Resolusi dari Hati: Lebih Sehat, Lebih Bermanfaat

theragran resolusi

Jangankan punya momongan, bermimpi untuk menikah pun aku tak berani. Semua impian, cita-cita, atau aspirasi masa depan pupus sudah sejak hari itu. Semua bermula dari sebuah peristiwa suatu pagi di Semarang 12 tahun silam. Perutku tiba-tiba didera sakit luar biasa begitu bangun tidur. Selepas shalat subuh, rasa sakit ternyata semakin tak tertahankan yang membuatku meminta OB untuk memanggil taksi atau ambulans agar membawaku ke rumah sakit.

Malam sebelumnya aku sengaja menginap di lembaga kursus tempatku mengajar karena bosan di kos sendirian pada Sabtu malam. Singkat kata, aku akhirnya diopname di rumah sakit itu walau hanya sehari. Dugaan dokter, ada yang salah dengan ginjalku namun dokter tidak mengelaborasi lebih detail. Aku langsung mengaitkannya dengan infeksi saluran kemih (ISK) yang kuderita akhir tahun 2000. Efeknya, sejak itu aku jadi sering ingin buang air kecil tapi dalam jumlah yang sedikit dan tidak tuntas. Mirip beser atau anyang-anyangan hanya saja gejalanya sangat mengganggu aktivitas karena kerap disertai sensasi panas dan nyeri pada pinggang atau area dekat alat vital. Pokoknya sangat menyiksa dan tidak enak!

Bisikan yang menyiksa

Berbagai terapi, mulai dari medis dan alternatif telah kucoba, namun gejala itu tak bisa hilang sempurna. Aku bersabar saja hingga serangan mendadak pagi itu. Awal tahun 2005 itu aku berada di semester akhir kuliah dan tengah sibuk menyusun skripsi. Karena jadwal kuliah berkurang drastis, aku mengisi waktu luang dengan mengajar secara partime di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris sejak 2004. Seiring waktu dan kebutuhan, aku kemudian bekerja freelance di dua tempat lain.

Pagi hari aku bekerja sebagai penerjemah di sebuah yayasan yang membantu mencarikan donatur dari luar negeri bagi anak angkat di Indonesia. Jam 3 sore aku mengajar bahasa Inggris di tempat kursus hingga malam. Setelah itu aku mengajar les privat ke rumah-rumah, dalam naungan sebuah lembaga. Untuk ukuran saat itu, hasilnya cukup memuaskan sehingga aku bisa mandiri dan mencicil motor sendiri. Bangga dan bahagia tentu saja.

Tapi kebahagiaan itu sering tergerogoti oleh sindrom ISK yang sungguh sangat menyiksa. Tak mudah untuk menggambarkan ketidaknyamanan yang kurasakan, bahkan kepada dokter urologi. Sering kali, di saat jeda mengajar di tempat kursus, aku tercenung sendiri dan bergumam, “This is it, Rudi! Live your life now. You’re gonna be stuck here forever. Kamu enggak akan ke mana-mana. Jangan bermimpi bisa seperti teman-teman. Terima dan jalani saja.” Bisikan seperti itu sangat menyakitkan sehingga tak jarang airmata perlahan menetes.

Bayangkan, aku lelaki yang akan menjadi kepala keluarga, ternyata menderita penyakit menahun yang merepotkan. Tak mau aku jadi beban istriku kelak—kalau ada yang mau kupersunting—sementara aku sendiri sudah cukup terbebani oleh diri sendiri. Perih dan perih bahkan hingga saat kukenang saat ini. Melihat teman-teman seangkatan yang lulus lalu pindah ke kota lain dan bekerja di perusahaan sebagai pegawai menjadi siksaan tersendiri buatku. Da aku mah apa atuh? Begitu mungkin istilah anak zaman now. Sakitku itu, walau terdengar tak berbahaya, menghalangiku diterima bekerja secara full-time.

Beyond expectation

Di awal 2006 seorang kawan memberitahuku soal lowongan menjadi editor di penerbitan buku sekolah yang berbasis di Bogor. Karena senang sekali mendeteksi kesalahan dalam rangkaian kalimat, aku akhirnya nekat melamar dan ternyata mendapat panggilan wawancara. Saat harus mengisi di formulir lamaran apakah aku pernah diopname, aku sempat gamang. Tapi akhirnya kutulis apa adanya walau takut informasi itu akan membuatku ditolak.

Gembira betul diriku saat aku ditelepon bahwa aku diterima bekerja di sana. Sejak menekuni dunia editing di penerbit itu, sindrom ISK jarang muncul namun niat atau keinginan untuk menikah tetap tak pernah tebersit dalam benak. Aku asyik menjelajahi dunia kata-kata dan menikmati dunia baru, juga teman-teman baru. Terutama teman spesial yang akhirnya bersedia kunikahi. Tak butuh lama untuk membahas pernikahan begitu kulihat ia ‘mau’ denganku.

Kusebut ini sesuatu hal yang beyond expectation. Manalah mungkin aku tak mensyukurinya? Belakangan kuketahui ia ternyata pernah menderita kanker payudara dan sempat menjalani terapi panjang dengan serangkaian medikasi. Melihat kondisiku yang sakit-sakitan, juga dia yang pernah mengonsumsi banyak obat untuk mengusir penyakitnya, sejak awal menikah kami tak muluk-muluk untuk punya momongan. Kalau dikasih, kami terima; kalau tidak, kami legawa. Lagi-lagi semuanya memang beyond expectation ketika Tuhan menitipkan dua jagoan lucu yang mengisi hari-hari kami hingga kini di kota kecil.

How will I survive?

Awal 2017 kami memutuskan pindah ke kampung halamanku di Lamongan, Jawa Timur. Orangtua kami hanya tinggal ibuku yang selalu ingin agar kami tinggal berdekatan sehingga kapan pun bisa saling berjumpa, terutama dengan dua cucu cowok dari Bogor. Pindah ke kota kecil menciptakan ketakutan tersendiri mengingat peluang kerja atau usaha tak sebesar di Jabodetabek. Kalaupun ada kesempatan melamar kerja lagi, syarat usia maksimal sering menjadi hambatan.

Nah, keraguan seputar sumber pendapatan tentulah masuk akal menggelayutiku. Setelah menikah di akhir 2008, aku sempat pindah kerja di Depok dan bertahan hanya sekitar 6 bulan lantaran sakit. Setelah resign, aku menekuni dunia freelance lagi sebagai editor dan penerjemah. Tahun 2010 istri menyusul resign lalu kami merintis produksi wingko babad hingga kami pindah awal tahun ini. Sambil menjual wingko, aku sesekali menerima jasa editing dan desain isi buku sekaligus cover-nya. Berjualan wingko lagi di Lamongan bukan opsi yang tepat karena kota kami adalah surga wingko yang membuat kami sulit masuk ke bisnis yang sudah sangat sengit persaingannya.

Dengan dua anak yang sedang aktif di mana salah satunya kini sudah duduk di kelas 1 SD, wajarlah pertanyaan utama terus berdengung saat kami pindah: how will I survive? How will I make money? Gimana ya cara cari duit nanti di tempat baru, mengingat kondisi ISK yang terus mengintai bahkan pernah hingga kemih darah dua kali di awal 2016 silam? Ketakutan itu membayangiku.

Pertanyaan lebih penting

Faktanya, dari Februari hingga akhir tahun ini kekhawatiranku ternyata tak terbukti. Meski berhenti bisnis wingko, ada saja rezeki yang kami terima meskipun jumlahnya tidak wow dan jumlahnya fluktuatif. Memulai hidup baru di tempat baru memang cukup berat, apalagi memasuki kultur baru setelah belasan tahun merantau, namun setiap kebutuhan kami tetap tercukupi. Job menulis dari sponsor, order editing, dan desain isi + cover buku menjadi kanal bagiku dalam meraup pundi rezeki mengingat keadaanku yang tak mungkin bekerja kantoran 8 jam sehari karena faktor usia dan kesehatan. Belum lagi hadiah lomba blog yang sangat membantu.

Perlahan-lahan kusadari bahwa pertanyaan yang harus kuajukan bukan lagi soal bagaimana cara mencari nafkah dengan kondisiku di tempat yang seolah serba terbatas, tetapi seberapa pandai aku bisa mensyukuri keadaanku sebab ternyata aku tetap bisa bertahan dengan mengandalkan keterampilan kreatif. It is no longer about how I will survive but how well I will be grateful when I finally survive! 

#1: Menatap 2018, lebih sehat

Selain ISK, sebenarnya ada momok lain yang menyeramkan bagiku: radang tenggorokan! Jika ISK dan radang tenggorokan sudah kambuh, otomatis pekerjaan terbengkalai karena tak bisa berkonsentrasi. ISK bisa bikin aku repot bolak-balik ke kamar mandi untuk pipis hingga empat kali dalam sejam. Badan lemas dan pikiran kacau, maka solusinya harus rebahan dan istirahat/tidur sampai gejalanya hilang. Jadi tak mungkin pegang kerjaan.

Kalau ke dokter, biasanya akan diresepkan antibiotik dan gejala langsung minggat setelah diminum. Tapi itu hanya sementara, karena begitu obat habis, gejala anyang-anyangan akut akan muncul lagi seperti kemih darah yang berulang di awal 2016 lalu. Dulu justru terapi akupunktur yang mengusir kemih darah kedua tersebut. Sayang sekali di kota kecil kami tak ditemukan tempat praktik tusuk jarum yang manjur dengan harga terjangkau seperti di Depok. Mengandalkan obat hanya ibarat buang-buang uang tanpa hasil optimal.

Adapun radang tenggorokan, meskipun terdengar remeh, bisa bikin aku keok berminggu-minggu. Modusnya biasanya berupa batuk parah (kering atau berdahak) hampir sepanjang hari hingga perut sakit dan mata tak bisa tertidur. Tenggorokan perih, badan pun capek luar biasa ditambah meriang dan kadang pilek. Bila radang kadung menyerang, obat tradisional apa pun tidak mempan. Karena deadline pekerjaan tak bisa menunggu, minggu kedua biasanya aku ke dokter agar diresepkan antibiotik karena obat batuk tidak pernah mujarab.

Radang tenggorokan pada akhir Oktober lalu sampai bikin aku ke dokter THT karena antibiotik dari dokter umum tidak mempan. Jika ditotal, kira-kira sebulan lebih sampai batuk benar-benar hilang dan tenggorokan tuntas nyaman. Dalam masa penyembuhan radang tenggorokan, ISK mendadak muncul meski tak separah dulu namun tetap menuntut tiduran.

Akibatnya, deadline pekerjaan jadi agak tersendat dan anak-anak merindukanku dalam kegiatan sehari-hari seperti rutinitas pergi ke masjid, menggambar bersama, dan skedul kunjungan dwimingguan ke perpustakaan daerah di kabupaten. Bumi si bungsu berkali-kali memprotesku agar kalau sakit jangan lama-lama. Duh, jadi merasa bersalah! Karena belum sekolah seperti kakaknya, wajarlah bila sehari-hari ia lebih banyak beraktivitas di rumah bersamaku dan bundanya. Setiap aku ke luar rumah untuk suatu keperluan pun ia tak pernah absen ikut.

Kesedihan itu membuatku tak muluk-muluk dalam menggagas resolusi untuk tahun baru mendatang. Salah satu pilar utama agar hidup berjalan produktif adalah tubuh yang bugar untuk menunjang berbagai aktivitas. Dalam kasusku, kendati ISK tak bisa hilang sempurna, setidaknya aku tahu bahwa serangannya bisa diantisipasi dengan meningkatkan daya tahan tubuh—demikian menurut pendapat dokter. Begitu juga dengan radang tenggorokan; jika tenggorokan mulai tak nyaman, aku harus mengendalikan diri dalam hal makanan. Jika terlanjur sakit, sudah saatnya aku mempertimbangkan vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit.

8 jurus hidup sehat

Aku menyebutnya resolusi dari hati sebab tekad ini menjadi penyemangat untuk menghidupkan keceriaan hati anak-anakku. Tahun 2018 aku harus lebih sehat, dalam arti jumlah kejadian sakit harus lebih minimal dibanding tahun 2017 dan harus lebih kuat berkomitmen untuk menjalankan pola hidup sehat. Mengusir penyakit dengan obat dari dokter bukan lagi jadi opsi untukku di tahun baru nanti. Sebab selain boros uang, konsumsi obat terus-menerus tenyata tak bagus untuk badan dalam jangka panjang apalagi terbukti tidak ampuh menuntaskan gejala penyakit.

Untuk memudahkan tercapainya resolusi tahun depan soal kesehatan, aku melakukan break-down ke dalam langkah-langkah yang lebih terukur sebagai berikut sehingga bisa diperiksa dengan check-list.

8 jurus sehat bbc

1. Olahraga

Olah fisik berada di urutan pertama karena memang agenda paling utama untuk mendukung terwujudnya badan yang bugar. Kuakui selama ini jarang berolahraga lantaran banyak hal, namun seringnya lebih karena banyak alasan. Dulu sewaktu masih tinggal di Bogor satu-satunya olahraga yang kulakoni adalah renang. Namun setelah pindah ke Lamongan hingga hampir setahun, belum sekali pun pergi berenang. Selain belum menemukan kolam umum yang cocok, olahraga lain juga belum terbayang.

Tak jarang kambuhnya ISK dan radang yang berujung pada badan pegal dan napas tersengal adalah akibat dari hipokinesia alias kurang gerak. Sepintar mungkin terdengar remeh, hanya gerakan tubuh. Namun potensi penyakit nyatanya cukup besar bila energi—misalnya tumpukan glukosa—tidak diolah menjadi gerakan. Dari artikel yang pernah kubaca kurangnya aktivitas fisik juga bisa berdampak pada meningkatnya kadar kolesteral. Ini kurasakan betul pada awal Agustus lalu sebelum berangkat ke acara blogging di Pekalongan. Kepala pusing terutama di tengkuk ternyata mengindikasikan tingginya kolesterol setelah dites dalam darah.

strava lari

Ngeri kan? Makanya mulai sekarang aku mulai tertib berolahraga. Wajib jogging pagi minimal dua kali dalam seminggu, biasanya pada hari Jumat dan Minggu saat Car Free Day di alun-alun kota. Selain hari itu, aku tetap bergerak selepas bangun pagi. Misalnya membantu kegiatan istri cuci ini itu, menyapu, atau sengaja melakukan gerakan-gerakan olahraga sederhana. Aku berharap tahun depan rutinitas ini bisa bertahan dan meningkat, baik volume dan intentitasnya. Memang saat ini baru berupa lari mengelilingi area perumahan sebelah, dengan jarak yang masih amatir. Seiring waktu berjalan, aku akan naikkan standar karena terbukti berdampak bagus pada kebugaran tubuh.

2. Pola makan

Memperbaiki pola makan jadi prioritas kedua. Tidak salah lagi, gaya hidup—yang tecermin dalam pola makan—kerap menjadi sorotan utama mengenai kesehatan seseorang. Pola makan yang tidak teratur, baik waktu dan asupan gizi makanan, bisa mengakibatkan terganggunya metabolisme tubuh. Saat kondisi fisik tak seimbang, daya tahan tubuh pun menurun sehingga bakteri atau virus gampang menyerang. Tak heran jika ISK dan radang tenggorokan yang sama-sama diakibatkan bakteri sering menyambangiku lantaran pola makan tak sehat.

Mulai sekarang aku berusaha mengonsumsi jenis makanan yang dianjurkan untuk mencegah infeksi saluran kemih. Lidah buaya, seledri, timun, dan anggur disebut-sebut bagus untuk menekan sindrom ISK. Adapun radang tenggorokan bisa dicegah dengan mengurangi makan gorengan dan diusir dengan lemon dan jahe. Selain itu, asupan kalori dari makanan seperti bakso coba kukurangi secara drastis dan sebaliknya kupenuhi kebutuhan kalori lewat protein hewani. Kalori berlebihan di dalam tubuh konon berbahaya bagi ginjal karena memberatkan tugasnya untuk menyaring begitu banyak zat racun dari asupan kalori. Sayur dan buah, yang memang sudah kusukai, akan kupertahankan dan kukudap secara seimbang.

3. Jangan begadang

Setiap kali begadang, tubuh selalu penat dan sakit esok harinya. Mulai sekarang aku mulai menghindari tidur terlalu larut untuk mencegah tubuh kelelahan. Tahun depan harus kustop sama sekali alias tanpa ada begadang lagi meskipun ada tawaran order yang menggiurkan jika waktunya tidak realistis. Bukan apa-apa, bila harus dikejar dengan begadang, sering kali badan malah drop beberapa hari berikutnya dan ongkos pemulihan malah bisa lebih besar.

Tidak begadang berarti menerapkan pola tidur yang tepat yang berimbas pada meningkatnya daya tahan tubuh. Inilah yang kucari. Sudah saatnya sadar diri bahwa usia tak lagi mendukung berjaga hingga pagi.

Untuk menghindari terjadinya begadang, aku akan menyiasati dengan manajemen waktu yang lebih baik dalam mengerjakan setiap proyek. Mengurangi kunjungan medsos di saat luang suadalah hal sangat penting karena pekerjaan berikutnya bisa saja datang tiba-tiba. Atau bila pekerjaan terlalu berat kukerjakan sendiri, baik editing maupun desain, aku bisa mengalihkan atau membaginya kepada teman sejawat yang membutuhkan. Begadang, no way!

4. Kurangi stres

Hampir bisa kulacak, ketika ISK kumat, biasanya pikiran sedang dirundung stres. Namanya hidup, wajar segala hal datang dan pergi ke dalam pikiran kita. Ada yang benar-benar penting, ada yang agak penting, ada yang seolah penting padahal sebenarnya bisa kita abaikan. Sejak sekarang akan kupilih dan kupilah mana informasi atau kejadian di sekitar yang layak kupikirkan dan mana yang perlu dicampakkan.

Mencemaskan masa depan sama sekali tak perlu masuk dalam prioritasku. Apalagi mengkhawatirkan komentar orang lain tentang jalan yang kupilih, itu lebih tidak mendesak. Pekerjaan yang banyak dan menyita pikiran akan kukurangi, termasuk berhubungan dengan orang-orang ‘sulit’ yang justru akan menggerogoti pikiran atau makan hati. Stres bisa memicu datangnya penyakit, dan untuk itu aku akan kurangi sebisa mungkin walau mungkin tak bisa instan sekaligus.

5. Multivitamin

Dukungan multivitamin rasanya sudah menjadi kebutuhan bagiku. Mengandalkan asupan vitamin dan mineral dari makanan bisa jadi tidak cukup lantaran sulit terukur dari berapa banyak makanan yang harus dikonsumsi. Selain itu, vitamin dan mineral yang sudah diawetkan dalam produk multivitamin berbentuk kapsul akan lebih mudah dicerna oleh tubuh dan jelas mencantumkan kandungan detail masing-masing vitamin dan mineral. Dengan demikian lebih mudah bagiku untuk menakar kebutuhan sehari-hari sesuai dengan pola kegiatan rutin.

Vitamin A, misalnya, sudah teruji menurut penelitian bahwa ia mampu membantu pertumbuhan dan perkembangan, dan yang paling penting sanggup meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Jika tubuh kebal, maka penyakit tak gampang masuk. Berbentuk Retinol Acetate, vitamin A sebanyak 10.000 Sl dalam Theragran-M cocok sekali buatku yang sering terasa mudah ambruk akibat ISK dan radang. Meski baru dua mingguan mengonsumsi Theragran-M, namun badan relatif lebih ringan dan tak ringkih seperti dulu.

theragran flat 2

Tak perlu cemas bila ingin cepat pulih dari sakit!

Selain Retinol Acetate, Theragran juga mengandung 200 mg vitamin C (Sodium Ascorbate) yang berfungsi sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel-sel dalam tubuh dari aktivitas sehari-hari dan merawat kesatuan sistem kekebalan tubuh. Tepat sekali seperti yang kubutuhkan agar stamina tetap prima tanpa serangan dua momok. Belum lagi kandungan B1, B2, B5, hingga B15 dan aneka mineral seperti Iodium, zat besi, mangan, dan zinc yang sangat vital buat tubuh.

Theragran-M menyuplai vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan seandainya dua gejala rutin itu menghampiriku. Aku jadi tenang dan bisa fokus untuk menuntaskan pekerjaan alih-alih mengkhawatirkan datangnya penyakit yang kontraproduktif. Kalaupun terlanjur keok, aku bisa mengandalkan Theragran-M dengan asupan vitamin yang bagus untuk masa pemulihan selepas sakit. Deadline bisa kembali dikejar seiring vitalitas pulih.

6. Positive thinking

Dalam banyak kasus, setidaknya menurut pengalamanku pribadi, mengkhawatirkan sesuatu hal buruk yang akan terjadi ternyata tidak membantu, namun justru memperkeruh kondisi. Mencemaskan penyakit akan kambuh atau berpikir bahwa sakut akan berlangsung lama malah akan membuat stres dan benar-benar melambatkan proses penyembuhan. Padahal kalau sakit jangan kelamaan dong agar urusan yang lebih penting bisa segera tertangani.

Di sinilah pentingnya peran berpikir positif. Bukan hanya positive thinking terhadap proses penyembuhan dari sakit, tetapi juga berpikir baik terhadap orang lain. Dengan kata lain, menghindari suuzan atau mencampuri urusan lain yang bukan domain kita akan mengurangi beban pikiran. Kalau pikiran sesak oleh hal-hal negatif, daya tahan tubuh bisa turun dan penyakit mudah masuk. Begitulah yang kurasakan. Pikiran ternyata menjadi sumber penyakit sekaligus kesembuhan bagi kita. Masih mau berpikir negatif?

7. Bederma

Berbuat baik kepada orang lain sesuai kemampuan kita sangat besar manfaatnya, baik bagi pelaku atau penerimanya. Mungkin kita senang setelah membeli sepatu baru atau benda yang selama ini kita inginkan, namun kesenangan itu biasanya tak akan berlangsung lama. Sebaliknya, kepuasan setelah membantu meringankan beban atau kesulitan orang sungguh luar biasa. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Dalam buku 100 Ways to Happiness (2008), penulis dan psikolog Dr. Tim J. Sharp meresepkan satu kiat unik untuk meraih kesehatan mental. “Be a do-gooder,” begitu ungkapan yang dipilihnya untuk menganjurkan berbuat baik kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa melihat hubungan timbal balik atau konteks untung-rugi. Selama di Bogor aku ikut gerakan bernas yaitu berbagi nasi bungkus sepekan sekali untuk tukang becak, pemulung, dan gelandangan.

Di kota kecil kami aku dan istri bergerak sporadis sendirian setiap Jumat pagi dengan membagikan nasi semampu kami. Harapanku tahun depan jumlahnya bisa bertambah dan terus berjalan dengan tambahan barang atau uang seperti yang dilakukan oleh teman bloger di Jakarta saat ini. Selain itu, aku akan membuka kembali kursus gratis di rumah baru kami yang mungil itu. Karena kecil, maka kami sediakan saung atau gazebo sederhana di luar rumah untuk menampung anak-anak yang belajar nanti.

Setiap ngider atau berbagi nasi, semua gejala sakit hilang, berganti perasaan bahagia dan ekstase luar biasa. Mungkin lantaran rasa syukur yang muncul ketika menyadari bahwa aku masih lebih beruntung dibanding orang lain. Dan itu menyehatkan!

8. Konsistensi

Hal paling sulit tapi mudah diucapkan adalah konsisten dalam menjalankan sebuah pilihan. Memulai suatu hal untuk kita kerjakan mungkin terasa sulit, namun yang jauh lebih berat adalah membangun hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang solid. Sering kali pilihan kita terasa menarik dan bisa kita kerjakan dengan penuh semangat di awal namun perlahan-lahan memble seiring berjalannya waktu atau bertambahnya kesibukan.

Bagiku untuk bisa tetap bugar dibutuhkan kesanggupan untuk taat pada komitmen menjalankan 7 langkah yang sudah kutetapkan tadi. Rasanya bakal tak mudah tapi juga bukan mustahil. Aku akan tuliskan skedul rutin dan memberi reward kecil jika aku bisa konsisten menjalankannya dalam rentang waktu tertentu. Misalnya aku bisa kontinu berolahraga selama sebulan penuh tanpa jeda, aku bakal membeli buku baru yang harganya agak mahal. Setelah itu, aku harus tetapkan untuk meningkatkan target agar bisa lebih rutin lagi.

Mengapa Theragran-M?

Sebagaimana kusebut sedikit di atas, proses pemulihan dari sakit harus berjalan cepat bagiku mengingat peranku sebagai suami dan terutama ayah bagi anak-anak yang butuh partisipasiku dalam masa golden years mereka. Mencegah sakit menjadi langkah primer bagiku, atau jika keburu sakit, ada Theragran-M yang siap membantu mengembalikan stamina. Setidaknya ada 5 alasan mengapa pilihan jatuh pada Theragran-M.

Imprimir

1 – Bau dan rasa

Ketika kali pertama mencoba Theragran-M, bau dan rasa produk ini segera memikatku. Ada aroma mirip cokelat saat kemasan dibuka, dan begitu diletakkan di atas lidah, menguarlah sensasi sedap seperti cokelat yang tidak bikin eneg atau mual. Harap maklum, sejak kecil aku termasuk yang sulit mengonsumsi obat dalam bentuk pil atau kapsul. Dahulu saat masih kecil biasanya pil akan digerus lalu dicampur air gula. Bau dan rasa Theragran-M cocok sekali buatku.

2 – Kandungan lengkap

Kandungan vitamin dan mineral dalam Theragran-M dapat mencegah menurunnya daya tahan tubuh dan munculnya berbagai penyakit. Jelas ini momok bagiku yang mudah diserang ISK dan radang akut. Nah, kombinasi Multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) dan Mineral esensial (seperti Magnesium dan Zinc) dalam Theragran-M bagus untuk meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuhku apalagi saat sakit agar proses penyembuhan berjalan cepat.

thera 1 copy

 

3 – Praktis

Karena berbentuk kapsul, Theragran-M memudahkan kita konsumsi. Tak perlu khawatir kebutuhan nutrisi, vitamin, dan mineral harian tidak tercukupi karena bisa di-backup lewat suplemen efektif yakni Theragran-M. Produknya ringkas sehingga bisa dibawa ke mana saja, terutama bagiku saat bepergian. Aturan pakainya jelas dan manfaatnya terasa.

4 – Terjangkau

Pertengahan tahun lalu aku berkeliling mencari obat di apotek di kotaku. Meski ada jaringan apotek nasional yang sudah terkenal, ternyata mereka tak menjamin stok obat tersebut padahal produsen mengklaim obat mereka bisa didapatkan di apotek itu. Untuk Theragran-M, tak perlu kupusingkan sebab tak jauh dari perpustakaan daerah terdapat apotek yang menjual suplemen ini. Selain mudah diperoleh, harganya pun terjangkau sehingga tak menguras kantong. Theragran-M adalah pilihan tepat, pilihan hemat.

5 – Terbukti efektif

Konon Theragran-M telah diresepkan oleh para dokter selama 40 tahun atau sejak tahun 1976. Tak heran jika Theragran-M menjadi vitamin yang bagus untuk masa pemulihan karena memang terbukti ampuh untuk mendongkrak stamina dan menuntaskan penyakit. Meski belum lama mengonsumsi, aku mulai merasakan manfaat Theragran-M selepas sakit radang tenggorokan, diselingi ISK, apalagi pada saat sekarang di mana aku harus bolak-balik mengurus tukang yang mengerjakan renovasi rumah mungil kami.

Selain itu, testimoni sejumlah pengguna Theragran-M berikut dapat memperkuat bahwa pilihanku sudah tepat karena memang telah terbukti untuk .

recovery-stories2

recovery-stories3

#2: 2018 kuat, lebih bermanfaat

Kalau ada hidup yang sempurna, aku tak ingin memilikinya. Toh kehidupanku saat ini sudah indah demikian adanya meski dengan ‘derita’ fisik yang terus kubawa. Ibarat kopi, hidupku tetap nikmat dengan nuansa pahit yang mewarnai setiap tegukan atau pengalaman. Tak ada hal yang kuinginkan selain kesehatan yang terjaga di tahun baru nanti karena dari kebugaran tubuhlah semua bisa dimungkinkan.

saung

Gambaran saung kami nantinya

Tahun lalu aku menuliskan resolusi untuk membuka taman baca dan kursus gratis bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumah kami. Tahun ini rupanya impian itu belum terwujud meskipun jumlah buku sudah cukup banyak. Sejumlah anak sudah berminat untuk mendaftar sebagai murid. Namun sayang, pembelajaran belum bisa kami mulai karena rumah mungil kami belum selesai sementara rumah sewa yang kami tinggali tidak memungkinkan untuk mendukung niat kami tersebut.

Bright English Institute (BEI), nama yang pernah kami pakai selama tiga tahun di Bogor, akan kami pergunakan lagi di tempat baru karena sudah pernah familiar bagi anak-anak. Hanya saja, di rumah nanti akan kami tambah dengan taman bacaan di mana anak-anak bisa bebas membaca dan meningkatkan kecakapan literasi mereka sesuai level. Karena berlangsung di dalam saung, kami sepakat menamakan tempat berkumpul ini sebagai Saung Literasi yang di dalamnya terdapat BEI.

Itulah sekelumit impian yang ingin kuwujudkan sebagai resolusi tahun 2018 nanti. Pertama, tubuh harus bugar sebab jika jasmani sehat, maka segala aktivitas bisa dilakoni dengan lancar terutama tempat belajar yang semoga menciptakan manfaat. Tak perlu takut sakit sebab ada vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit

Lebih sehat dengan Theragran-M, lebih kuat dan bermanfaat dengan berbagi! Doakan ya, BBC Mania!

theragranm

Advertisements

87 thoughts on “Resolusi dari Hati: Lebih Sehat, Lebih Bermanfaat

  1. Yap, you’ll make it, Bro! Mmm, satu lagi kesamaan kita ternyata. Entah apakah penyebabnya adalah kebiasaan masa muda yang juga sama, I don’t know. Aku pun punya masalah dengan saluran kemih. Kalau terlalu capek, lebih-lebih kekurangan airan, kumat deh anyang-anyangannya. Kalo sudah kumat, biasanya aku “ngetem” di WC paling cepet 30-45 menit, bawa seceret besar air.

    Nggak sehat sih minum sebanyak itu seketika, tapi itu obat paling mujarab buat menghilangkan rasa sakit akibat infeksi tsb. Begitu udah bisa kencing lancar, legaaaa. Makanya dilema banget kalau anak lanang ngajak main bola atau lama-lama main bulutangkis. Aku seneng dengan dua permainan itu, apalagi bermain sama anak-anakku, tapi seringkali terjadi habis itu ISK-ku kumat. Tobat! Hahaha.

    Tapi gpp. Kuncinya memang di pola makan dan gaya hidup sehat. Hindari makan sayur-sayuran dengan kadar oksalat tinggi, minum cukup secara teratur, dan jangan terlalu capek. Cuma aku belum bisa nih ninggalin begadang. Habis Magrib adalah waktu terbaikku bisa tenang di depan laptop begini. Paling cepet sampai tengah malam, tapi bisa sampai dini hari tergantung yang dikerjain. Apa daya, masih harus begini. Disyukuri saja dan tetap semangat 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mas, ga sehat kalau harus minum sebanyak itu. Aku pun demikian, kalau pergi agak jauh dari rumah, males atau khawatir pas ISK kambuh. Kemarin dulu pas ke Pekalongan itu adalah kegiatan blogging terjauh dan pakai nginep pula. Wow banget deh alau deg-degan pas di hutan Petung. Alhamdulillah ketemu banyak teman baru jadi pudar kecemasanku. Seneng banget dan semoga kita makin sehat di tahun 2018 nanti Mas. Kalau begadang aku harus stop. Maklum ga sesibuk youtuber andal hehe….

      Like

  2. Pengen deh berkunjung ke Lamongan kalau Saung literasimu nanti udah jadi, mas. Tetap semangat dan survive di kota kecil yang lebih menentramkan, insyaallah 🙂 Titip salam buat istri dan 2 jagoan lucunya, smg next bs berjumpa ya!

    Like

  3. Pas baca dari awa, sayha tahan napas. Hampis keterusan nahannya ceritanya mengalir soalnya. Semoga 2018 disembuhkan Kang. Penasaran saya sama Lamongan, mudah2an bisa ke sana ngelamar di tahun 2018 hahaha…. amiin

    Like

  4. Kang itu ngeri banget ISK loh merasakan banget karena pernah kena klo radang juga aku dulu suka langganan alhamdulilah sejak hamil sekarang mungkin karena pola makan sehat jadinya ga kena lagi deh hehehe…

    semoga tetap sehat ya kang kalau sakit emang yang jadi kasian adalah anak-anak 🙂

    Like

  5. Suami saya beberapa minggu yang lalu juga kena radang tenggorokan. Gelajanya sama persis tuh, Mas. Batuk sampai ga bisa tidur. Alhamdulillah dah sehat. Kesehatan emang penting banget ya. Semoga resolusinya tercapai di tahun 2018. Sehat2 terus ya, Mas. Aamiin..

    Like

    1. Ya Mbak, cukup mengganggu. Biar cepet sembuh mau ga mau pakai bantuan multivitamin soalnya biasanya sampai sebulan kalau saya kena radang tenggorokan. Terima kasih atas doanya.

      Like

  6. Semoga terkabul resolusinya yaa. Ibu mertua dulu yang sering ISK. Entah ada kaitan atau tidak. Ibu mertua juga sakit darah tinggi. Obat penurun darah tinggi ternyata berpengaruh ke ginjal. Kalau habis minum obat darting, pasti besok-besoknya gangguan salurah kemih. Lalu minum obat lain lagi. Kasihan bolak-balik obat…Iya, bagus tuh seledri di jus untuk memperlancar buang air…

    Like

  7. Aku bacanya dari terenyuh sampai ikutan semangat loh, Mas.
    Hidup memang rahasia Illahi, kita hanya harus menjalaninya dengan berbaik sangka ya.
    Semoga 2018 dan seterusnya selalu diberi kesehatan, kalau ngedrop tinggal tegak Theragran-M nya aja.
    Terima kasih sudah berbagi kisah inspiratifnya ya, Mas.

    Like

  8. Tinggal menghitung hari dan saya belum menulis resolusi. Terlalu banyak angan malah bingung mana yang mau dieksekusi. Salah satu resolusiku pengen jalan-jalan keliling Indonesia

    Like

  9. Halo, mas Rudi 🙂 Memang deh ya kita tuh suka ngerasa sehaaat terus tanpa peduli sudah benar atau belum pola makan kita. Apakah cukup berolahraga dengan gaya hidup sehat lainnya? Ternyata tubuh kita tetap membutuhkan multivitamin seperti Theragran-M ini ya. Toss deh samaan kita, mas.

    Like

    1. Baru nyadar kalau sudah sakit, Mbak. Banyak yang dipertaruhkan kalau sakit, ya kehilangan momen bersama si kecil dan peran penting untuk cari duit hehe. Semoga sehat terus ya dengan pilihan aktivitas dan Theragran-M. Toss!

      Like

  10. Keep fight ya, Kang. Dari awal tahu blog ini langsung suka cara bertuturnya apalagi orangnya ramah, suka berbagi, aku yg msh ngeblog ala kadarnya jadi suka tambah motivasi. Semoga diberi kesempatan berjumpa bersama keluarga. Kalau ke Bandung silakan kontak. Kalau ke Klaten juga oke kok. Amiin utk resolusinya… Semoga selalu dilancarkan rezekinya dan selalu sehat dengan theragran M 🙂

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih, Mbak Rina. Wah asyik banget nih kalau ke Bandung banyak teman yang belum sempat kopdar. Saya doakan juga Mbak Rina dimudahkan mencapai resolusi tahun depan, entah dalam blogging ataupun kehidupan keluarga. Yang paling penting, kesehatan.

      Liked by 1 person

  11. Saya masih susah benar2 tidak begadang padahal sudah tidak sesuai usia 😀

    Oya, yang benar bederma ya ternyata bukan berderma, Mas Rudi?

    Semoga resolusinya tercapai ya

    Like

    1. Saya udah enggak bisa berdamai dengan begadang, Mbak. Faktor usia enggak bisa bohong, hehe. Lebih produktif tidur awal dan bangun awal sehingga pagi-pagi bisa langsung mengejar tenggat.

      Iya, Mbak Niar, yang benar menurut KBBI adalah bederma, bukan berderma karena suku kata kedua sudah mengandung -er jadi menghindari dobel. sama kayak tepercaya bukan terpercaya, tebersit bukan terbersit, dan teperdaya bukan terperdaya. Semoga Mbak Noar juga makin moncer di tahun baru.

      Like

  12. Mas, bapak dirumah jg pernah terserang gangguan saluran kemih, sempat dirawat di rs.,disarankan untuk operasi tp beliau tidak mau. Tp alhamdulillah saat ini sdh sehat kembali. Semoga resolusinya lancar, semangat untuk terus berkarya dan konsisten.

    Like

  13. Tampaknya banyak yang berharap lebih sehat dan tetap sehat di masa mendatang ya. Apalagi yang punya tanggungan dan impian yang harus dipenuhi haknya.

    Semoga senantiasa sehat, Mas. Semoga ikhtiar untuk sehatnya diberkahi Alloh. Aaamiiin.

    Like

  14. semangat mas Rudi, Allah Maha Adil, yang bersungguh-sungguh dalam usahanya pasti berhasil dan dalam kesulitan akan ada kemudahan. Saya ikut aaamiiinkan untuk semua harapannya di 2018 ya. Salam untuk mba dan anak-anak.

    Like

  15. Salut banget mas bisa survive. Trus bisa dapat pendamping hidup yang bisa support itu jarang banget lho mas. Beruntung bangeeet. Semoga keluarga mas selalu diberi perlindungan oleh Tuhan ya mas 🙂

    Like

  16. Selalu semangat ya Mas. Langsung melaw baca tulisannya. Aku sukak dengan semangatnya dan selalu berpikir positif. Kita memang hrs sll yakin Mas klo diri kita akan sll dilingkupi oleh rezeki yg tak pernah putus.

    Like

  17. Semoga selalu diberikan kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan, Mas. Salut sekali bacanya. Sempat pesimis menikah dan punya momongan, eh malah dapat 2 ya. Semangat terus 🙂

    Like

  18. Lengkap ulasannya, memang hrs positif thingking menghadapi resolusi ke depan, tentunya hrs jaga stamina dgn TheragranM

    Like

  19. Faktor usia ternyata memang nggak bisa main-main lagi ya Pak perkara hidup sehat. Bahkan menyepelekan olahraga saja bisa ada efeknya. Delapan poinnya beneran bikin saya koreksi diri Pak. Pas sekarang ini saya lagi sakit dan mikir, sebetulnya apa dan di mana yang salah ya kok sampai akhir-akhir ini badan suka sering nggak fit. TFS Pak.

    Like

  20. Aku pengen banget Morning Run. Tapi kadang agak susah dilakukan karena pas hari biasa, abis shalat subuh aku udah berangkat kerja. Pas libur kadang bawananya malas. Hahah banyak banget alasan ya mas. Tahun 2018 aku juga pengen hidup lebih sehat mas. Smoga keinginannya terkabul ya mas 🙂

    Like

  21. Om, yaaah belum support pakai gmail dech. Saya baru tahu kalau udah pindah Lamongan, sehat selalu yaaa dan sukses untuk impiannya membangun saung literasinya. Pernah beli Theragram dan suamiku semua yang minum, testimoni dari beliau, badan lebih enakan enggak mudah lelah tuh.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s