Waktu yang Meledak; Renungan Isra Mikraj

Dalam bukunya berjudul The Quran and The Life of Excellence Sultan Abdulhameed menurunkan sepenggal tulisan yang sangat menarik. Menarik sebab belum pernah saya baca interpretasi unik terhadap peristiwa penting yang dialami Rasulullah.

Tulisan berjudul Ledakan Waktu itu kontan menyita perhatian saya sehingga berulang-ulang kali saya baca hingga kini. Selain menyerap maknanya, saya memperlakukan tulisan ini sebagai peringatan untuk saya pribadi. Juga pelecut semangat saat emosi kacau atau hidup seperti tak berjalan sesuai harapan kita. 

Waktu pun meledak!

Sejak usia belia, tulis Abdulhameed, Muhammad telah dilanda keresahan tentang keterpurukan dan kemunduran masyarakat di sekitar beliau. Seiring berjalannya waktu, beliau meyakini bahwa kehidupan dan perilaku mereka sangat berkaitan dengan keyakinan yang mereka anut. Jika mereka mau maju, maka perubahan harus terjadi. Beliau pun banyak bepergian, bertemu banyak orang beragam agama dan keyakinan, kemudian tumbuhlah keberanian dalam diri beliau, dan akhirnya berusaha mencari solusi atau jawaban dengan menyendiri.

waktu

Pada usia 30-an beliau punya kebiasaan menyendiri di sebuah gua di perbukitan guna merenung. Beliau memfokuskan pikiransambil terus berzikir siang dan malam. Lalu tibalah suatu malam ketika Malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pendek dari Surah Al-‘Alaq yang menyebabkan semuanya berubah. Seolah-olah waktu telah meledak. Yang beliau alami malam itu begitu bersejarah sehingga belum tentu bisa dicapai dalam ribuan tahun. Dunia tak pernah sama lagi.

Nah, tentang waktu, setiap manusia mengalaminya secara berbeda-beda kendati sama-sama memiliki jatah 24 jam. Bagi yang bermalasan tanpa tindakan, waktu berjalan begitu lambat. Bagi mereka yang asyik mengerjakan sesuatu, waktu terasa cepat. Dengan rentang waktu yang sama kadang kita mencapai hal yang besar tau sebaliknya. Waktu yang kita jalani bersifat linear sedangkan pengalaman kita bersifat spiritual.

Pikirak yang terkoneksi

Sultan Abdulhameed menegaskan bahwa kita manusia selalu sibuk memikirkan sesuatu. Namun dia mengkritik kebanyakan pemikiran itu bersifat samar dan tercera-berai. Pikiran kita beralih dari objek ke objek lain seperti seekor burung yang hinggap dari pohon ke pohon. Seolah tak ada arahan atau tujuan. Di sinilah ia menyebut tidak adanya akumulasi energi dalam banyak pemikiran itu.

Padahal orang hebat di dunia adalah mereka yang memiliki tujuan yang jelas. Mereka yang mengarahkan pikiran kepada satu capaian yang terstruktur. Bagaimana bisa mencapai tujuan itu? Siapa yang bisa membantu kita mencapainya?Apa yang harus kita lakukan agar tujuan itu terpenuhi? Apa yang sudah kita pelajari hari ini? Dan sebagainya, begitulah pikiran orang hebat. Mereka menghindari melakukan hal-hal sia-sia yang bisa menjauhkan mereka dari target.

Pemikiran mereka terkoneksi satu sama lain; dengan kata lain, setiap pemikiran terakumulasi untuk membentuk energi. Agar bisa mengalami ledakan waktu, kadang kita perlu membangun target yang tampak tidak realistis. Sesuatu yang belum pernah kita jangkau sebelumnya. Sebuah mimpi yang mungkin akan ditertawakan ooleh teman atau keluarga saat kita menceritakannya.

Seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad 12 tahun kemudian. Perjalanan di malam hari menjadi tonggak penting lain dalam kehidupan beliau saat beliau mencapai surga tertinggi dan kembali lagi ke bumi hanya dalam hitungan jam. Sebelum Isra Mikraj, beliau dirundung kesulitan dan perjuangan berat tanpa kesuksesan yang signifikan. Namun setelah momen malam itu, jumlah pengikutnya bertambah pesat dan pengaruh beliau menyebar hingga penjuru Arab bahkan tersebar di seluruh dunia hingga saat ini.

Kaca pembesar

Ibarat sebuah kaca pembesar, kita bisa menggunakannya untuk membakar sekumpulan rumput. Energi panas yang terpancar dari matahari awalnya tersebar begitu saja ke segala arah tanpa bisa menimbulkan api. Kaca pembesar itu memfokuskan sinar matahari pada satu titik. Lalu panas pun terakumulasi, terhimpun di satu titik, sehingga tak lama kemudian rumput pun terbakar di bawah kaca.

Seperti itulah ambisi atau gairah kita. Ia ibarat kaca pembesar itu. Kita bisa menggunakannya untuk memfokuskan tenaga di dalam pikiran kita. Ketika kita terus memikirkan sesuatu secara konsisten, lambat laun akan tercipta percikan. Dan ketika energi cukup sudah terkumpul, dengan serangkain aksi terencana dan optimisme, terobosan pun terjadi. Perubahan yang kita dambakan tercapai.

Nah, kalau kita menghendaki agar misi atau cita-cita kita berhasil, sudah seberapa fokus kita pada tujuan itu? Apakah tujuannya sudah jelas? Perubahan seperti apa di bumi lewat kita dalam memanfaatkan segala sumber daya yang telah Allah suntikkan di dalam diri? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab bersama–termasuk saya tentu saja.

Manajemen waktu

waktu 2

Bisa diawali dengan memusatkan pikiran kita dan seluruh energi pada misi spesial itu sebagai khalifah di dunia. Salah satunya dengan lebih menekuni shalat, menjalani dengan penuh kekhusyuan dan fokus yang terus ditingkatkan. Awalnya mungkin terasa tak mungkin. Namun setelah dipikir dan dirancang terus-menerus, kita akan temukan jawabannya.

Saat kekuatan pikiran telah menemukan momentumnya,  saat itulah kita akan mengalami ledakan waktu. Tidak penting lagi apakah yang terjadi pada kita adalah hal baik atau buruk. Seluruh pengalaman harus diproses, dan salah satunya sangat dipengaruhi oleh konsistensi kita dalam menjalankan shalat. Catatan untuk saya pribadi, terutama mengenai manajemen waktu yang menjadi basis kesuksesan setiap orang hebat di muka bumi ini.

Advertisements

One thought on “Waktu yang Meledak; Renungan Isra Mikraj

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s