Sepatu Empuk untuk Pak Guru yang Sejuk

sep

TANGIS PUN PECAH pagi itu. Air mata tak bisa kutahan lagi. Apalagi setelah kudengar kalimat sejuk meluncur dari bibirnya, “Kalau kamu mau, anggaplah Bapak seperti ayahmu sendiri.” Gugusan kalimat singkat itu ibarat oasis di padang gurun yang panasnya membakar. Kupeluk erat tubuhnya yang hangat, seolah kupeluk ayahku sendiri.

Tak banyak kata-kata terlontar selama kami bercakap di ruang tamu rumah itu. Lebih banyak jeda dan kesunyian sembari kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh benda-benda seni mulai dari lukisan, kaligrafi, hingga karya kerajinan. Pagi itu aku pamit kepada Pak Rahardjo untuk berangkat ke Semarang guna melanjutkan cita-citaku mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Diponegoro. Mengingat kisah saat itu membuatku kembali berkaca-kaca.

Malam sebelumnya aku menginap di rumah beliau seperti yang sudah-sudah. Bukan rahasia lagi, rumahnya selalu terbuka untuk murid mana saja–terutama bagi murid yang dekat dengan beliau. Dekat di sini maksudnya dikenal beliau dan sering membantu beliau saat di sekolah, baik rajin mengerjakan tugas maupun angkat-angkat electone saat diperlukan. Tahu kan organ elektrik yang bisa langsung memainkan musik?

ddSEBAGAI pengajar mata pelajaran kesenian, beliau sangat piawai memainkan berbagai alat musik–pun mampu menyanyi dengan suara merdu. Tak heran bila setiap sekolah menghelat acara, beliau mendapat kehormatan mengiringi anak-anak, baik pentas musik maupun pertunjukan teater. Pada hal kedua inilah aku tertarik dan bisa mengenal beliau lebih dekat.

Aku sendiri tak pernah diajar Pak Rahardjo di kelas. Aku pindah ke SMA ini saat memasuki kelas 2. Ketika ditunjuk mewakili sekolah dalam Seleksi Siswa Teladan tingkat kecamatan, aku direkomendasikan untuk menemui beliau. Untuk melengkapi portofolio karya nonakademik, aku punya dua opsi: merakit komponen elektronik atau membuat karya lukis sederhana.

gra

Aku sudah beberapa kali menemui beliau tapi entah mengapa akhirnya justru memilih mempresentasikan rakitan elekronik pada lomba tersebut. Walau gagal menjadi juara, aku sangat senang sebab telah mengenal Pak Rahardjo. Dari pekenalan itulah aku kemudian tergabung dalam Ganaste alias Gabungan Anak Seni Teater, ekskul khusus sastra dan teater di mana beliau bertindak sebagai pembimbing.

sepatu

SEIRING waktu berjalan, aku sering membantunya mengambil electone ke rumah untuk di bawa ke sekolah atau sebaliknya. Walhasil, aku jadi sering menginap di rumah beliau dan tak jarang mendapat ilmu berharga tentang sastra. Aku sering curhat kepada beliau tentang hidup dan terutama mengenai dunia puisi ataupun teater yang kugandrungi. Ayahku yang belum lama wafat membuatku menemukan sosok pengganti yang tepat. Yang paling menyenangkan, selama menginap di rumahnya aku bebas membaca puluhan buku tentang kesusatraan.

Menulis puisi

Memasuki kelas 3 SMA, beliau mengampu pelajaran ekstra menulis puisi setiap Minggu. Hubungan kami semakin akrab hingga suatu pagi di hari Senin aku mendapat hibah berupa sepatu pantofel hitam yang sangat bagus. Bukan baru tetapi dalam kondisi sangat kokoh, rapi, dan enak dilihat. Dengan beberapa usapan semir, sepatu itu pun tampak seperti baru. Aku pun melenggang penuh percaya diri menuju lapangan sebagai pemimpin upacara.

Tahun 1998-1999 belum banyak temanku yang punya sepatu pantofel yang keren. Kalaupun ada, kualitas dan modelnya jauh di bawah yang kuterima itu. Sepatu itu menemaniku setiap hari sampai aku lulus sebagai siswa dengan nilai tertinggi di SMA-ku. Pak Rahardjo tentu saja bangga dan senang, apalagi dengan keterlibatanku di berbagai perhelatan acara sastra di luar maupun dalam sekolah.

Beliau dan istri kebetulan tak diamanahi anak oleh Tuhan. Maka beliau sangat menyayangi anak-anak didik mereka, apalagi kepada saya yang begitu karib sampai-sampai terlecutlah tawaran beliau di awal tulisan ini. Seolah kami ayah dan anak. Buku-buku dan sepatu telah menyatukan kami.

jasa

MESKIPUN beliau memintaku untuk tak sungkan bila membutuhkan apa pun selama kuliah, aku tetap tahu diri. Dianggap anak saja sudah merupakan privilese yang langka, jadi tak perlu kurepotkan beliau dengan printilan kebutuhanku selama menjadi mahasiswa selagi aku masih bisa mengusahakannya.

Jasa beliau tak perlu dipertanyakan lagi. Pertama, sepasang sepatu keren yang mewarnai hari-hariku di SMA saat teman-teman berjuang ingin memiliki benda yang sama. Kala itu aku mana mampu membeli sepatu pantofel mahal, sedangkan membeli sepatu hitam biasa saja sudah cukup kesulitan. Soal materi, aku pernah sangat terbantu ketika harus mendaftar KKN sebagai syarat kelulusan kuliah.

Aku terpaksa meminta pertolongan beliau untuk membayarkan biaya KKN kala itu. Sesekali aku memang sudah bekerja sebagai penerjemah lepas namun hasilnya belum bisa diandalkan. Barulah setelah skripsi aku bisa mandiri saat mengajar di sebuah lembaga kursus di Semarang. Saat kukirim sms kepada beliau tentang permohonan bantuan dana KKN, beliau tanpa ba-bi-bu langsung meminta nomor rekening untuk ditransfer. You’re both hero and my inspiration!

Kedua, pelajaran hidup dan puisi. Tak jarang aku menceritakan problema remaja dan jawaban beliau selalu mencerahkan. Semuda itu aku sudah belajar tentang kesetiaannya dalam menjalani rumah tangga tanpa anak hingga berpuluh-puluh tahun. Mengutip Jalaludin Rumi atau tokoh lain, aku selalu menikmatinya. Yang tak kalah penting adalah keterampilan menulis puisi. Pelajaran ini akhirnya membantuku saat kuliah hingga saat menerima proyek penerjemahan lagu untuk produser-komposer dari Kuala Lumpur tiga tahun silam.

Ada sepenggal puisi atau kalimat inspiratif yang masih kuingat hingga sekarang. Kalimat ini kutulis di dalam sampul depan buku telepon mungil suatu malam di pertengahan tahun 2000 saat bercengkerama bersama beliau.

 

quote

Aku tak tahu apa maksudnya, kutulis saja siapa tahu berguna. Kelak saat dewasa–ternyata masalah memang begitu akrab dengan hidup kita. Dan aku tersadar bahwa tanpa kegembiraan, apalah arti perjalanan hidup. Kegembiraan, dalam kapasitas yang kupahami saat ini, mungkin sebentuk ekspresi rasa syukur terhadap kehidupan yang kita jalani sebagai skenario terbaik yang Tuhan berikan kepada kita–kepada saya. Selalu ada celah peluang solusi dalam setiap masalah, maka selalu ada alasan untuk tersenyum saat menghadapinya.

Pelajaran ketiga, hidup bersahaja dan pemurah. Sudah menjadi rahasia umum beliau ini termasuk orang yang berkecukupan. Istri beliau pun menjadi kepala sekolah di sebuah Sekolah Dasar Negeri. Tanpa anak, hidup mereka tidak pernah tampak mewah. Hidup apa adanya sesuai yang mereka butuhkan. Sangat bersahaja. Dalam menghadapi persoalan apa pun, aku melihat Pak Rahardjo selalu tenang. Sejuk dalam menyikapi masalah. Beliau tidak terburu-buru mengucapkan sesuatu, pun selektif memilih kata-kata agar tidak menyakiti orang.

kabar

AKU terakhir mengontak beliau tahun 2012 atau lima tahun silam. Saat itu aku mengirimkan dua buku cerita anak karya istriku kepada istri Pak Rahardjo. Setelah itu kami lost contact lantaran kesibukan masing-masing, apalagi Pak Rahardjo yang semakin sibuk menjadi kepala UPT di dinas pendidikan kecamatan Lamongan dan kudengar tak lagi mengajar di SMA kami dulu.

Aku hanya memantau kabar beliau melalui Internet tanpa bisa menghubunginya sebab kehilangan alamat dan nomor ponsel beliau. Beberapa waktu lalu kucari lagi berita seputar beliau kalau-kalau ada nomor atau alamat yang bisa dihubungi. Berita di portal berita online Jawa Timur itu melaporkan sebuah perhelatan yang melibatkan beliau. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2012 sebanyak 1.000 siswa SD/MI se-Kecamatan Lamongan mempersembahkan permainan angklung massal di alun-alun Lamongan, Jawa Timur.

Sudah bisa diduga, beliaulah yang melatih anak-anak itu agar bisa memainkan lagu Himne Guru dan Gemerlap dengan serempak. Lagu pertama pasti sudah pada kenal sedangkan Gemerlap digubah sendiri oleh Pak Rahardjo yang merupakan akronim dari Gerakan Membangun Ekonomi Rakyat LAmongan berbasis Pedesaan sebagai dukungan bagi program pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat daerah. Lewat momen ini kita juga diingatkan bahwa angklung merupakan alat musik unik karena sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia (The Intangible Heritage).

kado

BETAPA bangga aku pernah mengenal beliau begitu dekat. Dan lewat sepotong berita itu aku lalu melacak keberadaannya. Tahun 2017 menjadi tahun spesial bagi kami. Setelah tinggal 6 tahun di Semarang lalu merantau di Bogor selama 10 tahun lebih, aku sekeluarga akhirnya bermigrasi ke kampung halaman. Selain atas dorongan agar lebih dekat dengan orangtua yang tinggal ibu, kami berharap bisa memberikan kontribusi positif dan bermanfaat bagi daerah seperti yang selalu Pak Rahardjo lakukan.

Aku ingin meniru beliau yang selalu aktif meskipun sulit. Dan lebih sulit lagi meneladani sifatnya yang gemar berbagi. Dalam acara apa pun, di sekolah atau luar sekolah, beliau tak pernah perhitungan. Selalu beres setiap ada Pak Rahardjo. Orang tak pernah tahu bagaimana pengorbanan beliau, baik waktu maupun tenaga, tapi itu jelas menunjukkan kegemarannya bederma. Sepatu keren dan uang saku saat aku pamit akan kuliah, juga biaya KKN, adalah bukti nyata kemurahan hatinya.

Sepatu empuk untuk sang penyejuk

Beberapa pekan lalu aku mengantar Rumi mendaftar ke SDN tempat ia akan belajar tahun ini. Tak kusangka ternyata aku bertemu istri Pak Rahardjo yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di SD tersebut. Beliau baru setahun dipindah ke sekolah tersebut dan ternyata masih mengenaliku. Luar biasa girang tentu saja, lalu kutanyakan nomor ponsel Pak Rahardjo. Hingga saat ini kami belum sempat kopi darat atau bertemu muka meskipun tinggal dalam satu kecamatan. Selain karena kesibukan beliau, anak kami Bumi belum lama ini diopname di rumah sakit lalu dilanjut dikhitan akibat sakit yang dideritanya.

Bu Rahardjo bercerita bahwa sang suami akan segera purna bakti alias pensiun sebelum lebaran nanti. Saat ini mereka berdua tengah menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini juga. Memasuki masa pensiun tentulah tak akan mudah bagi Pak Rahardjo. Banyak kegiatan yang akan absen dilakukan seperti biasa, demikian menurut penuturan sang istri.

sepatu

Ingin sekali kuhadiahkan sesuatu bagi guru penyejuk kalbu, yang turut memudahkan langkah-langkah dalam hidupku. Mengirimkan materi atau uang sama saja dengan menggarami lautan sebab Pak Rahardjo selalu mumpuni soal harta, dan bahkan sering dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan. Maka terbayang satu benda yang cukup pas untuk diantar sebagai kado.

Ya, sepasang sepatu. Kenapa sepatu? Dari sepotong cerita di atas, sudah jelas aku dulu pernah menerima sepatu pantofel dari beliau. Sepatu keren yang memfasilitasi tuntasnya pendidikanku bahkan masih kupakai hingga awal-awal kuliah. Ingin kuhadiahkan hadiah serupa yang begitu membekas. Alasan kedua, aku ingin di masa pensiun nanti beliau tetap aktif berolahraga karena bakal minim aktivitas seperti sebelumnya.

Tentu saja bukan sembarang sepatu. Kubayangkan sepasang sepatu dengan alas empuk dan bahan yang bermutu. Mumpung di elevenia sedang ada promo diskon sepatu keren dari harga asli 363.000 jadi 113.000. Beliau akan selalu nyaman saat jogging dan jalan santai di mana saja. Sepatu ini akan kuantar langsung agar kami bisa melepas rasa kangen setelah lama tak berjumpa.

Elevenia aja!

Karena sekarang berdomisili di daerah, maka pilihan kami jatuh pada belanja secara daring atau online. Di elevenia ditawarkan puluhan model sepatu pria dan wanita sesuai selera dan usia. Berbagai merek bisa kita seleksi sesuai dana yang kita punya. Praktis dan cepat tanpa perlu berpanas ria ke pasar segala. Pemesanan bisa kulakukan lewat ponsel ataupun langsung di website-nya. Cukup tambah ongkir yang senilai jajan bakso seandainya aku beli di toko. Transfer via ATM, tunggu dikirim deh!

s

Karena berlangganan newsletter elevenia, setiap hari aku dikirimi promo diskon dan program bonus menarik dalam pembelian tertentu. kalau enggak percaya, segera deh daftar dengan memasukkan email langsung di web-nya. Enggak cuma sepatu, gadget pun lengkap kok.

ele

Nah, soal sepatu bercorak army, itu memang kupilih untuk mengimbangi postur Pak Rahardjo yang tegap berisi sehingga akan menegaskan penampilan fisik beliau. Kalau corak dan model sepatu serasi dengan postur tubuh, tentunya yang memakai akan merasa percaya diri dan melangkah dengan mantap. Beliau bagiku adalah guru penyejuk, yang memberikan kesegaran dalam menyikapi persoalan hidup, sekaligus inspirasi dalam setiap aksi.

sepattt

Untuk itulah beliau layak mendapat kado berupa sepatu empuk, agar selalu hepi dalam menekuni hari-hari pensiun nanti. Inilah cerita hepiku, bagaimana dengan sobat pembaca? Kado apa untuk orang tersayang?

Advertisements

10 thoughts on “Sepatu Empuk untuk Pak Guru yang Sejuk

  1. Pak Rahardjo.. sangat menginspirasi ya mas, rumahnya selalu terbuka buat murid2
    semoga saya juga bisa jadi guru yg menginspirasi

    Sepatu empuk itu pasti sangat disukai, moga2 aja semua menjadi hadiah terindah

    Like

    • Iya, Ayaa. Beliau memang pribadi yang hangat dan santun. Banyak siswa yang dekat dan sering curhat sama beliau. Aku bahagia bisa salah satu yang istimewa hehehe. Makasih, Ayaa….

      Like

  2. sangat mulia sekali pak Rahardjo itu, beliau sangat menginspirasi dan jadi teladan bagi setiap murid. semoga bisa jadi kado terindah ya mas

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s