih nulis fiksi?

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s