Boleh, Asal Wangi

“AH, KALAU CUMA nulis buku kayak gitu aja sih siapa yang enggak bisa?!” begitu kira-kira ucapan seorang pembaca kepada seorang penulis. Penulis tersebut merupakan seorang dosen komunikasi UI yang terbilang produktif menulis buku populer. Dia mengisahkan komentar miring pembaca tersebut di sebuah milis yang beberapa tahun silam populer sebelum era Facebook sedahsyat saat ini.

Sependek pengetahuan saya, selain menulis tentang tips penulisan praktis, dosen yang sudah S2 tersebut juga menghasilkan buku-buku bisnis populer, termasuk buku tentang kisah sukses Bob Sadino yang kondang itu. Beliau menanggapi enteng komentar yang bernada merendahkan tersebut. Kenapa? Sebab mesti dipandang seolah mudah, beberapa tahun kemudian si pencela tersebut tak kunjung mampu menghasilkan buku yang konon ‘ringan’ itu.

Entengnya mencela

Begitulah, melontarkan kalimat bernada merendahkan memang sangat mudah seperti melempar ludah sendiri. Sebaliknya, melancarkan kritik yang berguna sungguh tidak mudah. Tapi entah kenapa, kecenderungan yang terjadi adalah dorongan untuk begitu mudah meremehkan karya atau pilihan hidup seseorang padahal nyata-nyata pilihan itu tidak melanggar undang-undang atau agama.

Oh, guru SD? Kirain guru SMP atau SMA gitu!” sergah seseorang kepada teman FB beberapa waktu lalu. Tak perlu kecerdasan hebat, selorohan itu jelas diluncurkan dengan semangat meremehkan guru SD yang seolah belum layak disebut guru yang punya prestise atau tingkat keseriusan tertentu.

Entah dia guru SMA atau bukan, pencela itu tak berhak merendahkan guru SD dengan alasan apa pun. Sudah menjadi rahasia umum, menjadi guru SD dituntut memiliki keterampilan dan kecakapan khusus baik dari penguasaan materi atau pengendalian emosi. Guru SD-lah yang meletakkan dasar-dasar pelajaran yang kelak tinggal dipupuk oleh guru-guru pada tingkat lanjutan.

bolehOm, capek, Om!

Maka tidak beralasan untuk mengerdilkan atau meninggikan peran guru level apa pun berbasis hal-hal yang absurd dan dangkal. Beberapa tahun lalu saya pernah melamar menjadi guru SMP di sebuah sekolah swasta di Bogor. Saat menjalani wawancara, ada seorang pelamar yang ternyata guru aktif di SD pada yayasan yang sama. Saat saya tanya kenapa tergoda pindah mengajar di SMP, jawabannya bisa ditebak, “Tidak mudah meng-handle anak SD, Mas! Capek fisik lumayan juga….”

Nah, sepenggal kisah di atas tidak perlu penjelasan panjang lebar lagi. Yang perlu dipertanyakan justru dorongan untuk meremehkan orang lain yang kini pervasif baik di dunia nyata maupun maya. Meliputi semua peran dan strata sosial.

Seperti contoh kasus di awal, guru SD dianggap kurang ‘keren’ dibanding guru SMP-SMA. Tidak berhenti pada itu saja. Ada lagi yang merasa bangga dan memandang rendah guru negeri dibanding guru swasta yang terkesan lebih prestisius. Belum lagi saling mengagungkan mata pelajaran diampu. Ada pula misalnya dosen yang meremehkan jabatan guru, atau dosen di kota besar merendahkan peran dosen di kota kecil atau di daerah.

Asal baunya wangi

Soal saling meremehkan, daftarnya bisa sangat panjang. Tidak melulu soal pendidikan. Yang ganteng/canting meledek yang kurang cakep, yang punya mobil memicingkan mata pada yang bermotor/pejalan kaki, yang punya rumah bermuka kecut pada yang mengontrak, yang pintar menghina yang bodoh, yang rajin ibadah meremehkan yang tampak kurang ibadah, yang punya koleksi barang mahal/mewah melirik jijik pada yang biasa saja, ibu yang bekerja sibuk ngomentarin ibu yang tinggal di rumah.

Selagi tidak mengganggu kita dan bertentangan dengan agama, hormatilah setiap keputusan orang lain sebab semua orang bisa mulia selagi pilihannya dijalani dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Untuk hal kedua ini kita tak pernah tahu dan tak perlu menebak-nebak motivasi pekerjaan seseorang.

Memang gampang bersikap merendahkan, termasuk saya pun pernah melakukan. Entah verbal atau tebersit dalam kesombongan. Setelah dipikir-pikir, kita sebenarnya boleh merendahkan orang lain, tapi dengan satu syarat: kalau pas ngeden wajah kita tetap cakep dan eek kita bisa wangi di hidung siapa saja.

Selamat berakhir pekan, BBC Mania!

Advertisements

18 thoughts on “Boleh, Asal Wangi

  1. Pas kali mas.. tapi aku yakin mas syarat utama sukses itu harus dicela dulu.. semua tokoh2 sukses dari dalam negeri atau luar negeri juga dulunya disepelekan..

    Jadi aku berkesimpulan, kalo belum dilecehkan belum ada tampang2 suksesnya.. 😁

    Like

  2. meremehkan orang lain jrlas gak boleh. tapi baperan juga jangan sih. krn bisa saja sang komen lagi ada masalah jadi komennya ngasal gitu..aih, aku kan anaknya pemaaf kali ya..wkwkkw.

    btw, itu konotasinya negatif deh kalo om capek om. hehehe

    Like

    • Iya, Mbak. Setuju, jangan meremehkan orang lain, pun jangan mudah tersinggung. Tulisan saya ini menyoroti hal pertama sedangkan reaksi baper atau enggak kan tergantung objeknya yang enggak bisa saya jangkau. Percaya kok Mbak Ade mah pemaaf, rajin menabung pula hihi.
      Iya, Mbak, menyiratkan perasaan negatif ya.

      Like

  3. Sepakat mas, harus pandai-pandai bercermin biar tidak ada celah sedikitpun untuk melihat orang lain rendah. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, jd punya pesona diri menurut versinya masing-masing. 😀 lakukan hal baik saja, berikan apresiasi, mencela dan nyinyir terhadap apa yg orang lain lakukan hanya membuat masalah baru karena kita tidak tahu seberapa orang tersebut sudah berusaha keras untuk mencapainya. kok jadi panjang komennya yak wkwkwk tfs mas, salam kenaaal 😀

    Like

    • Betul, fokus saja pada diri kita dan peningkatan peran sesuai yang kita pilih. Kalaupun ada yang meremehkan, abaikan, jangan sampai kita tiru atau kita cela balik. Salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung .

      Like

  4. kata para sufi, janganlah kita meremehkan dari sesuatu yang nampak saja. tapi alangkah susah hidup tanpa judging…yang bisa ditahan hanay tidak mengungkapkannya. dalam hati saja judgenya

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s