Tentang HP yang Hilang dan Perasaan Seolah Paling Malang

Ketika hendak menulis tentang HP yang hilang, kegalauan segera muncul tentang penggunaan kata HP sebagai objek dalam tulisan. HP atau hape sudah menjadi idiom umum di Indonesia yang mewarnai aneka perbincangan sehari-hari dalam berbagai situasi. HP yang disingkat dari handphone sebenarnya bukanlah frasa bahasa Inggris yang baku.

Dalam bahasa Inggris telepon seluler (ponsel) atau telepon genggam dipadankan dengan cellphone, cellular phone, cellular telephone, mobile phone, atau cukup cell. Dalam perkembangan terkini, ponsel disebut smartphone mengingat kemampuannya yang semakin luar biasa, atau cukup disebut phone. Tak heran jika dalam sebuah acara di televisi seorang penutur asing menyampaikan bahwa handphone adalah kreasi orang Indonesia, bukan istilah asli bahasa Inggris.

Sehari Setelah Kelas Inspirasi

Tanggal 3 Februari, tepat sehari setelah Hari Inspirasi di Solokuro, saya telat melaksanakan shalat Ashar setelah asyik bercengkerama dengan dua relawan asal Jawa Tengah: Mas Imam dari Tegal dan Rifky dari Pekalongan. Ketika merapat ke Masjid Perumnas Made, saya langsung mengambil wudhu. Begitu memasuki masjid, ada sesuatu yang segera membetot perhatianku. Tak jauh dari mihrab tergeletak sesuatu berwarna putih.

Ternyata benar, itu sebuah ponsel bermerek Samsung. Kalau tak salah serinya Galaxy Duos. Saya celingak-celinguk mencari siapa empunya. Kipas angin masih menyala, khawatir saya kena prank kalau ponsel itu saya amankan. Maklum, sekarang kan sedang zamannya prank atau social experiment. Kan enggak lucu bloger jadul kena prank terus masuk video Youtube, haha.

Selepas shalat, tak ada seorang pun yang datang untuk mengklaim kepemilikan ponsel tersebut. Saya putuskan meraih ponsel tersebut dan membuka layar dengan sekali sapuan rambut. Lumayan responsif, dan terbukalah layar yang segera saya arahkan untuk mencari nomor yang terakhir dihubungi. Karena gagal, saya kemudian menyeleksi nama-nama yang dicatat dengan atribut personal yang berarti punya kaitan erat dengan pemilik ponsel.

Sekian nomor yang saya hubungi menggunakan ponsel saya rupanya tak satu pun menjawab. Jam menunjukkan pukul 5 lewat, kipas sudah saya matikan. Saya putuskan untuk membawa ponsel itu pulang dan menelepon nomor lain saat tiba di rumah. Ketika hendak keluar masjid, sebuah nomor menghubungi ponsel mungil tersebut.

Wanita di ujung sana mengaku istri pemilik ponsel. Suaminya tadi pulang kerja dan singgah ke masjid dan ponsel entah terjatuh atau lupa tidak diambil setelah dimainkan. Saya tunggu 10 menit dan seorang lelaki pun muncul mengendarai odong-odong sepeda motor. Ia tampak kusut dan mengaku baru pulang dari pabrik tempatnya bekerja. Di parkiran saya serahkan ponselnya setelah dia mengonfirmasi warna dan mereknya.

Sehari Sebelum Blogger Day

Tanggal 3 Maret adalah hari kedua saya mengikuti Blogger Day 2019 di Bandung. Acara yang dihelat dalam rangka merayakan ulang tahun Blogger Crony Community (BCC) ke-4 ini berlangsung sangat meriah dan mengesankan. Begitu menyenangkan sampai saya lupa bahwa saya baru saja kehilangan ponsel. Sedih tentu saja, namun apalah daya hamba bukanlah siapa-siapa.

Hari Jumat tanggal 1 saya bertolak dari Lamongan dengan menumpang bus Pahala Kencana. Tanggal 2 dini hari saya masih berada di dalam bus, menggigil dalam dinginnya AC. Saat berangkat, saya membawa dua ponsel: 1 ponsel milik saya sendiri si Meizu yang sering menguji kesabaran dan 1 ponsel LG milik duo RB anak saya. Saya membawa LG yang layarnya lebih kecil dengan tujuan sebagai cadangan karena Meizu sering bermasalah dengan kamera dan memori sementara saya akan banyak memotret selama acara.

Selama perjalanan Meizu saya simpan di tas ransel, saya taruh di bawah jok sedangkan LG saya letakkan di kantong jaket agar mudah diakses. Ternyata itu keputusan salah dan memang teledor. Saat asyik tertidur, ponsel LG terluncur keluar dan ditemukan entah oleh siapa. Sejak Subuh sampai turun di Bandung pukul 9 pagi ruangan bawah kursi sudah saya sisir berkali-kali namun sepi, nihil.

Berkali-kali ponsel saya kontak, selalu aktif namun tak diangkat. Deru mesin bus mengalahkan ring tone ponsel LG. Bapak di sebelah kiri saya yang hendak menuju Tasikmalaya menduga orang di belakang sayalah yang telah mengambilnya. Saya sempat berasumsi demikian juga namun segera mengoreksi hati bahwa itu juga akibat keteledoran saya.

Bulan Februari saya nemu HP, bulan Maret kehilangan HP. Ponsel Galaxy saya kembalikan, ponsel LG milik anak-anak raib tak pernah ditemukan. Saya sempat merasa menjadi makhluk paling malang: apa ya maksud Tuhan begini amat sama aku? Tapi hidup bukan transaksi untung rugi atau impresi untuk pamrih. LG kami hilang mungkin tak seberapa dibanding kesempatan berjumpa ratusan bloger dari seluruh Indonesia.

Yang paling saya sesalkan tentu saja: nomor dalam ponsel LG itu baru saja saya isi dan merupakan nomor yang saya beli untuk dipergunakan sebagai admin pada komunitas Nasi Bungkus Community. Sampai sekarang nomornya belum saya klaim penggantian di gerai XL karena tak seorang pun tahu kepedihan ini, apalagi menginformasikan di mana lokasi gerai Xl. Semua jahab, sibuk memikirkan Luna dan Syahrini! Hiks….

Hari Senin saat saya bertolak ke Lamongan, saya mencoba menelepon lagi ponsel LG dan masih aktif. Saya kemudian mengirimkan pesan singkat atau sms agar ia berkenan mengirimkan kembali ke alamat saya dengan imbalan sesuai kemampuan. Maafkan Ayah, anak-anak! Terima kasih, Blogger Day 2019!

17 thoughts on “Tentang HP yang Hilang dan Perasaan Seolah Paling Malang

  1. Akan diganti dengan yang lebih baik, Insya Allah.

    Saya pernah dicopet waktu lagi balas WA di hp. Di pinggir jalan. Dalam kota.
    Sakitnya tuh gak kebayang. Tapi saya berusaha utk memaafkan. Mungkin si pencopet lagi butuh hp.

    Like

    1. Aaamin, insyaallah, Uda. Apa kabar nih, lamo tak bersua? Wah itu nekat banget pencopetnya, jadi disambar pas sedang dipakai ya? Iya bisa dibayangkan kerepotan kehilangan ponsel karena banyak nomor atau data penting di sana ya. Semoga kita enggak seperti mereka.

      Like

  2. Kayak suamiku Pak. Hp taruh saku, dan dah dua kali kasus jatuhnya kayak gitu. Gegara itu juga, saya jadi lebih hati-hati dan nggak berani taruh di saku.

    Like

  3. Aku pun pernah kehilangan. Sepertinya dicopet di angkot. Dirogoh dari tas. Salah saya sih ditarok di kantong luar. Dusnya dan kabel chargernya masih ada tuh. Pdhl pabriknya pun dah tutup. Hehe…
    Semoga dapat ganti yg lebih keren ya Mas…

    Like

  4. Jadi inget jaman masih bolak balik Semarang – Surabaya pun pernah ngalamin hape ilang di bus mana kreditan belum lunas pulak.
    Insyaallah ini pertanda bakalan menang lonba blog yg hadiahnya hape. Aamiin

    Like

  5. Saya turut prihatin, Mas. Semoga Allah hapuskan dosa dan menggantinya dengan rezeki yang melimpah.

    Terima kasih sudah berbagi. Saya yakin, kisah ini mengandung banyak pelajaran untuk kita semua.

    Salam hormat.

    Like

  6. Ikut prihatin Mas Rudi…

    Aku juga pernah alami hal yang sama, kecopetan saat berdesakan di pintu keluar mal di Samarinda.
    Padahal, HP baru beberapa detik aku pakai menelepon babang suami, saat kami terpisah karena berdesakan di pintu keluar mal.
    Duh sedihnya tak terkira…

    Semoga mendapat pengganti yang lebih baik ya, Mas…

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s