Pelajaran dari Nate Bowling

Belum lama ini Bill Gates, salah satu filantrofis dunia, mewawancarai Nate Bowling, peraih Teacher of the Year yang berasal dari SMA yang separuh siswanya adalah Afro-Amerika dan anak-anak Hispanik. Tak bisa dipungkiri di Amerika pun terjadi kesenjangan dalam pendidikan di mana lebih dari separuh muridnya hidup dalam kemiskinan.

g.png
Gates dan Nate, foto diambil dari http://www.gatesnotes.com

Ada tiga kutipan menarik dari Nate Bowling, sang guru pilihan tersebut, yaitu:

  1. Semua anak bisa belajar dengan baik asalkan mereka mendapat dukungan.
  2. Salah satu kesalahan yang selama ini diyakini adalah bahwa mengajar berarti soal kecakapan. Memang dibutuhkan dasar kecakapan untuk bisa mengajar, namun hanya karena Anda punya gelar Ph.D. dalam bidang tertentu tidak semata-mata menjamin Anda akan andal dalam menyampaikan materi. Mengajar terdiri dari sebagian materi, dan sebagian lagi trik mudah yang bisa dipelajari.
  3. Bila kita ingin menciptakan masyarakat yang lebih baik, maka semua dimulai dari sekolah. Dan jika kita hendak membangun masyarakat yang lebih baik melalui sekolah, maka itu bisa dicapai dengan pola pengajaran yang lebih baik.

Jadi, semua anak punya potensi dan ‘bakat’ yang unik–tugas gurulah menggali dan mengembangkannya. Jangan risau soal gelar dan sebaliknya jangan menyombongkan gelar sebab semua bermula dari ketulusan dan tekad untuk mengajar. Orangtua, apalagi ibu, punya sentuhan khusus untuk menyelami anak-anak sehingga bisa menjadi metode pengajaran yang ampuh.Sebagai pilar pembangunan, pemerintah harus serius menggarap dan menggagas kebijakan yang berpihak pada masyarakat demi kemajuan bangsa.

Sebisa mungkin orientasi pendidikan harus jelas dan digerakkan menuju pemberdayaan anak bangsa sesuai budaya dan ciri khas lokal. Jangan sampai unsur politik turut bermain dalam penentuan kebijakan pendidikan, apalagi berujung pada korupsi atau penyelewengan aser-aset pendidikan nasional.

Apa pun pilihan pendidikan yang ditempuh orangtua untuk anaknya, perlu dipastikan bahwa anak menikmati prosesnya dan media itu memaksimalkan potensinya. Jadi tak perlu lagi ada ledekan atau cibiran kepada anak yang tidak bersekolah di sekolah formal. Ada banyak opsi belajar selain sekolah. Sekolah hanya salah satu cara menimba ilmu, bukan satu-satunya.

Proses learning atau belajar harus berjalan di mana pun dan kapan pun tanpa harus diikat oleh batas formalitas atau institusi.

Advertisements

20 thoughts on “Pelajaran dari Nate Bowling

    • Semoga suara guru-guru, terutama dari daerah, diperhitungkan sebagai bahan untuk merumuskan kebijakan pendidikan ya. Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Kalau di sana ada diskriminasi pendidikan antara orang kulit putih dan negro atau non-white lain, maka di sini anggaran pendidikan harus ada penekanan untuk daerah-daerah tertentu–termasuk dukungan fasilitas dan guru-guru hebat.

      Like

    • Iya, Mbak Tita. Seolah tidak punya grand design yang bisa dipakai jangka panjang ya. Sudah pernah saya sebut di tulisan lain bahwa hendaknya menteri baru mencoba menyempurnakan atau mengerjakan yang belum tuntas pada kementerian periode sebelumnya. Tak perlu ganti kurikulum yang sudah digodok beberapa tahun terakhir dan bahkan baru saja diketok palu penggunaan resminya.

      Liked by 1 person

  1. Heran di negeri kita seperti gak punya cetak biru jangka panjang untuk bidang pendidikan. Tiap ganti mentri ganti kebijakan. Kalo atasannya mentri pendidikan gak punya visi tentang pendidikan memang parah.

    Like

    • Ya sepertinya begitu, Mas. Banyak pihak yang dirugikan dengan berganti-ganti kurikulum. Selain orangtua yang harus beli buku baru, penerbit juga kasihan karena harus merelakan stok buku kurikulum sebelumnya di gudang. Otomatis tidak bisa dipakai. Semacam ada ego untuk mengajukan kebijakan tertentu pada kementerian baru, apalagi bila kepala departemen dipilih dari partai politik. Nah….

      Like

  2. selalu mas rudy bahasannya berbobot, sekarang banyak alternatif pendidikan termasuk homeschooling ya, tinggal mau yang mana, asal anak jangan dipaksa dan sesuai dengan bakat masing2

    Like

  3. Inspiratif.. Andai semua guru seperti itu pasti murid2 tidak akan bosan bersekolah… Pengalaman yang saya lihat guru lebih mengejar materi dan jabatan sedang tugas sesungguhnya terabaikan… Semoga kedepan ada perubahan… Itu harapan saya demi anak2 generasi penerus bangsa

    Like

    • Sayangnya oh sayangnya, jumlah guru yang demikian semakin langka. Ya maklum juga Mbak tuntutan kebutuhan dunia modern begitu menyita energi mereka. Tapi saya optimis kok Indonesia bisa lebih baik asal pemerintah juga punya kepedulian untuk memajukan pendidikan dan kualitas guru.

      Like

  4. Menjadi guru yang baik harus mampu masuk ke alam peserta didik dan akhirnya mengajak ke alam pendidik. Dibutuhkan komunikasi yang efektif dan mumpuni. Hal ini juga berhubungan tingkat keluasan pengetahuan sang pendidik dalam menjawab pertanyaan peserta didik. Saya pernah merasakan itu lima tahun yang lalu dan cukup mengasyikan. Sayangnya saya harus hijrah ke pekerjaan lain yang dapat menutupi kebutuhan sehari hari.
    Salam Cring
    Deco

    Like

    • Anda betul, Bang Deco. Anak didik harus disentuh dengan bahasa mereka agar ilmu bisa diterima dengan baik. Memang seorang pendidik haruslah selalu menambah ilmu dan pengalaman agar bisa menjadi sahabat anak-anak yang dapat diandalkan. Saya setuju itu memang pengalaman yang mengasyikkan sebab saya pun pernah mengalaminya selama beberapa tahun. Semoga bisa kembali menginspirasi mereka ya Bang. Salam dingin dari Bogor. Brrr….

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s