Menjadi Gravitasi dengan Berbagi Nasi

PERIH. BEGITULAH RASA yang mendera perut sepagian itu. Alih-alih membaca buku untuk menghibur diri seperti yang sudah-sudah, pagi itu saya hanya memegangi perut sambil melingkar setengah tertidur. Di atas kasur tipis di dalam kamar kos yang sempit, mata enggan terpejam. Perut keroncongan jelas tak mampu mendorongnya untuk terpejam walau untuk sesaat.

Di akhir tahun kuliah, belasan tahun lalu, rasa lapar rasanya begitu lumrah. Tak mungkin lagi meminta uang kiriman dari ibu yang single mother dengan adik yang juga sedang sekolah. Juga tak bisa lagi meminjam uang dari teman kuliah yang tinggal tak jauh kos saya. Malu karena sudah pernah. Maka berdiam di kamar sambil berdoa menjadi pilihan satu-satunya menahan kelaparan yang lumayan. Hati kalut oleh lapar perut. Membayangkan betapa makmurnya teman-teman yang berlimpah uang saku tanpa harus menahan lapar dan bebas makan atau beli apa saja.

Menjelang penyusunan skripsi, sesekali memang kuterima uang dari pekerjaan menerjemahkan dari anak jurusan lain tetapi belum bisa diandalkan. Selain nominalnya kecil, pun frekuensinya tak bisa digadang-gadang. Di akhir pekan, saya selalu bersemangat saat teman sekamar mengajak menginap di rumahnya yang memang tak jauh dari Semarang tempatku kuliah. Selain makan gratis (yang berarti hemat ongkos makan), kunjungan seperti ini juga berarti perbaikan gizi. Silaturahmi dengan keluarganya bahan terjaga hingga kini.

Bahar dan 500 rupiah

Sebut saja namanya Bahar. Tak mungkin kulupakan dia sebab hari itu, mungkin Sabtu, dia datang sebagai channel penolongku. Bukan, bukan mengajak menginap di rumahnya seperti biasa, tetapi memberi tawaran lain. Setelah beberapa hari pulang, pagi itu ia membuka pitu kamar dengan senyum mengembang. “Bro, mau duit?” tanyanya singkat.

Rasa lapar tentu responsif terhadap kata ‘duit’, jadi sambil duduk kujawab, “Ya mau! Kenapa?” Mataku berbinar mendengar tawarannya, apalagi mengingat di dompet hanya tersisa uang 500 rupiah yang cukup untuk membeli beberapa potong gorengan atau sebungkus nasi kucing saja. Masalahnya, gerobak nasi kucing atau angkringan baru buka sore hari, mana mungkin saya menunda lapar puluhan jam lagi apalagi dengan uang pas banget tanpa minum?

Bisa makan seminggu

Saya bersyukur karena Bahar membawa kabar gembira. Upah Rp150.000 itu segera dibagi sama besar, 50:50. Setelah itu, kami kami bergegas ke warung harga mahasiswa untuk menyantap menu makan siang.

Tapi tunggu, itu uang apa? Seorang mahasiswa S2 kenalan Bahar tengah menulis tugas kuliah. Dia butuh materi dari beberapa buku untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan kami berdua diminta tolong untuk mengumpulkan atau menyarikan bahan yang relevan dari buku-buku yang ada di perpustakaan wilayah Jawa Tengah. Jadi kedua pihak sama-sama diuntungkan. Si mahasiswa itu sibuk tapi jadi punya bahan tulisan, sedangkan saya terbantu bisa makan hingga seminggu lebih.

Lapar jilid dua

Saat menulis skripsi, saya sudah mandiri. Bahasa kerennya self-sustaining, hehe. Bila sewaktu kuliah ke mana-mana selalu jalan kaki, saya kemudian bisa beli motor sendiri dan punya tiga pekerjaan sekaligus dengan hasil yang lumayan untuk hidup sendiri. Pagi menjadi penerjemah di sebuah lembaga, sore mengajar bahasa Inggris di lembaga kursus, dan malam mengajar les privat.

Tahun-tahun perkuliahan segera menjadi masa lalu meskipun kenangannya masih kuat terpaku. Ketika merantau dan tinggal di Bogor, tak kusangka kelaparan jilid dua bakal terjadi. Dengan dua anak balita, saat itu aku bekerja sebagai freelancer dan mengelola bisnis penerbitan indie. Sementara istri merintis bisnis wingko. Beberapa tahun sebelumnya aku bekerja di penerbitan besar lalu mengundurkan diri karena sakit. Pekerjaan yang paling ideal untuk kondisi fisikku adalah bekerja secara remote dari rumah.

Namun itu bukan berarti tanpa risiko. Alhamdulillah jalur rezeki selalu ada. Masalah muncul ketika tagihan-tagihan tertunda pembayarannya. Apalagi jika nilainya cukup besar. Usaha menagih tentu saja sudah, tetapi janji dari pihak finance pemberi pekerjaan tinggal janji semata. Saya ingat betul saat itu anak kedua belum lama lahir dengan operasi Caesar. Kebayang kan biaya yang baru saja kukeluarkan?

Jadilah saldo menipis. Sampai titik di mana kami harus menjual barang-barang kepada tukang loak yang lewat di depan rumah. Tagihan A belum cair, tagihan B belum ada tanda-tanda, bahkan ada yang hingga kini lupa atau sengaja tak membayar padahal jumlahnya lumayan. Ya sudah. Yang penting kami bisa makan, sehingga galon air, dispenser, tape recorder terpaksa kami relakan. Kebetulan barang-barang itu tidak pernah kami manfaatkan lagi.

Hari itu kami hanya mampu membeli setengah liter beras dan satu bungkus mi instan rebus dan telur kalau tak salah. Pengeluaran harus kami hemat sebisa mungkin sampai tagihan-tagihan turun, termasuk pesanan kue yang sore itu kami antar. Uang dari kue hari itu menambah saldo kami hingga beberapa hari ke depan. Miris dan ingin menangis rasanya saat saya mengingat semua itu. Harus kelaparan sambil menunggu cairnya semua tagihan. Hiks….

Berbagi Nasi Bogor

Syukurlah semuanya sudah berlalu. Tiga tahun setelah pindah rumah, bisnis wingko sangat menggembirakan bahkan sering kami harus menolak pesanan. Bisnis penerbitan pun stabil ditambah pekerjaan profesional saya sebagai penerjemah dan editor. Menerima orderan dari produser musik Malaysia menjadi berkah tersendiri bagi saya. Selain itu, blog yang saya kelola juga mulai menghasilkan pendapatan.

Hingga di penghujung 2015 saya mengenal komunitas bernama Berbagi Nasi Bogor dari salah seorang kawan bloger. Setelah mempelajari gerakan tersebut, hati saya langsung klik dan tertarik ikut menyumbang sesuai yang saya bisa. Secara sederhana, Berbagi Nasi Bogor atau cukup disebut Bernas Bogor adalah komunitas berbasis sosial yang bersifat terbuka dan tanpa ikatan dalam hal keanggotaan. Bernas Bogor menginduk pada Yayasan Berbagi Nusantara yang berpusat di Bandung. Selain Bogor, ada puluhan bernas kota-kota lain di Indonesia. Merujuk definisi pada website resmi Berbagi Nusantara, bernas secara umum adalah organisasi tanpa bentuk, tanpa backing, dan tanpa agenda yang rumit.

bernas bogor 1
Suatu malam sebelum dan selama ngider nasi

“Tak ada visi atau misi yang rumit. Yang kami punya hanyalah nama, ide, dan harapan untuk membantu dan semangat berbagi. Siapa pun boleh bergabung tanpa ada ikatan atau syarat yang sulit. Cukup menghubungi Bernas setempat lalu datang dengan membawa minimal sebungkus nasi dan air minum. Jika tidak sanggup pun, boleh datang untuk ikut membagikan nasi yang terkumpul. Atau bisa dengan menyebarkan berita tentang setiap aksi bernas, dan bisa pula dengan mengirimkan donasi melalui transfer bank.” Demikian jawaban saya mewakili Bernas Bogor kepada wartawan Koran Amanah saat mewawancarai tentang visi misi bernas.

brnas tunanetra
Pasangan tunanetra yang bermalam di ruko sepanjang Jl. Suryakencana

Saya hampir menitikkan air mata saat ditanya oleh kawan Bernas kenapa tertarik ikut. Ngider atau keliling Bogor setiap Jumat malam dua pekan sekali bagi saya sangat menyenangkan—lebih dari apa pun. Saya boleh jadi pejuang nasi (sebutan untuk anggota yang ikut ngider) yang paling berumur karena para pejuang nasi di Bernas Bogor rata-rata anak SMA dan kuliahan. Kendati demikian, tak ada jarak yang membuat kami berbeda. Sebab sebungkus nasi menyatukan kami.

Energi bernama gravitasi

Bagaimana dengan agenda Bernas Bogor? Selain berusaha fokus dan konsisten pada ngider rutin dua minggu sekali pada Jumat malam, ada pula program tahunan seperti Proklanasi setiap tanggal 17 Agustus, Berbagi Nasi menyambut tahun baru, hingga Berbuka Puasa bersama dengan anak yatim/keluarga pemulung atau mereka yang dianggap membutuhkan. Itu belum semua, sebab masih ada aksi-aksi lain yang sifatnya ad hoc seperti donasi untuk korban bencana alam, musibah kebakaran, orang sakit, dan insiden lain yang sanggup kami jangkau.

bernas bogor 3 - bantuan matras
Matras untuk menambah sedikit kehangatan
bernas bogor proklanasi
Ngider saat Proklanasi, 17 Agustus 2016

Zing! Ini kata yang penting dari kegiatan kami setiap ngider. Dalam bahasa Inggris zing berarti energi, antusiasme, dan kegembiraan yang hidup. Malam-malam ngider selalu menghadirkan asupan energi setelah melihat betapa beruntungnya saya dibanding orang lain. Saat udara begitu dingin, hujan menyirami Bumi, toko-toko tutup, orang-orang bergegas tidur atau menikmati waktu bersama keluarga sambil nonton TV–ternyata ada orang-orang yang menggigil di emperan toko atau warung-warung tenda pinggir jalan sambil menahan perut perih karena lapar. Misalnya seorang bapak dan anaknya yang menerita down syndrome di bawah ini.

bernas down syndrome
Keceriaan saat menerima nasi bungkus

 

Itulah makna penting yang berusaha saya hirup setiap kali tuntas ngider nasi. Bahwa untuk mendapatkan sebungkus nasi, mereka mesti memunguti benda-benda yang sudah kita anggap sampah tapi masih berharga untuk mereka. Bahwa untuk mempertahankan anak-anak mereka di sekolah, mereka harus berjaga kadang sepanjang malam untuk menjemput rezeki dengan menyisir jalanan. Energi semacam ini sangatlah berkualitas karena mampu menstimulasi kegembiraan lain bagi saya. Kegembiraan yang hidup dan menularkan semangat.

bernas evaluasi
Evaluasi setelah ngider nasi dan sembako tanggal 1 Januari 2017

Kegembiraan yang menguarkan energi laksana gravitasi. Tulisan tentang bernas tak jarang menggerakkan sejumlah pembaca blog ini untuk menitipkan donasi lewat saya. Atau menerbitkan rasa ingin tahu mereka tentang bernas yang ada di kota masing-masing. Bahkan gravitasi itu terasa hingga negara jiran Singapura. Felicia, pebisnis kuliner sukses di sana, turut mengirimkan bantuan jutaan rupiah melalui Bernas Bogor setelah kami menyiarkan lewat media sosial dan WhatsApp tentang sebuah panti yatim yang terbakar parah Januari 2016 silam.

Tak hanya berdonasi uang, dia pun mentraktir kami di sebuah resto mewah di Bogor sebagai ucapan terima kasih atas usaha kami membelikan perlengkapan sekolah dll dari uang yang dia percayakan. Kendati kedatangannya ke Bogor belum terwujud, dan komunikasi hanya terjalin lewat WhatsApp, persahabatan itu nyatanya terasa begitu akrab dan kuat seolah kami telah lama berkenalan. Kini saya sadar bahwa semuanya bisa terjadi berkat kekuatan atau gaya tarik kebaikan—poros nilai yang kami yakini bersama tanpa memedulikan batas negara.

How to #BetheGravity

Bila kita sepakat kontribusi kecil saya lewat Bernas Bogor merupakan sebentuk gravitasi, lalu bagaimana cara menjadi gravitasi? Menjadi gravitasi, saya yakin, mencakup makna yang sangat luas dan oleh karena itu bisa dicapai lewat beragam cara. Melaksanakan pekerjaan utama kita dengan fokus dan dedikasi tinggi dengan dilandasi semangat pengabdian bisa menjadi salah satu channel gravitasi.

Atau bisa juga dengan menggali kesibukan lain di luar pekerjaan utama dengan semangat berbagi dan ketulusan untuk mengangkat penderitaan orang lain–seperti komunitas sosial yang banyak sekali beredar di sekitar kita. Ibu rumah tangga pun mampu menciptakan magnetudo gravitasi ketika ia berkarya dari rumah baik mengelola usaha sampingan yang memberdayakan ibu-ibu lain ataupun saat dia mendidik anaknya secara kreatif sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang produktif.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya mencatat kira-kira ada lima langkah menuju gravitasi. Seperti tecermin dalam gambar berikut ini.

u

#1 Develop affinity

Pertama, carilah sesuatu yang menarik hati kita. Bisa berupa pekerjaan utama, atau kegiatan lain berkaitan dengan hobi atau aktivitas sosial di luar pekerjaan. Bangkitkan minat dan ketertarikan pada hal itu. Percuma kan kalau kita menekuni suatu hal yang kita harapkan menginspirasi orang lain tetapi ternyata kita jalani dengan setengah hati.

Dalam kasus saya, bernas menjadi saluran yang tepat karena kami memiliki relasi yang kuat menilik sejarah saya yang pernah kelaparan lumayan. Jika didasari ikatan yang relate kepada pengalaman diri kita sendiri, rasanya akan lebih engaging dan asyik ita jalani meski itu berarti mengeluarkan biaya sendiri tanpa ada peluang return.

#2 Assure conformity

Tidak cukup menarik minat, hal yang akan kita geluti sebagai pusat gravitasi harus juga sesuai dengan norma sosial. Harus memiliki konformitas dengan lingkungan di mana kita berada dan terutama dengan ajaran agama dan aturan bernegara. Dengan kata lain, tak mungkin dong kita memilih asyik nongkrong hingga dini hari tanpa alasan jelas dan justru mengganggu orang lain lewat kebut-kebutan motor.

Atau misalnya kita mengajak teman-teman untuk memperdagangkan barang haram dengan topeng pemberdayaan sosial; itu jelas layak ditinggalkan. Pastikan apa yang kita pilih merupakan bentuk kebaikan yang tidak hanya bagus untuk kita pribadi tetapi selaras dengan kepentingan orang lain.

#3 Gain productivity

Setelah memilih hal yang kita sukai dan yakin itu sesuai hati nurani, jangan lupa untuk menimbang soal produktivitas. Produktivitas berarti kemampuan menghasilkan sesuatu menurut kemampuan kita secara optimal. Semua sumber daya kita arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terukur dan masuk akal.

Dalam menjatuhkan pilihan terhadap hal yang akan kita geluti sebagai poros gravitasi, usahakan agar hal itu tetap seirama dengan pekerjaan utama kita. Jangan sampai kita terlibat asyik dalam suatu kegiatan ekstra di luar sementara pekerjaan utama kita malah terbengkalai. Ini jelas bertentangan dengan semangat produktivitas.

Para pakar manajemen sering berpesan, produktivitas ditentukan oleh kemampuan kita menentukan skala prioritas. Jika pilihan aktivitas kita malah merusak kesibukan utama–maka perlu kita pertimbangkan lagi. Alih-alih menekuninya, kita bisa tetap fokus pada pekerjaan utama dan menekuninya dengan tulus dan penuh dedikasi agar bisa pula menggetarkan daya gravitasi. Jadi timbang masak-masak jenis kegiatan yang akan kita pilih.

#4 Engage in creativity

Sebagai gerakan sosial, nyatanya kegiatan lewat Bernas Bogor tetap butuh dikerjakan dengan kreativitas. Banyak sekali ragamnya. Mulai dari menyusun poster atau flyer untuk kampanye tertentu, merancang agenda kegiatan yang menarik, hingga mengambil dokumentasi/foto–semuanya butuh kreativitas. Sikap kreatif akan mengindarkan kita dari kebosanan menjalani kegiatan yang kita tekuni.

Harap maklum, karena tanpa imbalan materi, maka setiap agenda harus ditata dengan alur yang kreatif. Sesekali pertemuan nonkegiatan perlu diadakan untuk mengakrabkan antaranggota sehingga hubungan emosi atau chemistry sebagai pekerja sosial semakin terbangun. Pilihan agenda seperti mendongeng di suatu acara, misalnya, akan menciptakan atmosfer khusus yang juga perlu disiapkan dengan kreativitas.

#5 Aim at infinity

Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keabadian atau infinity? Secara harfiah kita tak akan pernah punya peluang untuk meraihnya. Namun secara hakikat, tindakan yang kita kerjakan dengan ketulusan, kerendahan hati, dan rasa syukur akan menjadi value yang kita andalkan di kehidupan berikutnya. Tiga nilai itulah yang saya sampaikan kepada wartawan Koran Amanah saat kami ditanya mengenai nilai-nilai gerakan Bernas.

Nyatanya, siapa pun memang boleh ikut bernas baik menyumbang uang ataupun ikut jalan karena modal sesungguhnya adalah keikhlasan masing-masing. Saat menyampaikan nasi bungkus kepada target, kami berharap agar senantiasa didekatkan pada rasa syukur mengingat keadaan kami ternyata masih jauh lebih beruntung dibanding mereka yang kelaparan.

Perasaan tenang segera memenuhi hati seolah kami telah menyelamatkan alam semesta–seolah-olah kami hidup tak terbatas oleh waktu lantaran kami telah membuat orang lain merasa bahagia. Itulah keabadian yang kami harapkan. The true infinity, yakni nilai yang langgeng kita pedomani dalam setiap aksi seakan-akan kami abadi dalam butiran nasi yang akan menggerakkan orang lain berbuat hal yang sama.

Kreativitas tanpa batas

Sudah saya sebutkan bahwa menjadi gravitasi ternyata butuh ditunjang kreativitas. Dan kreativitas bisa dimungkinkan bila ada peranti yang mendukung aktivitas. Sebagai masyarakat modern, sudah bukan rahasia lagi bahwa gadget telah menjadi sarana wajib yang setaip hari kita pakai. Setiap orang hampir selalu memiliki satu unit smartphone di genggaman tangan.

Tak mengherankan karena kemampuannya semakin hari semakin mumpuni. Otaknya kian canggih dan menjanjikan banyak kemudahan bagi kita menjalani hari-hari yang semakin sibuk. Saya bayangkan punya ponsel pintar seperti LUNA agar perjalanan ngider bernas berlangsung lancar tanpa hambatan. Mungkinkah sebuah smartphone menunjang kegiatan kami setiap dua pekan sekali? Tentu saja, seperti yang terlihat dalam grafis berikut.

4

1. Kamera Super

Jika sobat pembaca memperhatikan foto-foto kegiatan ngider di atas, tentu akan segera mencermati hasil bidikan yang ala kadarnya. Foto-foto tersebut memang diambil dengan ponsel, bukan kamera profesional. Lagian kamera sangat ribet bawanya, jadi smartphone masih layak diandalkan. Masalahnya, memilih kamera yang bagus untuk mengabadikan momen istimewa bukan perkara mudah–apalagi kamera yang menempel pada smartphone.

Kamera pada smartphone LUNA tampil dengan sensor 13 MP sebagai kamera utama. Bisa dibayangkan betapa beningnya hasil jepretan jika setiap kegiatan ngider dibidik dengan kamera LUNA. Hasil foto yang bagus punya manfaat yang signifikan. Agar orang lain yang melihatnya bisa menikmati spirit berbagi lalu tergerak mengikuti aksi serupa. Sementara foto yang buram jarang bisa menyampaikan pesan kuat.

Apalagi sudah dilengkapi LED FLASH sehingga malam hari pun dijamin tetap cerah hasil fotonya. Kamera utama ponsel saya saat ini menggunakan sensor 8 MP, itu pun sudah sangat menggembirakan. Tak terbayangkan kepuasan saya bila bergerak menggunakan kamera 13 MP setara kamera Iphone. Plus 22 pilihan scene dan 25 Filter Effects yang enggak bikin bosan. Coba perhatikan contoh bidikan kamera LUNA sebagai berikut.

una
Hasil kamera LUNA
una2
Hasil kamera Iphone

Tak ada lagi foto buram atau pecah dan tidak detail. Dengan smartphone LUNA kegiatan ngider jadi makin bersemangat dan berpotensi menarik banyak orang untuk ikut setelah menikmati foto-foto jernih dan penuh pesan.

2. Model dan desain eksklusif

Tak perlu disangkal, salah satu pertimbangan orang membeli smartphone adalah dari segi desain body atau model secara fisik. Tampilan visual yang keren akan memikat orang lain untuk melihatnya. Pemilik ponsel jadi penuh percaya diri berkat desain smartphone yang lux dan stylish.

luna tengah

Bodi slim dan bezel yang sangat tipis membuat LUNA stand out in the crowd. Terlihat menonjol dan menebarkan pesona tersendiri. Layaklah jika ia menjadi pusat gravitasi bagi orang-orang yang juga ingin punya daya tarik kebaikan seperti anggota Berbagi Nasi.

3. Layar lebar dan nyaman di mata

Seiring bertambahnya usia, ponsel yang layarnya ebar bukan lagi opsi relatif tetapi pilihan wajib. Saya sering menulis blog post menggunakan smartphone sehingga layar lebar akan menjamin kenyamanan saat mengetik. Bentang layar LUNA yang 5.5″ dan sudah Full HD akan membuat menulis semakin nikmat. Pun menikmati atau merekam kegiatan ngider jadi semakin asyik. Karena udah IPS, mau dilihat dari mana saja juga oke dong layarnya. Dan lagi tak perlu takut tergores sebab sudah dilapisi Gorila Glass 3. Ajib!

1.png
Bening dan nyaman

Betul memang bahwa layar ponsel bukan hanya tampilan semata. Lewat layarlah kita masuk ke dalam foto-foto atau video penuh kenangan, terutama yang penuh inspirasi. Dengan resolusi 1920X1080 layar LUNA bakal memanjakan momen nonton sebagai pengalaman yang berkesan. Yang asyik lagi, layar LUNA sudah dibenamkan filter Blu-ray agar mata terlindung dari kerusakan radiasi. Nyaman dilihat, aman di mata.

4. Suara jernih dan powerful

su
Suara bening agar hati tak rungsing

Selain tampilan fisik, suara ponsel juga harus tokcer dong. LUNA telah dilengkapi dengan teknologi teknologi akustik NXP Smart AMP terbaru sehingga kualitas suara smartphone dapat hadir secara optimal. Sambil ngider, atau saat menunggu kawan-kawan berkumpul, asyik sekali kalau mendengarkan musik atau video inspiratif. Suara yang jernih bikin hati adem dan telinga nyaman–bahkan di lingkungan yang bising. Itu semua berkat LUNA! Dengan bass yang dalam dan suara yang lebih kencang saya yakin bakal dimanjakan dengan kekuatan musik dari smartphone yang powerful.

5. Performa tinggi dengan RAM lega

Pertimbangan utama saya dalam membeli ponsel pintar selain resolusi kamera adalah otak yang menggerakkannya. Otak yang cerdas akan menjamin proses multitasking secara gesit tanpa lag. Tak perlu bosan menunggu lantaran ponsel lama memroses perintah. Nah, LUNA hadir sesuai harapan. Dengan prosesor Qualcomm® Snapdragon ™ 801 quad-core 2.5GHz processor, saya tak bisa meminta lebih karena dapur pacunya sangat mumpuni. Ditandem dengan RAM sebesar 3 GB, apa yang tak mungkin saya lakukan dengan LUNA?

4
Otak cerdas, pekerjaan tuntas!

Tak ada ceritanya kurang memori saat akan menginstal aplikasi baru. No more langs, no more pain. LUNA is there to help. Kecepatan prosesor berarti cepatnya pekerjaan dan berkumpulnya uang untuk pekerjaan freelance saya. Membaca email, nonton video di Youtube, buka Facebook, Instagram, semua lancar tanpa kendala. Apalagi sekadar membidik dan memroses foto kegiatan Bernas, zap! Cepat!!

6. Dual SIM 4G

phone
Dual 4G untuk jaminan cepatnya koneksi!

Zaman sekarang kalau tak pakai 4G, mana cukup? Teknologi 3G perlahan terkikis, maka ponsel wajib dilengkapi slot SIM yang sudah mendukung layanan 4G. Seperti LUNA yang menghadirkan dual SIM yang dua-duanya bisa aktifkan 4G. Tepat yang saya butuhkan. Dengan dual kartu yang bisa standby bersamaan, saya tak perlu khawatir mana koneksi yang cepat. Semuanya cepat hingga mencapai 150 Mbps dengan full-band 4G berkat dukungan mesin dari Taiwan. Jadilah nonton video secara online apalagi games yang terkoneksi lansgung ke Internet akan berjalan tanpa hambatan sama sekali.

7. Daya baterai tahan lama dan fast charging

Salah satu momok yang sering dikeluhkan pemilik smartphone masa kini adalah borosnya daya baterai. Tak heran sebenarnya lantaran mereka menggunakan ponsel dengan gencar lewat berbagai aplikasi yang menyedot daya. Nah, itu dulu. Smartphone LUNA dengan baterai berkapasitas monster sebesar 3000mAh akan menjamin daya tahan yang cukup lama. Tanpa bawa power bank atau jauh dari colokan listrik pun, kita tak perlu khawatir.

su
Need for power!

Selain itu, LUNA telah mengusung fitur quick charge dan fast charge 2.0 yang bisa mengisi daya hingga 40% hanya dalam waktu 30 menit dan lebih dari 80% hanya dalam waktu 60 menit. Dengan daya yang tersedia, LUNA bisa standby selama 500 jam atau 11 jam untuk memutar audio dan 7 jam untuk memutar video. Hari gini kudu cari yang hemat kan, mengingat listrik juga sudah mahal. Memilih gadget yang irit bakal bikin hati hepi. Sehingga proses membangun gravitasi tetap berjalan dengan penuh kreasi–berkat dukungan alat yang memadai. Seperti LUNA!

Saya sadar bahwa menceritakan aktivitas kecil dengan penuh kebanggaan seperti ini berpotensi membangkitkan rasa pamer atau ingin dipuji. Namun perasaan ada jauh di dalam relung hati, maka saya akan fokus pada pengalaman itu sebagai upaya untuk menularkannya kepada pembaca. Bahwa setiap orang bebas memilih peran positif dalam masyarakat, bahwa setiap peran yang kita ambil punya peluang menjadi pusat kebaikan, menjadi gravitasi yang menarik munculnya kebaikan-kebaikan lain demi kebermanfaatan hidup bagi sesama—lebih khusus bagi kemajuan Indonesia.

So what’s your gravity, Sobat? Share yuk!

Advertisements

17 thoughts on “Menjadi Gravitasi dengan Berbagi Nasi

  1. Kalau versi Bernas di Lamongan itu Sego Bungkus Community Pak. Kegiatannya tiap Jumat pagi. Tapi kayaknya lebih komplet Bernas ya. Nggak hanya berbagi makanan. Tapi ada barang yang lain juga. Pun waktu berbaginya pas malam hari kalau versi Bernas.

    Like

  2. Kisah yang inspiratif. Teeingat masa SMA dulu pernah saking ga ada duit sampai saya minum air keran di tempat wudhu.

    Betul mas, jadi positif adalah pilihan kita.

    Like

  3. Mas Rud, aku baru tau ada merek Luna. Aaaa slim banget ya kayaknya. Speknya juga lumayan. Aku lg nyari henpong yg ramping, kesasar kesini trus dapet bonus cerita inspiratif!

    Like

  4. Salam kenal 🙂 “Menjadi Gravitasi dengan Berbagi Nasi”, mantap2, Kang. Sudah tidak diragukan lagi. Semoga selalu menjadi gravitasi ya. Sukses selalu di passions -nya ya. Btw, bagi ilmunya di sini donk hihi *tutup muka dulu malu sama tulisan. Makasih b4 🙂

    Like

  5. Aah, aku sempet mbrebes mili baca nya, apalagi pas liat foto si bpk dan anaknya yg down syndrome :(. Cerita2 begini aku srg share ke anakku supaya mereka mau sering2 melihat ke bawah, kalo hidup mereka slama ini udh super duper nyaman. Jd jgn sombong, jgn suka buang makanan dan sering beramal

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s