Senja di Namira: Mengintip Masjid Megah di Lamongan yang Kekinian

namira senja

Keberadaan masjid megah di sebuah kota kecil memang tak biasa, apalagi kota panas yang selama ini hanya terkenal lewat soto dan pecel lele khasnya. Tak heran jika masjid bernuansa Masjidil Haram itu kemudian membuat Lamongan kian dikenal selain kuliner lokal dan klub sepak bolanya (Persela).

Masjid yang dibangun pada tahun 2013 mulai menyedot perhatian publik sejak Ramadhan lalu saat sebuah akun di Facebook membagikan informasi seputar keunikan masjid ini bersama Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Komentar bernada rasa penasaran dari salah seorang teman Facebook membuat saya ingin menurunkan tulisan singkat tentang masjid di kota kelahiran saya ini. Apalagi banyak stok foto yang bisa ditampilkan di blog BBC.

Perkenalanku dengan Masjid Namira berawal dari informasi adikku beberapa bulan sebelum aku pindah ke Lamongan. Sepulang mengantar ibu dari latihan manasik haji, ia beserta suaminya membawa ibu singgah di masjid yang terletak di Desa Jotosanur Kecamatang Tikung ini guna melaksanakan Shalat Ashar. Dari situlah muncul kesan positif dan ketakjuban mengenai masjid megah yang belum pernah ada di daerah kami, bahkan di antero Jawa Timur.

Masjid kaca dan menara

Awal bulan Februari, tepat seminggu setelah kami pindah, Masjid Namira pun menjadi target singgahan kami yang pertama karena di kota kami tak ada mal atau supermarket besar seperti di Bogor. Kami tiba di sana ketika waktu Ashar hampir habis dan hari menjelang magrib. Cerita-cerita yang beredar pun terkonfirmasi sore itu. Di areal seluas 2,7 hektare tersebut terdapat dua buah masjid megah, yakni satu masjid lama di depan yang kini difungsikan sebagai tempat mengaji dan satu masjid baru lebih besar di bagian dalam yang menjadi sentra berbagai kegiatan hingga kini.

Karena berdinding kaca, masjid lama di depan sekilas tampak seperti masjid transparan sehingga dahulu dijuluki sebagai Masjid Kaca. Jika bergerak dari Lamongan kota melewati Jl. Sunan Drajat menuju Kecamatan Tikung, kita akan berbelok ke kanan untuk memasuki kawasan Masjid Namira. Jika jalanan lancar dan tak terhambat lampu merah, dari alun-alun menuju Namira bisa ditempuh sekitar 10 menit.

menara

Kafetaria bernama Warung Namira adalah spot pertama yang kita lewati begitu kita memasuki halaman masjid, disusul masjid lama dan halaman parkir motor. Warung ini menjajakan menu khas Jawa Timur seperti soto dan rawon, juga menu populer lain seperti nasi goreng dan bakso. Dari parkiran motor akan terlihat sebuah minaret atau menara megah yang seolah menjorok ke angkasa. Setiap menjelang waktu shalat, alunan murottal akan diperdengarkan dari menara ini. Suaranya merdu, membelah udara sekeliling yang kebanyakan masih berupa areal persawahan.

Parkiran luas dan makanan gratis

parkir mobil

Bila berkendara roda empat, kita harus melanjutkan perjalanan melewati depan masjid baru hingga menemukan areal parkir khusus mobil di sebelah utara. Halaman parkir baru yang dilengkapi kamar mandi dan tempat wudhu ini mampu mengakomodasi ratusan unit mobil. Pada momen khusus seperti Ramadhan—terutama Isya dan Subuh—halaman ini biasanya penuh oleh kendaraan para pengunjung dari mana-mana. Tak perlu khawatir macet karena untuk meninggalkan kawasan masjid telah disediakan pintu keluar khusus untuk mobil.

Tepat di sebelah utara masjid, kira-kira seluas seribu meter persegi, terdapat area khusus di mana tenda-tenda biasanya didirikan untuk mendukung pelaksanaan acara-acara tertentu. Selama Ramadhan, misalnya, tenda besar dan kecil akan dipasang selama sebulan penuh guna memfasilitasi para pengunjung yang datang untuk berbuka puasa selepas mengikuti kajian menjelang magrib. Khusus untuk 10 hari terakhir Ramadhan, tenda-tenda ini juga dipakai untuk bersantap sahur bagi para jemaah yang beriktikaf—baik yang telah mendaftar untuk menginap 10 hari full maupun para pendatang musiman.

Khusus di hari Minggu pagi bakda Subuh, tenda ini dimanfaatkan untuk menjamu para jemaah untuk sarapan setelah mengikuti kajian pagi. Menunya beragam dan berganti, tapi semuanya lezat, hehe. Bagaimana dengan minum? Tak usah khawatir sebab di sisi kanan dan kiri serambi masjid telah disediakan masing-masing satu lemari pendingin berisi air mineral yang selalu dipasok saat habis. Baik makan maupun minum tersedia secara cuma-cuma alias gratis tis tis.

Di sebelah selatan masjid terdapat kantor DKM yang menyatu dengan ruang wudhu dan kamar mandi. Jika kita masuk dari pintu depan, kita akan melewati sebuah lorong menuju kamar mandi tersebut sambil bisa menikmati kelincahan ikan-ikan lucu nan gendut di sebelah kiri dan kanan lorong terbuka. Diselingi gemericik air mancur buatan, tak heran bila jemaah kerap berdiri berderet di bagian ini selepas shalat atau sengaja bersantai. Dari titik ini pada malam hari menara akan terlihat sangat menawan dengan lampu-lampu sorot indah seperti sengaja menyalakan malam yang gulita.

Toilet bersih dan air lancar

Selain kamar mandi bersih dan tempat wudhu yang nyaman, bahkan untuk para manula, DKM juga menyediakan mukena bagi pengunjung yang tidak membawanya untuk keperluan shalat. Kita tinggal menuju kantor lalu meminjam mukena, maka urusan beres. Isu lain di masjid biasanya seputar air yang macet. Itu belum pernah terjadi di Namira. Air mengalir lancar dan deras sepanjang waktu karena didatangkan langsung dari sumber besar melalui sejumlah mobil tangki yang beroperasi setiap hari. Awalnya sempat terpikir mereka menggunakan air PAM, namun ternyata tak mencukupi.

Setelah bersuci, bersiaplah untuk menginjak empuknya karpet tebal begitu kita memasuki masjid. Selain wangi, tentu saja karpet ini nyaman saat kita bersujud. Desain interior masjid cukup memukau sehingga kerap menjadi objek swafoto para pengunjung yang baru kali pertama datang ke masjid ini. Sejuk AC akan membuat kita betah berlama-lama di dalam apalagi mengingat udara Lamongan yang sangat panas di luar. Namun jangan takut. Saat ingin bercengkerama bersama keluarga di luar, kita bisa duduk santai di serambi atau di tempat duduk yang telah disediakan di sepanjang lorong depan yang diselingi loker. Saat duduk, kami biasanya terbuai oleh embusan angin semilir atau kencang dari wilayah sekeliling yang masih berupa sawah-sawah hijau.

Kita bisa berbincang atau meluangkan waktu untuk menunggu jadwal shalat dengan membaca buku di luar. Kalau ponsel habis daya, kita bisa merapat di serambi untuk mengisi melalui colokan yang tersedia. Jaringan Wi-Fi pun tersedia, namun untuk yang satu ini belum pernah saya coba. Harap maklum, seringkali saat kongkow di serambi bawaannya malah mengantuk hehe.

namira depan

Selamat datang!

Yang jelas, Masjid Namira di Lamongan ini bikin betah berlama-lama. Bikin kangen dan pengin balik lagi dan lagi. Malah ada sepasang pasutri yang sudah pernah ke Tanah Suci mengaku biasanya singgah ke Masjid Namira saat mereka merindukan Mekah lantaran desainnya mirip Masjidil Haram. Jika BBC Mania sempat ke Lamongan, luangkan waktu untuk merapat ke Masjid Namira yang megah ini. Setelah itu, jangan lupa mencicipi nasi boranan pedas dan tahu campur yang juga maknyus. Berani coba?

Advertisements

7 thoughts on “Senja di Namira: Mengintip Masjid Megah di Lamongan yang Kekinian

  1. Sekarang lagi trend pemda membangun masjid keren dengan apbd. Lalu masyarakat memanfaatkannya tidak hanya untuk tempat beramal tapi juga buat wisata religi. Bagus aja sih selagi itu buat kebaikan.

    Saya berprasangka baik masjid Namira ini dibangun oleh jamaahnya, atau dibangun oleh pribadi yang mencintai agamanya seperti kubah emas yang di Depok itu.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s