Sudah Tua, Jangan Berulah

sudah tua

SAMBAL TERASI, SIAPA yang enggak suka? Penikmat kuliner Nusantara tentunya tak asing dengan pelengkap sajian utama ini. Sepiring nasi hangat dan sambal terasi plus tahu/tempe goreng atau lalapan tak jarang sudah bikin makan kewalahan. Nasi sebakul bisa terancam!

Nah, beberapa waktu lalu istri meramu satu cobek sambal terasi dan tercium wangi banget sejak diulek. Makan siang jadi istimewa dengan kudapan sangat lezat. Tak terasa beberapa sendok sambal berpindah ke piring. Sendok teh loh!

Sore hari ada yang bergejolak di dalam perut. Berputar-putar berkerucuk. Rasa tak enak merayap, tahulah yang saya maksud. Walau tak sampai repot harus berkali-kali ke toilet, tak urung sebersit pertanyaan menyeruak seketika.

“Kok gini banget ya Bun. Biasanya mah makan sambal kayak apa juga ga ngaruh ke pencernaan. Kalaupun ngaruh, paling ya jeda seminggu gitu. Ini kok instan banget ya?!” begitu ujarku kepada wanita yang meramu sambal.

“Ingat usia, Yah. Itu kan dulu, biasanya. Itu artinya makanan harus lebih dijaga. Udah ga sama lagi kayak dulu.” Kalimat singkat itu terngiang, seolah menonjok kesadaran.

Tidak jarang saya membandingkan kenikmatan yang dulu pernah dicecap dan kini mendadak berkurang. Dulu kuat begadang, sekarang mudah capek. Dulu pikiran beneran, sekarang mulai menurun akibat sering mikir cara cari uang, hehehe. Intinya kita kerap tak sadar bahwa segala sesuatu harus berkurang.

Hanya karena dulu pernah begitu, kita lantas menuntut bahwa harus begitu pula saat ini. Padahal banyak hal yang berubah yang berdampak pada perubahan perasaan atau kemampuan panca indera.

Kita bergerak semakin tua, bukan sebaliknya. Fungsi organ dan kapasitas fisik menurun seiring bertambahnya bilangan usia. Jangan terus menerus menghendaki kenikmatan. Sebuah tamparan lain mendarat telak saat khatib Jumat membacakan salah satu ayat dalam Surah Yasin dalam khotbah beberapa hari setelah insiden perut berputar. Bahwa jika kita dipanjangkan usia, makan kita akan dikembalikan menjadi lemah yang berarti mengalami fungsi-fungsi yang tak lagi optimal.

Saya tercenung sendiri. Sudah tua nih, masak mau gini-gini aja. Fokus pada kenikmatan diri sendiri, asyik mendendam, dan sibuk memanipulasi kenyataan. Hidup terus berjalan, rekaman sejarah selalu diguratkan, sudah siapkah kita mrmpertanggungjawabkannya?

Sudah tua kamu, sadarlah dan jangan berulah. Begitu nasihat yang kudengar dari diriku sendiri. Berulang-ulang, berulang-ulang.

Advertisements

6 thoughts on “Sudah Tua, Jangan Berulah

  1. Sama mas, sayapun sekarang sudah mulai membatasi makan makanan pedas, termasuk sambal terasi kesukaan saya. 😦
    Kapok harus bolak-balik wc 2 hari berturut-turut. πŸ˜₯

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s