Menafsirkan Musibah

Awal bulan ini saya mendapat kado dari Tuhan. Selama sepekan lebih saya harus bed rest akibat sakit yang tentu saja tidak terencana. Setelah bolak-balik ke rumah sakit, rasanya malah capek lantaran terlalu lama istirahat.

Ingin rasanya segera beraktivitas kembali dan alhamdulillah sekarang kondisi telah pulih. Tebersit sesal sebab Jumat pekan lalu harus absen dari Bernas Bogor padahal ada rekan blogger yang menitip donasi lewat saya untuk dibagikan saat ngider.

Di sela masa istirahat, saya tepekur dan bergumam, “Ya Allah, mungkin dosaku begitu banyak hingga Kau beri aku sakit seperti ini.”

“Hei! Lancang betul omonganmu! Hati-hati kalau bicara!!” sergah Belalang Cerewet tiba-tiba. Protesnya tentu mengagetkan saya.

“Hati-hati gimana sih? Bagian mana yang menurutmu lancang?” saya jelas enggak terima.

“Kalem aja, Sob. Itu tadi kamu bilang ‘mungkin dosaku begitu banyak..’ kan? Ya kan ya kan?”

“Ember! Terus?”

“Pliss deh ah, kamu itu manusia biasa, Rud! Jangan sekali-kali bilang ‘mungkin‘ soal akumulasi dosa. Jelas banyak, ga usah pake mungkin segala. Paham?!”

Dosa dan kesulitan

Ucapannya menyerang begitu rupa, tak bisa dibendung. Baru akan saya tangkis balik, dia sudah menghilang seperti biasa. Tapi jujur saja, saya pun sebenarnya tak punya bahan untuk mengelak dari tuduhannya. Setelah dipikir, memang banyak kok dosa ini. Bukankah manusia tempat salah dan lupa?

“Okelah saya ngaku emang banyak dosa. Tapi kan ya di luar sana banyak juga orang-orang yang dosanya bejibun. Kayak koruptor, pengemplang pajak, penilep uang proyek untuk rakyat, dan lain-lain. Kayaknya mereka kok bugar dan sehat aja yak?!” saya membatin lagi–kali ini lebih lirih agar tak disergap si belalang yang supercerewet itu.

“Nah kan kamu sok tahu!” Eh dia nongol lagi. “Kamu tuh sok you know seolah-olah emang mereka banyak dosanya. Dari mana bisa tau heh? Lagian kalo emang mereka beneran banyak dosa, ya itu bukan urusanmu toh? Ya toh ya toh?” Dasar dia emang omongannya selalu menyakitkan.

“Enggak gitu juga sih. Kalau mereka memang dosanya buanyak, mbok ya mereka aja yang dikasih penyakit atau rasa sakit. Hidupnya yang sempit–semuanya dibikin serbasulit. Gitu loh maksudku. Biar sama-sama kayak aku, hehe….”

“Gini ya tak kasih tau kamu biar ga ngeyel. Kesulitan, kemudahan, rezeki berlimpah atau berkurang, kesehatan atau penyakit, itu semua enggak selalu tanda bahwa penerima atau penderitanya orang laknat. Yang selalu sehat, belum tentu dia hebat. Yang kerap sakit dan hidupnya sulit, boleh jadi dia mulia di hadapan Tuhan. Miskin atau kaya itu sama-sama ujian kok Rud, makanya bisa jadi berkah atau petaka. Termasuk popularitas atau kesunyian setiap orang, itu juga bagian dari ujian. Itu aja sih kuncinya. Camkan ya,” ujarnya sambil ngeloyor.

Saya duduk termangu memikirkan ucapan si alter ego yang sering nyebelin banget itu. Sayup-sayup terdengar biola digesek, perlahan dengan sangat hati-hati, lalu bari-baris lirik mengemuka:

Dosa-dosaku seumpama butiran pasir di pantai…

Maka terimalah tobatku wahai Dzat yang Memiliki Keagungan

Umurku berkurang setiap hari

Sedangkan dosaku terus bertambah, bagaimana kumenanggungnya

 

Advertisements

10 thoughts on “Menafsirkan Musibah

    • Betul sekali, Mas. Sehat dan waktu luang adalah dua kenikmatan yang sering kita lalaikan dan baru tersadar saat keduanya tiada. Terima kasih atas doanya dan semoga Mas juga sehat selalu serta berlimpah rezeki bersama keluarga.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s